Manequin Kekasihku

Manequin Kekasihku
Part 24


__ADS_3

Satu minggu sudah Alvin sibuk dengan pekerjaannya, kini ia sedang menatap manequin buatannya itu sambil mengangguk anggukkan kepalanya. Alvin sangat puas dengan hasilnya, manequin itu benar benar mirip Keke. Tapi entah mengapa perasaannya berbeda saat pertama kali ia membuat manequin Keke pertama. Kali ini tak ada perasaan bahagia sedikit pun saat menatap manequin kedua itu.


Walaupun ini sama persis dengan manequin Keke pertama, tapi mengapa aku tak bisa menyayanginya. Aku malah merindukan Keke di rumah sekarang, sudah satu minggu aku tak menghubunginya walaupun bu Farah bilang ia baik baik saja. gumam Alvin sambil mengelus manequinnya.


Alvin menatap jam tangannya, sudah pukul sepuluh malam, 2 jam lagi ia akan membawa manequin itu pulang dan kembali ke rumah. Alvin membereskan alat alat itu dan membersihkannya. Sampai 2 bulan kedepan ia masih menolak pesanan manequin khusus untuk para pejabat maupun artis. Manequin khusus memang dibuat kebanyakan untuk para pria kesepian yang ingin melampiaskan nafsunya. Pria pria itu tergolong maniak ****, mereka menyimpan manequin cantik di kamar mereka dan melakukan perbuatan gila itu.


Karena itulah, banyak sekali yang mengatakan Alvin Mark adalah pria tak normal yang mencintai sebuah boneka. Padahal ia bukan pria seperti itu. Perkenalan Keke ke dunia akan mematahkan gosip gosip yang sudah lama beredar tentangnya.


Suara ketukan pintu mengejutkannya, sepertinya Calio sudah sampai. Alvin membuka pintu itu, dan benar saja pria yang menjadi sahabat sekaligus bawahannya itu berdiri sambil menampakkan deretan giginya yang putih.


"Simpan senyum jelekmu itu, aku tidak tertarik." ejek Alvin.


Calio malah tertawa. "Sialan kau, aku hanya menarik perhatian buat kaum wanita, bukan pria sepertimu." jawabnya.


Alvin akhirnya tertawa. "Masuklah dan lihat hasil karyaku." pinta Alvin.


Calio mengikuti Alvin masuk ke ruangan itu, ia terbelalak saat melihat manequin yang ada di depannya. "Kau benar benar hebat Vin, ini sama persis. Aku tak bisa membedakan mana yang lama dan baru. Kau benar benar berhasil melakukannya." ujar Calio.


"Terima kasih Cal, aku sedikit gugup sekarang. Bagaimana jika aku membawanya pulang malam ini." kata Alvin.


"Tentu saja para pelayanmu akan terkejut." jawab Calio.


"Aku tak gugup menghadapi pelayanku Cal, tapi Keke. Apakah ia akan menerimanya?" tanya Alvin.


"Yakinlah pada hatimu Vin, aku tahu Keke itu wanita yang baik. Jika wanita itu jahat, pasti selama sebulan ini pelayanmu merasa terganggu. Tapi selama ini tak ada satupun laporan yang macam macam tentangnya." ujar Calio.


Alvin mengangguk. "Kau benar, sebelum aku mengenalkannya ke publik. Aku harus mengajarkan dan mengenalkan beberapa hal di luar. Aku tak ingin kepolosan dan ketidaktahuannya akan membuatnya terlihat bodoh." ujarnya.


Calio setuju pada Alvin. "Aku akan membantumu." kata Calio.


Alvin menggeleng. "Urusan Keke hanya aku yang boleh melakukannya." jawabnya.


Calio tertawa dengan keras. "Jadi kau mulai cemburu tuan Mark. Baiklah, aku tak akan mendekati wanitamu." kata Calio.


"Kau tak boleh mendekatinya walaupun hanya satu meter." canda Alvin.

__ADS_1


"Ya ampun, kau gila tuan. Aku malah semakin ingin dekat dengan Keke mu." goda Calio.


"Langkahi dulu mayatku Cal." ujar Alvin seraya tertawa. "Apa kita bisa membawa manequin ini tanpa ada yang tahu dan curiga?" tanya Alvin serius.


Calio mengangguk. "Aku kemari tanpa ada satu orang pun yang mengikuti, aku pikir akan baik baik saja. Apa kau sudah menghubungi para pelayanmu?" tanya Calio.


Alvin mengangguk. "Aku sudah mengatakan pada bu Farah kalau akan kembali malam ini bersama manequin Keke. Mungkin ia sudah mengatakan pada pelayan yang lain, tapi aku tidak yakin soal Keke." jawabnya.


"Aku yakin wanita itu akan baik baik saja Vin." ujar Calio sambil menari peti untuk manequin itu yang sudah ada di ruangan.


Alvin menggeleng saat Calio memberikan petinya. "Aku sudah membawa tas khusus manequin Keke seperti biasa. Peti itu seperti membawa mayat saja." ujarnya.


Calio tertawa. "Kau memang gila Vin, manequin khusus bukannya selalu dimasukkan ke dalam peti." kata Calio.


"Tidak untuk manequin Keke." jawab Alvin. "Baiklah, bantu aku memasukkannya ke dalam tas. Aku akan membersihkan alat alat ini. Hati hati, jangan sampai tergores." pintanya.


"Siap bos." jawab Calio.


Calio mulai membatu Alvin, ia menyentuh manequin itu, kulitnya sangat lembut seperti manusia.


"Aku akan membawamu ke rumah sakit jiwa jika melakukan itu. Aku tak akan membiarkan sahabatku menggunakan manequin untuk melampiaskan nafsunya." jawab Alvin.


"Masih banyak wanita di dunia Vin, aku tak mungkin gila seperti itu. Walaupun gosip bertahun tahun mengatakan kau..." ujar Calio tapi ia menghentikan kata katanya.


"Dan aku tak seperti itu. Hanya orang yang dekat denganku yang mengetahuinya." jawab Alvin.


"Kau selalu menolak wanita yang mendekatimu Vin, itu memperkuat dugaan mereka. Tapi mengapa kau tidak berusaha menepis gosip itu?" tanya Calio.


"Kau sangat tahu aku Cal, aku tidak suka melakukan hal hal yang membuatku repot. Jadi aku biarkan kesan mereka jelek padaku, aku tak perduli." jawab Alvin lagi.


Waktu sudah tengah malam, akhirnya Alvin dan Calio keluar dari ruang rahasia pabrik sambil membawa manequin Keke. Disana hanya ada penjaga ruang rahasia yang dibayar Alvin Mark sangat mahal. Setelah sampai di mobil Calio, Alvin meletakkan manequinnya di kursi penumpang. Lalu ia duduk di depan di samping Calio.


Alvin menghela nafasnya. "Sial mengapa aku sangat takut." ujarnya.


"Sebenarnya yang kau takutkan itu tanggapan Keke di rumah. Tenanglah Vin." ujar Calio.

__ADS_1


"Aku sangat gugup Cal, wanita itu masuk kedalam manequin Keke. Jika aku membawa ini, lalu ia terkejut, lalu ia bisa keluar, lalu ia pergi. Ya Tuhan..." ujar Alvin.


Calio tertawa mendengar kekhawatiran sahabatnya. "Kau berlebihan Vin, kita tak bisa menebak apapun sekarang. Kita harus segera sampai ke rumahmu." kata Calio.


Alvin mengangguk, keduanya menuju Bougenvil, rumah mewah milik Alvin. Perjalanan semakin lama karena kota Paris memang sangat ramai jika menjelang malam, berbeda dengan Indonesia yang menggunakan waktu malam mereka untuk beristirahat.


Dua jam kemudian, akhirnya keduanya sampai di rumah Alvin Mark. Ternyata ketujuh pelayannya menyambut kedatangannya.


"Selamat tuan Alvin, anda menyelesaikannya lebih cepat." ujar bu Farah.


Alvin mengangguk tapi matanya mencari keberadaan Keke.


"Non Keke sudah tidur tuan, aku juga belum mengatakan apapun padanya." sambung bu Farah.


Alvin bernafas lega, ia pikir Keke sudah tahu. Alvin tak tahu apa yang akan terjadi jika manequin barunya akan berhadapan dengan Keke.


"Apa kabar tuan Calio?" tanya Hara.


"Aku baik tentu saja, sudah lama kita tak bertemu ya." jawab Calio.


Hara dan pelayan yang lain mengangguk.


"Kalian ikut denganku ke ruang kerjaku." perintah Alvin.


Semua pelayannya mengikuti tuannya termasuk Calio. Disanalah Alvin mulai membuka tas khususnya. Sedikit demi sedikit manequin itu terlihat. Tentu saja mereka semua terbelalak karena terkejut.


*****


1...


2...


3...


Next Part...

__ADS_1


Happy Reading All...😘


__ADS_2