Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
27. Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Gadis itu masih saja tak mau memandang cowok yang memiliki wajah tampan dan kepintaran di atas rata-rata, yang ada di sampingnya tersebut. Padahal banyak sekali wanita yang mendambakan untuk bisa bersanding dengannya dan memiliki hatinya sepenuhnya.


Di sepanjang jalan tol, ia hanya memandang ke arah luar. Sesekali wajahnya memerah akibat sinar matahari yang menyengat.


Hari ini lumayan panas. Sepertinya peramal cuaca salah ramalan. Beliau meramal jika hari ini akan turun hujan. Padahal di langit, matahari sedang menunjukkan sinarnya.


"Masih marah sama gue?"


Alesha diam. Ia mengatupkan bibirnya.


"Atau malu sama gue?"


Alesha melotot, lalu ia menoleh cepat kepada Zafran. "Apaan sih, jangan bahas itu lagi!"


Zafran terkekeh geli. "Gue kan cuma tanya."


"Pertanyaan yang tidak berbobot!" Alesha kembali mengalingkan wajahnya. Ia menyilangkan tangannya di depan dada.


"Ya karna pertanyaan keluar dari mulut, mulut mengeluarkan suara yang ringan. Kadang juga mulut bisa mengatakan hal yang berat untuk diterima seseorang."


Alesha mengerutkan keningnya. Ia tak paham dengan bahasa puitis Zafran.


"Maksudnya?"


"Mulutmu adalah harimaumu," ucap Zafran sedikit melirik Alesha.


"Selalu berhati-hati, dan jaga ucapan lo, Sha. Apalagi sama orang tua dan suami. Bukan hanya itu, lo juga harus menjaga ucapan pada orang lain ataupun orang yang dekat sama kita. Karna kadang tanpa kita sadari, kita menyakiti hati mereka lewat ucapan."


Hatinya berdesir. Alesha menggigit bibir bawahnya. Ia menunduk ke bawah. Dia menautkan kedua jarinya. "Apa gue nyakitin lo?"


Zafran termenung. Bibirnya mengembangkan membentuk sebuah senyuman. "Enggak, gue cuma memberikan nasihat. Supaya kedepannya, lo lebih menjaga ucapan dan perilaku di depan orang lain." Tangannya mengelus rambut Alesha yang lembut.


Dadanya kembali berdesir. Hatinya merasa lebih bahkan sangat amat tenang. Ia beruntung mendapatkan suami yang begitu peduli dan menuntunnya dalam kebaikan.


"Lo bijak ya?" Alesha nyengir kuda. Namun, hal itu malah membuat Zafran tertawa keras.


"Mungkin mereka mengenal gue sebagai orang yang kaku, tapi Mama dan Papa selalu mengajari gue hal yang positif,"


"Terus kenapa lo nakal? Kata Martha, lo dulu hampir membunuh seseorang?"


"Masa SMA adalah masa yang indah, kan?" kini pertanyaan Zafran diangguki Alesha.


"Maka dari itu, gue mau masa indah gue lebih berwarna. Lagipula gue gak akan membuat dia hampir sekarat tanpa alasan,"


"Apa alasannya?"


"Kepo lo,"


"Sedikit,"


Zafran terkikik pelan.


"Biarkan gue, dia dan Tuhan yang tau."


...***...


Bunga-bunga cantik itu membuatnya berkali-kali berdecak kagum. Harum wangi aroma bunga yang menyeruak ke dalam hidungnya memberikan sensasi ketenangan di hatinya.


Warna-warni daunnya pun bermacam-macam. Merah, kuning, ungu, putih, bahkan ada hitam. Dari berbagai macam bunga, Alesha hanya tertarik pada bunga tulip berwarna putih di depan sana.


"Wah, cantiknya." Alesha mengambil satu tangkai. Wajahnya berseri.


"Kebetulan, bunga ini baru datang," kata penjaga toko mempromosikan bunga.


"Iyakah?"


Dia mengangguk. "Akhir-akhir ini bunga tulip putih ramai diperbincangkan di kalangan gadis-gadis," gumamnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Oh ya?"


"Iya, sampai kita harus stok banyak untuk bunga tulip. Tapi dalam sekejap mata saja, bunga tulip sudah hampir ludes." Dia geleng-geleng kepala.


"Beruntung masih dapat,"


"Anda termasuk salah satunya yang beruntung,"


Alesha manggut-manggut sembari tersenyum.


"Mana yang lo mau?" tanya Zafran yang tiba-tiba muncul.


"Gue suka yang ini,"


"Oke, kita ambil."


"Kalau begitu, tunggu sebentar." Penjaga toko mengambilkan beberapa tangkai bunga dan membungkusnya dalam bentuk buket.


"Tumben lo bawa gue ke toko bunga?"


Zafran mengeluarkan payung dari punggungnya. Payung tersebut sangat mirip dengan payung milik Alesha sebelumnya.


Mata gadis itu berbinar terang. Ia menutup mulut. Memandang wajah Zafran tampak tak percaya. "Zafran? Lo?"


Zafran mengangguk. "Iya, gue ganti payungnya."


"Kenapa?"


"Berani berbuat berani bertanggung jawab, gue merusak payung lo, gue juga harus ganti yang baru."


"Lo nggak perlu repot-repot beli yang mirip, gue bisa beli lagi di pasar senin nanti."


"Apa lo yakin bisa dapet payung yang mirip?"


Alesha menggeleng. "Tapi kan itu cuma payung,"


Alesha terkekeh. "Sebenarnya nggak marah, tapi gue cuma pengen denger lo-"


"Gue minta maaf."


Alesha mendongak. Matanya berkedip cepat.


"Apa lo maafin gue, Alesha?"


...***...


"Terima kasih, silahkan datang lain kali."


Alesha dan Zafran sama-sama menoleh ke arah pintu toko. Mereka sedang menunggu di luar sembari melihat-lihat bunga yang lainnya.


"Tentu saja, toko ini kan langganan saya dari dulu,"


Setelah pintu tertutup, senyum orang itu tak mengembang. Ekspresinya berubah terkejut. Ia terdiam sejenak. Mataya fokus kepada sosok cowok yang berada tak jauh di depannya.


"Z-zafran?" dia melangkah mendekat dengan tangan yang masih menggenggam bunga tulip berwarna putih. Sama seperti bunga yang dibeli Alesha.


"Lo Zafran, kan?"


Alesha menatap Zafran. Cowok itu mengangguk kaku. Sepertinya dia juga sama terkejutnya dengan gadis tersebut.


"Gimana kabarnya?" dia menjulurkan tangan. Zafran menerimanya.


"Baik," ia melepaskan jabatannya, lalu merangkul Alesha seolah menunjukkan jika gadis yang ada disampingnya ini adalah miliknya.


"Dia Alesha, dia is-"


"Gue ingat kok. Hai,"

__ADS_1


Gadis itu tersenyum pada Alesha. Keduanya saling menjabat tangan.


"Gue Alesha,"


"Salam kenal, gue Nana. Sahabat Zafran." Katanya.


Alesha menaikkan keduanya alisnya. Oh ternyata sahabatnya Zafran.


Lalu ia manggut-manggut. "Salam kenal, Nana."


"Kapan lo balik ke sini?" Zafran mengalihkan pembicaraan.


"Kemarin,"


"Sampai kapan?"


"Selamanya," sahutnya membuat Zafran sedikit terkejut. Membuat Nana terkikik pelan.


"Bukannya lo mau kuliah di Belanda?"


Nana menghela napas pelan. "Rencananya sih gitu, tapi gue ke sini karna masih ada hal yang perlu gue urus."


"Apa?"


Nana mengembangkan senyum tipis. "Lo,"


Jawaban Nana membuat Zafran dan Alesha tercengang. Tentu saja mereka kaget, tak seharusnya dia berbicara seperti itu, kan? Apalagi di depan istri Zafran.


Hati Alesha sedikit sakit mendengarnya. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Alesha juga tidak tau harus bersikap bagaimana.


Cemburu? Sudah pasti ia cemburu. Zafran suaminya. Zafran miliknya, dia tak berhak merebut Zafran darinya.


"Na!" peringat Zafran.


Nana tekekeh. "Maaf-maaf, jangan salah paham. Iya, gue di sini karna harus ngurusin lo sama Gavin. Semenjak kepergian gue, kalian berdua selalu saja ribut."


"Kemarin, gue denger lo habis balapan sama Gavin. Mobil Gavin juga rusak gara-gara nabrak pohon, kan?"


"Tapi lo? Lo malah ninggalin Gavin sendirian, Zafran." Nana berkacak pinggang.


Alesha bernapas lega. Ternyata maksud cewek itu ingin menyatukan Gavin dan Zafran yang dulunya bersahabat.


"Ya memang sih, dari dulu kalian sering bertengkar. Tapi kalian selalu saling memaafkan. Tapi sekarang? Saling sapa aja jarang, ya kan?"


Zafran mengalihkan wajah. Matanya berputar malas. "Hm,"


"Kenapa lo kayak gitu?"


"Seharusnya lo tanya sama Gavin."


"Setiap hari Gavin selalu curhat sama gue. Gue pengen kalian berdua baikan seperti dulu."


Zafran menghembuskan napas panjang. "Bukan urusan gue. Maaf, Na. Sekarang lo gak perlu ikut campur urusan pribadi gue. Masa lalu biarlah jadi masa lalu. Dulu kita memang sahabat, dan sekarang kita juga sahabat,"


"Tapi sekarang, kita memiliki batas untuk menjadi sahabat. Gue harap lo mengerti arti ucapan gue."


"Gue pamit, terserah lo mau ngapain gue gak peduli, tapi satu hal yang harus lo tau. Jangan harap gue baikan sama Gavin, dan,"


"Jangan lupakan kalau gue adalah suami Alesha!" peringat Zafran penuh makna. Cowok itu menggandeng tangan Alesha. Lalu bergegas pergi dari sana tanpa memedulikan bunga tulip Alesha masih dibungkus.


"Gue pindah ke sekolah lo!" teriak Nana. Berharap Zafran berbalik menatapnya.


Zafran berhenti sejenak. Setelah itu dia melanjutkan langkahnya tanpa melirik sedikit pun.


"Lo pikir tujuan gue hanya itu? Tentu tidak, Zafran. Karna gue akan mengambil hak gue kembali." Nana menyeringai.


"Larangan adalah perintah."

__ADS_1


...***...


__ADS_2