
Alvin menyesap birnya di ruang santai, ia masih menunggu Keke keluar dari kamarnya. Hari semakin pagi, para pelayan mulai sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Tuan pagi pagi sudah minum, itu tidak baik." ujar bu Farah.
"Aku tak bisa tidur bu." jawab Alvin.
Bu Farah menatap Alvin, lalu meninggalkannya menuju kamar Keke.
"Non, apa belum bangun?" tanya bu Farah. Tapi tak ada jawaban, jadi ia langsung masuk ke kamar Keke.
Tidak ada wanita itu di ranjangnya, bu Farah mencarinya dan menemukan Keke ada di dalam bak mandi. Tentu saja bu Farah panik melihatnya memejamkan mata disana.
"Non, ada apa?" teriak bu Farah.
Keke mengerjapkan matanya. "Bu Farah mengejutkan aku saja, aku tertidur disini." jawabnya.
Bu Farah lega tapi ia kembali khawatir, bu Farah membangunkan Keke seraya melilitkan handuk pada tubuhnya. "Non Keke bisa sakit, Paris semakin dingin non." ujarnya.
"Aku kepanasan lagi setelah Alvin menemuiku." kata Keke.
"Kapan tuan Alvin menemui non Keke?" tanya bu Farah.
"Beberapa jam yang lalu." jawab Keke.
Jadi ini yang membuat tuan Alvin minum bir di pagi hari, ada apa dengan keduanya, mengapa Keke kepanasan dan tuan sangat galau. pikir bu Farah.
Bu Farah membawa Keke keluar kamar mandi dan mulai mengeringkan rambutnya. "Non Keke, boleh ibu tanya?" Keke mengangguk. "Apa yang non rasakan ketika bertemu tuan Alvin?" tanyanya.
"Jantungku berdebar semakin cepat bu, itu yang membuatku kepanasan." jawab Keke polos.
Akhirnya bu Farah menemukan jawabannya. "Apa berhari hari sebelum tuan Alvin kembali, non Keke merindukannya?" tanya bu Farah lagi.
Keke mengangguk. "Aku merindukannya dan juga selalu memikirkannya." jawabnya lagi.
Keduanya saling jatuh cinta, Keke tak boleh terlibat perasaan dengan manusia. Itulah yang membuatnya kesakitan dan kehilangan kekuatannya. Inilah yang terjadi diantara mereka. Ya Tuhan, takdir apa yang mereka dapatkan. pikir bu Farah sedih.
"Non ganti baju, sudah saatnya sarapan dan bertemu sahabat tuan Alvin. Jangan takut, namanya tuan Calio. Ia baik seperti tuan Alvin." ujar bu Farah.
Keke mengangguk, ia mengganti bajunya setelah bu Farah meninggalkannya. Bu Farah memilihkan gaun cantik yang ia belikan beberapa hari yang lalu. Keke selesai menata dirinya dan keluar dari kamarnya.
Mata Alvin terus menatap kamar Keke, sampai bu Farah keluar dan beberapa menit kemudian wanita yang ia cintai keluar dari sana. Alvin terbelalak saat melihat Keke dengan gaun cantik itu. Ia belum pernah melihatnya.
"Tuan, tuan Alvin." sapa bu Farah berkali kali.
"Ah iya bu." jawab Alvin.
__ADS_1
"Beberapa hari yang lalu, aku membelikan beberapa gaun untuk non Keke, salah satunya yang ia pakai sekarang. Tuan mandilah, sebentar lagi waktu sarapan dan tuan Calio juga sedang mandi." ujar bu Farah.
Alvin lupa jika sahabatnya masih di rumahnya, ia segera bangun meninggalkan bu Farah, lalu menarik Keke kembali ke atas. Tapi ia membawa Keke ke kamarnya. Keke hanya bisa mengikuti Alvin yang masih kesal.
"Tunggu aku selesai mandi, jangan keluar kamar jika aku belum selesai." perintahnya Alvin.
Keke mengangguk, ia memang sangat penurut. Keke hanya bisa duduk di ujung ranjang sambil menunggu Alvin selesai mandi.
Alvin menyelesaikan mandinya dengan cepat lalu segera berpakaian di depan Keke. Keke kembali merasakan hawa panas pada tubuhnya.
Jangan sekarang, aku tak mau kembali berendam. pikir Keke.
Alvin menatap Keke yang mulai aneh, wajahnya sangat merah.
"Keke, apa kau mulai panas lagi?" tanya Alvin.
Keke mengangguk. "Aku tak bisa dekat denganmu lagi." jawabnya.
"Sialan, mengapa aku menjadi penyebab kau kesakitan." bentak Alvin. "Ikutlah denganku." perintah Alvin seraya membuka pintu yang menghubungkan ruang kerjanya.
Keke mengikuti Alvin, dan disanalah ia melihat sosok boneka yang sama persis dengan wajahnya. Keke mundur sampai menabrak barang disana. Ia merasakan tubuhnya akan keluar dari manequin yang ia tempati sekarang.
"Keke, kau baik baik saja?" tanya Alvin.
Keke tak bisa menjawab karena tiba tiba ia menyatu lebih erat dengan manequin itu, Keke terus menatap tangannya yang membayang lalu menyatu kembali. Tubuhnya semakin menyatu dengan manequin Keke.
Keke mengerang lalu kembali pingsan. Alvin segera membawanya ke kamar, dengan panik ia berteriak memanggil bu Farah.
"Keke, sadarlah sayang. Kau kenapa?" teriak Alvin.
Bu Farah masuk ke kamar Alvin ternyata bersama Calio. "Ya Tuhan, ada apalagi tuan. Non Keke kenapa?" tanya bu Farah panik.
Tapi Calio justru terpaku dengan sosok yang ada di depannya. Ia terkejut, Keke benar benar mirip manequin yang Alvin buat.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Alvin panik.
"Tenanglah Vin, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Calio saat ia kembali sadar.
"Aku mempertemukan manequin dengannya, lalu ia pingsan." jawab Alvin.
"Apa? Tapi kenapa? Kita harus panggil dokter." ujar Calio.
Alvin dan bu Farah menggeleng. "Tuan Alvin, kami tidak bisa membantu, hanya tuan yang bisa membuatnya bangun." ujar bu Farah. Alvin mengangguk.
Bu Farah mengajak Calio keluar dari kamar, Calio sangat enggan keluar karena penasaran. Tapi Bu Farah memaksanya.
__ADS_1
*****
Alvin Mark mengelap keringat yang terus keluar dari tubuh Keke sambil mengompresnya. Ia terus menggenggam tangan Keke. Sudah lebih dari satu jam Keke masih juga belum bangun. Ia melewati sarapan, bu Farah mengirim makanannya pun ia tak menyentuhnya. Sedangkan Calio pamit ke perusahaan karena ia harus bekerja lagi.
"Aku akan kembali sore ini ke rumahmu, aku belum berkenalan dengan Keke Vin." ujar Calio.
Alvin mengangguk tanpa melihatnya, ia hanya terus menatap Keke yang masih tertidur. Calio meninggalkannya begitu saja, ia tahu Alvin sangat khawatir pada wanita itu sekarang.
"Keke, sebenarnya apa yang terjadi padamu. Mengapa ketakutanku menjadi kenyataan." ujar Alvin.
Keke mengerjapkan matanya dan mulai membuka matanya saat Alvin masih menunduk.
"Alvin." panggil Keke.
Alvin terkejut lalu menatap wanita itu. "Keke, kau sudah bangun. Ada apa Keke, apa yang kau rasakan?" tanyanya panik.
Keke berusaha bangun, Alvin membantunya. "Peluk aku." pinta Keke.
Alvin terkejut dengan permintaan Keke. "Tidak, aku tak mau." jawab Alvin.
"Aku mohon, lakukan apa yang aku pinta." ujar Keke.
Alvin sangat ragu, tapi mata Keke benar benar sedang memohon padanya. Alvin mendekatinya seraya memeluk Keke dengan erat. Keke kembali merasakan jantungnya berdebar dengan keras tapi ia tak merasakan panas pada tubuhnya.
"Alvin, ambil pisau lalu gores jariku." pinta Keke.
Alvin melepaskan pelukannya. "Kau sudah gila, apa maksudmu?" bentaknya.
"Tolong bantu aku." Keke memohon.
"Aku tak akan menyakitimu Keke." jawab Alvin. Keke menggigit jarinya sampai berdarah. "Apa yang kau lakukan?" tanya Alvin seraya mengambil jari Keke lalu menghisapnya.
Pada saat itulah Keke menangis dengan keras, Alvin yang bingung dengan situasi ini kembali memeluknya dengan erat.
*****
Apa yang terjadi pada Keke?...
1...
2...
3...
Next Part...
__ADS_1
Happy Reading All...😘