Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
35. Modus Paksaan


__ADS_3

Gadis itu berdeham kecil sembari meletakkan tas di atas meja. Sebelum berangkat ke sekolah, dia memakai pelembap dan sunscreen untuk perlindungan dari sinar uv.


"Sha, gue berangkat dulu," pamit Zafran. Ia izin untuk berangkat terlebih dahulu karna ada beberapa urusan.


"Udah sarapan, kan?"


"Sudah," Zafran meletakkan selembaran uang lima puluh ribuan di atas meja Alesha. "Uang jajan."


Mata Alesha melebar. "Banyak banget,"


"Terserah mau lo pakai buat apa," ujarnya.


"Siap, terima kasih," Alesha menyalami Zafran. Ia menempelkan punggung tangan Zafran ke keningnya. Setelah itu Zafran menciumnya.


"Gue pesenin taksi, jadi lo harus naik taksi."


Alesha menghela napas pelan. "Iya,"


"Gue berangkat dulu. As-salamu'alaikum."


"Wa'alaikumus-salam."


Alesha kembali menatap wajahnya di depan cermin. Setelah Zafran berangkat, Alesha tinggal menunggu taksi yang sudah dipesankan. Ekor matanya melirik lipstik baru yang cowok itu berikan kemarin malam.


Perasaannya mengatakan ada yang mengganjal. Tapi ia tak tau. Dari wadah lipstik tersebut, ia seperti pernah melihatnya.


"Di mana gue pernah tau lipstik ini ya?" pikir Alesha mencoba mengingatnya.


Matanya terpejam sejenak. Ia menenangkan pikiran untuk mengetahui apa yang sedang mengganjal di hatinya.


"Ck," Alesha berdecak sebab tidak bisa menebak.


Cewek itu menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Tau lah, gue berangkat aja!"


Alesha mengambil kembali tasnya. Saat berbalik dan berjalan menuju pintu, ia tersandung kardus kotak kenangan miliknya dan tak sengaja terbuka dan beberapa barangnya keluar dari kotak.


"Aduh," ringisnya. Cewek itu kemudian mengambil beberapa barang yang terjatuh.


"Kan, lipstik dari Zafran ikutan jatuh," ia memungut lipstik tersebut.


"Bentar!"


"Kok-"


Alesha berdiri. Ia berdiri menghadap meja rias. Matanya berkedip lambat. Kerutan muncul di dahinya. Ia mendekatkan lipstik dari Zafran dan juga dari Martha. Kedua produk tersebut terlihat sama.


"Sama?" hanya shade dari kedua lipstik itu saja yang berbeda.


"Kok bisa sama?"


"Apa Zafran beli di toko yang sama?"


Alesha geleng-geleng kepala. Ia tak perlu memikirkan hal seperti ini begitu dalam. Mungkin saja Martha dan Zafran tak sengaja membeli produk yang sama. Kemudian cewek itu kembali menyimpan hadiah dari Martha ke dalam kotak. Karna taksi sudah datang, ia buru-buru pergi keluar.


...***...


Tanpa dia sadari, Zafran sudah berdiri di sampingnya. Dia terjingkat kaget saat menoleh ke arahnya. Zafran merebut sesuatu milik orang itu dengan kasar.


"Dari mana lo dapet ini?" Zafran meremas barang tersebut.


Matanya berkedip cepat. Dadanya najk turun tak karuan. Tatapan Zafran membuat napasnya sesak.


"D-dari toko,"


"Dari toko?"


Zafran menyeringai menampilkan senyum smirk. Kemudian membanting barang miliknya dengan sangat keras lalu menginjaknya hingga hancur.


Lantai yang tadinya berwarna putih bersih kini berubah menjadi berwarna merah. Ia melepas sepatunya yang kotor, dia membuang sepatunya ke luar jendela hingga pecah.


Seseorang yang berdiri di ambang pintu tersenyum tipis melihat tingkah Zafran yang kekanak-kanakan. "Bocil," gumamnya.


Zafran menatap Gavin yang tersenyum mengejeknya. "Diem lo!"


Gavin hanya menarik sudut bibirnya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil bersandar di ambang pintu menikmati aksi Zafran.


Zafran kembali mendekatinya. Ia menarik kerah gadis itu. Ia tak peduli jika dia adalah seorang perempuan. "Gue tanya sama lo, siapa yang beri lo lipstik itu?"


"G-gue beli sendiri, Zafran!" ia berusaha melepas tangan Zafran.


"Gak mungkin, karna produk gue belum keluar di pasaran!"

__ADS_1


Dia meneguk ludahnya susah payah. Tenggorokannya terasa kering. Zafran mengeratkan kerahnya hingga lehernya terasa tercekik.


Uhuk-uhuk!


"L-lepasin gue!"


"Jawab! Siapa yang beri lo produk perusahaan gue?"


Dia tak menjawab. Mulutnya tetap tertutup.


"Jadi lo gak mau jawab?"


Zafran terkekeh. Ia mendorongnya hingga jatuh di kursi. Dia mengelus lehernya yang sakit. Darahnya mengalir dengan cepat. Matanya memerah menahan air mata.


"Oke kalau lo gak mau jawab, gue akan cari tau sendiri. Tapi kalau sampai gue tau ada pengkhianat di perusahaan gue, lo tau sendiri akibatnya!"


Cowok itu berlalu pergi. "Bersihkan lantainya!" pesannya sebelum Zafran keluar dari kelas.


Gavin mengangkat kakinya menghalangi jalan Zafran. Cowok itu meliriknya tajam.


"Minggir!"


"Gue tau siapa orangnya," gumam Gavin pelan.


"Siapa?" Zafran menetralkan emosinya.


"Gue gak akan kasih tau lo."


Gavin menurunkan kakinya. Cowok itu masuk ke dalam tanpa memedulikan Zafran yang sudah mencak-mencak tak jelas.


"Sialan lo, Gavin!"


Cowok itu melirik Martha yang sedang mengelap lantai. Ia hanya melewati cewek itu tanpa membantunya membersihkan lantai.


"Yang bersih."


Martha berdecak kesal. "Gue salah apa coba? Cuma beli lipstik baru malah jadi tukang pel lantai!" geramnya.


"Gue salut sama lo, berani membangunkan singa yang tertidur."


Cewek itu menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Gavin dengan tatapan penuh emosi. "Kapan gue buat Zafran marah?"


"Tadi,"


"Hm,"


"Emang salah gue beli lipstik? Gue gak tau kalau lipstik itu produk yang belum keluar di pasaran. Tapi kenapa dia marah ke gue? Seharusnya dia marah sama karyawannya yang lengah!" geramnya.


Gavin hanya menarik sudut bibirnya tersenyum. Ia melakukan aktifitas seperti biasanya, yaitu menaikkan kedua kakinya dan menutup wajahnya dengan buku.


"Nikmati saja."


...***...


Tidak ada angin tidak ada hujan, tapi Alesha merasakan aura yang sangat berbeda dari sahabatnya ini. Biasanya ia akan mengeluarkan suara cemprengnya yang sangat luar biasa. Tapi sekarang, tiba-tiba ia berubah menjadi seorang pendiam.


Sejak kedatangan Alesha ke kelas pun, cewek itu bahkan tak menyapanya. Berjalan berdampingan pun ia hanya menatap kosong ke depan. Alesha menjadi tak enak sendiri jika melihat wajahnya murung.


"Mar," lihat saja, cewek itu mengunyah makanan tetapi pikirannya kosong.


"Martha!"


Alesha menepuk pundaknya. Martha hanya berdeham tanpa melirik.


"Lo kenapa?"


Martha menghela napas. Ia juga bingung harus berkata apa pada Alesha. Tidak mungkin jika Martha mengadu kalau Zafran yang sudah membuat pikirannya kalang kabut hanya karna lipstik. Bisa-bisa Zafran semakin mengamuk padanya.


Padahal ia hanya mendapatkan rekomendasi dari toko yang tak sengaja ia datangi, tapi ternyata itu adalah produk perusahaan Zafran yang belum keluar ke pasaran. Martha telah dijadikan kambing hitam.


Sialan tuh cewek! Gara-gara rekomendasi dia, gue jadi amukan si api.


Andaikan saja Martha tau hal itu, ia tak akan mencoba-coba pakai lipstik di kelas lagi. Atau Zafran akan membunuhnya.


"Sha,"


"Hm?"


"Lo tau nggak tentang lipstik yang gue kasih ke lo?"


Mata Alesha melebar. Ia jadi teringat tentang hadiah keduanya. "Oh iya gue baru inget. Kemarin Zafran juga kasih gue hadiah lipstik yang mirip kayak lo,"

__ADS_1


Martha mengembuskan napas pelan seraya memejamkan matanya. "Lo tau gak perusahaan mana yang keluarin produk itu?"


Alesha menggeleng pelan.


"Itu perusahaan suam-"


Martha menghentikan ucapannya ketika melihat Zafran berdiri di samping Alesha. Cewek itu mengalihkan pandangannya.


"Sha,"


Alesha pun sama terkejutnya. Ia menoleh ke arah Zafran. "Zafran?" ia sedikit melototinya. Takut jika mereka tau hubungan mereka.


Zafran menarik tangan Alesha. "Ikut gue!"


"T-tapi gue lagi makan."


Zafran berhenti. Ia mendekati telinganya. "Lo gak mau mereka tau tentang kita kan?"


Alesha mengangguk.


"Ayo acting,"


"Hah?"


"Ikut gue!" teriak Zafran tepat di depan wajahnya. Hal itu membuat Alesha terjingkat kaget.


"Apa-apaan sih lo. Gue punya kuping, gak perlu teriak."


"Kalau lo gak mau gue teriak, lo harus nurut!"


"Nurut? Kalau gue gak mau?"


"Lo akan tau akibatnya!"


Zafran kembali menarik Alesha dengan kasar.


...***...


Cowok itu membawa Alesha ke atas rooftop. Kemudian melepaskan tangannya. Lalu ia mengelus tangan Alesha.


"Maaf,"


"Nggak papa, lagian lo nariknya pelan,"


Zafran tersenyum. Ia mencium punggung tangan Alesha.


"Kenapa lo bawa gue ke sini?"


"Gue mau negoisasi."


Kedua alis Alesha menyatu. "Negoisasi?"


Zafran mengangguk. "Langsung aja. Gue mau lo jadi model produk baru perusahaan kita."


Mata Alesha melebar sempurna. Ia berkedip cepat. "Gue?" tunjuk dirinya sendiri. "Produk apa?"


"Gue akan kasih tau lo nanti waktu rapat,"


"Tapi gue nggak bisa jadi model,"


"Lo gak perlu khawatir, karna semua karyawan gue profesional."


"Tapi-"


"Tidak ada penolakan!"


"Kalau gue nolak? Emang gak boleh?"


Zafran menggeleng. Ia menempelkan bibirnya ke telinga Alesha. Cewek itu merasa geli. Tubuhnya seakan tersengat listrik dan terdapat gelanyar aneh di dalam tubuhnya. Kupu-kupu terbang di dalam perutnya.


"Kalau lo nolak, lo gue kurung di dalam kamar setiap hari sama gue!"


Alesha mencubit punggung Zafran. Ia mengaduh kesakitan. "Awh. Sakit, Sha!"


"Modus!"


Zafran tekekeh, ia menanti jawaban Alesha. "Jadi, gimana?"


"Gue pikir-pikir dulu,"


"Gue cuma mau jawaban iya."

__ADS_1


...***...


__ADS_2