Manequin Kekasihku

Manequin Kekasihku
Part 52


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan?" tanya Alvin.


"Tentu saja menonton televisi." jawab Keke. "Ada apa kau kembali?" tanyanya.


"Aku merindukan wanitaku." goda Alvin.


Keduanya duduk bersama.


"Apa yang harus aku bawa untuk pergi bersamamu?" tanya Keke.


"Hanya ini." jawab Alvin sambil menunjuk Keke.


"Aku serius Alvin." ujar Keke kesal.


"Aku juga serius sayang, pelayan sudah menyiapkan semuanya. Kau persiapkan dirimu sendiri. Perjalanan kita sangat jauh, aku tak ingin kau kelelahan." jawab Alvin.


"Apa kita akan terbang kesana, karena Hara bilang seperti itu." ujar Keke.


Alvin tertawa. "Pertanyaanmu soal terbang seperti kita memiliki sayap peri sayang. Kita akan menggunakan pesawat pribadi. Seperti mobil hanya saja ini melintasi langit." jawabnya.


Keke berpikir, ia sama sekali tak pernah tahu soal pesawat itu. "Alvin sebenarnya aku siapa? Mengapa aku tak tahu apa apa soal kehidupan dunia ini?" tanyanya.


Alvin terbelalak. "Tentu saja kau dari dunia ini, mengapa kau bertanya seperti itu Keke. Kau hanya lupa, itu saja."


"Sampai kapan aku melupakan semuanya?" tanya Keke lagi.


Alvin menggeleng. "Setidaknya kau tetap bersamaku dan mengingatku, itu sudah cukup." jawabnya seraya memeluk pundak Keke.


Keke merebahkan kepalanya di bahu Alvin. "Aku sangat nyaman bersamamu."


Alvin mencium keningnya. "Aku bahagia kau bisa nyaman bersamaku."


"Apa kau tidak memiliki pekerjaan?" tanya Keke.


"Tentu saja banyak, tapi itu perusahaanku. Aku bisa pulang kapan saja dan ada Calio yang mengurusnya." jawab Alvin.


"Tuan, nona waktunya makan siang." ujar Hara.


"Terima kasih Hara, kami akan kesana sebentar lagi." jawab Alvin dan Hara meninggalkan mereka lagi.


"Apa kau sudah lapar?" tanya Alvin.


Keke menggeleng. "Aku masih ingin merebahkan kepalaku di bahumu." jawabnya.


"Kau bahkan bisa tidur bersamaku setelah makan siang." bisik Alvin.


Keke bergidik. "Tidak akan tuan Mark." ujarnya.


"Jangan salahkan aku jika memaksamu." goda Alvin.


Keke berdiri ingin berlari tapi ia terlambat, Alvin menariknya sampai jatuh di pangkuannya lalu mencium bibirnya lagi dengan penuh hasrat. Keke hampir tak bisa bernafas karena Alvin begitu lama menciumnya. Alvin melepaskan ciumannya lalu menatap wajah Keke yang memerah.


"Apa kau ingin lebih dari ini?" tanya Alvin.


"Kau tak akan berani." jawab Keke.


"Jangan menantangku sayang, kau akan merasakannya setelah makan siang. Tunggu saja." ancam Alvin.


"Berhentilah tuan Mark, ayo kita makan." ajak Keke.

__ADS_1


Alvin tertawa lalu mengikuti Keke menuju ruang makan. Di meja makan, Keke sekali sekali mencuri pandang Alvin.


"Jangan menggodaku." ujar Alvin.


"Kau terlalu percaya diri, aku melihat ayam yang sedang kau makan." jawab Keke.


Alvin tersedak lalu tertawa membuat pelayan yang lain ikut tertawa. Sedangkan Keke menekuk wajahnya.


"Ternyata ketampananku dikalahkan oleh sepotong ayam ini." goda Alvin.


"Bisakah kau berhenti menggodaku, aku sama sekali tidak nafsu makan." ujar Keke.


"Baiklah maaf sayang, lanjutkan makanmu." kata Alvin.


Bisakah kami terus seperti ini Tuhan? Aku ingin terus tertawa seperti ini bersama Keke dan menghabiskan masa tua kami bersama. Pikir Alvin sedih.


"Ada apa Alvin, kenapa tiba-tiba kau berhenti makan?" tanya Keke.


"Aku sedang menatap kekasihku yang sedang makan." jawab Alvin.


"Kau terus saja bercanda, cepat selesaikan makananmu." perintah Keke.


"Baik nyonya." jawab Alvin.


Keduanya menyelesaikan makan siang mereka. Setelah itu keduanya kembali ke ruang santai, saat baru ingin duduk. Tiba-tiba Alvin sakit kepala, ia berusaha menahannya di depan Keke. Tapi ternyata Keke lebih sensitif.


"Apa yang sakit?" tanya Keke.


"Aku baik baik saja sayang." jawab Alvin.


"Jangan membohongiku, kau memucat dan berkeringat. Lebih baik kita ke kamar, kau perlu istirahat. Kau masih sakit tapi sudah bekerja." perintah Keke.


"Jangan kemana-mana sayang, tetap bersamaku." pinta Alvin.


"Aku hanya ingin mengambil obatmu, tunggu sebentar." jawab Keke.


Wanita itu mencari obat di dalam laci kamar lalu keluar kamar lagi untuk mengambil air minum. Saat ia kembali, ternyata Alvin sudah memejamkan matanya.


"Alvin, minum obat dulu sebelum tidur." ujar Keke pelan.


Alvin membuka matanya. "Letakkan gelas itu." perintahnya.


"Minum obat dulu." kata Keke.


"Iya, tapi aku ingin memelukmu." ujar Alvin.


Keke menghela nafasnya, lalu meletakkan gelasnya. Alvin menarik tubuh Keke sampai jatuh diatasnya. Ia menarik leher Keke lalu menciumnya. Setelah puas, Alvin membalikkan tubuh Keke sehingga posisi mereka kini terbalik.


"Apa yang ingin kau lakukan Alvin?" tanya Keke polos.


"Aku ingin minum obat." jawab Alvin seraya menundukkan kepalanya dan kembali menciumnya.


Keke terkesiap saat lidah Alvin masuk kedalam mulutnya dan menari nari disana.


"Alvin..." panggil Keke.


"Ssssttt... aku menginginkanmu sayang." ujarnya parau.


Alvin kembali memasukkan lidahnya dan menarik lidah Keke dan menggigitnya pelan. Suara Keke tercekat saat merasakan hal baru itu. Alvin meninggalkan mulutnya menuju leher Keke. Ia mengecupnya sampai meninggalkan bekas kissmark disana.

__ADS_1


Alvin harus melakukannya karena ia tak ingin berpisah dari wanita itu, dengan melanggar batasan cinta mereka Alvin berharap Keke tak bisa kembali lagi ke dunia yang sama sekali belum Alvin tahu.


Alvin membuka kancing baju Keke satu per satu dan menangkup salah satu payudara wanita itu. Keke terkesiap karena ini pertama kalinya Alvin menyentuh bagian itu.


"Jangan menolakku sayang, kita akan melakukannya jika ingin selamanya bersama." ujar Alvin.


"Apa maksudmu?" tanya Keke.


Alvin mengerang, ia kembali merasakan kepalanya sakit.


"Sialan..." umpatnya.


Alvin berkeringat lalu menutupi tubuh Keke. "Maafkan aku Keke." ujarnya.


Keke segera bangun dan mengambil obatnya. "Minum ini Alvin."


Alvin mengambil obatnya dan segera meminumnya. Ia kembali merebahkan tubuhnya, lalu menarik Keke disampingnya.


"Aku minta maaf melakukan hal tadi, sekarang temani aku tidur." pinta Alvin.


Walaupun Keke masih tak mengerti apa yang dikatakan Alvin tapi wanita itu mengangguk. Ia menemani Alvin memejamkan matanya.


*****


Hari semakin sore, Keke perlahan mengelap keringat yang terus keluar dari tubuh Alvin. Tubuh pria itu kembali demam, membuat Keke takut. Ia sudah menghubungi dokter Mattew, dan dokter itu segera datang ke rumahnya.


"Bagaimana keadaannya nona Keke?" tanya dokter Mattew.


Keke menggeleng. "Aku tak tahu, Alvin tak mau membuka matanya."


Dokter Mattew memeriksanya. "Aku tak tahu harus mengatakannya atau tidak, tapi sebaiknya kita membawa Mark ke rumah sakit."


"Apa separah itu?" tanya Keke takut.


"Jangan takut nona, kita hanya butuh merawatnya dengan alat yang memadai." jawab dokter Mattew.


Calio menghambur ke dalam kamar. "Apa yang terjadi?" tanyanya panik.


Dokter Mattew menggeleng. "Kita harus merawatnya, aku tak tahu mengapa ia kambuh lagi. Aku tak bisa bicara sekarang."


Calio mengangguk. "Nona Keke, aku akan membawa Alvin ke rumah sakit. Lebih baik kau tetap di rumah. Aku khawatir Alvin akan marah jika kau ikut kami."


Keke menangis. "Apa yang terjadi padanya, tadi dia baik baik saja. Apa aku melukainya?" tanyanya.


Hara menenangkan Keke. "Tidak non, bukan salah non Keke. Tuan Alvin hanya butuh perawatan. Non Keke lebih baik disini saja. Tuan Calio, kami serahkan tuan Alvin kepadamu." ujarnya.


Calio mengangguk seraya mengangkat tubuh Alvin menuju mobilnya. Mereka berangkat ke rumah sakit, sedangkan Alvin sama sekali tak bergeming.


*****


1...


2...


3...


Next Part...


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2