Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
10. Bola Pembawa Sial


__ADS_3

Pagi hari seharusnya diawali dengan kegiatan yang menyegarkan dan menyenangkan. Contohnya Martha, dia saat ini bisa tertawa riang seraya bergosip dengan teman-temannya. Tidak seperti Alesha, masih pagi tapi ia sudah lesu.


Mood-nya sudah dihancurkan terlebih dahulu oleh Zafran dan Gavin. Lima menit sebelum masuk sekolah, Alesha berjalan melewati lapangan basket. Sedangkan Zafran melengos ke warung dekat sekolah, alias bolos.


Alesha selamat dari tekanan batin dan rasa canggung pada Zafran karna kejadian di mobil tadi. Ia bisa bernapas lega saat Zafran pergi ke arah lainnya.


Ditengah-tengah hirupan udara di hidung Alesha. Sebuah bola melayang terbang mendarat di perutnya cukup keras.


"Awwh.." ringisnya. Perut Alesha nyeri, ditambah lagi sekarang dia sedang haid hari pertama.


Alesha menoleh cepat pada sosok yang melempar bola. Dia sudah membuka mulutnya untuk marah tapi ia urungkan setelah tau siapa orangnya. Dia adalah Gavin. Cowok itu tak ada ekspresi sama sekali. Seperti manusia tanpa nyawa tapi memiliki bayangan.


"Nih orang jiwanya udah mati kali ya?" gumam Alesha.


Gavin berjalan ke arahnya. Ralat, ke arah bola. Dia melangkah ke depan tanpa melirik Alesha. Sedangkan mata cewek itu terus memandangi Gavin sembari memegangi perutnya.


"Kaku amat,"


"Lagi latihan paskib lo?" tanpa sadar Alesha bertanya.


Gavin mengambil bola. Ia menatap Alesha. Cowok itu mengarahkan bola dengan cepat ke depan mata Alesha beberapa kali. "Minus?"


Alesha terkejut. "Plus!" sahut Alesha tanpa tau maksud Gavin.


Alesha mundur beberapa langkah. Teman-teman Gavin menertawainya. Padahal maksud Gavin bukan seperti itu. Apakah ia tak tau kalau sekarang Gavin sedang bermain basket? Kenapa ia malah menanyakan apakah Gavin sedang latihan paskibra?


Bahkan cowok itu saja tak minat pada ekskul tersebut. Ia suka kebebasan tidak suka kedisiplinan.


Gavin menahan tawa. "Bego!" Gavin melangkah pergi.


"Lo lagi ngomongin diri sendiri?"


Gavin berhenti. Ia menoleh. Tatapannya berubah serius. "Lo!"


"Gue?" Alesha menunjuk dirinya sendiri. "Gue yang bego apa lo yang gak bisa main basket dengan benar?"


Gavin menaikkan satu alisnya. "Lo yang bego,"


Alesha berdecih. "Cih, udah salah gak minta maaf. Udah gak bisa main, pake acara begoin orang lagi. Pengecut lo!"


Entah dorongan dari mana ia bisa mengeluarkan kata-kata sampah serapah seperti itu pada Gavin. Mungkin ini bawaan dari haidnya.


Alesha tak sadar jika ucapannya sudah membuat darah Gavin mendidih. Cowok itu menatap nyalang Alesha. Cewek itu berkedip cepat. Dia menutup mulut merutuki ucapannya.


"Gue pengecut ya?" Gavin menampilkan senyum smirk. Dia memainkan bola basket ditangannya. Dia merotasikan bola di depan dada.


Alesha mundur satu langkah, ia meneguk salivanya.


Gavin memudarkan senyumnya. Lalu dia melemparkan bola ke arah Alesha dengan keras.


"Kyaa!!"

__ADS_1


Alesha menutup wajahnya dengan tangan. Alesha melihat bahwa Gavin melempar bola ke arahnya. Tapi anehnya, dia tak merasakan adanya bola menyentuh kulitnya. Perlahan ia matanya membuka.


Pelan tapi pasti, namun setelah terbuka, ia malah membukanya selebar mungkin sampai-sampai mata Alesha hampir copot. Alesha menutup mulutnya terkejut saat melihat Zafran berdiri di depannya membelakanginya.


"Zafran?" mata Alesha berbinar. Seolah-olah pangeran penyelamatnya datang melindunginya dari mara bahaya.


Ia tak menyangka ternyata Zafran sangat peduli dengannya. Apa itu karna ia adalah calon istrinya? Jika benar, Alesha semakin yakin pada Zafran. Ia akan menjadi suami yang baik untuknya. Suami yang akan melindungi Alesha dengan segenap jiwa dan raganya.


Cewek itu terharu, ia hampir saja menangis. Gavin semakin emosi. Semua urat-urat ditangannya muncul dipermukaan. Napasnya memburu seakan ia siap menerkam siapapun yang berani menghalanginya.


Alesha takut. Ia berlindung di belakang Zafran. Cewek itu memejamkan matanya erat. Dia memegang dan menarik baju Zafran.


Zafran merasa ada seseorang yang menarik bajunya pun sedikit menoleh ke belakang. Ia terkejut, ternyata itu adalah Alesha.


"Ngapain lo?"


Alesha mendongak. "Ha?" cengonya.


"Lo ngapain di belakang gue? Narik-narik baju gue?"


"Bukannya lo mau lindungi gue dari Gavin?"


Zafran menaikkan salah satu alisnya. "Ha? Lindungi lo dari Gavin?" Zafran menoleh ke arah Gavin. Cowok itu mengedikkan bahunya.


Zafran mengalihkan pandangannya ke arah bola, sekarang dia mengerti maksud Alesha.


"Gr banget lo, gue nangkep bola ini karna hampir kena kepala gue."


"Kenapa lo bisa ada di sini?"


"Lo pikir ini sekolah nenek moyang lo? Ini juga sekolah gue!"


Alesha berkedip cepat. "T-tapi kan lo tadi ke warung,"


Zafran memutar bola matanya. Ia menatap Gavin. "Nih bola buat dia?" tanyanya.


Gavin mengangguk.


Zafran kembali menoleh ke belakang, "sampai kapan lo mau narik baju gue?"


Alesha tersadar, ia buru-buru melepaskan baju Zafran.


Zafran geleng-geleng kepala seraya berdecak, "Ck, ck, ck,"


Setelah Alesha melepas baju Zafran, cowok itu merotasikan bola basket seperti yang dilakukan Gavin sebelumnya.


"Sorry, Vin. Gue udah ganggu kegiatan lo,"


Gavin menyilangkan tangannya di depan dada. "No problem, lo boleh gantikan aktivitas gue yang tertunda," Gavin berbalik, ia memberikan aba-aba pada teman-temannya untuk segera pergi dari sana meninggalkan Zafran dan Alesha.


Alesha mundur beberapa langkah. Jangan bilang maksud mereka berdua adalah Zafran yang akan melemparkan bola basket menggantikan Gavin.

__ADS_1


Keringat Alesha mengucur deras. Badannya panas dingin merasakan aura yang mengerikan dari punggung Zafran. Cowok itu berbalik menatap Alesha dengan senyuman smirk. Alesha semakin memundurkan diri, namun na'as ia sudah mepet dengan tembok.


"Eh.. jam pelajaran udah mau mulai, ayo masuk," ajak Alesha tersenyum lebar.


Zafran tak peduli. Ia terus melangkah mendekati Alesha sembari merotasikan bola. Namun, saat bola yang menjadi jarak diantara mereka berdua, Zafran menghentikan rotasinya lalu mengapit bola di tangan kirinya.


Alesha mengalihkan perhatian pada posisi bola kemudian mendongak ke arah Zafran. Cowok itu menatapnya lekat. Ia tak tau harus bagaimana. Mau kabur pun tak bisa sebab tangan Zafran sudah mengunci pergerakannya.


"Lo berharap gue lindungi lo dari Gavin?"


Alesha terdiam. Ia tak bisa berkata-kata.


Zafran memajukan wajahnya sedikit. Alesha terdiam kaku. Jantungnya berdansa ria di dalam sana. Dua kali dalam sehari, Zafran mendekatkan wajahnya begitu dekat dengannya, Alesha takut jika hal itu terjadi lagi, apalagi saat ini mereka sedang berada di area sekolah.


Alesha meneguk ludahnya susah payah, semakin lama Zafran semakin dekat. Cewek itu mencium aroma mint.


Oh tidak, jarak mereka sangat dekat. Bahkan sekali saja dia bergerak, pasti bibir mereka akan menyatu. Alesha menutup matanya tanpa sadar.


Zafran menarik sudut bibirnya, ia terkekeh pelan melihat Alesha yang salah tingkah. Cewek itu membuka matanya kembali. Zafran semakin tertawa terbahak-bahak.


"Lo berharap gue cium?"


Pipi Alesha merah merona, ia mengalingkan wajah. Zafran tersenyum tipis, ia menarik dagunya untuk menatapnya. Alesha mengedipkan matanya lambat.


Zafran membungkam bibir Alesha menggunakan tangannya. Lalu cowok itu menempelkan bibirnya pada tangan. Alesha melebarkan mata melihat apa yang dilakukan Zafran.


Zafran mencium bibir Alesha secara tidak langsung.


Zafran menjauhkan dirinya. Lantas ia berkata, "ciuman aslinya nanti setelah nikah," ia tersenyum lalu melangkah pergi.


Alesha melongo. Ia masih cengo.


"Bukannya lo tadi juga nyium gue secara langsung ya?"


Zafran berhenti, ia meliriknya tanpa menoleh. "Tadi tanpa sengaja, tapi kalau lo mau gue bisa ulangi ciuman barusan,"


Alesha mendelik. Ia geleng-geleng kepala, kemudian mengambil seribu langkah dan berlari mendahului Zafran.


"Nggak!"


Zafran geleng-geleng kepala. Dia tersenyum geli melihat aksinya yang tidak direncanakan. Padahal niatnya ingin melempar bola ke kening Alesha, entah mengapa ia mengurungkan niatnya.


"Bola sialan!" umpat Alesha ditengah-tengah larinya.


"Gara-gara bola gue jadi kepiting rebus!"


Alesha memukul kepalanya. "Kenapa sih tadi gue merem?"


Cewek itu berjalan dengan menginjak-injak lantai. "Bego banget. Pasti Zafran ngira kalau gue cewek murahan,"


"Arghh!!" Alesha memukul kepalanya sekali, kemudian ia buru-buru masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


...^^^***^^^...


__ADS_2