Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
17. Working together


__ADS_3

Dinginnya AC sedingin suasana malam ini. Menyelimuti kecanggungan kelompok lima tugas bahasa Inggris. Hujan petir di luar sana seakan mendukung suasana yang semakin mencekam.


Tidak ada yang membantah saat mereka menjadi kelompok kelima. Sebab, mereka adalah orang-orang terakhir yang belum menentukan kelompok. Sehingga mereka terpaksa menjadi satu kelompok.


Kelompok tersebut terdiri dari Zafran, Alesha, Martha dan juga Gavin. Mengingat sikap Zafran yang selalu bermusuhan dengan Gavin, kedua cewek itu tak yakin kelompok mereka akan berhasil menyelesaikan tugas secara bermusyawarah.


Dan benar saja, setiap kali pertemuan hanya Alesha dan Martha yang hadir.


Hingga akhirnya Alesha memutuskan untuk memberi masing-masing satu tugas. Besok adalah pengumpulan terakhir, untung saja Zafran dan Gavin mau datang walaupun secara paksaan.


"Gue sama Martha udah selesai, sekarang tinggal tugas kalian berdua."


"Selesai? Kapan ngerjainnya lo?" tanya Zafran tak percaya.


"Kemarin."


Zafran manggut-manggut. Dia menyerahkan kertas tugasnya pada Alesha. "Kalau gitu kerjain tugas gue!"


Gavin melirik Zafran. Cowok itu juga masih belum menulis satu huruf pun di kertasnya. Dia meletakkan kertas di depan Martha. "Sama."


Alesha dan Martha saling pandangan. Alesha mengembalikan kertas milik Zafran kembali. "Nggak! Lo harus ngerjain sendiri."


Martha ingin mengembalikan kertas milik Gavin, tapi ia tak berani.


"Ini tugas apa?" tanya Zafran yang tidak peduli dengan tugas.


"Tugas kelompok bahasa Inggris."


Zafran menjentikkan jarinya. "Nah, berarti lo yang harus ngerjain,"


Alesha memukul lengan Zafran dengan keras. "Kok gue? Ini tugas kelompok, bukan tugas individu. Jadi ya harus dikerjakan secara kelompok."


"Tapi lo selesai duluan,"


Alesha terdiam sesaat. Ia berkedip cepat. "Gue ngerjain sama Martha!"


"Kelompok lo siapa?"


"Kalian berempat."


"Kenapa lo ngerjainnya sama Martha doang?"


"Karna lo sama Gavin gak datang. Kalau kita nurutin kalian, tugas ini nggak bakal selesai!"


Zafran mendekat ke depan Alesha. Cewek itu mundur. "Istri harus menurut sama suami!" bisiknya.


Martha memandang Gavin. Cowok itu fokus memperhatikan perdebatan antara Alesha dan Zafran. Sekarang posisi keduanya menjadi obat nyamuk.


Gavin melirik Martha. Cewek itu gelagapan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Gavin berdiri, ia menarik tangan Martha untuk ikut berdiri.


"Mau ke mana?"


Gavin menunjuk ke arah pintu dengan dagunya. Martha menahan Gavin. "Tapi tugasnya belum selesai,"


"Gampang." Gavin memiliki kecerdasan di atas rata-rata sama seperti Zafran, tugas seperti ini sangat mudah untuk mereka, hanya dalam lima menit pasti akan selesai.


Dan mereka berdua lebih suka mengerjakan tugas di waktu yang mepet. Misalnya besok pagi sebelum pelajaran dimulai.


Gavin menarik cewek itu sedikit kuat sampai akhirnya Martha berdiri.


"Tidak baik mendengarkan kdrt orang lain." Kata Gavin melangkah pergi meninggalkan Alesha dan Zafran yang masih mendebatkan tugas.


Mereka tak sadar jika Gavin dan Martha sudah pergi sejak 10 menit yang lalu.


...***...


"Gue pasrah nggak dapat nilai tugas." ucap Martha lesu. Dia masuk kelas bersama Alesha.


"Santai aja, nilai berapapun yang penting naik kelas." Hibur Alesha merangkul pundak Martha.

__ADS_1


"Lo bisa santai, tapi gue nggak. Pasti Papa gue marah-marah."


Alesha memudarnya senyumnya. Papa Martha di kenal sebagai seorang yang pemarah. "Jangan sedih dong, yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin."


Martha duduk di depan bangku Alesha. Disusul Alesha yang duduk di mejanya. Tatapannya menatap bingung sebuah kertas hvs yang dilengkapi dengan tinta hitam.


Tugas Bahasa Inggris Kelompok Lima.


Alesha memukul bahu Martha beberapa kali. "Martha!"


"Apa?"


Martha menoleh ke belakang. Alesha menunjukkan kertas pada Martha. Mata mereka berdua bersinar ketika mendapati kertas itu.


"Sha? Ini tugas kita?" cewek itu merebut kertas dari Alesha.


Martha membaca tulisan dengan seksama dalam hati. Tulisannya sangat rapi, dari segi penjelasannya lebih jelas, spesifik dan teratur. Tidak seperti yang dikerjakan oleh Alesha dan Martha sebelumnya. Benar-benar sangat berbeda.


"Siapa yang ngerjain?"


Alesha mengedikkan bahunya. "Gue nggak tau."


"Zafran kah?"


Alesha menggeleng pelan. "Gue nggak yakin, tapi dia udah berangkat duluan tadi pagi."


"Atau mungkin Gavin?" tebak Martha.


"Gavin? Gue tambah gak yakin kalau Gavin, dia aja jarang ngerjain tugas individu,"


"Iya juga sih,"


"Bodo amatlah, yang penting tugasnya kelar."


Alesha dan Martha tertawa terbahak-bahak. Beban pikiran mereka sudah berkurang.


...***...


"Selamat Lak, lo udah berhasil keluar dari fase stress." ucap Ferdi meng-zoom ke mata Laka.


"Gue gak stess." Sahutnya menutup kamera Ferdi. Ferdi berdecak pelan.


"Bukannya kalau lagi ada masalah lo melukis abstrak?"


"Kata siapa?"


"Kata gue," Ferdi menunjuk dirinya sendiri.


Zafran mendorong kepala Ferdi pelan. "Sok tau!"


Ferdi menatap tajam Zafran. "Monyet lu!" dia mengarahkan kamera pada Zafran.


Zafran dan Laka tertawa. Selalu saja tingkah Ferdi yang ingin terlihat bijak tapi gagal, membuat mereka sedikit melupakan masalah masing-masing.


Laka duduk menyila. Zafran mematikan kamera-nya dan menyusul duduk di samping Laka.


"Gue lukis abstrak karna bingung mau lukis apa, lagian gue cuma menyalurkan hobi saat senggang."


Ferdi menyerobot duduk di antara Zafran dan Laka. Mereka berdua menggeser bokongnya seraya memberikan tatapan membunuh. Sedangkan Ferdi hanya nyengir lebar tanpa dosa.


"Gimana lo sama Alesha?" tanya Laka mengalihkan pembicaraan.


"Biasa aja,"


"Lo udah ada perasaan sama dia?"


Zafran mengedikkan bahunya. "Gue nggak tau,"


Ferdi menoleh cepat ke arah Zafran. "Nggak tau? Berarti belum."

__ADS_1


Zafran hanya terdiam.


"Btw, lo pasti udah sentuh dia?" goda Ferdi mengedipkan matanya.


"Gue juga pernah nyentuh lo," Zafran menyentuh tangan Ferdi. Cowok itu bergidik ngeri lalu menghempaskan tangan Zafran.


"Najis!"


Zafran dan Laka terkekeh.


"Maksud gue hubungan-" ucapan Ferdi terhenti.


"Belum." Potong Zafran cepat.


"Belum?" pekik Ferdi dan Laka.


"Serius lo?" kaget Ferdi tak percaya.


"Salut gue sama lo, bisa nahan nafsu." Laka geleng-geleng kepala. Dia menepuk-nepuk pundak Zafran beberapa kali.


Zafran menghela napas panjang. Dia tau apa yang ada di pikiran kedua sahabatnya. Tapi Zafran tidak mau menjadi seorang suami yang egois. Alesha dan dirinya masih masa pendekatan. Dalam artian mereka harus memahami sifat masing-masing pasangan.


Dan Zafran juga tidak terburu-buru dalam melakukan hal itu. Karna ia dan Alesha masih sekolah. Lagipula Zafran tidak mau memaksa Alesha hanya karna nafsu semata.


Meskipun mereka sudah halal dan dia boleh menyentuh istrinya, tapi Zafran tidak akan melakukannya. Walaupun pernikahan mereka karna perjodohan, Zafran akan berusaha untuk membuka hati dan mencintai Alesha sepenuh hatinya.


...***...


"Mie Ayam tiga bungkus, Bang!"


"Oke."


Laka duduk di tempat yang disediakan. Dia ditugaskan untuk membeli makanan oleh Ferdi karna kalah tanding basket dengannya. Sembari menunggu pesanan mie ayam, dia bermain ponsel.


"Laka?" seseorang memanggil nama Laka. Dia pun menoleh.


Laka terkejut. "Alesha? Martha?"


"Lo ngapain?" tanya Martha ambigu. Sudah jelas Laka sedang membeli mie ayam yang sama dengannya tapi masih dipertanyakan.


"Lagi melukis Ayam."


Alesha menahan tawanya. Sedangkan Martha mengerucutkan bibirnya.


"Bukannya Zafran sama lo? Mana dia?" Alesha mencari Zafran di sekitar warung mie Ayam. Tetapi orang yang dicari tidak ada.


"Di rumah pohon." Jawab Laka santai.


"Rumah pohon? Emang ada?"


Laka mengangguk.


"Di mana?"


"Rahasia."


"Gue juga mau dong ke sana." Ucap Alesha imut seraya memohon dengan tatapan berkaca-kaca.


Bibir Laka terkedut tatkala melihat sikap Alesha sok manis untuk mendapatkan izinnya.


"Oke, gue izin Zafran dulu." Laka mencari nomor Zafran tapi ponselnya direbut Alesha.


"Jangan, kalau lo ngomong gue gak bakal dibolehin. Mending lo bawa kita diam-diam." Alesha mengedipkan mata berkali-kali. Martha yang melihat itu menahan muntah karna jijik.


Laka mengerutkan keningnya. Dia menghembuskan napasnya panjang. Lagipula jika dia melarang, Alesha akan tetap memaksa untuk ikut.


"Bang, mie ayam dua dibungkus!"


Alesha menatap Laka dan tersenyum smirk. Ponsel Laka masih ditangannya, jika dia tak merebut ponsel Laka, cowok itu pasti meninggalkannya. Alesha menggoyangkan ponsel Laka beberapa kali membuat cowok itu mengangguk pasrah.

__ADS_1


"Oke lo ikut."


...***...


__ADS_2