Manequin Kekasihku

Manequin Kekasihku
Part 72


__ADS_3

Keke membuka selimutnya, pelan pelan ia turun dari ranjangnya dan keluar dari kamar itu. Ia tak ingin membangunkan seisi rumahnya untuk mencari pegunungan terdekat.


Raja peri sudah mengembalikan kekuatanku, mungkin aku bisa terbang sekarang mencari pegunungan terdekat. gumam Keke.


Wanita itu keluar dari rumah Alvin dan dengan kekuatannya ia mengeluarkan sayapnya. Ia berhasil lalu mulai terbang mencari pegunungan di sekitar kota itu. Cukup lama ia mencari dan akhirnya menemukannya. Keke berhenti disana dan segera memanggil pimpinan Serigala.


"Monsen... Monsen... Monsen..." ujar Keke.


Ia menatap sekeliling pegunungan yang gelap, ia bergidik saat melihat sekitar pegunungan itu. Belum ada tanda tanda kehadiran pimpinan Serigala.


"Monsen...Aku mohon datanglah dan bantu aku." gumam Keke.


Suara lolongan serigala memekakkan telinganya. Ada gerakan dari semak semak, Keke mundur karena takut. Tapi ketakutannya seketika hilang saat melihat Monsen berada di depannya.


"Hai peri cantik, aku pikir tak bisa bertemu kau lagi. Aku tak menyangka setelah beberapa bulan kau ingat padaku." sapa Monsen.


"Monsen, kau benar benar bisa menemuiku." jawab Keke.


"Tentu saja, itu janjiku padamu. Maaf aku perlu waktu untuk datang kemari." jawab Monsen.


"Tidak apa apa, aku senang kau datang. Aku minta maaf karena mengganggumu, tapi aku bingung harus bagaimana. Aku membutuhkan bantuanmu." kata Keke.


"Katakan padaku apa masalahmu, apa kau sudah menemukan mawar biru tapi kau tak bisa mengambilnya? Atau kau diganggu kaum manusia?" tanya Monsen.


Keke menggeleng. "Apakah aku bisa menolong manusia yang sedang sakit?" tanyanya.


Monsen melonglong. "Apa maksudmu peri cantik?"


"Aku bersalah karena menyukai seorang manusia, pria yang aku sukai itu sedang sekarat. Apa aku bisa membantunya agar sembuh? Aku akan meninggalkan dunia ini tapi aku tak ingin ia meninggal juga. Monsen tolong bantu aku." pinta Keke.


Monsen memutari tubuh Keke. "Peri cantik, aku tak bisa membantumu. Kau mampu menolongnya, tapi sangat berbahaya."


"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan untuk menolong pria itu?" tanya Keke.


Monsen menggeleng, ia tak tega mengatakannya pada peri cantik itu.


"Aku mohon Monsen, katakan padaku." pinta Keke lagi.


Monsen bersedih, ia menatap kesungguhan pada wajah peri Keke. "Kau sangat mencintai manusia itu peri Keke, aku tak sanggup mengatakannya. Sebenarnya setiap peri, mampu menyelamatkan satu manusia dengan pengorbanan dirinya. Peri Keke, kau bisa menyelamatkan pria itu dengan satu sayapmu, tapi jika kau melakukan itu kau akan menjadi peri cacat dan lemah untuk selamanya." jawab Monsen.


Keke terkejut dengan penuturan Monsen. "Maksudmu, aku bisa menyelamatkan manusia dengan memberikan salah satu sayapku?" tanyanya.


Monsen mengangguk. "Begitulah, tapi aku harap kau tak melakukannya."


"Aku akan memikirkannya, terima kasih atas semua bantuanmu Monsen. Aku akan kembali sekarang sebelum penghuni rumah itu menyadari aku tak ada di kamarku." ujar Keke.

__ADS_1


"Berhati-hatilah, kapanpun kau butuh bantuanku tetap panggil namaku tiga kali." jawab Monsen.


Keke mengangguk lalu mengepakkan sayapnya untuk kembali ke rumah. Begitu juga dengan Monsen yang harus kembali ke dunia serigala.


*****


Calio terus mondar mandir di depan ruangan Alvin Mark, malam semakin larut bahkan hampir menjelang pagi. Ia masih bingung harus mengatakan apa pada Alvin tentang kekasihnya.


Calio masuk dan melihat Alvin masih terjaga. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya.


"Kau membuatku tidak bisa tidur." jawab Alvin. "Kau pikir aku tak tahu kau terus mondar mandir di depan ruanganku. Ada apa Cal?" tanya Alvin.


"Kau sensitif sekali, aku hanya tak bisa tidur karena sebentar lagi kau akan menjalani operasi." jawab Calio.


"Aku tahu kau Cal, kau akan melakukan itu jika ada masalah. Aku baik baik saja, katakan ada apa?" tanya Alvin lagi.


Calio menghela nafasnya lalu duduk disamping Alvin. "Aku tak bisa menyimpannya Vin, ini masalah kekasihmu. Malam ini bu Farah menghubungiku, ia mengatakan ada yang aneh dengan sikap Keke. Wanita itu melupakan apa yang terjadi, ia bahkan tak tahu apa itu rumah sakit. Tapi wanita itu mengingat jika kau akan membantunya keluar dari manequin Keke."


Alvin terkejut. "Maksudmu Keke kembali mengingat masa lalunya, tapi ia melupakan yang terjadi sekarang."


"Aku tak tahu detailnya, tapi yang aku tangkap dari pembicaraan bu Farah seperti itulah adanya." jawab Calio.


"Aku tak bisa menjalani operasi seperti ini Cal, aku harus menemui Keke." ujar Alvin.


"Kau jangan mulai lagi Vin, aku akan membawa kekasihmu kemari sebelum kau menjalani operasi. Jadi jangan kau coba coba melakukan hal yang bodoh." bentak Calio.


Calio mengangguk. "Aku akan menjemputnya, kau tenang saja. Istirahatlah, aku akan membangunkanmu saat Keke sudah ada disini."


"Terima kasih Cal." jawab Alvin.


Calio hanya mengangguk dan meninggalkan ruangan Alvin untuk menjemput Keke. Ia tak ingin membuat sahabatnya lari dari operasi yang telah dijadwalkan.


*****


Keke terus membalik balikkan tubuhnya di atas ranjang. Kata kata Monsen terus terlintas di pikirannya. Air matanya kembali tumpah saat memikirkan antara kehidupannya dengan kehidupan Alvin.


Haruskah aku memberikan sayapku pada Alvin. Bagaimana caraku hidup tanpa sayap peri? Mengapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini? Tuhan... Apa yang harus aku lakukan? gumam Keke.


"Non Keke, apa sudah bangun?" panggil bu Farah.


Aku sama sekali tidak tidur bu. pikir Keke.


"Sudah bu." jawab Keke.


Bu Farah masuk dan membawa sarapan untuk Keke. "Sarapan non."

__ADS_1


"Aku mandi terlebih dahulu, kita akan ke rumah sakit jam berapa?" tanya Keke.


Bu Farah terkejut. "Apa non tahu apa itu rumah sakit?" tanyanya.


Keke mengangguk. "Aku sudah mengingat semuanya semalam."


"Tuan Calio sudah ada di bawah untuk menjemput non Keke. Setelah non Keke sarapan, kita akan langsung ke rumah sakit." jawab bu Farah.


Keke tersenyum lalu masuk ke kamar mandi. Bu Farah menyiapkan pakaian untuk Keke. Wanita itu keluar setelah setengah jam. Ia segera berpakaian dan beranjak keluar.


"Non sarapan anda." ujar bu Farah.


Keke menggeleng. "Aku tak ingin makan, lebih baik kita segera ke rumah sakit. Aku merindukan Alvin." jawabnya.


Di lantai bawah Calio sudah menunggunya, pria itu menatap Keke dan menyapanya.


"Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang." ajak Keke.


"Apa anda sudah sarapan?" tanya Calio.


Keke menggeleng. "Aku ingin segera bertemu Alvin." jawabnya.


Calio menatap bu Farah, pelayan itu hanya menggeleng bingung.


"Cepatlah..." ajak Keke lagi.


Calio dan bu Farah mengikuti Keke keluar rumah. Mereka menuju mobil Calio dan segera menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Keke sangat pendiam. Wanita itu hanya menatap keluar jendela mobil.


"Non...baik baik saja kan?" tanya bu Farah.


Keke menatap bu Farah lalu mengangguk. "Aku tak apa bu, aku hanya memikirkan Alvin. Apa penyakitnya sangat berbahaya?" tanyanya.


Bu Farah menundukkan kepalanya. "Kita berdoa saja agar operasi hari ini berjalan dengan lancar." ujar bu Farah.


Keke mengangguk dan kembali menatap keluar jendela mobil sampai mereka tiba di rumah sakit.


*****


1...


2...


3...


Next Part...

__ADS_1


Happy Reading All...😘


__ADS_2