
Dikerumuni orang-orang yang berlarian dan saling berebut satu sama lain demi buku paket yang limited edition adalah kondisi yang saat ini Gavin rasakan. Berdempetan dengan orang-orang tidak berguna membuat dadanya sesak.
Udara yang seharusnya segar berubah menjadi udara buruk, dipenuhi debu dan keringat campuran dari sekumpulan manusia. Tidak baik untuk kesehatannya. Perpustakaan yang seharusnya tenang kini ricuh.
"Polusi." Gavin memijat pelipisnya. Dia lupa tidak membawa masker.
Cowok itu berdecak kesal. Ia memeluk tubuhnya. Badannya tak bisa digerakkan sedikit pun. Gavin tidak ingin masuk ke dalam, tapi orang-orang mendorong satu sama lain dan tidak sengaja memaksa Gavin masuk.
"Jangan sentuh gue!" Gavin menatap tajam Qia. Cewek itu terdorong oleh temannya dan tak sengaja menabrak Gavin.
"M-maaf, tapi mereka dorong gue."
"Ck," Gavin berdecak kesal.
"Antre woy!" teriakan Ferdi memekik telinga. Cowok itu mengangkat buku paket setinggi mungkin dan berusaha menerobos barisan.
"Kok lo udah dapet?"
Ferdi melirik. Di bawah ketiaknya, Martha sedang menutup hidung.
"Usaha dong, makanya jangan jadi cewek pendek."
"Gue pendek? Lo aja yang longor!"
"Longor?"
"Panjang!" teriak Martha membuat Ferdi menutup telinganya.
"Eh, suara lo bisa dikecilin, gak? Budeg kuping gue!" geram Ferdi.
"Suara lo yang cempreng!"
Di saat perdebatan mereka, Zafran berjalan dengan mendorong siapapun yang menghalangi jalannya dengan kasar. Tidak peduli jika mereka terjatuh dan terpijak.
"Minggir!"
Zafran berlalu ke arah Ferdi. Tadinya ia tak tau di mana keberadaan Ferdi, tapi setelah mendengar percekcokan antara duo kaleng kerupuk akhirnya cowok itu mengetahui. Dia melangkah besar, tangannya tak berhenti menyingkirkan orang-orang.
"Awh," rintihnya pelan. Dia terjatuh dan tangannya terinjak Laka.
Cowok itu melirik Zafran. Dia geleng-geleng kepala lalu menolong cewek yang jatuh itu. "Maaf. Lo gak papa?"
Dia mengangguk kecil. "Nggak papa."
"Hati-hati," ucapan Laka diangguki olehnya.
Satu buku paket lainnya berhasil diambil. "Akhirnya gue dapet." Alesha segera memeluk buku paket tersebut. Lalu ia mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
Cewek itu meneguk salivanya susah payah. Bola matanya hampir keluar melihat lautan manusia. "Rame banget, gimana caranya gue keluar?"
Alesha celingak-celinguk mencari jalan pintas. Nyatanya, semua jalan dipenuhi teman-temannya yang berusaha mendapatkan buku paket limited edition.
"Martha? Lo di mana?" seru Alesha berusaha melawan arus.
"Gue di sini!" suara Martha terdengar bindeng sebab ia masih berada di samping ketiak Ferdi.
Ferdi memutar bola matanya malas. "Ketiak gue wangi, gue tadi pakai parfum!"
"Parfum tikus curut?"
"Tikus Jerry musuhnya Tom."
"Dasar kaleng rusak,"
"Dasar toa masjid,"
"Dasar sound rusak!"
"Dasar cewek cempreng gak tau diri!" Ferdi melotot, Martha pun membalasnya dengan melotot.
Zafran menarik senyumnya lebar. Ferdi tidak fokus pada bukunya. Lantas cowok itu langsung merebut buku paket yang telah Ferdi ambil dengan susah payah.
Ferdi mendelik. "Zafran monyet! Balikin buku gue!"
"Zafran? Mana Zafran?" tanya Alesha yang baru sampai. Ferdi memberitahu keberadaan Zafran dengan dagunya.
"Ambilin buku gue, Sha!"
Alesha menggeleng. "Ambil aja sendiri."
Alesha menggandeng Martha keluar dengan susah payah. "Zafran, tolongin gue!"
__ADS_1
Martha menjulurkan lidah sedangkan Ferdi sudah tidak bisa melangkah maju karena orang-orang yang menghalangi jalannya.
Zafran berhenti. Ia menoleh ke belakang. Alesha tak jauh dari sana. Cowok itu mendengar teriakan alesha. Tapi jika dia menolongnya, teman-temannya akan curiga pada mereka.
"Kenapa pake teriak sih Alesha!" dumelnya.
"Bagi buku.".
Zafran menoleh ke samping. Gavin menatapnya datar sambil menjulurkan tangan meminta buku hasil curian Zafran.
Zafran menjauhkan buku dari Gavin. "Enak aja, gue yang susah-susah ambil main minta-minta lo!"
"Lo nyuri."
Zafran menyeringai. "Mencuri juga membutuhkan usaha."
"Curang," seru Gavin tak suka.
"Yang penting gue dapet buku, emangnya lo? Gerak aja ogah. Cosplay manekin lo?"
"Ya."
"Singkat padat dan tidak jelas," ketus Zafran.
"Zafran!" Alesha menepuk bahu Zafran. Ia mengatur napasnya setelah berhasil menjauhi kerumunan massa.
"Apa?"
"Gendong gue,"
Zafran mendelik. "Gila lo? Ini di sekolah!"
Gavin menahan tawanya melihat wajah Zafran yang tiba-tiba pucat.
"Gak usah ketawa lo, Tokek!"
"Tokek?" Gavin merasa pernah mendengarnya, tapi di mana?
Tanah bergetar. Kaca jendela bergerak tanpa angin kencang, tubuh terasa bergoyang-goyang. Tidak ada angin tidak ada hujan, pohon dan dedaunan ikut bergetar.
Martha mencekal lengan Alesha. "Sha? Gempa?"
"Gempa!!!" semua orang berhamburan keluar.
Entah berapa skala ritcher kerasnya gempa, Zafran belum tau pasti. Tapi yang jelas, gempa itu cukup keras bahkan beberapa dinding perpustakaan retak.
"Ayo lari!"
Semua orang telah menyelamatkan diri masing-masing. Alesha bernapas lega, ia selamat. Jika saja ia lengah, dan seseorang tidak menariknya menjauh, ia pasti akan menjadi patung dan berakhir menjadi keset yang terinjak-injak.
"Makasih ya Zaf-" ucapan Alesha terpotong saat melihat Martha yang menggandeng tangannya.
"Martha?"
Martha menoleh. Ia mengangkat satu alisnya seolah bertanya.
"B-bukannya Zafran yang gandeng gue?"
"Gue pikir juga gitu, tapi nyatanya si Zafran malah narik Gavin."
"Gavin?" pekik Alesha diangguki Martha.
Disisi lain, Zafran menarik napasnya panjang. Tangannya semakin menggenggam erat. "Akhirnya kita selamat."
Gavin menatap datar Zafran. "Hm,"
Zafran memudarkan senyumnya. Ia menoleh ke kanan. Matanya berkedip cepat. Gavin menaikkan satu alisnya seakan bertanya 'apa maksud Zafran menggadengnya' keluar.
Zafran buru-buru menghempaskan tangan Gavin. "Ngapain lo di sini?'
"Berdiri."
Zafran mengerutkan keningnya. "Gue tanya, lo ngapain di sini?"
"Bukannya seharusnya gue yang nanya lo? Kenapa gue bisa di sini?"
...***...
"Baik, siapa yang belum kebagian buku?" tanya Pak Harun.
Martha, Ferdi, Laka, dan beberapa orang lainnya angkat tangan. Zafran tersenyum bangga, ia tak perlu angkat tangan karna dia sudah mendapatkan bukunya.
__ADS_1
"Buku lo mana?" tanya Alesha.
"Gue pegang."
Beberapa kerutan muncul di dahi Alesha. Ia meliriknya, Zafran tidak membawa apapun.
"Mana?"
"Ini!" Zafran menunjukkan tangan kosong. Wajahnya berubah datar, tidak ada buku atau apapun.
"Buku ghaib?" sindir Alesha.
Mata Zafran berkeliling mencari buku di bawah. Pasti bukunya telah jatuh saat ia berjalan ke sini tadi.
"Gavin hebat, dia bisa dapat buku."
"Padahal cuma nunggu di luar,"
Bisikan itu mengganggu pikiran Zafran. Lantas ia melirik Gavin.
Cowok itu tak berekspresi. Tatapannya kosong ke depan, dan cowok itu memegang sebuah buku paket miliknya.
"Jadi lo yang ambil buku gue?" Zafran tak suka basa-basi. Ia langsung menarik kerah baju Gavin.
Suasana menjadi tegang. Bahkan Pak Harun pun termenung melihat aksi Zafran yang hampir menghajar Gavin tanpa cekcok.
"Buku milik sekolah."
"Tapi gue yang ambil buku itu!"
"Dari Ferdi?"
Rahang Zafran semakin keras. Emosinya semakin memuncak. "Balikin buku itu, sekarang!" ucap Zafran penuh penekanan.
"Kalau gue tolak?"
"Kita adu kekuatan,"
Gavin tersenyum smirk. "Semua orang tau, kalau lo bakal kalah."
"Apa lo bilang?"
"Perlu alat bantu dengar?"
"Kurang ajar lo, Gavin!" Zafran tak bisa menahan amarah jika berurusan dengan Gavin. Meski buku itu tak terlalu penting, tapi Zafran tidak suka apa yang seharusnya menjadi miliknya di rebut oleh orang lain.
Apalagi jika orang itu adalah Gavin.
Zafran membogem mentah wajah Gavin hingga menimbulkan sobekan di sudut bibirnya. Gavin mundur dua langkah. Cowok itu lantas menatap Zafran garang.
Gavin menyentuh bibirnya. Darah segar tertempel di telapak tangan. Cowok itu membuang buku ke arah Martha. "Simpan atau lo yang gue hajar." Ucapnya tegas.
Martha menggigit bibir bawahnya. Ia segera mengamankan buku Gavin. Zafran tersenyum tipis melihat Gavin menerima tonjokkannya.
Gavin sedikit berlari kemudian ia membalas pukulan Zafran lebih keras. Zafran tak menghindar, karna menurutnya ia pantas mendapat pukulan Gavin. Zafran menyeimbangkan tubuhnya yang lunglai. Dia menatap tajam Gavin dengan senyum menantang.
"Oke, kita mulai."
"Mulai sekarang kalian saya hukum memperbaiki tembok sekolah yang retak!!"
Semua orang menutup telinga. Teriakan guru BK yang pernah menghukum Alesha menggema memenuhi penjuru sekolah. Bahkan suaranya berhasil menghentikan aksi Zafran dan Gavin.
Zafran dan Gavin sama-sama berdecak kesal. Jika ada Bu Elok, mereka berdua akan terancam bahaya. Kenapa? Karna Bu Elok tidak akan segan-segan datang ke rumah dan memberikan sangsi pada kedua orang tua mereka jika kedua anak mereka tidak menurut.
Lalu apakah Zafran dan Gavin menerima jika motor mereka di sita?
Tentu saja jawabannya tidak.
Gavin menghembuskan napas pelan. Ia berbalik dan mengambil buku dari Martha dengan kasar. Sebelum pergi ia menatap tajam matanya. "Kali ini lo selamat."
Gue salah apaan? batin Martha bertanya.
Begitu juga dengan Zafran. Cowok itu tak lagi peduli dengan Gavin, ia langsung berlalu pergi ke arah parkiran. Memasang helm dan pergi dari sekolah.
"Buka gerbang!" teriak Zafran.
Satpam membuka gerbang tergesa-gesa. Zafran melajukan motor dengan kecepatan penuh. Di susul dengan Gavin.
Mereka berdua akan melanjutkan pertengkaran di tempat biasa. Tak peduli dengan hukuman apa yang akan mereka terima nantinya.
Elok geleng-geleng kepala melihat sikap mereka yang sama sekali tak bisa ia cegah.
__ADS_1
"Dari dulu masih saja sama-sama egois."
...***...