
Keke bermain dengan anj*** kesayangan Alvin di halaman samping rumahnya, ia tahu dokter Mattew dan Calio sudah pergi. Tapi ia tak ingin mengganggu istirahat Alvin.
"Nona sudah waktunya makan siang." ujar Hara.
Keke menggeleng. "Aku tidak lapar." jawabnya.
"Non keke harus makan, nanti tuan Alvin marah." rayu Hara.
Keke terus menggeleng. "Aku benar benar tidak mau makan Hara." jawabnya lagi.
Hara menghela nafasnya lalu meninggalkan Keke.
"Apa kau mau aku hukum karena tak mau makan?" tanya Alvin seraya menghampiri kekasihnya.
Keke terkejut. "Apa yang kau lakukan? Mengapa turun dari tempat tidur?" tanyanya.
"Aku melihat kekasihku dari atas, dan melihat ia terus menggeleng saat Hara memintanya untuk makan." jawab Alvin.
Keke membawa Alvin duduk di kursi taman. "Apa kau mau makan? Katakan apa yang kau mau makan, biar Hara membuatnya." ujarnya.
Alvin mendekati telinga Keke. "Aku menginginkanmu." bisiknya.
Wajah Keke merah lalu mundur. "Kau selalu saja bercanda."
"Aku serius sayang." jawab Alvin menarik Keke kepangkuannya lalu menarik wajahnya dan mencium bibirnya. "Kau sangat manis." gumamnya.
Keke tak bisa berbuat apapun saat Alvin memerangkap tubuhnya. Ia hanya bisa menikmati sentuhan bibir Alvin yang hangat diatas bibirnya. Keke melepaskan ciuman itu lalu menatap wajah Alvin.
Keke menyentuh wajah Alvin. "Kau yakin baik baik saja?" tanyanya.
Alvin mengangguk. "Aku baik baik saja sekarang, jangan terus khawatir." jawabnya.
Keke memeluk Alvin. "Aku tak tahu seperti apa perasaan ini, tapi aku takut kau sakit. Aku takut kau tak bisa menemaniku bermain lagi."
Alvin mengelus punggung wanita itu. "Aku akan menemanimu sampai kapanpun sayang. Aku hanya kelelahan dan pusing mendengar teriakan wanita gila tadi pagi." ujarnya.
"Siapa wanita itu?" tanya Keke.
"Fans beratku." jawab Alvin datar.
"Apa itu fans?" tanya Keke.
Alvin terkekeh. "Penggemar... Orang yang suka mengejarku." jawabnya.
"Mengapa kau membiarkan wanita itu mengejarmu? Harusnya kau hentikan, aku tak mau ada wanita lain yang dekat denganmu." ujar Keke.
"Apa kau mulai cemburu nona cantik." goda Alvin.
Keke turun dari pangkuan Alvin. "Tentu saja." jawabnya kesal.
__ADS_1
Alvin memeluknya dari belakang. "Tidak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisimu sayang. Wanita itu gila, aku tak suka wanita yang gila." ujarnya.
Keke tertawa mendengar pengakuan Alvin. "Tapi aku suka pria yang gila sepertimu." ejeknya.
Alvin membalikkan tubuh Keke. "Kau mengejekku sayang."
Sebelum Alvin memberinya hukuman, Keke berlari masuk kedalam rumah. Alvin hanya bisa tertawa melihat kekasihnya yang berlari itu.
Aku ingin terus bersamamu sayang, tapi jika aku benar-benar memiliki penyakit kanker otak itu. Aku akan segera mengirimmu ke duniamu. Aku tak ingin kau merawat dan merasakan kesedihan karena kehilanganku. gumam Alvin.
Alvin masuk kedalam rumah mencari keberadaan kekasihnya.
*****
Bu Farah mendapat kabar buruk soal rumor kehamilan Karen dan juga soal penyakit yang diderita Alvin. Awalnya ia sangat tenang, tapi semakin lama ia semakin tak bisa bekerja sama sekali. Ia terpaksa menghubungi Alvin.
"Halo..." ujar bu Farah.
"Halo, ini kediaman Alvin Mark. Ada yang bisa aku bantu." tanya Hara.
"Kau Hara kan, ini bu Farah." ujarnya.
"Mengapa suaramu berbeda bu Farah? Apakah kau menangis?" tanya Hara.
"Aku bisa gila disini Hara, bagaimana dengan tuan Alvin?" tanya bu Farah.
"Tapi aku belum tenang Hara, apakah sudah ada kepastian soal penyakit tuan?" tanya bu Farah.
"Aku tak bisa mengatakannya, aku takut non Keke mendengarnya." jawab Hara. "Tuan Alvin, bu Farah ingin bicara." ujarnya saat melihat Alvin masuk ke dalam rumah.
"Halo bu Farah, apakah semuanya baik baik saja?" tanya Alvin.
Bukannya menjawab, bu Farah justru menangis. "Aku percaya tuan tak mungkin melakukan itu pada Karen, tapi soal penyakit tuan bagaimana?" tanyanya sambil terisak.
"Aku tahu kau akan percaya padaku, saat ini aku belum bisa mengendalikan media karena sedang mengumpulkan bukti. Tapi soal pertanyaan keduamu, aku belum memastikan ke rumah sakit. Aku harap itu hanya dugaan dokter Mattew saja, dan aku tak bisa bicara banyak. Ada Keke, aku tak ingin ia menderita setelah mendengarnya." jawab Alvin.
"Tuan, aku ingin kembali. Bisakah aku merawat kalian berdua." tanya bu Farah sedih.
Alvin justru tertawa.
"Anda akan kembali 2 minggu lagi bu, dan aku harus ke Indonesia bersama Keke. Saat aku kembali kau tentu sudah disini, bagaimana hasil kerja bunga itu?" tanya Alvin.
"Sudah hampir semua dipetik dan dijadikan bahan pewarna dan pewangi. Hasilnya luar biasa tuan, anda bisa kaya dengan usaha baru ini." jawab bu Farah.
Alvin kembali tertawa.
"Aku tak memiliki niat untuk menjual bahan itu, aku ingin gunakan untuk usahaku sendiri. Soal pewangi, aku ingin menggunakannya sendiri." kata Alvin. "Sayang, apa kau ingin bicara dengan bu Farah?" tanya Alvin.
"*Siapa bu Farah?" tanya Keke.
__ADS_1
"Oh ya ampun, aku lupa kalau kau hanya mengingatku. Bu Farah maaf, Keke kembali kehilangan ingatannya." ujar Alvin*.
Bu Farah sangat sedih mendengarnya. "Tak apa apa tuan, anda beristirahat saja. Dan jangan lupa periksa kondisi anda ke rumah sakit." pintanya.
"Tentu bu, terima kasih." jawab Alvin.
Bu Farah menutup teleponnya, ia menghela nafasnya. Ia berharap Alvin Mark akan baik baik saja dan hidup bahagia selamanya bersama Keke.
*****
"Siapa bu Farah?" tanya Keke.
"Pelayan yang merawatmu, kau benar benar lupa dengannya." jawab Alvin.
Keke mencoba mengingat lalu menggeleng. "Aku benar benar lupa." jawabnya.
"Tak apa apa, jangan paksakan ingatanmu. Bu Farah adalah pelayan tertua di rumah ini, ia sangat menyayangimu." ujar Alvin.
"Lalu dimana ia sekarang?" tanya Keke.
Alvin tak ingin menyinggung soal mawar, ia takut kekasihnya kembali jatuh pingsan. "Pulang kampung, 2 minggu lagi akan kembali kemari. Tapi saat itu mungkin kita belum kembali dari Indonesia." jawab Alvin.
Keke mengangguk. "Mungkin aku akan mengingatnya setelah melihat wajahnya, sekarang ayo kita makan. Kau perlu minum obat." ajaknya.
Alvin mengangguk dan mengikuti Keke ke ruang makan. Keduanya menikmati makan siang dengan tenang.
"Jangan terus menatapku sayang, kau juga harus makan." kata Alvin.
"Aku sebenarnya tidak lapar, aku hanya ingin kau makan yang banyak agar kau selalu sehat." jawab Keke.
"Aku sudah sangat sehat, obatnya tadi saat di taman." goda Alvin.
Wajah Keke memerah lagi karena malu mengingat ciuman mereka. "Berhentilah bercanda tuan Mark, atau aku akan mengunci pintu kamar agar kau tak bisa masuk kedalam." ancam Keke.
Alvin tertawa. "Makanlah sayang, au tak akan menggodamu lagi." pintanya.
Keke mengangguk dan akhirnya ikut makan bersama Alvin walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak lapar. Keduanya menyelesaikan makan siang mereka, dan kembali bercanda di ruang santai, padahal Keke terus menyuruh Alvin beristirahat, tapi pria itu selalu mengatakan baik baik saja. Alvin tak ingin menghabiskan waktunya di ranjang, ia lebih suka terus dekat dengan kekasihnya.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
Happy Reading All...😘
__ADS_1