
Punggungnya menempel sempurna di balik tembok. Ia menyembunyikan diri dari guru BK yang mengetahui rencana bolosnya. Ia jadi tak bisa pergi dari sekolah sebab kepala sekolah sedang asik mengobrol bersama satpam, dan saat ini, ia menjadi buronan guru BK.
"Zafran!! Jangan coba-coba kabur kamu!"
Zafran menutup telinganya. Kenapa di dunia yang luas ini Zafran selalu dikelilingi oleh manusia pemilik suara cempreng? Ferdi, Martha, dan juga Elok, guru BK yang paling menyebalkan. Selalu saja tau seluk beluk kenakalan Zafran.
Jika saja Elok tidak dekat dengan mamanya, Zafran tidak akan menurut padanya. Tapi sayang, Elok adalah teman arisan Yuni. Otomatis, ia akan menambahkan bumbu-bumbu pedas jika cowok itu tak melaksanakan hukuman, agar Zafran kena amuk jika ia berani macam-macam dengannya.
Hal itu juga berlaku dengan Gavin. Tapi sepertinya cowok itu sudah tobat. Tidak lagi berbuat onar dan tidak suka bolos.
"Zafran!" teriak Elok.
"Berisik," dumel Zafran menutup telinganya.
Elok berkacak pinggang. Ia meneliti setiap penjuru sekolah agar bisa menemukan sosok Zafran. Matanya berkilat marah. Petir muncul di arena mata hitamnya.
Zafran mengintip sedikit. Elok berada tak jauh darinya.
"Gimana gue kaburnya kalau kayak gini?" Zafran mencari jalan untuk pelarian.
"Pagar samping lapangan," tiba-tiba terlintas ide sempurna di kepala Zafran. Cowok itu menjentikkan jarinya. Kemudian berancang-ancang lari.
Sebelum itu, dia kembali mengintip Elok. Na'as, wanita baya itu sedang menoleh ke arahnya, sehingga ia mengetahui persembunyian Zafran.
"Bang-sat, ketahuan!"
"ZAFRAN!!!!"
Cowok itu menutup telinganya sambil berlari kencang. Ia fokus menoleh ke belakang. Sekalipun Elok mengejarnya, tapi ia masih tertinggal jauh si belakang Zafran.
"Kejar gue kalau bis-"
"Aduh!"
Dada bidangnya menabrak sesuatu di depannya saat ia mengolok Elok. Cowok itu terjerembab di lantai bersama orang yang menabraknya.
"Siial-" ucapnya terhenti saat melihat seseorang yang sangat ia kenali.
"Awh," ringis cewek itu mengusap kening. Baju olahraga yang ia bawa berhamburan ke lantai.
"Nana?" kaget Zafran.
Cewek itu mendongak. Ia sama terkejutnya dengan Zafran. "Zafran?"
"Lo-" telunjuknya mengarah di depan wajahnya.
Nana mengembangkan senyum. "Gue baru aja pindah hari ini."
Elok menyeringai. Ia menarik telinga Zafran sampai molor. "Mau kabur ke mana lagi kamu?"
__ADS_1
"Argh! sakit anj-"
"Apa?" Elok melototinya.
"Maksud saya, sakit aduhh,"
Elok menarik kupingnya kuat dan menyuruhnya berdiri. Matanya melirik Nana. "Kamu anak baru, kan?"
Nana mengangguk. Ia memungut seagamanya dan berdiri. "Iya, Bu."
"Maafkan kelakuan bocah ini, dia memang bandel kayak kotoran baju. Harus di cuci dulu pakai Rinso biar bersih," kelakarnya.
Zafran memutar bola matanya malas. Setiap kali kata yang keluar dari Elok, ia hanya mendengarnya seperti 'nye nye nye nye'.
Elok membawa Zafran pergi. Cowok itu menghela napas pelan. Ia pasrah mendapatkan hukuman.
Terpampang senyum di wajah Nana. "Dia memang membutuhkan orang yang tepat untuk masa depannya."
...***...
Jam olahraga kosong, karna guru olahraga kelas mereka sedang sakit dan harus di rawat di rumah sakit. Alesha menekuk wajahnya lesu. Ia kedatangan bulan. Menstruasi di hari pertama membuat emosinya tak stabil.
Apalagi mendengar suara teman-temannya yang sangat berisik membuat perutnya semakin mules. Cewek itu memejamkan matanya sembari memegangi perutnya.
Hendrawan selaku guru olahraga pengganti bersiul ria menuju kelas Alesha. Handuk terlilit di lehernya. "Dua kelas," napasnya terhela.
"Masing-masing kelas ada siswa cempreng, ada siswa kulkas, satu lagi ada si Zafran."
Hendrawan mengintip kelas Zafran. Telinganya sudah mendengung mendengarkan suara Martha yang teriak gara-gara sepatunya dilempar kesana-kemari.
"Kurang ajar lo ya! Balikin sepatu gue!"
"Ambil sendiri," Roni melemparkan sepatu Martha ke Arga.
Martha berlari ke arah Arga. "Sini, Ga!"
Arga menjulurkan lidahnya, ia melempar lagi ke Roni.
"Sialann lo berdua!"
Mereka menertawai Martha yang kesal. Bagi mereka, Martha yang kesal dan mengeluarkan suara cempreng begitu menggemaskan sampai-sampai mereka ingin mencelupkan tubuhnya ke dalam sumur.
"Semakin lo bersuara, sepatu lo semakin terlempar tinggi," kata Roni.
Martha berdiam sejenak. Ingin meminta bantuan Alesha, cewek itu malah menunjukkan tatapan penuh amarah. Tatapan tajam seakan bisa menerkam mangsanya detik itu juga.
Roni kembali melemparkan ke Arga, tapi sayang, sepatu itu malah mengenai kepala Gavin yang tengah tertidur pulas. Roni dan Arga mendelik. Mereka berdua langsung mendekat satu sama lain.
Martha tersenyum puas. Ia berkacak pinggang. "Mampus lo berdua!"
__ADS_1
Roni dan Arga meneguk ludahnya susah payah saat Gavin terbangun dari tidurnya. Cowok itu membuka matanya dan langsung menatap tajam mereka berdua. Ia meremas kuat sepatu yang baru Martha beli bulan lalu.
Cewek itu meremas rambutnya. "Sepatu gue," ucapnya menahan tangis.
Gavin berdiri. Ia melemparkan sepatu Martha ke dada Roni dan Arga. Cowok itu berdiri lalu melangkah pelan ke arah mereka. Suasana kelas jadi tegang. Sedangkan Herdrawan mengurungkan niatnya untuk masuk.
Gavin menarik kerah baju Roni, tanpa aba-aba, ia langsung membogem mentah wajahnya. Begitu pula dengan Arga, ia menendang perut Arga dengan keras.
Kursi serta meja berantakan karena mereka menabraknya. Roni belum membuang napasnya, tapi Gavin kembali menghajarnya dengan brutal. Ia meninju, menonjok wajah Roni tanpa ampun.
Kelas jadi riuh. Tak ada siapapun yang berani melerai Gavin. Arga ingin menolong, tapi ia juga jadi korban. Setelah membuat wajah Roni penuh lebam, cowok itu beralih meninju Arga.
Jika Zafran berkelahi disertai kata-kata kasar, beda dengan Gavin. Cowok itu bahkan tak mengeluarkan suara sama sekali.
Perut Alesha semakin mules. Kericuhan yang terjadi benar-benar kepalanya mendidih. Emosinya memuncak. Cewek itu mendobrak meja lalu berdiri dari duduknya.
"BERISIK!"
"LO SEMUA BISA DIEM GAK?!"
"GAVIN!!"
"GAK USAH SOK NUNJUKIN KEKUATAN LO!"
"KALAU LO MAU HAJAR MEREKA, HAJAR DI LUAR!"
"JANGAN BUAT RIBUT DI SINI!"
Cowok itu berhenti. Ia menoleh ke arah Alesha dengan tatapan bengong. Tak percaya jika gadis itu mengeluarkan kata-kata kasar untuknya.
"Lo ngamuk?" tanya Gavin santai.
Alesha mengeraskan rahangnya. Ia mengepalkan tangannya kuat. Setelah itu ia melepas sepatunya dan melemparkan di depan wajah Gavin tanpa rasa takut.
"LO PIKIR GUE LAGI CERAMAH? HAH?"
Mata Gavin berkedip lambat. Darah merah mengucur dari hidung mancungnya. Mereka semua tercengang melihat aksi Alesha yang sangat-sangat berani sampai membuat Gavin mimisan.
Hendrawan merasa kelasnya sedikit sunyi setelah mendapat amukan dari Alesha. Pria itu berdeham.
Ekhem!
"Karna guru kalian sedang sakit," Hendrawan meneguk ludahnya susah payah saat Alesha menatapnya nyalang.
Guru muda itu meneguk ludahnya, "Olahraga hari ini gabung dengan kelas sebelah. Terimakasih, saya tunggu di lapangan."
Setelah mengucapkan itu, Hendrawan buru-buru berlari pergi sebelum ia mendapatkan amukan macan.
Hendrawan geleng-geleng kepala. Ia memegang dadanya. "Ternyata Gavin bisa kalah telak sama cewek itu,"
__ADS_1
Ia menepuk tangannya beberapa kali. "Hebat, hebat."
...***...