
Kedua tangan itu saling bergandengan. Kedua pasang kaki itu melangkah secara bersamaan di tengah gerimisnya hujan. Payung cantik baru melindungi tubuh mereka dari hujan.
Jalan yang cukup sepi membuat mereka leluasa berjalan tanpa takut siapapun akan tau hubungan mereka.
"Zafran," panggil Alesha.
"Hm?"
"Lo sahabatan sama Gavin dari kecil ya?"
Zafran termenung mendengar pertanyaan Alesha. "Gue gak merasa sahabatan,"
Alesha memandang Zafran. Dia mengerutkan dahinya. "Tapi kata Nana.."
Zafran menghirup udara yang bercampur tanah itu dalam-dalam. Kemudian menghembuskannya perlahan. "Ya, tapi sekarang nggak."
Alesha menyenggol lengannya. "Bilang aja lo kangen sama Gavin, tapi gengsi. Ya kan?"
Zafran melototi Alesha. "Enggak, Sha!"
Alesha tertawa mengejek. Sementara Zafran memutar bola matanya malas. Ia sangat malas jika membahas tentang persahabatannya dengan Gavin di masa lalu.
"Lo seneng gak jalan-jalan di tengah hujan?" tanya Zafran mengalihkan pembicaraan.
Alesha menggeleng. "Enggak,"
"Enggak? Kenapa?"
"Karna gue..." Alesha menggantung ucapannya.
Zafran mengangkat satu alisnya. "Gue?"
"Lebih suka hujan-hujanan!!" Alesha membuang payung yang Zafran pegang.
Cowok itu terkejut. Ia menatap Alesha tak percaya. "Sha!"
Alesha berlari menjauh sembari menjulurkan lidahnya. Zafran terkekeh sambil geleng-geleng melihat tingkah istrinya yang bertingkah seperti anak kecil.
Alesha sudah lumayan jauh darinya, Zafran mengembangkan senyumnya. "Gue harap bisa melihat senyum lo setiap hari, Sha," gumamnya.
Zafran merasa bahagia. Tak menyangka hidupnya akan lebih berwarna. Adanya Alesha, Zafran merasa tenang dan tidak kesepian.
Cowok itu melirik payung sebentar. Lalu berlari mengejar Alesha yang sedari tadi mengejeknya tanpa membawa payung.
"Sini lo, jangan lari!!"
...***...
Alesha mengeringkan badannya sembari memakan cilok di taman bermain. Zafran pergi mengambil payung di tempat Alesha membuang payung tersebut.
Hujan reda beberapa waktu lalu. Baju cewek itu sudah hampir kering. Rambutnya pun begitu. Dia menikmati cilok yang kenyal di atas rerumputan sembari melihat anak-anak bermain.
Saat ciloknya habis, cewek itu membuangnya di tempat sampah yang sudah disediakan dan kembali menunggu Zafran datang.
Seorang wanita dengan rambut sebahu mendatanginya. Wajahnya terlihat sangat muda. Alesha mengira jika mereka sepantaran. Tapi ternyata dia bersama anaknya.
"Ma, aku main ya?"
Dia mengangguk. "Iya," dia menatap Alesha. "Boleh duduk di sini?" tanyanya pada Alesha.
Alesha tersenyum, lantas ia mengangguk. "Boleh kok, duduk aja."
"Siapa nama lo?"
"Alesha," sahutnya.
"Oh kenalin, gue Kayana," Kayan menjulurkan tangannya. Alesha menjabatnya. "Salam kenal."
Alesha terlihat bingung pasalnya dia menggunakan bahasa 'lo-gue' untuk panggilan. Tapi Alesha tak banyak tanya, ia hanya manggut-manggut saja.
"Santai aja, gue masih umur 18 tahun,"
Alesha menganga lebar. Matanya melotot sempurna. Umur Kanaya dan umurnya hanya selisih satu tahun. Tapi anaknya berumur sekitar 2 tahunan. Itu berarti, dia menikah di umur 16 tahun.
"Dia anak lo?" Alesha bertanya dengan hati-hati.
__ADS_1
"Iya, dia anak gue."
"Ganteng," pujinya memerhatikan anak laki-laki dari Kayana. Rupanya sangat tampan, imut dan menggemaskan.
"Makasih, tapi sebenarnya dia bukan anak yang diinginkan."
Alesha menoleh cepat. Alisnya menyatu. "M-maksudnya?"
Kayana menghela napas pendek. "Jadi, dulu gue punya pacar. Tapi dia cuma cinta sama gue karna nafsu. Sampai akhirnya gue mau lakuin hal itu sama dia,"
"Kenapa lo mau?"
Kayana mengedikkan bahu. "Karna gue sayang sama dia, dan dia juga sayang sama gue. Kita lakukan itu karna sama-sama mau."
Mendengar kisah hidupnya, Alesha ikut sedih. Alesha mengelus punggungnya pelan. "Semuanya sudah terjadi, dari hal itu kalian memiliki putra yang sangat tampan." Katanya sambil tersenyum.
Kayana mengangguk. Ia menatap putranya dengan senyuman. "Gue semakin sedih lihat anak gue,"
"Kenapa?"
"Karna dia tidak memiliki Ayah,"
Alesha berhenti mengelus punggungnya. Ekspresinya berubah datar, ia berkedip lambat. Tatapannya seolah bertanya 'mengapa' pada Kanaya.
"Dia tidak mau tanggung jawab,"
Alesha menutup mulutnya.
"Tapi nggue gak menyesal. Gue bersyukur karna Tuhan punya skenario terbaik dan menunjukkan kalau dia bukanlah laki-laki yang pantas untuk gue,"
"Setelah putus sekolah, gue berusaha keras untuk menghidupi Danil, dan sekarang gue bisa membelikan apapun yang Danil minta. Akhirnya gue bisa bahagia meskipun gue hanya hidup bersama Danil."
Alesha ikut tersenyum melihat wajah Kanaya yang berseri. Baru pertama kali bertemu, tapi Alesha merasa mereka sudah berteman begitu lama.
Kanaya menoleh ke arah Alesha. Dia menepuk pundaknya beberapa kali. "Gue harap lo menemukan orang yang tepat nantinya dan bisa hidup bahagia dengan orang yang lo cintai." Pesan Kanaya.
Cewek itu mengangguk seraya menarik sudut bibirnya. Gue sudah menemukan orang yang tepat.
...***...
Setelah mendengar cerita Kanaya, hati Alesha terketuk untuk lebih berusaha mencintai Zafran. Meski sebenarnya, ia sudah mulai mencintai pria tersebut.
"Apa gue harus mulai dengan ini?"
Alesha menyentuhnya. Ia benar-benar tak mengerti mengapa ia bisa kepikiran untuk memakai baju yang bernama lingerie itu.
Tapi tidak ada salahnya jika ia memakainya. Jika dia berpenampilan cantik di depan suami, itu akan menambah pahala. Lagipula mereka sudah sah.
Alesha memantapkan hatinya sebelum benar-benar mengambil lingerie itu dari gantungan baju.
"Kok gue deg-degan ya?" ia memegang dadanya yang berdetak kencang. Semakin lama getarannya semakin terasa.
Alesha berkali-kali membuang napas kasar. Sampai akhirnya ia mengambilnya. Alesha berlalu ke dalam kamar mandi. Dia akan mempercantik diri malam ini.
Zafran baru selesai mengerjakan tugas kantor. Cowok itu merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Matanya sedikit lelah. Ia sangat mengantuk karna menghabiskan dua jam di depan laptop.
Cowok itu mengisi air di botol sampai penuh. Lalu membawanya ke dalam kamar. Dia membuka dan langsung mengunci pintu seperti biasa. Karna sudah malam, Alesha pasti juga sudah tidur.
Tapi saat Zafran berbalik, ia sangat terkejut melihat pemandangan yang ada di depannya sekarang. Rasa kantuknya langsung hilang. Dia melihat seorang wanita yang memiliki aura kecantikan sangat luar biasa. Dia bukan seperti Alesha. Tetapi seperti bidadari surga.
Zafran melototkan matanya sempurna. Tangannya reflek melepas genggaman pada botol air hingga mengenai kakinya.
"Aduh!" ringisnya.
Zafran gelagapan. Ia buru-buru mengambil botol. Di saat-saat seperti ini, Zafran malah gugup dan tak bisa mengambil botol air dengan benar.
Jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih kencang. Pipinya memerah setelah memandang Alesha. Bahkan ia sulit untuk sekedar meneguk ludah.
Alesha sebenarnya juga sangat malu. Pasti sekarang wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Melihat Zafran yang gugup, Alesha ingin tertawa lepas. Tapi saat ini bukanlah pilihan yang tepat.
Cewek itu berjalan ke arahnya. Membantu Zafran mengambil botol mineral. Cowok itu terkejut dan langsung mendongak.
"A-alesha?"
"G-gue bantu," sahutnya tak kalah gugup.
__ADS_1
Zafran segera berdiri, ia juga menarik Alesha berdiri. Namun ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Cowok itu berniat merebut botol dari Alesha, tapi cewek itu menolak.
Zafran menoleh. Ia mengangkat satu alisnya. "Kenapa?"
Alesha menggigit bibir bawahnya. Ia menarik napasnya dalam dan menatap mata Zafran lekat. "Zafran,"
"I-iya?"
"Gue mau tanya,"
"Tanya aja,"
"G-gimana penampilan gue?" serunya malu-malu.
"Cantik," sahut Zafran sesantai mungkin.
Alesha tersenyum. Zafran tertegun.
"Apa lo suka?"
Zafran tak bisa menahan senyumnya. Ia pun melebarkan senyum. Ia pun mengangguk. "Gue suka."
"Suka gue atau suka penampilan gue?"
"Semua tentang lo."
Cewek itu tersipu malu. Dia menunduk ke bawah. "G-gue juga suka sama lo."
Zafran melebarkan matanya. "Apa? Gue gak denger,"
"Gue suka sama lo," lirihnya.
Zafran berdeham. "Ngomong apa sih lo? Yang keras dong!"
Alesha berdecak. Ia pun mendongak. "GUE SUKA SAMA LO-" cewek itu terkejut. Zafran sangat dekat dengannya.
"Iya, gue tau. Makasih karna sudah membuka hati buat dan menerima gue," Zafran meraih tengkuk Alesha. Lalu ia mencium kening Alesha dengan sayang.
Tubuh Alesha seperti disengat listrik. Perutnya seakan dipenuhi oleh kupu-kupu. Ia pun memejamkan matanya.
Zafran melepaskan ciumannya. Ia menatap mata Alesha lamat-lamat. "Gue sayang sama lo, Sha." Akhirnya kata-kata itu terucap dari mulutnya.
"Gue juga,"
Zafran tersenyum. Ia menjauhkan diri dari Alesha, kemudian mengelus rambutnya. "Udah malam, waktunya tidur."
Zafran menahan nafsunya walaupun ia tergoda. Alesha memegang tangan Zafran. Cowok itu berbalik. "Kenapa?" tanyanya.
"Gue memakai ini buat lo," ungkap Alesha.
Zafran menegang. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Alesha. Ia mengelus pipinya dengan pelan. "Sha, gue nggak mau memaksa."
"Gue nggak terpaksa. Ini kemauan gue,"
Beberapa kerutan muncul di kening Zafran. Matanya berkedip lambat. Alesha maju mendekat. Zafran linglung. Ia tak bisa berpikir jernih setelah mendengar pernyataan Alesha.
Cewek itu menatap mata Zafran lekat. Ia meletakkan botol di meja, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Zafran.
Hati Zafran berdesir ketika kulitnya bersentuhan dengan tangan Alesha. Cowok itu termangu. Apalagi saat benda kenyal menempel di bibirnya. Mata Zafran melebar.
Wajah orang yang sangat ia sayang berada tepat di depannya. Matanya terpejam dengan erat, dengan deru napas yang teratur.
Alesha membuka mata, menatap Zafran sebentar. Ia mencium bibir Zafran dengan kaku. Cowok itu terkekeh. Ternyata Alesha benar-benar nekat.
Zafran tak tinggal diam, jika Alesha mengizinkan, ia juga tak mau kehilangan kesempatan emas ini. Cowok itu segera menarik punggungnya dan membalas ciuman Alesha dengan lembut.
Alesha mengikuti irama Zafran secara perlahan. Cowok itu semakin memperdalam ciumannya. Alesha terengah-engah. Zafran melepaskan ciuman setelah beberapa lama.
Keduanya mengambil pasokan udara sebanyak mungkin. Alesha mengatupkan bibirnya, ia tersipu malu dan mengalihkan wajahnya.
Zafran menarik dagu Alesha untuk menatapnya. Dia menaikkan satu alisnya. Seolah meminta izin untuk melakukannya lebih dari itu.
Alesha menarik kedua sudut bibirnya. Lantas ia mengangguk pelan. Zafran tersenyum, kemudian ia kembali mencium bibir Alesha.
Hingga akhirnya mereka berdua menghabiskan malam bersama sebagai suami istri untuk pertama kalinya.
__ADS_1
...***...