Manequin Kekasihku

Manequin Kekasihku
Part 89


__ADS_3

Hari yang melelahkan bagi Keke, setelah ia selesai bekerja, Alvin justru membawanya ke restoran. Keke sempat menolak tapi pria itu tak mendengarkannya. Mereka pun akhirnya makan malam bersama. Dan setelah mereka menikmati makan malam, Alvin mengantarkannya kembali ke rumah.


Keke menatap langit langit kamarnya, ia sangat berat melepaskan kepergian Alvin. Ia tak tahu mengapa perasaannya seperti sangat dekat dengan pria itu.


Apakah aku benar benar menyukainya, mengapa aku terus mengingat wajah pria itu. Dan perasaan yang aku punya saat ini sedikit aneh, aku seperti pernah merasakan ini sebelumnya. Tapi kapan dan dengan siapa aku pernah merasakan ini. gumam Keke.


Ia menghela nafasnya.


Sudahlah, aku lelah... Sudah waktunya aku tidur. Semoga besok ada pekerjaan yang akan membuatku sibuk. gumam Keke lagi seraya memejamkan matanya.


Ratu peri datang menemui Keke yang sedang tertidur. Ia mengelus wajah wanita itu.


Aku tahu kau pasti kesepian di dunia ini, aku terus memperhatikanmu sayang. Aku sudah membantumu sebisaku dengan bunga mawar itu, kali ini kau kembali bertemu pria yang sangat kau cintai, tapi aku tak bisa mengembalikan ingatanmu. Kekuatanku tak bisa melakukannya. Aku terus memohon pada baginda raja untuk mengembalikan ingatanmu tentang pria itu. Tapi sang raja masih keras kepala karena kau menyakitinya dengan memilih menjadi manusia. Keke, berbahagialah sayang. Kau tetap menjadi wanita yang memiliki hati suci, aku akan terus membujuk baginda raja untuk membantumu. Jangan khawatir, aku akan terus menjagamu sayang. ujar ratu peri.


Ratu peri mengecup kening Keke, ia memang sangat menyayangi Keke karena ia adalah peri yang penurut. Ratu peri akan berhenti membantu Keke, jika wanita itu bisa bahagia bersama pria yang ia cintai. Ratu peri kembali menghilang meninggalkannya.


*****


"Aku mencintaimu sayang." ujar Alvin Mark.


"Aku juga mencintaimu Alvin." jawab Keke.


"Apa kau mau hidup denganku selamanya?" tanya Alvin.


"Maaf Alvin, aku bukan dari duniamu. Aku hanya berada disini selama satu tahun untuk mencari sesuatu yang diperintahkan rajaku. Aku tak bisa bersamamu selamanya." ujar Keke.


"Siapakah kau? Darimana kau berasal? Katakan padaku Keke, aku akan meminta rajamu untuk membebaskanmu." ujar Alvin.


Keke menggeleng. "Tidak Alvin, aku tak bisa. Aku harus kembali ke duniaku. Aku tak akan melupakan cinta kita."


"Baiklah, setidaknya teruslah bersamaku sampai saatnya kau kembali ke duniamu." kata Alvin.


Alvin mencium Keke, dada Keke sesak, tubuhnya menjadi panas. Ia kesakitan, terus menerus kesakitan.


"Haaaah...haaah..."


Keke terbangun dari tidurnya, ia masih merasakan sesak di dadanya. Ia terus mengatur nafasnya.


"Apa maksud dari mimpi itu? Siapa aku sebenarnya, mengapa Alvin selalu muncul dan mengatakan cinta padaku." gumam Keke.


Keke menegak minum yang ada di meja samping tempat tidurnya. Untung saja ia membawa minum sebelum tidur, jadi ia tak perlu turun dari ranjangnya. Ia mengingat ingat kembali mimpinya.


"Aku bukan dari dunia ini, aku akan kembali ke duniaku dan siapa yang dimaksud raja. Ya Tuhan, aku tak mengerti mimpi apa itu. Mengapa aku selalu bermimpi buruk setelah bertemu Alvin Mark." tanyanya sendiri.


Keke terus menenangkan dirinya, ia tak bisa memejamkan matanya lagi. Ia menatap jam dinding masih pukul 2 malam. Udara dingin semakin terasa, tapi ia memaksakan dirinya turun dari ranjangnya menuju balkon. Keke memejamkan matanya menikmati terpaan angin malam pada wajahnya. Setelah puas ia membuka matanya dan menatap kota Bandung yang sangat indah.

__ADS_1


Keke menurunkan pandangannya ke bawah dan terbelalak saat melihat Alvin Mark sedang berdiri disana. Pria itu terus menatap rumahnya.


"Apa yang dilakukan pria itu?" gumam Keke.


Keke masuk kembali dan memakai jubah tidurnya. Ia segera turun dan membuka pintu rumahnya. Pria itu terkejut saat Keke keluar dari rumah dan membuka pintu gerbangnya.


"Apa yang anda lakukan larut malam seperti ini pak?" tanya Keke.


Alvin menatap Keke penuh kerinduan. Ia mendekati Keke langsung memeluknya. Tubuh Keke membeku, ia tak tahu apa yang sedang dilakukan Alvin, tapi tubuhnya tak mau menolak pelukan itu.


Alvin melepaskan pelukannya. "Aku merindukanmu nona Keke, mungkin ini memang terdengar gila. Tapi aku tak bisa tidur, aku hanya ingin bertemu denganmu." jawabnya.


Keke menelan ludahnya, ia membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Jantungnya masih berdegup kencang. "Anda mengatakan sesuatu yang sama sekali tak aku mengerti. Tapi anda bisa ditangkap warga karena berdiri di depan rumah orang lain dengan mencurigakan." ujarnya.


Alvin menarik pinggang Keke, tanpa ragu ia mencium wanita itu. Keke terbelalak tapi ia juga menginginkan ciuman itu sejak pagi tadi. Keke bergeming, ia menerima ciuman itu. Mendapat respon positif, Alvin memperdalam ciumannya. Mereka saling menautkan lidah mereka. Alvin menarik tubuh Keke semakin dekat, pada saat itulah ingatan Keke mulai datang perlahan.


Tubuh wanita itu tiba-tiba menegang, ia sekilas melihat Alvin dalam pikirannya. Ia mengingat beberapa moment dimana Alvin dan dirinya pernah berciuman. Alvin melepaskan wanita itu, ia menatap wajah Keke yang memucat.


"Keke, apa kau baik baik saja?" tanya Alvin panik. "Keke...katakan sesuatu." sambungnya seraya menggoyang tubuh Keke.


Keke masih menegang, ia sakit kepala. Dan akhirnya ia jatuh pingsan di pelukan Alvin.


"Keke..." teriak Alvin.


Alvin segera membawa Keke masuk ke rumahnya dan meletakkan tubuh wanita itu di sofa. Alvin mencari air dingin dan handuk. Ia segera kembali untuk mengusap peluh yang keluar dari wajah wanita itu.


Wanita itu semakin demam, Alvin mengangkat tubuhnya kembali menuju kamar. Ia yakin kamar wanita itu ada di lantai atas. Alvin membuka kamarnya dengan siku, dan benar saja itu kamar Keke. Alvin merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia mencoba menyadarkan Keke sambil mengompres kepalanya.


"Keke... apakah kau masih seorang peri. Apakah ciumanku menyakitimu. Bangunlah sayang..." ujar Alvin. Air matanya akhirnya tumpah, ia mengulangi kesalahannya yang dulu karena menyentuh wanita itu.


Alvin segera menghubungi Calio, ia tak tahu harus bagaimana. Tak ada seorang pun yang ada di rumah wanita itu, mungkin pelayannya adalah pelayan panggilan. Satu jam kemudian, Calio datang bersama dokter membuat Alvin sangat lega.


"Apa yang terjadi?" bisik Calio.


"Aku akan mengatakannya nanti." jawab Alvin.


Dokter memeriksa keadaan Keke. "Nona ini hanya syok dan kelelahan. Ia akan baik baik saja setelah aku memberinya suntikan. Dan ambil obat ini di apotik." ujarnya seraya memberikan resep pada Alvin.


"Dok, apakah wanita ini manusia biasa?" tanya Calio bodoh.


Alvin menginjak kakinya dengan keras. Dokter itu justru tertawa.


"Anda pikir aku memeriksa hantu, tentu saja wanita ini manusia. Mengapa anda bertanya seperti itu?" tanya dokter Heru.


"Tidak apa apa dok, temanku ini sedikit gila." jawab Alvin.

__ADS_1


"Baiklah kalau tak ada yang lain, aku pamit pulang." ujar dokter Heru.


Alvin mengangguk, Calio mengantarkan dokter itu sampai ke depan rumah. Alvin menatap Keke yang tertidur, ia menyentuh keningnya. Keke sudah tidak demam lagi, Alvin menyelimuti wanita itu dan menciumnya lalu keluar dari kamarnya menemui Calio.


*****


"Kau gila Cal... Pertanyaanmu itu gila." bentak Alvin.


"Kau yang gila, apa yang kau lakukan pada Keke tengah malam begini. Tidak sepertinya ini hampir pagi." jawab Calio.


"Aku tak bisa tidur karena merindukannya, aku tak berniat menemuinya. Aku hanya menatap rumahnya berjam jam, tapi tiba-tiba wanita itu keluar menemuiku. Mungkin ia melihatku ia saat terbangun." ujar Alvin.


"Lalu...?" tanya Calio.


"Lalu... Lalu..." jawab Alvin ragu. Ia menarik nafasnya dalam-dalam. "Lalu aku tak tahan melihatnya, aku menciumnya dan ia pingsan."


Calio tertawa. "Apa kau memberinya racun dalam mulutmu sampai ia pingsan Vin." ejeknya.


Alvin mengumpat. "Diamlah, aku takut ia seperti dulu tak bisa aku sentuh karena ia seorang peri."


"Hei, apa kau tak dengar kata dokter. Wanita itu manusia biasa, ia hanya syok dan kelelahan. Mungkin ciumanmu sangat memabukkan." goda Calio.


Alvin menendang tulang kering kaki Calio, hingga pria itu merintih. "Rasakan itu, aku sedang serius tapi kau selalu bercanda."


"Aku hanya ingin menghilangkan ketegangan pada wajahmu itu. Mengapa kau terlalu terburu buru Vin? Apa kau sudah menemukan jawabannya?" tanya Calio.


Alvin mengangguk. "Ia adalah Keke ku, wanita yang sangat aku cintai dari dulu. Aku yakin dengan perasaanku."


"Baiklah, kau jaga Keke sampai ia tersadar. Aku akan kembali ke rumah sekarang. Aku harap kalian bisa menyelesaikannya, semangat sobat." ujar Calio seraya pamit.


"Cal... terima kasih..." jawab Alvin.


Calio melambaikan tangannya, Alvin membiarkan sahabatnya kembali sendiri. Ia tak mungkin meninggalkan Keke sendirian di rumahnya. Alvin kembali ke kamar Keke, ia menggenggam tangan wanita itu dan akhirnya tertidur di sampingnya.


*****


1...


2...


3...


Next Part...


Happy Reading All...😘

__ADS_1


One episode again for us...😭


__ADS_2