
Gavin masih menjadi misteri yang mengejutkan bagi Alesha maupun Martha. Mereka tidak akan pernah tau jika Gavin adalah seorang chef di kelas memasak yang mereka ikuti.
Zafran pernah berkata jika Gavin dipaksa menjadi penerus perusahaan ayahnya, meski Gavin menuruti semua perintah sang ayah, tapi yang Alesha tau, Gavin memiliki cita-citanya sendiri, dan cowok itu sudah meraihnya.
Alesha belum bilang pada suaminya jika guru memasaknya adalah Gavin. Karna kalau Zafran tau, pasti ia tidak memperbolehkan Alesha untuk ikut kelas memasak lagi.
Apalagi cowok itu sedang memikirkan permasalahan perusahaan yang cukup melelahkan. Terlihat dari wajahnya yang lesu dan terus mengucek matanya di depan layar laptop.
Alesha menggeleng pelan. Beberapa menit setelah Zafran datang, cowok itu meminta Alesha untuk memasakkan makanan untuknya. Karna kebetulan dia belum makan.
Alesha mengusap peluh keringatnya yang menetes. Ia mencuci tangannya, lalu mengelap dengan celemek. Setelah itu, Alesha menyiapkan blender bumbu. Ia memasukkan semua bumbu yang sudah disiapkan sebelumnya ke dalam blender.
"Tinggal blender bumbu," serunya.
Alesha menekan tombol on dan blender pun memotong halus semua bumbu hingga tercampur. Sembari menunggu bumbu halus ia menyiapkan teh dan perasaan jeruk lemon.
"Hari ini minum lemon tea."
Masih dalam keadaan membuat, air liur Alesha sudah hampir menetes. Ia mengalirkan air ke dalam teko teh lemonnya.
"Masukkan ke dalam kulkas," Alesha membawa teko dan memasukkannya ke dalam kulkas.
Semua bumbu sudah halus. Sesuai instruksi Gavin kemarin, ia mencoba untuk mempraktekkan hasilnya di rumah. Saat ini ia memasak masakan yang sudah ia pelajari kemarin.
"Semoga aja berhasil. Kemarin kata Gavin masakan gue sebagai pemula masih bisa dirasakan, berarti sekarang harus lebih enak. Apalagi masak untuk suami," gumamnya penuh bangga.
"Sha?"
Alesha menoleh. "Ya?"
"Yaudah."
Kening Alesha berkerut. Apa maksud Zafran memanggilnya?
"Kenapa lo manggil gue?"
"Emang gak boleh gue manggil lo?"
"Boleh sih, tapi ngapain?"
"Gak ngapain. Gabut."
Cewek itu menganga lebar. "Suami gak jelas."
Zafran terkekeh mendengar dumelan Alesha. Ia menutup laptopnya lalu beranjak berdiri. Ia sedikit merenggangkan ototnya yang kaku. Setelah itu ia melirik Alesha, cewek itu sedang menumis bumbu halus.
Bibirnya melengkung membentuk senyuman. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Saat Zafran datang, cewek itu pun tidak sadar karna terlalu sibuk memasak.
Cowok itu mendekati istrinya. Ia terlihat tambah cantik bahkan sangat cantik saat sedang memasak dengan rambut dijepit ke atas. Leher jenjangnya sangat mulus membuat Zafran terpesona.
Tangannya terulur ke depan perut Alesha, lalu ia memeluk tubuh istrinya dengan lembut. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alesha, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya.
__ADS_1
Alesha terkejut. Tapi saat ia menoleh ke belakang, Zafran tiba-tiba menciumnya. Cewek itu membelalakkan matanya.
"Zafran!!" tegurnya.
"Kenapa, hm?"
Seluruh badannya seakan serasa tersengat listrik tegangan tinggi saat kulit Zafran menyentuh kulitnya. Di dalam perutnya seperti terdapat kupu-kupu yang berterbangan.
"G-gue lagi masak, jangan ganggu!"
"Masak aja, gue gak ganggu."
"T-tapi gue yang kurang nyaman," ujarnya.
Zafran terkekeh. Ia segera melepaskan pelukannya sebelum hal yang tidak-tidak terjadi di saat seperti ini. Alesha pun bernapas lega. Ia melanjutkan masakannya dengan tenang.
Zafran mencium aroma yang membuat perutnya langsung kelaparan.
"Masak apa lo hari ini?"
"Kari spesial."
"Spesial untuk suami kan, Sha?"
...***...
Gavin melepas topi putih pajangnya, ia mengangkat kertas siswa pendaftar kelas masaknya. Ia menyunggingkan senyum tipis membaca nama salah satu peserta.
Ia menyandarkan kepalanya di kursi. Ponselnya berdering beberapa kali, tapi ia biarkan saat mengetahui jika ayahnya yang menelpon.
Gavin sudah bisa menebak, apa yang akan ayahnya bahas. Entah itu masalah perusahaan, atau masalah masa depannya yang sudah diketahui.
Ya, memang benar. Gavin menjadi chef secara diam-diam. Dia tidak pernah membicarakan tentang masa depan dengan orang tuanya. Karna mereka tidak akan pernah mau mendengarkan pendapatnya. Mereka hanya ingin Gavin menjadi penerus perusahaan.
Cowok itu menghela napas panjang. Ia memijat pelipisnya yang terasa pening.
"Vin?"
Tanpa menoleh, Gavin hafal milik siapa suara tersebut.
"Hm?"
Cewek itu berjalan mendekati Gavin. Ia menempelkan kaleng dingin ke pipinya. Gavin terjingkat kaget. Ia menoleh dan memberikan tatapan tajam untuknya.
Dia terkekeh melihat wajah Gavin yang kesal. Sekesal apapun, Gavin akan tetap menerima pemberian darinya.
"Gue tau lo suka yang rasa pir."
"Hm." Sahut Gavin singkat.
Cewek itu mengambil kursi putar dan menggeretnya ke samping Gavin. Ia duduk di sebelah Gavin. Ia meraih tangan Gavin lalu memijatnya.
__ADS_1
Gavin tak menolak. Lagipula tangannya terasa pegal setelah menghabiskan waktunya untuk mengajari memasak beberapa orang. Gavin menikmati pijatannya sampai cowok itu memejamkan matanya.
"Vin,"
"Ngomong!" Gavin tidak suka basa-basi.
"Menurut lo, gue sama Zafran cocok gak?"
Gavin membuka matanya lebar. Ia menarik tangannya dengan kasar. Ia menatap tajam matanya.
"Lo gila?"
Cewek itu menarik napasnya dalam. Di dalam hatinya yang paling dalam, masih terdapat nama Zafran.
"Gue masih cinta sama dia, Vin."
"Na, lo tau kalau Zafran punya istri?"
"Tau, kita kan kondangan bareng."
"Lo masih punya otak?"
"Masih."
"Tapi lo gak punya pikiran."
"Gue akui pikiran gue kacau. Bahkan sangat kacau. Gue harus mendapatkan undangan pernikahan Zafran, lihat pernikahannya dengan orang lain, gue kacau Vin."
"Gue tau perasaan lo. Tapi lo gak boleh egois."
"Tapi Vin, gue selalu sakit hati lihat mereka berdua jalan bareng. Gue kangen kita jalan bertiga."
"Bertiga? Gak usah ngarep!"
Nana menarik napas panjang. Cewek itu membuka kaleng minuman dan meneguknya hingga tandas. Ia membuang kaleng minumannya ke dalam sampah. Semua apa yang di lakukan Nana, semua tak luput dari mata Gavin. Cowok itu terus memandangnya dengan tatapan datar.
Ia tau sifat sahabatnya ini. Kaleng minuman itu mengandung alkohol. Baunya sangat menyengat tapi Gavin tak menutup hidungnya sama sekali.
Cowok itu menyiapkan kresek. Waspada jika cewek itu nantinya akan muntah dan mengenai bajunya.
"Gue gak mau kehilangan dia, Vin. Gue berusaha sekuat tenaga buat jadi modelnya. Tapi kenapa sih Zafran milih cewek itu? Dia bukan model. Dia gak profesional."
Nana menundukkan kepalanya. Ia menyembunyikan wajahnya. "Gue bahkan jauh lebih cantik daripada cewek itu. Gue lebih berpengalaman. Gue lebih sempurna."
Gavin hanya terdiam.
"Gue gak mau tau, apa yang gue inginkan harus tercapai."
Gavin menghela napas. Ia beranjak berdiri dari kursinya. "Apa mau lo?"
"Gue mau Zafran."
__ADS_1
...***...