Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
48. Pencarian Kelas


__ADS_3

Alesha berjalan ke ruang ganti sembari memeluk tas nya di depan dada. Hari ini adalah hari pertama Alesha les memasak yang ia dapat dari rekomendasi internet. Bukan hanya Alesha, tetapi Martha juga berminat ikut dengannya.


Ia melangkahkan kaki seraya melihat sekeliling. Ternyata masih banyak siswa yang belum pulang dari sekolah. Sebagian dari mereka adalah siswa ekskul basket, cheers, dan juga marching band.


"Sha," Alesha berbalik ke belakang. Mencari sumber suara.


Alisnya berkerut saat tak mendapati siapapun di dekatnya. Bulu kuduknya berdiri. Seluruh tubuhnya merinding. Walaupun banyak orang disekelilingnya tapi Alesha merasakan aura mistis yang sangat kuat.


Cewek itu memeluk dirinya sendiri. Elusan halus ia sapukan ke area tangannya untuk meredakan perasaan merindingnya. Cewek itu melangkah ke depan. Semakin lama langkahnya semakin cepat.


"Merinding banget loh," gumam Alesha ketakutan.


Wajahnya ia tolehkan ke arah orang-orang yang sedang fokus pada aktivitas masing-masing. Dia menyatukan alisnya seraya berceloteh.


"Ni orang-orang pada gak punya kuping apa?"


"Padahal gue denger suaranya jelas banget,"


"Tapi mereka masih santai?"


Ia bergidik ngeri. Sekali lagi mengusap lengannya. Seketika pikirannya kalut dan bimbang untuk berganti di toilet sekolah. Tapi sayangnya, Martha sedang menunggunya di sana. Cewek itu juga berganti baju.


Akhirnya Alesha memutuskan untuk pergi ke sana daripada ia harus mendengar suara gledek yang keluar dari mulut Martha.


...***...


Semua pintu kamar mandi terbuka. Cewek itu sudah mengecek berkali-kali, tapi tetap saja tidak menemukan sosok Martha.


"Ke mana dia?" tanya Alesha bermonolog.


Napasnya setengah ngos-ngosan. Ia lelah berjalan cepat menghindari hantu yang mengejarnya terus-terusan.


"Sha!"


Lagi.


Alesha mendengar suara itu lagi. Sebenarnya siapa sosok hantu yang memanggil namanya? Mata cewek itu terpejam erat. Ia menatik napasnya dalam. Tenggorokannya terasa begitu kering. Tubuhnya lemas seketika, kakinya bergetar bagaian jelly.


"Sha!"


Dia merasa ada yang memukul pundaknya. Alesha mendelik. Napasnya tersekat. Perasaannya campur aduk, ia tak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya sudah sangat lemas, ia ingin pingsan.


"T-tolong jangan ganggu gue, gue gak ganggu lo sama sekali."


"Heh! Daritadi gue panggilin lo malah kabur!"


Mata Alesha berkedip lambat. Suara ini? Sepertinya Alesha pernah mendengarnya. Cewek itu segera berbalik, namun ia langsung terjingkat kaget melihat sosok yang ada dibelakangnya dengan rambut panjang dan juga baju serba putih.


"Huaa!!"


Alesha melemparkan hpnya ke segala arah. Ia terjerembab ke lantai dengan tasnya sebagai tumpuan bokong. Ia berteriak heboh saat melihat seorang Martha yang sudah sangat mirip dengan kuntilanak.

__ADS_1


Martha ikut terkejut melihat Alesha yang kaget. Cewek itu pun berlari dan bersembunyi di balik punggung Alesha dan memegangi pundak Alesha dengan erat.


"Apaan Sha? Hantu?" serunya ketakutan.


Alesha masih belum bisa mencerna kejadian ini. Ia langsung menoleh ke arah Martha. Cewek itu terlihat sangat ketakutan. Wajahnya pucat pasi bahkan lebih pucat daripada wajah Alesha saat ini.


Alesha menyangga tubuh belakangnya dengan kedua tangan. Ia menatap tajam Martha yang menyembunyikan wajahnya di pundak Alesha.


"Martha!!" seru Alesha.


"Ngapain lo di sini?"


Martha mendongak. Bibirnya bergetar. "G-gue ketakutan begoo!" ia mendorong kepala Alesha pelan.


"Ketakutan? Lo takut sama apa?"


"Sama teriakan lo! Gue kira ada hantu."


Bibir Alesha berkedut. Ia mengelus dadanya. Jantungnya berdetak kencang bahkan hampir copot. Dia menjitak kepala Martha dengan keras.


"LO HANTUNYA!!"


"KENAPA LO NAKUT-NAKUTIN GUE? HAH!"


Martha mendelik tak terima. Ia membalas jitakan Alesha.


"Aduh," ringisnya. "Sakit, Mar!"


"Nakut-nakutin gimana? Daritadi gue panggil nama lo tapi lo malah lari, Alesha!" geram Martha.


"Bukanlah. Gue manusia bukan hantu!"


Alesha bernapas lega. Ia mengelus dadanya. Kini perasaannya berangsur-angsur tenang. "Gue pikir hantu iseng," ia terkekeh.


"Gue masih hidup!"


Alesha nyengir kuda. Ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.


"Ya maap. Lagian baju lo putih semua."


Martha memutar bola matanya malas. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Udah sono cepet ganti baju. Ntar kita telat ke tempat les!"


...***...


Mata kedua cewek itu tak berkedip sama sekali. Matanya terus melebar sempurna. Hanya kata menakjubkan yang terlintas di benak mereka. Bagaimana tidak, tempat yang mereka kunjungi sebagai tempat les memasak bukan seperti kelas biasa, melainkan seperti restoran di hotel bintang lima.


Lahan parkir yang seluas itu hanya di tempati oleh mobil. Tidak ada motor maupun sepeda gayuh sama sekali. Benar-benar luar biasa.


Di banner yang Alesha lihat, tempatnya memang bagus, tapi itu hanyalah bagian bawah ruangan saja bukan lantai atas yang tingkat sebanyak tiga tingkatan.

__ADS_1


Mulut Alesha menganga lebar. Begitu juga dengan Martha. Mereka berhenti sejenak hanya untuk memandangi lingkungan yang sangat sejuk tersebut.


"Ya Allah, Mar. Ini tempat les memasak kita?"


Martha mengangguk kaku. Ia memegangi tangan Alesha dan menggenggamnya erat.


"Gila, cakep banget, Sha."


Alesha mengangguk setuju. Mereka seakan-akan masuk ke dalam dunia fantasi.


"Gue jadi pengen keliling," seru Martha.


Alesha mengangguk. Ia pun sepemikiran seperti dengannya, namun, saat ini bukanlah pilihan yang tepat, karna kelas sebentar lagi di mulai dan mereka berdua masih belum tau di mana tempatnya.


Waktu tidak banyak, mereka bisa berkeliling dengan cepat sambil mencari kelas memasak untuk pemula.


"Kelilingnya nanti aja, Mar. Mending kita cari tau di mana kelas kita. Nanti kita malah nyasar lagi dan gak bisa ikut kelas pertama."


Martha mengintip jam di ponselnya. Keningnya berkerut, lalu ia memukul jidatnya.


"Bener juga, kalau kita nyasar terus telat kan gak lucu."


"Kita tanya satpam dulu," Alesha melangkah terlebih dahulu. Martha menyusul di belakang Alesha sembari menamatkan lingkungan sekitar.


Setelah berhasil bertanya lokasi tempat les mereka, Alesha dan Martha pun mulai menyusuri kawasan itu. Karna satpam berkata jika tempat les mereka di lantai dua, akhirnya mereka langsung baik ke lantai dua tanpa menyusuri lantai satu terlebih dahulu.


Tapi sudah setengah jalan, mereka masih belum menemukan tempatnya. Alesha khawatir karna sepuluh menit lagi, chef akan memulai demonya.


Buliran keringat mengucur deras di dahinya. Berjalan naik ke tangga membuat kakinya terasa kaku, apalagi jika harus berjalan dengan cepat.


"Sha," Martha berhenti sejenak. Ia menunduk sembari menumpu badannya dengan kedua tangan yang berada di atas lutut. Ia menarik napasnya yang sudah ngos-ngosan.


"Gue capek."


Alesha paham keadaan Martha, karna ia sendiri juga mengalami hal itu, tapi setelah melihat titik terang yang ada di depan sana, Mata Alesha kembali berbinar.


Ia menepuk pundak Martha beberapa kali. "Mar, ayo semangat. Sebentar lagi kita sampai di kelas."


Martha mendongak. Ia mengusap keringat yang menetes di dagunya.


"Mana?"


"Itu," Alesha menunjuk kelas.


Martha menarik napas panjang. Lalu ia berdiri tegak. "Masih ada waktu kan?"


"Masih."


"Kita jalan santai aja ya, Sha?"


Alesha mengangguk setuju.

__ADS_1


"Ayo, kita jalan santai. Semoga aja chefnya gak galak."


...***...


__ADS_2