
Keke segera turun dari mobil, ia tak menunggu lagi. Ia segera berlari menuju ruangan Alvin Mark. Bu Farah mengejar Keke, ia takut wanita itu tak menemukan ruangan tuannya. Tapi ternyata Keke mampu menemukan ruangan Alvin Mark. Bu Farah menunggu di luar ruangan.
"Sepertinya Keke benar benar mengingat semuanya." ujar Calio.
Bu Farah mengangguk.
"Biarkan mereka berbicara, aku harap Alvin bisa melawan penyakitnya saat operasi berlangsung." harapan Calio.
Bu Farah meneteskan air matanya. "Aku harap Tuhan tak pernah memisahkan mereka."
"Kita harus berdoa untuk keduanya bu, aku juga berharap Alvin bahagia bersama kekasihnya. Ini pertama kalinya ia sangat mencintai seorang wanita." jawab Calio.
"Tuan Calio benar, ini pertama kalinya tuan Alvin sangat bahagia saat bersama wanita. Ia bahkan bisa mengubah sikap kakunya setelah bertemu non Keke. Tuan Alvin lebih bersemangat menjalani kehidupannya." kata bu Farah sambil terisak.
Calio membawa bu Farah duduk di depan ruangan itu. Calio terus menenangkan pelayan tua tersebut agar ia berhenti menangis.
*****
Keke menemui Alvin yang masih tertidur. Wanita itu menatap wajah Alvin dengan sangat lekat.
Haruskah aku memberikan kehidupanku untukmu. Walaupun aku sangat mencintaimu, aku tak bisa bersamamu karena kita berbeda Alvin. Aku akan menunggu hasil operasimu, jika aku harus menyelamatkanmu, maka aku ikhlas dan rela memberikan sebelah sayapku. Aku tak perduli walaupun aku harus menjadi seorang peri yang cacat seumur hidupku. pikir Keke.
Alvin terbangun setelah merasakan kehadiran seseorang disampingnya, ia membuka matanya lalu menatap Keke yang sedang berurai air mata.
"Sayang, jangan selalu menangis. Apa kau baik baik saja?" tanya Alvin.
Keke mengangguk. "Aku sangat baik, bagaimana denganmu?"
"Aku juga sangat baik, aku sudah siap melakukannya. Keke apa kau tak melupakan aku?" tanya Alvin lagi.
Keke tersenyum. "Bagaimana aku bisa melupakan pria yang aku cintai, aku mengingat semuanya. Tapi..." jawabnya.
"Tapi...???" kata Alvin.
"Dunia kita berbeda, aku tak bisa bersamamu. Kau tahu itu kan." sambung Keke.
Alvin terkejut. "Kau mengingat siapa dirimu dan semuanya. Lalu kekuatanmu."
Keke mengangguk. "Dari awal sampai akhir aku mengingatnya. Aku kembali mendapatkan kekuatanku. Dunia kita berbeda, dan rajaku mengingatkan tugasku datang ke duniamu."
"Ya Tuhan, jangan tinggalkan aku Keke. Aku sangat mencintaimu, aku terlanjur mencintaimu. Tetaplah bersamaku, walaupun kau bukan dari duniaku. Aku mohon, tetaplah disampingku. Kau bisa kembali ke duniamu dan kembali lagi ke duniaku. Aku mohon..." pinta Alvin.
Keke mengangguk untuk menenangkan Alvin. "Jangan terlalu banyak berpikir, fokuslah pada operasimu. Kau harus sembuh, aku janji akan berada disampingmu sampai kau selesai operasi." ujarnya.
"Lalu saat aku sembuh bagaimana?" tanya Alvin.
Keke menundukkan kepalanya, ia ragu harus menjawab apa. Tapi ia harus membuat Alvin nyaman agar operasinya berjalan dengan lancar. "Aku akan bersamamu." jawab Keke.
Alvin tersenyum. "Terima kasih sayang, aku akan segera bangun setelah selesai operasi. Aku tak ingin membuatmu menunggu terlalu lama." janji Alvin.
__ADS_1
Keke kembali mengangguk. "Jam berapa operasimu?" tanyanya.
"Selamat pagi..." sapa dokter Mattew. Dokter itu masuk bersama suster, Calio dan bu Farah.
"Selamat pagi dok." jawab Alvin dan Keke.
"Apakah kau sudah siap Mark?" tanya dokter Mattew.
Alvin mengangguk. "Aku sangat siap."
Dokter Mattew dan suster itu memeriksa keadaan Alvin. Keduanya mengangguk.
"Keadaanmu sangat baik, sudah saatnya kita menuju ruang operasi." ujar dokter Mattew.
Keke memucat, ia tiba-tiba sangat takut. Alvin menyadari hal itu, ia menarik tangan kekasihnya dan menepuk punggung tangannya dengan lembut. "Aku akan baik-baik saja sayang." bisiknya.
Keke mengangguk dengan kaku, bu Farah menenangkannya. Calio membantu 2 suster dan dokter Mattew untuk membawa Alvin keluar ruangan. Semuanya ikut mengantarkan Alvin menuju ruang operasi. Alvin tak melepaskan genggaman tangan Keke sampai di depan pintu ruang operasi.
Semuanya berhenti agar Alvin dan Keke kembali berbicara.
"Keke, aku mencintaimu." ujar Alvin.
"Aku juga sangat mencintaimu, kau harus cepat sembuh. Aku akan terus menunggumu." jawab Keke.
Alvin mengangguk, dokter Mattew dan suster membawanya masuk ke ruang operasi. Hanya genggaman tangan Alvin yang mulai melepaskan tangan Keke sebagai tanda perpisahan mereka.
*****
Sudah hampir 4 jam mereka menunggu di depan ruang operasi. Lampu operasi masih saja merah.
"Aku tak mau tahu, cegah semua wartawan menuju rumah sakit. Ini akan mempengaruhi perusahaan Jane." ujar Calio lagi seraya menutup ponselnya.
"Ada apa Cal?" tanya Keke.
Calio menggeleng. "Tidak apa apa, aku harus ke perusahaan tapi aku ingin tahu keadaan Alvin setelah operasi." ujarnya.
"Jika itu sangat penting, anda kembalilah ke perusahaan tuan Calio. Kami yang akan menunggu tuan Alvin." ujar bu Farah dan mendapat anggukan dari Keke.
Calio menghela nafasnya. "Tidak, aku akan kembali setelah operasi selesai. Aku akan menangani perusahaan dan wartawan setelahnya. Aku tak ingin melewatkan kabar dari sahabatku." jawabnya. "Aku akan menemui sekuriti rumah sakit untuk mencegah wartawan datang kemari." sambungnya.
Keduanya mengangguk dan membiarkan Calio menemui sekuriti rumah sakit.
Keke menatap ruangan operasi yang masih tertutup rapat. Bu Farah melihat kesedihan di mata Keke.
"Non, apa tidak sebaiknya non makan siang terlebih dahulu." ujar bu Farah.
Keke menggeleng. "Aku sama sekali tak lapar. Bu Farah bolehkah aku bertanya."
"Tentu saja non, silahkan." jawab bu Farah.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di kota Dinan? Aku ingat bahwa Alvin mengatakan aku memiliki keluarga angkat disana untuk membohongi publik." tanya Keke.
"Ya benar, disana ada keluarga pak Jordi dan ibu Else. Mereka adalah pengurus kebun tuan Alvin. Aku bekerja disana non, ada apa?" tanya bu Farah.
"Kebun apa itu? Bisakah aku tahu dan kapan aku bisa bertemu mereka?" tanya Keke lagi.
"Maafkan bu Farah non, tuan Alvin melarang siapapun tahu tentang kebun itu." ujar bu Farah.
"Termasuk aku?" kata Keke.
"Aku tak yakin non, tuan pernah bilang akan mengajak non Keke kesana jika saatnya tiba." kata bu Farah.
"Kebun apa itu bu, apa buah? apa sayuran? atau kebun bunga?" tanya Keke penasaran.
"Biarkan Alvin yang mengatakannya langsung padamu nona Keke. Kami tak bisa memberitahumu, karena Alvin yang akan memberikan kejutan itu padamu." ujar Calio.
"Kejutan? Aku tak mengerti apa maksud kalian. Sudahlah aku tak ingin bertanya lagi." ujar Keke.
Ketiganya kembali menunggu operasi selesai. Calio terus mondar mandir di depan ruang operasi. Sudah 8 jam mereka menunggu, dan akhirnya lampu merah itu berubah menjadi hijau. Mereka semua berdiri menunggu dokter Mattew keluar. Beberapa menit kemudian, dokter Mattew keluar dan menemui mereka.
"Bagaimana?" tanya ketiganya bersamaan.
"Kami sudah berusaha sebaik mungkin untuk mengangkat penyakitnya. Operasi berjalan dengan sangat baik, tinggal menunggu kesadaran Alvin Mark setelah satu jam." ujar dokter Mattew.
Semuanya bernafas lega mendengar penuturan dokter Mattew.
"Apakah keadaannya sangat baik?" tanya Calio.
"Kita akan mengetahuinya setelah satu jam tuan Calio. Aku tak bisa mengatakannya sekarang." jawab dokter Mattew.
"Baiklah kami bisa menunggu, setidaknya operasi berjalan dengan lancar." kata Calio.
"Bisakah aku menemuinya?" tanya Keke.
"Maaf nona, anda harus menunggu satu jam kemudian. Bersabarlah." kata dokter Mattew.
Keke menunduk, ia sangat sedih belum bisa menemui kekasihnya. Tapi ia berharap Alvin akan membaik tanpa ia perlu memberikan sebelah sayapnya.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
Happy Reading All...😘
__ADS_1