
Dua hari sudah berlalu. Meskipun sempat menunda program penelitian, akhirnya mereka bisa menyelesaikannya. Program yang harusnya dikerjakan oleh Zafran dan Nana awalnya tidak berjalan lancar, karna mereka meninggalkan perkemahan sejak kejadian itu terjadi.
Dan Alesha pun tak tau, apa yang sebenarnya terjadi. Selama dua hari ini, Zafran pun belum mengabari dirinya ataupun teman-teman yang lain. Alesha berniat mencari Zafran dan meninggalkan penelitian, namun Bu Jainab tak memperbolehkannya.
Alesha hanya bisa pasrah, ia mengerti maksud Jainab. Lagipula, beliau tidak mengetahui tentang hubungan sebenarnya dari mereka berdua.
Selama ini pun, Alesha terus berusaha untuk menjadi murid profesional yang mengesampingkan permasalahan pribadi seperti nasihat Zafran kala itu.
"Sha, are you oke?" Martha sangat mengerti apa yang dirasakan Alesha. Dia menyentuh pundak cewek itu.
Alesha menyunggingkan senyum. Ia mengangguk kecil. "Hm," jawabnya.
Martha menepuk pundaknya beberapa kali. "Tenang, kalau nanti ketemu Nana, bakalan gue gebukin dia," hiburnya.
Alesha terkekeh. Ia cukup terhibur dengan Martha.
"Kalau lo lawan Nana, lo bakalan berhadapan sama pengawalnya."
"Gue nggak takut,"
"Yakin?"
Martha mengangguk sekali. "Yakin seratus persen."
"Emang lo berani sama Gavin?"
Martha berkedip lambat. "Gavin? Kenapa sama Gavin?"
"Kan Gavin pengawalnya Nana,"
Martha terdiam sejenak. Dia baru tersadar jika Gavin akan selalu berada di dekat Nana. Cewek itu menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Oh iya ya..."
Alesha gelang-gelang kepala.
Martha menatap mata Alesha lekat. "Demi sahabat gue yang paling baik sedunia, gue bakal mengesampingkan rasa takut gue. Gue bakal hajar tuh cewek sampai mampus." Dia mengepalkan tangannya ke atas.
Alesha menghembuskan napas panjang. Ia mengangguk saja menjawab keberanian Martha yang hanya untuk menghiburnya.
Gadis itu berbaring. Alesha menarik selimutnya. Lalu ia memejamkan mata dan mencoba untuk tidur. Meski ia akhir-akhir ini belum bisa tidur dengan nyenyak.
Martha menurunkan tangannya. Ia melirik Alesha sejenak. Kemudian ia mendengus pelan.
"Tidur aja deh, Sha." Gumamnya sangat amat pelan. Tak ingin mengganggu Alesha.
Matanya terus menatap Alesha lekat. Tatapan mata yang tak dapat diartikan.
"Kita lihat, siapa yang bakal menang."
Cewek itu berjalan jongkok dan keluar dari tenda. Malam ini ia akan melakukan hal yang menyenangkan. Keadaan di luar sepi, biasanya mereka akan bernyanyi bersama di tengah-tengah api unggun, tapi entah mengapa mereka seakan memberikan kesempatan Alesha untuk tenang.
Tapi yang sebenarnya terjadi adalah, karna Ferdi. Cowok itu mengusir semua orang agar tak berisik. Alasannya karna tidak ingin membuat Zafran terbangun dari tidur.
Nyatanya, itu semua untuk Alesha. Mereka sama-sama berfikir, bagaimana caranya bisa menyelesaikan praktik dengan cepat, lalu pergi dari tempat ini untuk mencari Zafran dan Nana.
__ADS_1
Seseorang yang dihubungi oleh Nana adalah Gavin. Tapi cowok itu hanya diam. Tak memberikan kabar terbaru kepada Alesha.
Cowok itu berdiam diri di pohon sembari memutar ponselnya diantara telunjuk dan jempolnya. Matanya melirik Martha yang keluar dari sarang. Ia menarik sudut bibirnya.
Martha menatap sekeliling. Saat arah pandangnya tertuju ke pohon yang ditempati Gavin, cowok itu menggeser tubuhnya untuk bersembunyi lebih dalam.
Setelah Martha benar-benar pergi, barulah Gavin keluar dari persembunyiannya.
Langkah besar dari kakinya sangat pelan, hingga tak ada bisa mengalahkan suara dedaunan yang saling bersentuhan. Melangkah dengan pelan namun pasti, cowok itu tak ingin menjadi pusat perhatian publik.
Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku. Lalu berdiam diri di samping tenda Alesha. Ia kembali memperhatikan keadaan sekitar. Namun, saat ia bergerak, ada dua orang yang sedang berjalan mendekat.
Gavin berdecak kesal. "Ck," lagi-lagi ia harus bersembunyi.
"Kenapa sih Zafran harus tidur duluan, kan kita nggak bisa nyanyi bareng!" omel Siti.
"He'em, gue juga nggak bisa lihat ayang bebeb Gavin," seru Imah.
Gavin meliriknya tajam walaupun Imah tak tau. Cowok itu berdecih, "Emang lo siapa gue? Ngaku-ngaku pacar," dumel Gavin pelan.
"Gavin? Sadar diri, Mah. Lo tu jauh beda sama Nana."
Gavin refleks mengangguk.
"Nana?" Imah memutar bola matanya malas. "Alah palingan dia pakai pelet pemikat."
Gavin mengepalkan tangannya. Tapi ia menahan untuk tidak menghajar Imah karna misinya.
Siti membungkam mulut Imah. "Jangan keras-keras, nanti Gavin denger habis lo sama dia!"
"Gue udah denger, tapi gue balesnya kapan-kapan." Sahutnya tanpa didengar oleh mereka berdua.
Gavin menampilkan senyum smirk. Lihat aja nanti, batinnya.
Setelah Imah dan Siti benar-benar pergi, barulah Gavin. kembali melancarkan aksinya layaknya pencuri. Sebelum itu, Gavin menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan.
Ponselnya berdering sekali.
"Pengganggu," meskipun berdumel, ia tetap mengecek isi pesannya.
Lo kesini, tapi jangan sampai bawa Alesha!
Gavin tak peduli. Dia memang bersahabat dengan Nana, tapi dia juga pernah menjadi sahabat Zafran, dan Gavin tak ingin menjadi seseorang penjahat yang menghancurkan hubungan orang lain karna ia tau bagaimana rasanya sakit hati.
Gavin kembali berjalan hingga kakinya berhasil mencapai pintu tenda. Saat tangannya meraih resleting tenda, tiba-tiba saja tenda terbuka dengan sendirinya.
Gavin terkejut. Ia tak menyangka jika Alesha yang membukanya. Dari tatapannya, sepertinya cewek itu tak terkejut akan kedatangan Gavin.
Alesha keluar. Gavin memundurkan tubuhnya ke belakang.
Alesha menatap Gavin datar. "Ada apa lo kemari?"
"Tau sejak kapan?"
"Daritadi gue perhatiin lo jongkok di samping tenda gue. Gue juga denger percakapannya para cewek alay. Tapi gue sengaja diem. Gue nggak nyangka sih, Gavin seseorang yang dingin dan tak tersentuh bisa menahan diri. Padahal mereka jelekin Nana di depan lo."
__ADS_1
Gavin hanya tersenyum.
"Pasti lo nggak mau kan mereka tau kalau lo mau ngintip gue?"
"Jaga omongan lo!"
Alesha memutar bola matanya malas. Ia bersidekap dada. "Padahal lo tau gue istri orang."
"Terserah." Sebisa mungkin, Gavin menetralisir ekspresi terkejutnya. "Lo ikut gue sekarang!"
Tanpa basa-basi, cowok itu menarik tangan Alesha. Cewek itu sedikit terkejut. Ia pikir Gavin hanya ingin mengerjainya. Tapi ternyata, ia benar-benar berbahaya. Dia membawa Alesha secara paksa.
"Gak! Apa-apaan sih, lo mau apain gue?" Alesha menutup tubuh atasnya dengan tangan.
"Gak doyan gue sama cewek kerempeng kayak lo,"
"Sialan! Kalo nggak mau ya lepasin gue, Gavin!!"
Cowok itu mencengkeram erat Alesha. Cowok itu menggiring Alesha berjalan ke tempat yang jauh dari perkemahan menuju mobilnya.
Alesha masih dalam keadaan memberontak. Ditambah lagi dengan penglihatannya akan mobil di tengah-tengah hutan, ia mendelik.
"Heh, lo mau bawa gue ke mana!!" teriak Alesha.
"Lo bisa diem gak?"
"Gak lah, gila ya lo. Ya kali gue diem aja saat orang nyulik gue."
"Gue nggak nyulik lo,"
"Terus apa? Bawa istri orang tengah malam diam-diam?"
"Berisik,"
"Lepasin gue Gavin!!!" Alesha berusaha berteriak sekencang mungkin.
Gavin melepaskannya begitu saja.
Alesha berkedip cepat. Gavin menatapnya datar. "Kalau lo mau balik, balik aja."
Alesha menatap sekelilingnya. Penuh dengan hutan yang rimbun. Bulu kuduknya berdiri. Ia merinding seketika.
"G-gue takut,"
Gavin menarik sudut bibirnya. Ia membuka pintu mobil.
"Masuk, gue bakal jelasin semuanya."
"Jelasin apa?"
"Tentang Zafran, dan keadaan Mama Nana."
Alesha mengerutkan keningnya. "Gue butuh penjelasan tentang Zafran, gue gak butuh penjelasan tentang Nana!" tegasnya.
Gavin mencekal kedua pundak Alesha. Dia mencengkeramnya sedikit kuat.
__ADS_1
"Mama Nana kecelakaan."
Jangan lupa bersyukur hari ini ✨