
Keke akhirnya sampai di rumah sakit, ia sudah memakai pakaian yang digunakan untuk melihat pasien khusus. Hari semakin larut, Keke menemui Alvin Mark di ruangan rawat khususnya. Wanita itu mengeluarkan air matanya kembali saat menatap alat yang ada di tubuh Alvin.
Alvin, sayang... Seandainya kau bisa bangun, aku akan mengatakannya padamu bahwa aku membutuhkan mawar biru milikmu untuk kembali ke duniaku. Tapi sebelum itu, aku akan memberitahumu bahwa aku adalah seorang peri yang sangat mencintaimu. Walaupun itu tidak mungkin. gumam Keke.
Aku akan menyerahkan sayapku padamu, agar kau kembali sehat seperti semula. Setelah aku menyerahkan sayapku, aku akan pergi darimu Alvin. Aku tak ingin kau tahu bahwa aku adalah peri yang cacat. Kita juga tak mungkin bisa bersama, aku dan kau adalah orang yang berbeda. sambung Keke lagi.
Keke keluar dari ruangan dan menemui bu Farah. "Bu Farah..." sapa Keke.
"Non menangis lagi?" tanya bu Farah.
Keke menggeleng. "Bu... tolong biarkan aku tetap disini malam ini, anda bisa pulang sekarang." pintanya.
Bu Farah menggeleng. "Jangan non, non butuh istirahat juga."
"Aku bisa tidur disamping Alvin." jawab Keke.
"Tapi ruangan itu tak diperbolehkan untuk siapapun tidur disana. Itu ruang rawat khusus non." ujar bu Farah.
"Aku bisa tidur disini." ujar Keke sambil menunjuk kursi tunggu.
Bu Farah menggeleng. "Tidak non, bagaimana anda bisa tidur disini."
"Anda kembalilah bu Farah, aku akan mengizinkan nona Keke untuk tidur di ruangan Alvin. Mungkin itu akan membantu Alvin segera bangun." ujar dokter Mattew tiba tiba.
"Dokter..." sapa Keke dan bu Farah.
"Maaf aku mendengarkan pembicaraan kalian, biarkan saja nona Keke disini. Aku mengizinkannya." ujar dokter Mattew lagi.
"Terima kasih dok." ujar Keke.
Bu Farah sangat ragu meninggalkan wanita itu, tapi akhirnya ia mengangguk membuat Keke senang.
Selamat tinggal bu Farah, aku akan menyelamatkan Alvin malam ini, tapi aku tak bisa kembali lagi. Aku akan ke kota Dinan dan mencari keberadaan mawar biru itu. Aku akan meminta bantuan Parut untuk membawaku kesana, dan terima kasih karena kau telah bersamaku dan merawatku dengan baik selama ini. pikir Keke.
Air matanya kembali tumpah, ia menarik bu Farah ke pelukannya sambil menangis. Bu Farah bingung mengapa Keke selalu menangis.
__ADS_1
"Non sebenarnya ada apa?" tanya bu Farah.
"Terima kasih bu, selama ini kau telah merawatku dengan baik. Jaga kesehatanmu, aku menyayangi kalian semua." jawab Keke sambil terisak.
"Non Keke anda tak perlu berterima kasih, kami senang merawat non Keke selama ini. Jangan memeluk bu Farah seperti ingin pergi jauh non, aku hanya kembali ke rumah. Besok bu Farah akan menjemput non kembali. Beristirahatlah disini dengan baik ya non." pesan bu Farah.
Keke melepaskan pelukannya lalu mengangguk. Bu Farah meninggalkan Keke di rumah sakit, Keke dibawa dokter Mattew ke ruangan Alvin Mark untuk beristirahat.
*****
Tepat tengah malam, si elang sudah menunggunya di atap rumah sakit. Ia sebelumnya memang menghubungi Parut dengan kekuatannya untuk membantunya menuju kota Dinan setelah makan di rumah sebelum ke rumah sakit. Ia tak mungkin menggunakan sayapnya yang sebentar lagi hanya tinggal sebelah menuju kota tersebut.
Keke menangis di depan Alvin saat ini, ia sudah siap melepaskan sayapnya untuk kekasihnya agar segera sembuh. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum menggunakan kekuatannya yang tersisa untuk memotong sayapnya sendiri.
Keke mengerang kesakitan saat ini, ia berusaha sekuat tenaga untuk mematahkan sayapnya. Rasanya begitu menyakitkan, tapi ia tak ingin berteriak. Peluh yang keluar dari tubuhnya semakin banyak, ia menggigit bibirnya menahan kesakitan itu. Ia harus cepat sebelum ada yang datang ke ruangan Alvin.
Keke melukai dirinya sendiri dan akhirnya berhasil mematahkan sayapnya, ia mengatur nafasnya yang tak beraturan. Keringatnya membasahi tubuhnya seperti mandi. Ia memiliki sedikit kekuatan tersisa untuk menyatukan sayapnya dengan tubuh Alvin.
Keke memaksakan dirinya, dan menggunakan kekuatan tersisa itu. Ia menyatukan sayapnya sehingga mengeluarkan cahaya menyilaukan pada tubuh Alvin Mark. Keke berhasil, ia jatuh lemas ke lantai. Air matanya kembali menetes dengan deras. Ia tak bisa menunggu Alvin sampai terbangun, ia harus segera meninggalkannya.
Parut ternyata memang menyaksikan perbuatan baiknya untuk manusia lewat jendela kaca ruangan gedung rumah sakit.
"Buka jendelanya peri cantik, aku akan membantumu." ujar Parut.
Keke menatap jendela dan menemukan Parut disana, ia merangkak menuju jendela. Tanpa sadar ia telah meninggalkan tubuh manequin Keke disana. Parut terbelalak melihat itu.
"Peri Keke, kau bisa keluar dari manequin itu. Tapi kau tak bisa meninggalkannya disana." ujar Parut.
Keke berhenti dan menatap kebelakang, ia terkejut saat melihat sebuah manequin yang selama ini ia gunakan. Ia menatap tubuhnya yang kembali menjadi seorang peri tanpa sebelah sayap.
"Aku tak punya kekuatan lagi untuk menghancurkan manequin itu Parut." jawab Keke.
"Cepatlah buka jendelanya." perintah Parut lagi.
Keke mendorong jendela kaca itu, ia hampir tak mampu membukanya lagi. Ia menggunakan sayap yang tersisa dan akhirnya ia bisa membukanya. Parut masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Kita bisa membuat orang disini ketakutan karena sosokmu berubah menjadi boneka, aku akan membantumu membuang manequin itu." ujar Parut.
Awalnya Keke mengangguk tapi ia melihat Alvin menggerakkan tangannya. "Parut, bawa aku pergi sekarang. Alvin sadar, cepatlah..." pinta Keke.
Parut menatap manusia yang terbaring disana, Keke benar pria itu mulai tersadar dari komanya. Parut membantu Keke naik ke atas punggungnya dan segera meninggalkan ruangan itu lewat jendela ruangan tanpa menghiraukan manequin yang tergeletak di lantai.
*****
"Keke..." teriak Alvin.
Alvin tersadar dari komanya, ia mencari keberadaan kekasihnya. Ia mendengar sesuatu yang mustahil saat ia dalam keadaan koma. Wanita yang ia cintai selama ini adalah seorang peri dan ia menyerahkan sebelah sayapnya.
Suara alat ditubuhnya mengirimkan sinyal pada suster yang menjaganya. Suara langkah kaki beberapa orang terdengar memasuki ruangan. Mereka terkejut saat melihat Alvin terduduk di atas ranjangnya.
"Ada apa?" tanya dokter Mattew. "Alvin kau sudah sadar." saat menyadari Alvin sedang terduduk.
"Dimana Keke? Dimana wanita itu?" teriak Alvin.
Mereka semua mencari keberadaan Keke dan menemukan wanita itu tergeletak di lantai. Mereka panik tapi saat menyentuh tubuh itu, semuanya terkejut. Mereka melepaskan tubuh itu dan mundur sambil bergidik.
"Ada apa, mengapa kalian tak mengangkat tubuhnya?" tanya dokter Mattew sambil mendekati mereka.
"Tunggu..." ujar Alvin. Ia melepaskan semua alat di tubuhnya tanpa menghiraukan larangan beberapa suster. Alvin menatap Keke yang tergeletak di lantai. "Keke... tidak..." teriaknya seraya berlutut di dekat manequin itu.
Tangisannya keluar saat ia menyentuh Keke. Ia tahu Keke meninggalkan manequin itu. Keke meninggalkannya setelah memberikan sebelah sayapnya padanya. "Kekeeeeee...." teriaknya.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
__ADS_1
Happy Reading All...😘