Manequin Kekasihku

Manequin Kekasihku
Part 29


__ADS_3

Keke terbangun dan mencari keberadaan Alvin Mark di ruangan. Tapi pria itu tak kelihatan, Keke ketakutan berada di ruangan sendirian. Ia kembali menangis saat semakin takut, ia tak mengenali siapapun bahkan dirinya sendiri.


Alvin Mark masuk ke ruangan Keke setelah menemui dokter Mattew dan sangat terkejut saat melihat Keke menangis. Alvin sedikit berlari menghampiri Keke.


"Kau kenapa? Mana yang sakit sayang?" tanya Alvin panik.


Keke menatapnya lalu memeluk pria itu. "Kau darimana saja, aku takut." jawabnya.


Alvin memeluk Keke dengan erat dan menenangkannya. "Maafkan aku, aku menemui dokter Mattew. Aku tak akan kemana mana Keke, kau jangan takut. Aku akan selalu ada untukmu." ujar Alvin.


Keke terus terisak dipelukan Alvin. "Bisakah kau jangan meninggalkan aku sendirian, aku tak mengenal siapapun. Tapi aku percaya padamu." ujar Keke.


Alvin mengangguk dan terus menenangkannya. "Aku janji tak akan meninggalkanmu lagi. Bagaimana keadaanmu?" tanya Alvin.


"Aku baik baik saja, apa kita bisa pulang?" tanya Keke.


Alvin menggeleng. "Kau butuh perawatan sayang, sementara kau di rumah sakit. Besok akan kita lihat hasil pemeriksaan dokter. Aku harap tak ada masalah apapun padamu." jawab Alvin.


"Aku benar benar baik baik saja, aku tak apa apa. Hanya tak mengingat orang di sekitarku saja." kata Keke.


"Itu masalah, kau bahkan tak mengingat siapa namamu." kata Alvin. "Apa kau lapar?" tanyanya.


Keke mengangguk, ia benar benar merasa lapar pada saat seperti ini. Alvin mengupas buah apel dan menyuapinya. Dengan perlahan Keke mengunyah buah itu. Tapi pikiran Alvin sangat jauh, ia benar benar bingung apa yang terjadi pada Keke. Jika wanita itu kehilangan ingatannya, lalu bagaimana ia bisa menyelesaikan tugas dari dunianya. Tapi di lain sisi juga Alvin merasa senang, karena wanita itu tak apa apa saat ia mereka saling berpelukan. Bahkan Keke tak merasakan sakit dan panas ditubuhnya, hanya saja mengapa beralih ke ingatannya.


Alvin menghela nafasnya, membuat Keke bertanya. "Ada apa?"


"Ah, tidak. Aku senang kau mau makan dengan lahap." jawab Alvin.


"Aku benar benar lapar, tak bisakah kau mencari makanan lain selain buah ini." ujar Keke.


"Apa kau ingin wortel, kubis atau sayuran lain?" tanya Alvin. "Aku akan mencarinya keluar." sambungnya.


Keke menggeleng. "Jangan tinggalkan aku, aku ingin makan yang ada di nampan itu." pintanya.


Alvin terbelalak, rumah sakit memang sudah mengirimkan makanan Keke. Tapi itu nasi, ayam dan juga sayur matang. Alvin mengambil nampannya. "Kau yakin ingin makan ini?" tanya Alvin.


Keke mengangguk. "Sepertinya enak." jawabnya.


"Bukankah kau vegetarian Keke, kau hanya makan buah dan sayuran mentah." ujar Alvin.


Keke terkejut. "Benarkah, aku seperti itu?" tanyanya.


Apa karena kehilangan ingatan, ia bisa memakan ini? Jika terjadi sesuatu pada tubuhnya karena makan ini, bagaimana? pikir Alvin.


"Tunggu Keke, aku akan menghubungi bu Farah." ujar Alvin lalu mengambil ponselnya di saku dan menjauh dari Keke.

__ADS_1


*****


Alvin menghubungi rumah dan bertanya pada bu Farah.


"Jadi selama aku tak ada, Keke memang memakan semua yang kau sediakan." ujar Alvin terkejut.


"Maaf tuan, aku lupa mengatakannya kepada anda. Non Keke kami ajarkan makan makanan kita, dan selama ini ia baik baik saja. Ia juga mulai menyukai semua makanan yang pelayan sediakan. Ia bukan vegetarian, hanya saja ia tak pernah menemui makanan lain di dunianya kecuali buah dan sayuran." ujar bu Farah.


"Kalian tak mengatakannya lebih awal, aku berpikir seperti orang bodoh saat ia meminta makanan lain." ujar Alvin.


"Sekali lagi maafkan kesalahanku tuan." jawab bu Farah.


"Baiklah, tak apa apa. Terima kasih bu." kata Alvin seraya mematikan ponselnya.


Alvin kembali mendekati Keke yang masih terus menatapnya. Alvin tersenyum padanya, lalu mengambil nampannya lagi dan mulai menyuapi wanita itu. Alvin ingin tertawa saat mengingat ucapan Keke untuk tidak membunuh sesama makhluk hidup, karena mereka temannya di dunianya. Tapi sekarang, ia malah lahap memakan itu.


"Kau terlihat sangat senang Alvin." ujar Keke.


"Tentu saja, kekasihku makan dengan lahap saat ia sakit." jawab Alvin.


"Aku tidak sakit, aku sehat." kata Keke.


"Oke kau sehat, aku percaya setelah melihatmu makan seperti ini." ujar Alvin seraya tertawa.


"Kau meledekku, apa aku terlihat sangat rakus?" tanya Keke.


Keke mengangguk dan menikmati setiap suapan dari Alvin.


"Oh ya, sebentar lagi sahabatku sekaligus asistenku di perusahaan akan datang kemari. Namanya Calio, sebenarnya ia menemuimu tadi pagi. Tapi kau masih tertidur, jadi jangan takut saat ia datang. Ia juga pria yang sangat baik dan juga tampan." ujar Alvin.


Keke hanya mengangguk, ia menghabiskan makanan itu membuat Alvin senang. Alvin menaruh nampannya lalu memberikan Keke minum.


"Alvin, bisakah kau suruh dokter melepaskan ini." pinta Keke sambil menunjukkan selang infusnya di tangan.


"Tidak." jawab Alvin tegas.


"Ini menggangguku." ujar Keke.


"Ini selang infus, kau membutuhkannya untuk menambah tenagamu." ujar Alvin.


"Aku sudah tidak apa apa, aku sudah makan banyak dan kuat." jawab Keke.


"Jangan membantah Keke, kau harus menggunakan infus ini sampai dokter melepaskannya." kata Alvin.


Keke cemberut, ia sangat kesal karena selang infus itu benar benar mengganggunya.

__ADS_1


"Kau sangat jelek jika menekuk wajahmu seperti itu." ujar Alvin, tapi Keke tak bergeming. Ia justru semakin cemberut.


Alvin menghela nafasnya lagi, wanita ini memang keras kepala walaupun ia pernah mengatakan jika ia pendiam di dunianya.


"Oke...aku akan memanggil suster dan bertanya apa boleh melepaskan selang infus ini." ujar Alvin mengalah lalu menekan tombol panggilan suster.


Suster masuk dengan panik. "Ada apa tuan Mark?" tanyanya.


"Tak apa sus, aku hanya ingin bertanya. Kekasihku kesal karena tak bisa melepaskan selang infusnya. Apakah sudah bisa dilepas?" tanya Alvin.


"Sebentar aku cek keadaan pasien, tapi satu botol pun belum habis tuan." ujarnya seraya mulai memeriksa Keke. "Semuanya sudah bagus, tapi aku harus menghubungi dokter Mattew." sambungnya.


"Lepaskan saja jika memang sudah baik baik saja, aku tak tahan melihat wajah jeleknya." ejek Alvin.


Keke memajukan bibirnya membuat suster dan Alvin tertawa. Suster itu mulai melepaskan selang infusnya.


"Nah sudah selesai, tapi aku tetap harus melaporkannya pada dokter Mattew, jika dokter marah bersiaplah nona akan ditusuk jarum ini lagi." kata suster itu lagi.


"Aku akan lari dari sini, jika kau membuat jarum itu berada ditanganku lagi." jawab Keke.


Suster tersenyum lalu pamit keluar.


"Kau keras kepala sayang. Sekarang tersenyumlah, aku benar benar kesal melihat wajahmu seperti itu." pinta Alvin.


Keke justru menyeringai menampakkan giginya yang putih pada Alvin. Alvin menatap Keke saat wanita itu mulai ceria lagi. Alvin mendekatinya lalu menarik kedua pipi Keke dan mulai menciumnya. Benar benar tak terjadi apapun pada tubuh wanita itu. Alvin melepaskannya dan menatap wajah Keke yang memerah.


"Apa kau mulai panas lagi?" tanya Alvin.


"Mengapa kau menciumku?" tanya Keke.


Alvin tertawa karena lega, wajah Keke memerah karena hasratnya bukan karena tubuhnya yang kepanasan. "Itu hukuman buat wanita yang keras kepala." jawab Alvin.


"Ciiih..." ujar Keke memalingkan wajahnya.


Alvin justru menarik tubuhnya dan memeluknya. "Tetaplah bersamaku Keke, jangan pernah tinggalkan aku. Aku mencintaimu." ujar Alvin.


Keke mengangguk dan membalas pelukan Alvin.


*****


1...


2...


3...

__ADS_1


Next Part...


Happy Reading All...😘


__ADS_2