
Vina masuk ke kantor pak Santoso karena mendengar pria itu berteriak.
"Ya Tuhan, anda baik baik saja kan pak." ujar Vina membantu pak Santoso bangun.
Pria itu mengerang sambil memegang pinggangnya.
"Apakah pak Anem yang melakukan ini?" tanya Vina.
Pak Santoso menggeleng. "Aku yang kurang berhati-hati, aku duduk tanpa melihat posisi kursi." jawabnya.
"Lebih baik kita ke rumah sakit pak." ujar Vina.
Pak Santoso mengangguk, dengan perlahan Vina membantu pria itu berjalan. Saat sampai di lobi, Vina meminta sekuriti membantu mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Bagas.
"Pak Santoso terjatuh, tolong bantu aku membawanya ke rumah sakit." pinta Vina.
"Kau lebih baik tetap di perusahaan Vina, aku bersama pak Bagas saja. Selesaikan pekerjaan hari ini, kita jangan melakukan kesalahan saat pak Mark datang. Jika memungkinkan aku akan kembali ke perusahaan." perintah pak Santoso.
Vina mengangguk. "Baiklah pak, anda hati hati. Pak Bagas tolong ya." ujarnya.
"Baik mbak Vina." jawab Bagas seraya membawa pak Santoso ke mobilnya.
Mereka menuju rumah sakit dekat perusahaan. Setelah satu jam, pekerja pabrik heboh mendengar kabar jika pak Santoso masuk rumah sakit setelah bertemu Anem. Semuanya bertanya pada Anem, apa yang terjadi pada pimpinan mereka.
*****
Anem tersenyum puas karena ia bisa membuat pria tua kasar itu merasakan akibat dari perbuatannya. Tapi ia juga merasa terganggu dengan pertanyaan pertanyaan para karyawan pabrik.
"Aku sama sekali tak tahu, aku keluar sebelum ia terjatuh dari kursinya." ujar Anem.
"Kami percaya, tapi kebetulan sekali itu terjadi setelah pak Santoso bertemu dengan anda pak Anem." ujar Hendro.
Anem tertawa. "Sudahlah, ia hanya terluka sedikit. Mengapa kalian sangat heboh sekali." ujarnya.
"Bukankah kau tahu, pak Santoso adalah orang kepercayaan pak Mark. Jika sesuatu terjadi padanya, maka akan berakibat fatal bagi semuanya. Hanya itu yang kami takutkan." ujar Hendro.
"Mengapa harus takut, itu tak ada hubungannya dengan kita." kata Anem.
__ADS_1
"Pak Anem masih tak mengerti, ini bukan masalah ia terjatuh tapi ini masalah pekerjaan yang belum selesai dikerjakannya." kata Hendro lagi.
"Kau ini berlebihan, perusahaan ini memiliki ratusan pekerja. Dan beberapa pekerjaan di kantor adalah pilihan pak Mark. Mengapa harus pak Santoso yang harus menyelesaikannya." ujar Anem.
"Anda benar juga." jawab Hendro.
"Sudah saatnya makan siang, aku ingin keluar sebentar." kata Anem seraya meninggalkan pabrik.
*****
Ternyata Anem kembali ke apartemennya dan menghubungi Harva dan Vivi.
"Apa aku mengganggu waktu kalian?" tanya Anem.
"Aku disini sudah sangat malam." jawab peri Harva.
"Aku masih sore hari, ada apa?" tanya peri Vivi.
"Sepertinya besok aku akan bertemu peri Keke. Walaupun belum pasti, tapi aku merasakan auranya semakin dekat. Sepertinya tebakanku benar, jika pemilik perusahaan tempatku bekerja yang telah merawat peri Keke selama ini." ujar Anem.
"Kau harus menghubungi kami jika itu benar peri Anem." ujar peri Harva.
"Tentu saja aku akan melakukannya jika memang yang bersama pimpinanku adalah peri Keke. Tapi aku masih bingung apa yang harus aku lakukan, jika ia benar benar peri Keke." kata Anem.
"Jangan melakukan apapun peri Anem, kau akan memancing manusia mengetahui keberadaan kita. Jadi kau tetap tenang, jangan melakukan hal yang akan merusak rencana kita selama di dunia manusia." ujar peri Harva.
"Bagaimana jika aku tak bisa menahannya, aku sangat merindukannya dan aku tak ingin peri Keke bersama pria lain apalagi itu manusia yang menyebabkan ia dihukum oleh raja peri." ujar Anem.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan, apakah kau ingin merebutnya dan membuat manusia tahu siapa kita." ujar peri Vivi.
"Setidaknya aku akan mendekatinya dan mengatakannya bahwa ia adalah seorang peri yang sedang dihukum." jawab Anem.
"Kau gila, bagaimana jika ternyata peri Keke itu mengatakannya pada pria itu. Bersabarlah peri Anem, kau tak boleh terburu buru." pesan peri Harva.
"Benar peri Anem, kau tak bisa gegabah. Kau akan melanggar janji kita kepada raja peri. Dan kau bisa mendapat hukuman juga jika hal itu terjadi, jangan pernah melukai kaum manusia dengan kekuatan kita." ujar peri Vivi.
Anem tertawa, ia mengingat kejadian di perusahaan. Ia telah menggunakan kekuatannya untuk melukai pak Santoso.
"Aku sebentar lagi akan mendapat hukuman dari raja, karena baru beberapa jam yang lalu aku membuat keusilan sedikit dan melukai manusia." ujar peri Anem.
__ADS_1
"Apa...???" tanya peri Harva dan peri Vivi bersamaan.
"Kau gila peri Anem, mengapa kau mudah terprovokasi manusia?" tanya peri Harva.
"Aku sangat kesal dengan manusia itu, ia dengan mudah membentakku dan memerintahkan pekerjaan seenaknya saja." jawab peri Anem.
"Kau benar benar gila peri Anem. Kau tak bisa menahan emosimu. Tentu saja ia memerintahmu karena ia pimpinan perusahaan. Mengapa kau malah membuatnya terluka?" tanya peri Vivi.
"Oh ayolah, jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya mengusilinya sedikit. Ia tak terluka parah, aku tak mungkin dihukum berat oleh raja peri." jawab peri Anem.
"Selamat menikmati hukuman raja peri, sepertinya ia sudah datang." ujar peri Harva seraya menutup teleponnya diikuti peri Vivi.
Anem menutup laptopnya dan membalikkan tubuhnya. Ternyata benar, raja peri sudah datang dengan sinar yang menyilaukan matanya. Peri Anem berlutut di depannya.
"Selamat datang raja peri." sambut peri Anem.
"AKU TAK PERLU SAMBUTAN... KAU TELAH MELANGGAR ATURAN KAUM PERI. ANEM KAU ADALAH PERI YANG SANGAT AKU PERCAYA, MENGAPA KAU MELAKUKAN HAL ITU?" tanya raja peri.
"Maafkan aku raja, aku sedikit emosi. Aku akan menerima apapun hukuman yang akan kau berikan." jawab peri Anem.
"AKU TAK BISA BERLAMA LAMA DISINI, KONDISI SANG RATU SEMAKIN MEMPRIHATINKAN, SEDANGKAN KALIAN SAMA SEKALI BELUM MENDAPATKAN APAPUN YANG AKU BUTUHKAN. AKU MENCABUT KEKUATANMU DALAM MERASAKAN RASA MAKANAN. KAU AKAN MERASA HAMBAR SAAT MEMAKAN APAPUN SELAMA SATU MINGGU." ujar raja peri dan perlahan-lahan sinar itu menghilang.
Anem terbelalak dengan hukuman itu, ia paling suka makan dan ia justru tidak akan bisa merasakan rasanya makanan di dunia manusia lagi, tapi keputusan raja peri tak mungkin ia tolak. Ia segera mengambil makan siang yang ia beli sebelum sampai ke apartemennya, lalu mencoba makanan itu. Anem menutup matanya, karena hukuman itu sudah dilakukan raja peri. Ia sama sekali tak bisa mencicipi rasanya, semuanya benar benar tidak enak.
Anem emosi dan membuang semua makanannya, ia bahkan melempar barang barang yang ada di dekatnya.
"Sialan......!!!" teriaknya.
Anem mengambil kunci mobilnya lagi, ia menuju ke pabrik kembali. Ia tak bisa menahan emosinya dan melukai pak Santoso. Kini ia lebih parah, ia bahkan tak bisa merasakan makanan apapun selama satu minggu. Anem mengeratkan genggaman tangannya di stir mobil. Ia bahkan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju pabrik.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
__ADS_1
Happy Reading All...😘