
Seminggu telah berlalu, Parut masih juga belum kembali. Sang elang itu mungkin masih belum berhasil menemukan kebun Alvin Mark. Kekuatan Keke sudah hampir pulih sepenuhnya, walaupun ia hanya memiliki satu sayap. Wanita itu menekuk lututnya sambil melamun. Kehidupannya selama satu minggu ini jauh dari kemewahan yang biasa Alvin berikan padanya.
Aku merindukannya...gumam peri Keke.
Suara Parut terdengar dari kejauhan, peri Keke berdiri mencari keberadaan elang itu. Lama kelamaan ia bisa melihatnya semakin mendekat, peri Keke sangat senang atas kembalinya elang tersebut. Elang itu tersenyum dari kejauhan, peri Keke semakin optimis jika ia bisa menemukan mawar biru itu segera.
"Parut..." panggil peri Keke.
"Apa kabar peri cantik, maaf aku pergi terlalu lama. Hujan salju membuatku hampir sulit membantumu." jawab Parut.
"Aku baik baik saja, hanya kesepian disini. Bagaimana hasilnya?" tanya Keke.
"Kau tenang saja, aku sudah menemukannya. Bunga itu sedang bermekaran dan sangat indah. Apa kau ingin aku yang mengambilnya?" tanya Parut.
Peri Keke menggeleng. "Aku harus menemukannya sendiri untuk kembali ke duniaku. Tapi apakah sulit kesana?"
"Aku tak tahu pasti, tapi hari ini aku melihat pria yang kau selamatkan nyawanya disana." jawab Parut.
Jantung peri Keke seketika berdetak lebih cepat, ia merindukan pria itu. Bahkan rasanya tak ingin hidup lagi. Parut menyadari perubahan pada wajah peri Keke.
"Temuilah pria itu jika kau merindukannya peri." ujar Parut.
"Tidak... Aku tak boleh bertemu dengannya. Aku bukan peri cantik dan sempurna, aku hanya peri cacat sekarang." kata peri Keke.
Parut menghela nafasnya. "Siapa yang bilang kau tidak cantik? Kau tetap cantik seperti dulu, hanya kehilangan satu sayap bukan berarti akan membuatmu berubah menjadi itik buruk rupa. Kau tetap seorang peri."
"Terima kasih Parut, kau sangat menghibur. Kapan kau bisa membawaku ke kebun itu?" tanya peri Keke.
"Bagaimana tubuhmu?" tanya Parut balik.
"Hampir sempurna." jawab peri Keke.
"Jika aku membawamu kesana, artinya hari ini adalah hari perpisahan kita. Aku takut kau akan menghilang selamanya." ujar Parut sedih.
"Aku takkan melupakan jasa jasamu, aku pasti akan mengunjungimu suatu saat." kata peri Keke.
Parut menekuk wajahnya, tapi ia harus membantu peri Keke agar segera kembali ke dunianya, wanita itu terlihat sangat sedih berada di dunia manusia.
"Jika kau siap, kita akan berangkat besok. Aku akan mencari mangsa untuk makan malam, aku akan membawa buah buahan segar juga untukmu." ujar Parut.
"Terima kasih sekali lagi Parut, aku akan menunggumu." jawab peri Keke.
Parut mengangguk dan terbang kembali untuk mencari mangsanya. Sedangkan peri Keke kembali lagi ke tempatnya beristirahat.
*****
__ADS_1
Sudah seminggu Alvin Mark mencari keberadaan kekasihnya, tapi ia sama sekali belum mendapat kabar apapun dari wanita itu. Bahkan Alvin seperti pria bodoh, ia mencari buku tentang peri dan keberadaannya. Tapi semuanya hanya dongeng semata, tak ada satu buku pun yang menceritakan kisah sebenarnya.
Alvin Mark memang kembali ke perusahaan dan mulai bekerja seperti biasanya, tapi sikap kakunya kembali seperti sedia kala sejak kehilangan Keke. Para pelayannya mulai kembali segan saat berhadapan dengan tuannya tersebut.
Saat ini Alvin berada di kota Dinan untuk melihat kebun mawarnya yang sedang bermekaran. Ia sangat sedih tapi ia tak menunjukkan sikap sedihnya pada orang disana, ia justru semakin dingin.
"Bagaimana tuan Alvin?" tanya pak Jordi.
"Bagus." jawab Alvin datar.
"Kita bisa menumbuhkan bunga ini setahun dua kali." ujar pak Jordi.
"Bagus." jawab Alvin lagi.
"Oh ayolah pak Alvin Mark, mungkin pak Jordi ingin mendengar kata katamu yang lain." ujar Calio.
"Ya bagus, apalagi yang harus aku katakan. Pak Jordi jagalah mawar ini, kita akan membuat pewarna dan pewangi seminggu lagi. Aku yang akan kembali kemari dan mengawasinya. Sekarang aku harus kembali ke kota." ujar Alvin seraya meninggalkan kebun itu.
Calio menghela nafasnya. "Seperti itulah ia sekarang pak Jor, sejak kehilangan kekasihnya ia kembali seperti batu es."
"Aku sangat mengerti pak Calio, aku harap tuan Alvin bisa segera menemukan nona Keke." jawab pak Jordi.
"Aku harap begitu walaupun itu tidak mungkin." ujar Calio.
Calio mengangkat bahunya sambil menepuk pundak pak Jordi. Calio tak mungkin mengatakan kalau Keke adalah seorang peri pada orang lain.
"Aku kembali sekarang pak, aku takut atasanku berteriak di dalam mobil." candanya.
Pak Jordi tersenyum. "Hati hati di jalan pak Cal."
"Terima kasih." ujar Calio seraya meninggalkan pria itu menemui Alvin yang sudah menunggu di dalam mobil.
Calio membawa Alvin keluar dari kota Dinan, sepanjang perjalanan pria itu hanya menatap keluar jendela mobil.
"Vin, apa kita akan mampir ke restoran sebelum ke perusahaan?" tanya Calio.
"Tidak." jawab Alvin.
"Oh ayolah Vin, aku kelaparan. Kembalilah seperti Alvin Mark yang ceria, aku tak suka sikap es batumu itu." ejek Calio.
Alvin menatap Calio. "Apa aku seperti itu? Aku biasa saja, jika kau ingin makan silahkan. Aku akan menunggumu di dalam mobil."
"Hei... Apa kau bukan manusia lagi yang tidak butuh makan?" tanya Calio.
"Berhentilah berdebat denganku Cal, aku sama sekali tidak lapar." jawab Alvin.
__ADS_1
"Baiklah biarkan aku kelaparan bersamamu, aku tak ingin makan sendirian." ancam Calio.
"Kau keras kepala." ujar Alvin.
"Kau lebih keras kepala." jawab Calio kesal.
Calio sebenarnya hanya berpura-pura kesal saja, ia melakukan itu agar Alvin mau makan dengannya. Kehilangan Keke bukan berarti harus menyiksa dirinya sendiri, Calio menatap wajah Alvin yang semakin murung.
"Restoran itu, cepatlah." perintah Alvin membuat Calio tersenyum.
Calio segera memasuki restoran sebelum Alvin Mark berubah pikiran. Keduanya masuk ke restoran itu dan mulai memesan makan siang mereka.
"Menyerahlah untuk mencarinya Vin, kau perlu pendamping." ujar Calio saat mereka makan.
"Urus saja dirimu sendiri, kau saja belum mencari pengganti tunanganmu." ejek Alvin.
Calio mengumpat. "Tapi aku pria bebas yang sudah berkali-kali ganti pasangan. Sedangkan kau..."
"Aku harap kau tak terkena penyakit kelamin." ejek Alvin lagi.
Calio kembali mengumpat. "Kau pikir aku pria bodoh, aku menggunakan pengaman di atas ranjang. Aku serius Vin... wanita yang mengejarmu pasti banyak di luar sana. Jangan menunggu seorang peri, karena itu tidak mungkin." bisiknya.
Alvin menendang kaki Calio. "Jangan membuat selera makanku hilang Cal. Aku akan mencintai Keke seumur hidupku. Dan kau tak perlu menjelaskan caramu berada di atas ranjang, itu bukan urusanku."
"Ciiiih... pria lajang gila..." kata Calio sambil memasukkan makanannya kedalam mulut.
Alvin menatap steak daging dihadapannya, ia kembali teringat saat pertama kali Keke memakan itu. Wajahnya kembali murung, ia sangat merindukan Keke. Ia tak akan berhenti mencarinya sampai kapanpun.
Calio menyadari perubahan wajah sahabatnya saat melihat makanan di depannya, ia menarik piring Alvin dan menggantinya dengan makanan yang lain.
"Makanlah ini, steak ini kurang enak." ujar Calio.
Alvin menatap wajah Calio, makanan di depannya sekarang lebih baik daripada steak. Ia mulai memakan itu dan menyelesaikannya. Ia ingin segera kembali ke perusahaan. Hanya pekerjaan yang sibuk yang bisa membuatnya lupa tentang wanita itu.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
Happy Reading All...😘
__ADS_1