Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
41. Persiapan Debut


__ADS_3

Mengesampingkan permasalahan sementara demi bisa membuat kita bisa menjalankan kehidupan dengan tenang mungkin memang diperlukan. Tapi jika masalah itu belum terselesaikan dengan baik, seperti apa pun cara kita mengesampingkan, tetap saja masalah akan terus melayang dan menghantui pikiran kita.


Maka dari itu, jika terjadi masalah sebaiknya diselesaikan terlebih dahulu. Atau jika memang masalah itu benar-benar membuat emosi kita tak terkendali, lakukanlah hal yang membuatmu senang.


Seperti Alesha, saat ia mengingat perkataan Nana waktu itu, sampai sekarang pikirannya masih tidak bisa tenang. Cewek itu terus saja kepikiran.


Walaupun Alesha percaya jika Zafran tidak akan berpindah ke lain hati, bukankah penting jika kita memiliki rasa waspada?


Kepercayaan tidak bisa di beli. Kepercayaan tidak bisa salah gunakan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kecurigaan yang berlebihan, Alesha melakukan sesuatu untuk menghilangkan pikiran stress nya.


Dengan kesepakatan yang sudah disepakati oleh CEO perusahaan, yaitu Zafran, suaminya sendiri. Alesha ingin mempercepat kegiatan debut modeling-nya.


Alasan utama, supaya ia bisa sibuk dan melupakan masalahnya sejenak. Selain itu, ia ingin lebih dekat dengan Zafran. Agar tak ada celah bagi siapapun untuk masuk dalam hubungan mereka.


Sebelum bekerja, ia meminta Zafran untuk membelikan beberapa novel yang belum sempat ia beli.


Selagi dia masih dirias oleh MUA profesional, Zafran meminta Seto untuk mengirimkan novelnya. Sedangkan ia harus berdiskusi untuk skenario iklan. Ia tidak ingin ada adegan yang terlalu memperlihatkan lekuk tubuh Alesha.


"Pokoknya jangan terlalu mengekspos berlebihan, lebih fokuskan ke produk," pinta Zafran.


"Itu gampang, Zafran. Masalahnya di sini, cewek itu bukan model profesional. Pasti membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pengambilan pose dan gambarnya," sahut fotografer.


Zafran melirik Alesha. Cewek itu menikmati bacaan novelnya. "Saya tau, maka dari itu saya sewa fotografer profesional seperti anda. Jadi, saya tidak mau ada kesalahan sedikit pun," jawabnya.


"Memang saya mungkin berpengalaman dengan pengambilan gambar yang bagus, tapi kalau modelnya lebih profesional seperti Nana itu akan jauh lebih mudah."


Zafran mengepalkan tangannya. Jika saja ia tak bisa mengontrol emosi dan mengingat jabatannya, ia tak akan membiarkan pria ini merendahkan Alesha dan meninggikan Nana.


"Seorang fotografer yang sudah profesional, siapapun modelnya pasti berhasil. Kalau anda tidak bisa profesional, silahkan angkat kaki dari projek ini!"


"Saya tidak membutuhkan orang yang suka membanding-bandingkan orang lain."


Setelah mengatakan itu, Zafran pergi meninggalkan Rodi sendirian dengan pikiran cemas karena sudah membuat CEO marah. Apalagi kata-kata Zafran menusuk hatinya. Seharusnya ia sebagai fotografer profesional, tidak boleh membandingkan orang.


Bukan hanya sebagai fotografer, tapi juga sebagai manusia. Semua orang yang sudah sukses pasti semua memulai dari nol. Sama seperti dirinya dulu, sebelum ia menjadi fotografer terkenal, ia juga menjadi pemula.


Rodi menghembuskan napasnya. Ia duduk di tempat yang disediakan. Ia meminum sebuah minuman segar sembari memenangkan pikiran. Sebaiknya, dia tidak boleh membuat Zafran kecewa dengan hasilnya.

__ADS_1


"Sebagai permintaan maaf, gue harus membantu cewek itu seperti model profesional," ucapnya seraya melirik Alesha.


Zafran duduk di depan Alesha. Ia menatap perias wajah Alesha, kemudian ia menyuruhnya pergi dengan dagunya. Orang itu mengangguk mengerti, lantas ia pamit undur diri.


"Kita lanjut nanti buat touch up,"


Cewek itu menatap make up artis dengan wajah kebingungan. "Loh ini sudah?"


"Sudah, kita tunggu dekornya selesai. Nanti pakai lipstiknya waktu pengambilan video," ucapnya.


Alesha mengangguk pelan, lalu ia melirik Zafran dengan tatapan ragu. Cowok itu mengangguk sekali meyakinkannya.


Alesha beralih menatap Zafran. Cewek itu mengerucutkan bibirnya ke depan. "G-gue gugup," katanya.


"Karna?"


"Karna gue gak pernah di foto orang pake kamera. Gue gak pd,"


Zafran terkekeh, "Lo cantik, kenapa gak pd?"


"Apa perlu gue usir semuanya?"


Alesha geleng-geleng kepala. "Jangan, gue gak enak."


"Keinginan bintang tamu harus dipenuhi," Zafran berdiri, namun Alesha mencekal tangannya


Cowok itu menaikkan satu alisnya. Alesha berdecak kesal. Cowok itu benar-benar tidak peka. Jika ia mengusir semua pekerja, pasti mereka akan berpikir yang tidak-tidak pada Alesha. Apalagi dia adalah orang baru di sini.


"Jangan, Zafran." Alesha memaksa Zafran untuk duduk.


Cowok itu menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Lo maunya gimana?"


"Gue batalin aja ya?"


Zafran melebarkan matanya sempurna. Ia menatap tajam Alesha. Cewek itu menunduk, menyembunyikan wajahnya seraya saling menyentuhkan kedua jari telunjuknya.


Melihat Alesha yang bertingkah seperti itu, Zafran menjadi gemas sendiri.

__ADS_1


"Sha,"


Cewek itu mendongak.


"Gue tau lo pasti kurang percaya diri karna ini baru pertama kali kan?"


Alesha mengangguk.


Zafran mengembangkan senyumnya. Senyum yang membuat hati Alesha menjadi lebih tenang. "Nggak papa, jangan takut. Berani mencoba sesuatu yang baru itu adalah hal yang sangat luar biasa. Lo bisa mendapatkan pengalaman berharga, lo bisa memiliki rekan kerja, dan lo bisa menambah banyak kenalan di sini," cowok itu menepuk punggung tangan Alesha beberapa kali.


"Bukan cuma itu, lo akan mendapatkan komisi dari perusahaan gue. Di sini kita bukan sebagai suami istri, tapi sebagai rekan kerja, jadi kita harus profesional." Sahutnya.


"Tapi gue masih SMA, gue juga gak berpengalaman. Gimana bisa profesional?" tanya Alesha.


"Di dunia pekerjaan, kita tidak memandang usia. Jika lo bisa bertanggung jawab, tegas, amanah dalam bekerja, bisa mengesampingkan masalah pribadi, disiplin, dan mampu berkerja sama dengan tim, itu namanya profesional. "


Zafran menyentuh bahu Alesha, "Gue yakin lo bisa, Sha."


Alesha menggigit bibirnya. Ia berkedip cepat supaya air matanya tidak jatuh ke pipi. "Emang gue bisa?"


"Jangan pernah takut mencoba. Karna sebelum kita mencoba, kita tidak akan pernah tau bagaimana prosesnya. Tidak ada kata mudah untuk memulai suatu pekerjaan yang sangat awam untuk kita, tapi jika kita terus belajar dan berusaha keras, semua akan tergantikan dengan hasil yang memuaskan."


Mendapat nasihat dari suaminya yang bijak memang obat yang paling mujarab. Apalagi, Zafran terus mendukung dan menyemangatinya mencoba hal baru. Alesha tau menjadi model apalagi brand ambassador sebuah produk tanpa pengalaman apapun akan banyak memiliki resiko.


Alesha memang takut, tapi ia selalu percaya pada Zafran. Zafran tidak akan memilihnya jika Zafran tidak melihat kesuksesan dari dalam diri Alesha. Cowok itu seratus persen yakin, dengan adanya Alesha menjadi brand ambassador sekaligus model baru, bukan hanya perusahaannya, tapi Alesha akan sukses dan produk tersebut akan menjadi produk yang paling banyak diminati di pasaran.


Kedua orang tua mereka juga mendukung. Bila suami istri bekerja sama menjadi satu, pasti akan semakin lekat.


Alesha memantapkan hatinya. Ia berdiri dengan tegas. Zafran terkejut tapi ia segera menutupinya dengan menampilkan senyum lebar.


"Gue akan berusaha semaksimal mungkin,"


Zafran ikut berdiri. Cowok itu manggut-manggut. "Ingat Sha, tidak ada yang namanya tidak mungkin di dunia ini. Jika kita berusaha, pasti hasil tidak akan berkhianat, Sha."


"Gue harap kepercayaan gue juga tidak terkhianati."


......***......

__ADS_1


__ADS_2