
Alesha menggeser bokongnya sedikit demi sedikit mendekati Martha yang tengah asik memakan baksonya. Di kantin ramai, Alesha tak ingin banyak orang yang mendengar apa yang akan Alesha sampaikan kepada Martha.
"Mar," Alesha menyenggol lengan Martha tanpa menoleh.
Bakso yang ada disendoknya pun jatuh di lantai.
"ALESHA!!"
Teriakan Martha mengundang perhatian seluruh warga kantin.
Cewek itu terkejut. Dia menoleh cepat seraya menutup telinga. "Apa sih berisik!"
Kena senggol dikit aja sudah mengeluarkan suara toa apalagi kalau ia tahu tentang undangan pernikahannya nanti? Alesha tidak yakin bisa membicarakan hal itu di sini padanya.
Telunjuk Martha menunjuk bakso yang jatuh. "Lihat tuh, gara-gara tangan lo bakso gue jatuh!"
Alesha melirik sambil memincing sedikit. Kemudian ia nyengir kuda. "Gak sengaja,"
Martha mengerucutkan bibirnya sebal. Ia menarik napas sembari memejamkan matanya. "Untung gue sabar,"
"Sabar?" bibir Alesha berkedut. "Mana ada sabar mengeluarkan suara toa!"
Martha mengedikkan bahunya, ia menggeser duduknya dan memakan bakso dengan menatap Alesha dengan tatapan tajam seolah memberikan peringatan untuk tidak menyenggolnya lagi.
Alesha memutar bola matanya malas. Ia pun segera menggeser tubuhnya kembali. Ia mengurungkan niatnya untuk memberikan undangan pada Martha.
Sepertinya untuk saat ini, cewek itu masih belum bisa diajak kerjasama.
...***...
Sebelum kembali ke kelas, Alesha menggeret kerah Martha bagaikan membawa kucing ke dalam toilet.
Martha berceloteh ria tanpa henti. Menyumpah serapahi cewek itu sambil mengabsen beberapa binatang liar.
Sesampainya masuk ke dalam toilet, Alesha pun mengunci dan melepaskan kerah Martha. Martha batuk akibat lehernya tercekik.
Tanpa sadar, Alesha telah membawa Martha masuk ke dalam toilet pria.
"Lo mau ngapain?" Martha memeluk dadanya erat.
"Mau bunuh lo!" Alesha memberikan tatapan smirk.
"Jangan raba gue!"
Alesha menjitak kepalanya keras sebab suaranya menggema. Seorang cowok yang baru melangkah masuk pun mengurungkan niatnya ke toilet setelah mendengar gema suara Martha.
"Tuh orang ngapain?"
"Bawa cewek ke toilet cowok?"
Dia bergidik ngeri, lalu pergi. "Astaga, telinga gue gak polos lagi."
"Bisa gak sih lo pelanin suara lo dikit?"
"Gak!"
"Gue mau ngomong serius," tatapan Alesha berganti serius.
Martha yang melihat perubahan ekspresi Alesha pun perlahan melepas tangannya dan menatapnya. "Tumben lo serius,"
Alesha mengembuskan napasnya. Setelah itu hidungnya mengerut. Ia membuang napas kasar. "Bau pesing,"
Martha yang tadinya mau ikut serius pun tak bisa menahan tawa. Ia menjitak kepala Alesha. "Dasar bocah prik, lo kalau mau ngobrol serius jangan ditoilet. Punya sahabat kok blo'on!"
Alesha menggaruk lehernya yang tak gatal. "Lagian suara cempreng lo membahayakan,"
"Lo mau ngomong apa sih sebenarnya? Soal tugas bahasa Indonesia? Udah tenang aja, gue udah dapet contekan."
"Kalau itu gue juga udah,"
"Lah terus?"
Alesha mengeluarkan undangan pernikahannya yang sudah ia simpan dibelakang punggung secara perlahan.
"Tapi janji, ini rahasia."
Martha mengangguk. "Iya,"
"Jangan berisik!"
"Iya, ditoilet kagak ada siapa-siapa."
"Awas lo bocorin kemana-mana!"
"Gue banting lo lama-lama!"
Alesha terkekeh. Ia pun memberikan undangan tersebut.
__ADS_1
Martha mengerutkan kening. Kemudian ia membuka undangannya.
...THE WEDDING CELEBRATION...
...ZAFRAN VAN DETRASH...
...&...
...ALESHA BULAN DELONA...
...ON SATURDAY, 5 March 2021 At 15.00...
...AT THE GUN'S GROUP HOTEL...
Mata Martha membola sempurna. Mulutnya terbuka lebar bersiap mengeluarkan semprotan toanya namun berhasil dicegah oleh Alesha.
"What?!"
"Lo nikah sama Zafran?" tanya Martha tak percaya.
Alesha mengangguk.
"Kok bisa?" Martha memelankan suaranya. "Lo hamidun?"
"Gak!" sergah Alesha. "Enak aja lu!"
"Lah terus?"
"Kita dijodohin."
...***...
Entah apa yang dibicarakan Gavin hingga membuat Zafran sangat marah. Niatnya cowok itu mau mengundang Gavin secara baik-baik. Tapi dia malah mengatakan hal yang sangat menyebalkan.
Dan di sinilah mereka. Di tengah lapangan. Mereka berdua saling mengadu kekuatan satu sama lain.
"Bangsat lo, Vin!"
Zafran membogem mentah. Gavin tak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Kenapa lo yang marah. Seharusnya gue yang nonjok lo!"
Gavin membalas tonjokan Zafran lebih keras.
"Gue udah bilang, jangan bahas dia di depan gue!"
Zafran berdiri, ia meninju perut Gavin. Mereka berhenti sejenak. Keduanya saling mengambil pasokan udara. Napas mereka tersengal-sengal.
"Tapi Nana pergi karna lo, bangsat!" Gavin kembali membogem mentah Zafran. Namun Zafran berhasil menangkisnya.
Tepat saat itu Alesha dan Martha keluar dari toilet. Sampai sekarang pun mereka masih belum mengetahui fakta jika keduanya baru saja keluar dari toilet pria.
Martha memukul lengan Alesha. "Suami lo berantem sama si Gavin," Martha menunjuk ke arah mereka berdua.
Mata Alesha membola. Dia pun segera berlari memisahkan keduanya.
"Alesha!" Martha buru-buru memasukkan undangan kembali, ia menyusul Alesha.
"Zafran!!"
Zafran menghentikan aksinya ketika mendengar suara yang sangat dikenali. Siapa lagi kalau bukan calon istrinya?
"Alesha?"
Alesha mendekat, ia menjauhkan Zafran dari Gavin. Cowok itu memberikan tatapan tajam pada Alesha. Martha sedikit menjauh, jantungnya berdetak berada di dekat Gavin. Napasnya pun menjadi tersekat.
"Ngapain lo ke sini?" Zafran melirik Martha. Cewek itu gelagapan. Dia gugup berada diantara dua manusia mengerikan.
Zafran mengangguk mengerti. "Gue pamit," Zafran menggandeng tangan Alesha pergi dari sana.
Alesha menoleh ke arah Martha. Martha mengangguk dan membiarkan dia pergi bersama Zafran. Sebelum pergi, dia sempat memberikan undangan yang seharusnya diberikan untuk Gavin.
"Nitip,"
Martha melebarkan matanya sempurna. Ia menatap Gavin yang juga menatapnya. Dia berkedip cepat lalu mengalingkan wajahnya.
Gavin mengambil tasnya yang berada di lantai, kemudian berlalu pergi meninggalkan Martha yang masih membeku.
"G-gavin tunggu,"
Gavin berhenti.
"I-ini ada titipan,"
"Buang!"
Tanpa mengatakan hal apapun lagi, cowok itu melangkah menjauh.
__ADS_1
"Buang? Emang dia udah tau apa isinya?"
...***...
Ferdi dan Laka menghentikan nyanyian mereka saat Zafran masuk membawa Alesha. Mereka berdua berdiri dan pindah tempat duduk lain untuk memberikan tempat duduk kepada Alesha dan Zafran.
Mereka berdua sudah tau jika mereka akan menikah. Pastinya mereka kaget, Zafran menyembunyikan hal besar seperti ini lalu tiba-tiba menyebar undangan.
Tapi mereka mengerti mengapa Zafran menutupi hal itu. Walau begitu, Ferdi dan Laka tetap mendukung Zafran.
Zafran menyuruh Alesha duduk. Laka yang memiliki kepekaan pun memberikan kotak p3k pada Alesha.
"Makasih," sahutnya diangguki Laka.
Alesha meneteskan cairan kuning ke kapas. Lalu membersihkan lebam bekas bogeman Gavin perlahan.
"Shh.. sakit," Zafran menghindar.
Alesha menarik wajahnya dan menekan kapas dengan keras. "Makanya jangan berantem!"
Zafran menahan rasa sakitnya. Sakit ini masih tak seberapa, dibandingkan rasa sakit akan ucapan Gavin tadi.
"*Lo bajingan."
"Apa maksud lo?"
"Ninggalin Nana demi pernikahan."
"Nana? Asal lo tau, dia yang pergi tanpa pamit. Lagipula gue selalu anggap dia sahabat gue."
"Karna lo pengecut!"
"Pengecut? Lo yang pengecut. Kalau lo suka bilang, jangan biarin dia suka sama orang lain apalagi musuh lo."
Gavin membelakangi Zafran. "Lo juga suka kan sama dia?"
Zafran terdiam.
"Kalau ibu lo gak penyakitan, lo pasti gak bakal biarin Nana pergi."
"Jaga ucapan lo, Vin*!"
"Zafran!!" Alesha meneriaki Zafran. Setelah beberapa kali panggilan, akhirnya cowok itu menoleh.
"Berisik!"
"Gue laper. Ayo pulang."
Zafran mendengus kesal. Di hadapan kedua sahabatnya ia terlihat seperti calon suami takut istri. Lihat saja mereka berdua sedang menahan tawa.
Zafran berdeham. Ia tetap stay cool. Dia mengeluarkan selembaran uang lima puluh ribuan. "Pulang sendiri lo, gue sibuk."
"Mana cukup segini, minta lagi!"
"Heh! Gue belum jadi suami lo,"
Alesha tak peduli. Ia tetap menengadahkan tangan. "Bodo amat, minta tambah."
"Ck," decak Zafran.
Cowok itu pun akhirnya memberikan selembaran uang tambahan agar Alesha cepat pergi dari sini.
Setelah kepergian Alesha, Laka mendekatinya.
"Lo undang Nana?"
Zafran mengangguk. "Bagaimana pun, dia sahabat kita."
"Lo gak takut dia sakit hati?"
"Berani jatuh cinta berani sakit hati."
"Jadi itu alasan lo berantem sama Gavin?"
Zafran mengangguk.
"Lo sebenarnya masih cinta nggak sama Nana?" seru Ferdi.
"Gak, gue gak pernah cinta."
"Tapi Nana cinta sama lo,"
"Gue tau,"
"Lo gak takut dia bakal-"
Zafran menghentikan ucapan Ferdi. "Gak, gue gak akan biarin cewek itu merusak kebahagiaan gue. Gue yakin, Nana sudah dewasa, dia harus tau apa yang harus dilakukan."
__ADS_1
Ferdi dan Laka mengangguk. "Kita berharap juga begitu."
...^^^***^^^...