
Kemoceng bulu itu menyapu lalat-lalat yang berkeliaran di sekitar. Bulu yang terbuat dari bulu ayam berkualitas tinggi tentunya sangat efektif dalam pengusiran hewan bandel. Tidak hanya lalat, kecoak, kodok, bahkan ular akan mundur jika terkena bulu halusnya.
Kali ini, ia akan menggunakan kemoceng berharga buatannya untuk membantu pengusiran musuh bebuyutan pasar.
Gadis itu mengusir lalat, "cabe-cabe," suara khas Martha menggema di seluruh penjuru pasar.
"Cabe bukan sembarang cabe,"
"Cabe berkualitas tinggi, tidak seperti cabe-cabean yang murah,"
"Ini cabe yang pedas, bukan cabe-cabean yang sukanya pamer badan padahal nggak hot,"
"Mari beli, mari beli,"
"Di jamin pedas dan bikin hidung ingusan."
Martha menjual hampir semua jenis cabai. Cabai rawit merah, cabai rawit hijau, cabai keriting, dan lain sebagainya. Sebagai anak juragan cabai di pasar, setiap kali mempunyai waktu senggang setelah pulang sekolah, Martha selalu membantu ibunya menjual cabai.
Kadang ia juga ikut Ayahnya berkebun cabai di sawah, tapi jika ia memanen tanpa sarung tangan khusus, tangannya akan selalu kepanasan selama tiga hari bahkan seminggu.
Karna saat ini Martha sedang senggang, dan teman-temannya pada sibuk, jadi Martha menghabiskan waktunya untuk jualan cabai milik orang tuanya.
Di hari yang sama, keluarga Alesha dan juga Zafran tengah disibukkan oleh persiapan pernikahan mereka. Seharusnya keduanya dalam masa pingitan, namun Alesha kabur karna bosan.
"Martha?"
Martha mendongak. Bibirnya mengembang. Alesha setengah berlari ke arahnya sambil melambaikan tangan.
"Woy Alesha," teriaknya membuat semua orang menoleh. "Ngapain lo ke sini?"
Alesha berdiri di samping Martha. Kebetulan di sana ada tempat duduk yang cukup panjang, cukup untuk jadi tempat duduk Alesha. "Gue gabut di rumah."
"Bukannya lo dipungut ya?"
Alesha melemparkan kipas plastik milik nenek Martha. "Gue anak kandung, bukan anak pungut!"
"Maksud gue pingit," Martha nyengir lebar. Ia memungut kipas plastik yang jatuh.
"Iya, tapi gue kabur,"
"Berani juga lo,"
"Biarin aja, gue bosen di kamar terus. Gue bantu lo jualan aja ya?"
"Kalau lo mau ya silahkan."
Martha memilih dan memilah cabai yang busuk ditempat yang berbeda. Karna prinsip orang tua yang diajarkan padanya, lebih baik mahal tapi berkualitas tinggi daripada murah tapi kualitas rendahan. Jadi, mereka memisahkan cabai yang tidak layak pangan untuk tidak dijual.
Maka dari itulah, produk cabai milik orang tuanya selalu ramai penjual di pagi hari. Biasanya banyak penjual sayur yang sudah mengantri mulai sebelum subuh untuk membeli cabai khas Martha.
Tapi karna sekarang sudah menjelang siang, pembeli tidak terlalu ramai.
"Pakai sarung tangan ini," Martha memberikan sarung tangan khusus pada Alesha.
"Pilih cabai yang busuk terus lo taruh di sini."
Alesha mengangguk.
"Cabe sekilo berapa?" tanya seorang pembeli yang bisa dikatakan orang kaya hanya dengan penampilannya.
Anting emas besar yang menggantung ditelinga, kalung emas yang panjang, beberapa gelang berbaris rapi hampir memenuhi lengannya dan juga baju bling-bling yang mencolok.
Saingan cabe gue nih, batin Martha.
"65 ribu,"
"Mahal banget,"
"Jelas, cabe saya mahal berkualitas tidak seperti anda," Martha memelankan suaranya saat mengatakan 'anda', "cabe-cabean yang tidak berkualitas."
"Saya ini orang kaya lo, seharusnya kamu kasih saya diskon!"
"Eh-eh, orang kaya kok minta diskon. Anda beneran kaya harta apa kaya bunglon?" sindir Martha dengan suara cempreng khas-nya.
"Mar," tegur Alesha menahan tawa.
"Yang pastinya saya kaya raya,"
"Yaudah kalau kaya gak usah ngeluh harga cabe yang berkualitas tinggi. Orang kaya kok tawar menawar, beli barang tanpa melihat harga dong!"
__ADS_1
"Suka-suka saya lah, saya yang beli. Saya beli sekilo 45 ribu!"
"Nggak-nggak! Rugi dong saya!"
"Yaudah 50 ribu,"
"Kalau gitu saya kasih harga 75 ribu,"
"Kok tambah mahal?" sewotnya.
"Suka-suka saya lah, saya yang jual. Saya jual sekilo 75 ribu," Martha membalikkan ucapannya.
"Eh saya ini mau beli, bukan mau tawuran, kalau kamu gak sopan saya pergi!"
"Pergi aja sono," usir Martha santai.
"Lebih baik saya belanja di tempat lain daripada di sini. Penjualnya dekil, nggak cantik, judes pula." Dia menyibakkan rambutnya lalu pergi meninggalkan tempat Martha.
"Sembrono lo ngomong! Gue lempar cabe busuk tau rasa lo!"
Dia mengalingkan wajah sok centil. "Cih najis, kotor."
"Sialan tuh orang!"
Martha menoleh ke arah Alesha. "Alesha?"
"Hm?"
"Lo mau bantu gue kan?"
Alesha mengangguk. Martha memberikan segenggam cabe busuk ditangannya.
"Bantu gue lempar tuh setan!"
"Hah? Lempar? Lo gak takut rugi?"
Martha tak menjawab, melihat sosoknya yang kecentilan seperti itu membuat sifat Martha yang bar-bar harus keluar.
"Setan alas lo!" Martha melemparkan beberapa cabe busuk padanya. Wanita itu terlihat marah dan mencak-mencak tapi Martha tak peduli, bahkan cabai yang dipegang Alesha kembali ia ambil dan dilemparkan ke arahnya.
"Yah, kok diambil, terus gue lempar pake apa?"
Martha memberikan keranjang bambu berukuran lumayan besar. "Nih, lempar."
Martha dan Alesha menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara serak dan berat orang tersebut.
"Siapa yang lempar ini?"
Cowok itu mengangkat keranjang. Alesha dan Martha melebarkan matanya sempurna.
"Gavin?" pekik keduanya.
...^^^***^^^...
Alesha berlari seraya menyembunyikan dirinya dari pandangan Gavin. Gavin tau jika dia adalah sosok yang melemparinya keranjang bambu bekas cabai. Namun karna mata Gavin terasa pedas, saat ini cowok itu pergi ke kamar mandi membasuh mukanya.
Martha menyuruhnya pergi dari pasar. Alesha masih memiliki banyak waktu untuk melarikan diri. Sebelum ia melarikan diri, ia sempat memarahi Martha habis-habisan.
"Martha kurang ajar!"
"Dia yang punya masalah, gue yang kena!"
Alesha menendang batu sekeras mungkin sampai mengenai suatu benda hingga menimbulkan suara pantulan.
"Mana ini urusannya sama Gavin lagi,"
"Kalau aja dia gak tau wajah gue, gue bisa bebas,"
"T-tapi.."
Alesha berjalan cepat dengan menunduk ke jalan. Ia melirik kesana-kemari sambil menutupi wajahnya sedikit.
"Gue tau wajah lo,"
Alesha mengangkat kepalanya perlahan. Ia mendelik. "G-gavin?"
Gavin melepaskan tangan yang menutupi keningnya. Terdapat luka dan darah di sana.
"Pertama, lempar keranjang. Kedua, lempar batu. Lo mau hukuman apa?"
__ADS_1
Alesha meneguk ludahnya susah payah. Ternyata suara pantulan itu berasal dari kening Gavin. Cowok itu sudah berada di depan Alesha beberapa saat yang lalu.
Sebuah cabai mendarat sempurna di jidat Alesha. Ia menoleh ke samping, seorang Martha menjulurkan jari tengahnya seraya berkata, "bego!"
"Lo ngapain masih di sini?" gumam Martha.
"Gue kabur," sahutnya tanpa suara.
Martha menepuk jidatnya sendiri. Alesha tak mengerti apa maksud Martha, tapi kenapa penjualan cabai Martha bisa pindah tempat dalam sekali kejap?
Alesha memincingkan matanya ke seluruh penjuru pasar tradisional. Tidak ada perbedaan sama sekali saat ia datang ke sini untuk pertama kalinya. Alesha masih ingat jelas, bagaimana sisi letaknya pasar saat ia masuk.
"Kok-"
"Sama?"
Martha berkacak pinggang. Kedua kepalanya mengeluarkan dua tanduk cabai merah keriting. Hidungnya mengeluarkan asap.
"ALESHA! LO CARI MATI!!"
Bukan hanya telinga Alesha, tapi telinga Gavin dan seluruh pengunjung pasar terlihat kesakitan mendengar suara cempreng yang keluar dari mulut Martha.
"KENAPA LO MALAH BALIK LAGI KE SINI!"
"INGIN KU BERKATA KASAR, YA ALLAH!!"
Martha terus berteriak. Ia kesal dengan Alesha. Bukannya lari menjauh, ia malah mengelilingi pasar dan akhirnya muncul lagi di dekat pintu masuk awal. Ternyata cewek itu berlari memutari jalan.
Alesha kembali menatap Gavin. Cowok itu menatapnya nyalang. Salah satu alisnya terangkat satu.
Alesha menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari nyengir lebar. "S-sorry, Vin. G-gue gak sengaja. Itu tadi ide gila Martha."
"Gak sengaja dua kali?"
Alesha meneguk ludahnya. Ia memaksakan senyum saat melihat darah merah mengalir di jidat Gavin. "I-iya," sahutnya.
Gavin manggut-manggut.
"Tiga hari lagi, beri gue satu kotak sarapan," Gavin mendekati telinga Alesha. "Kalau gak, lo bakal tau akibatnya!"
Setelah mengucapkan itu, Gavin berbalik pergi dan mengurungkan niatnya untuk belanja di sini.
"Tiga hari lagi?"
"Setelah gue cuti libur nikah?"
Alesha menepuk jidatnya sendiri. Dia menggigit bibir bawahnya. "Gimana kalau Zafran tau? Bisa berabe nih gue,"
"Mana dia musuhan sama Gavin."
Martha berlari ke arah Alesha. "Gavin ngomong apaan? Dia marahin lo?"
Alesha menggeleng. Martha mengelus dadanya.
"Untung aja lo bebas."
"Bebas apaan!!" teriak Alesha, Martha terjingkat kaget.
"Jangan bilang lo jadi korban selanjutnya?"
Alesha tiba-tiba menangis histeris. "Martha, tolongin gue, gue harus gimana?"
"Ya lakuin,"
"Martha!!" geram Alesha.
Martha terkekeh, "Maaf-maaf, karna lemparan epic lo karna keranjang gue, gue bakal bantu lo."
Alesha menghentikan tangisannya. Matanya berbinar. "Beneran?"
Martha mengangguk, "Serius."
"Oke gue pegang omongan lo, awas aja lo gak nolongin gue."
Martha mengangguk yakin. "Emang apa hukumannya?"
Alesha tersenyum jahil. Ia membisikkan sesuatu padanya. Martha membola. Dia mendorong bahu Alesha. Cewek itu tertawa, lalu Alesha berlari sebelum suara Martha merusakkan gendang telinganya.
"ALESHA, GUE BUNUH LO!"
__ADS_1
"Gue gak bohong, dia yang kasih hukumannya. Lo harus lakukan itu!" sahutnya ditengah lari.
Martha menggigit kuku jarinya. "Suapin Gavin makan? Mending gue serahin diri ke macan daripada harus suapin raja hutan."