
Sesuai perkataannya tadi pagi, Alesha akan mencoba lipstik barunya di rumah. Kebetulan juga Zafran sedang keluar, Alesha bisa leluasa melakukan apapun yang ia mau.
Ia mengoleskan lipstik di bibirnya. Kemudian meratakannya dengan menggunakan jari telunjuk. "Di ombre tambah cantik."
Cewek itu menampilkan senyum di depan kaca. Ia mengambil ponselnya lalu berselfie. Dia memotret diri dengan berbagai pose.
"Hapus,"
Ia menggeser beberapa foto. "Hapus,"
Alesha menghapus hasil jepretannya lagi. "Ini oke," beberapa foto yang menurutnya bagus ia simpan.
Dari hampir tujuh foto ia hanya menyisakan dua foto saja. Seperti itulah kebiasaannya, maklum cewek. Di tengah-tengah ia memilih foto, Zafran menelponnya.
Alesha kaget. Ia buru-buru mengangkatnya. "Hallo, Zaf?"
"As-salamu'alaikum,"
"Eh iya, wa'alaikumsalam."
"Gue sibuk,"
Keningnya mengkerut. "Kan lo yang telpon."
"Maksudnya gue sekarang sibuk,"
"Lah terus tenapa nelpon?" tanya Alesha.
"Ngasih tau aja."
"Kalau sibuk ya gak usah telpon, Zaf!"
"Bentar lagi gue meeting, Sha." Kata Zafran.
Alesha menghembuskan napas. Kalau ia sibuk mempersiapkan rapat lalu kenapa menelepon dirinya?
"Yaudah matiin hpnya," ucapnya sedikit tegas.
"Gue rapat di Bali."
"Iya."
Tunggu sebentar. Apa katanya? Rapat di Bali? Apa Alesha tidak salah dengar?
"Apa? Lo mau rapat di Bali?"
Zafran mengangguk. "Iya, Sha."
"Gak sekalian di Afrika? Jauh amat, padahal cuma rapat," dumel Alesha dengan sedikit candaan.
Zafran terkekeh pelan. "Klien Papa ada di sana, jadi gue harus ikut ke Bali."
Alesha mendengus pelan. "Gue sendirian dong?"
"Nggak, Mama udah gue suruh temenin lo."
"Eh nggak usah. Gue berani kok."
"Mama yang takut sendirian."
Alesha mengedipkan mata berkali-kali. Ia sedikit terkejut. "Iyakah?"
"Hm, makanya gue suruh tidur sama lo."
Alesha tersenyum senang. Ia sangat rindu dengan Yuni. Ia manggut-manggut. "Mending gue aja yang ke sana."
"Mama udah otw ke rumah,"
__ADS_1
Alesha termenung. Langas ia menghembuskan napasnya pelan. "Kalau gitu gue mau menyambut Mama dulu."
"Oke."
Zafran mematikan telepon sepihak. Tepat saat itu Yuni tiba di rumah Alesha. Wanita baya itu tak perlu menunggu Alesha membuka pintu, karna dia mempunyai kunci cadangan rumah mereka.
Alesha pun keluar kamar menyambut Mamanya. "Mama," cewek itu berlari memeluknya.
"Alesha, anak Mama." Yuni memeluk Alesha tak kalah erat. Lantas mencium kepala Alesha sedikit lama.
"Mama kangen tau, kalian nggak pernah jenguk Mama." Omel Yuni.
Alesha terkekeh pelan. "Iya Ma, maaf. Soalnya Zafran sibuk, Ma."
"Anak itu sok sibuk. Oh iya, Mama bawa seblak kesukaan kamu, mau makan bareng?"
Mata Alesha berbinar terang. Ia pun mengangguk dengan semangat.
"Mau, Ma."
...***...
Anak dan ibu itu berkeliling Alfamart sembari bercanda ria. Setelah menonton film sambil makan seblak, mereka menghabiskan waktu untuk belanja makanan. Setelah itu mereka akan jalan-jalan di alun-alun kota.
Sungguh hari yang sibuk.
Alesha mengambil keju mozzarella kesukaannya. "Mama suka keju?"
"Suka, ambil tiga, Nak."
Cewek itu mengangguk lalu memasukkan keju mozzarella ke dalam troli.
"Kita cari cemilan ringan, yuk. Buat di makan di alun-alun nanti."
Alesha mengangguk setuju. "Boleh, Ma."
"Ma, kenapa beli banyak banget?"
"Buat stok sayang."
"Apa ini nggak kebanyakan?"
Yuni menggeleng. "Kurang malahan."
Alesha mendelik sempurna. Wanita baya itu terkekeh melihat wajah menantunya yang sangat manis.
"Tante Yuni?" sapaan seseorang mengalihkan perhatian mereka berdua. Alesha tau betul siapa orang itu.
"Iya, siapa?"
Alesha menatap Yuni tak percaya. Bisa-bisanya ia tak mengenali Nana yang notabennya sahabatnya Zafran.
"Saya Nana, Tante. Sahabatnya Zafran." Kata Nana mengenalkan diri.
Alesha hanya memandang malas cewek di depannya ini. Entah karna alasan apa, tapi Alesha merasan aura negatif darinya. Wajahnya cantik, tinggi porposional dan rambut yang panjang. Tapi bagaimana pun penampilannya, masih jauh lebih cantik Alesha.
"Nana?" Yuni menoleh ke arah Alesha, "Zafran punya temen namanya Nana?"
Alesha melirik Nana sekejap, lalu menatap Yuni. "Zafran pernah bilang, kalau dia sahabatnya Zafran."
Yuni memincingkan matanya. Ia menatap Nana mulai dari bawah sampai ke atas. Nana yang dipandang seperti itu pun sedikit risih namun ia tetap menampilkan senyum ramah.
"Oh," sahut Yuni yang membuat Nana sedikit kecewa. Mama Zafran sama sekali tak ingat padanya. Itu karna Zafran tidak pernah membawanya untuk berkenalan dengannya.
"Tante biasa belanja di sini, ya?" tanyanya membuka topik.
"Enggak," sahutnya cuek. Yuni tidak suka ada perempuan yang dekat dengan Zafran selain Alesha.
__ADS_1
"Oh iya Tante, saya mau mengundang Tante untuk hadir di acara kedatangan saya di Indonesia. Apa tante bisa hadir malam minggu depan?"
"Kamu ngundang saya? Bukan Zafran?"
"Zafran pasti saya undang. Teman-teman saya juga saya undang. Tapi kalau untuk Tante, ini adalah undangan khusus. Kebetulan saya mau pindah satu sekolah sama Gavin dan Zafran." Nana memberikan undangan khusus pada Yuni.
Wanita baya itu memandang Nana dengan wajah tak suka. Ia tak peduli mau dia sekolah di mana saja karna itu bukan urusannya.
Yuni melirik Alesha. Cewek itu tersenyum lalu mengangguk pelan. Secara tidak sengaja, ia menyuruh Yuni untuk menerima pemberian undangan. Walaupun sebenarnya ia sangat terkejut mendengarnya. Karna Zafran belum memberitahu Alesha tentang hal ini.
Tapi Alesha tidak ingin berprasangka buruk. Bisa saja cowok itu belum memberitahunya karna sibuk mengurus pekerjaan.
"Terima aja, Ma." Bisik Alesha.
"Kamu diundang juga?" tanya Yuni dengan berbisik.
"Iya," bohong Alesha.
"Oke, saya akan pergi bersama menantu ke-sa-ya-ngan saya." Ucapnya dengan penuh penekanan.
...***...
Mereka berdua memasang tikar di tempat yang kosong. Kemudian menata beberapa cemilan dan minuman yang sempat mereka beli di Alfamart tadi.
Setelah semua selesai, mereka pun duduk dan menikmati malam yang indah berdua sambil menghabiskan uang milik suami tanpa suami.
Mama Zafran terlihat sangat bahagia. Ia sudah lama tidak pergi piknik dengan keluarga. Tapi sekarang, ia melakukannya bersama Alesha, anak kedua sekaligus menantunya.
"Kamu pernah piknik malam?"
Alesha menggeleng pelan. "Belum, Ma. Ini pertama kalinya Alesha piknik malam."
Mata Yuni berbinar. "Benarkah?"
Alesha mengangguk.
"Berarti Mama adalah orang pertama yang ajak kamu piknik ya?"
"Iya, Ma."
"Syukurlah bukan Zafran."
Alesha terkikik mendengarnya.
"Oh iya, Nana itu beneran temennya Zafran, Nak?"
"Katanya sih iya."
Yuni menoleh cepat padanya. "Kok katanya?"
"Karna waktu itu dia datang ke acara pernikahan kita bareng Gavin. Kata Zafran, dia sahabatnya, Ma."
"Pernikahan?" tanya Yuni mengingat-ingat wajah Nana. Tapi tetap saja Yuni tak ingat.
Alesha mengangguk sebagai jawaban.
Nana? Kenapa aku nggak pernah tau dia?
"Nggak tau lah siapa dia, Mama nggak peduli. Yang penting kamu harus hati-hati sama dia, kamu harus jaga Zafran. Jangan sampai dia jatuh cinta sama-" ucapan Yuni dipotong oleh Alesha.
Alesha memegang lengan Yuni. Ia menatapnya dengan kembut. "Ma, jangan su'udzhon dulu. Alesha yakin kok Zafran bukan orang yang seperti itu. Lagipula Nana itu orang baik. Alesha pernah ketemu beberapa kali sama dia, dan Alesha percaya kalau Zafran akan setia sama Alesha." Potong Alesha mengembangkan senyum.
Yuni menghembuskan napas panjang. "Iya, Mama percaya. Zafran pasti akan setia. Lagipula dia sudah dewasa, tau mana yang harus diprioritaskan." Gumamnya mengelus punggung Alesha memberikan semangat.
Alesha manggut-manggut meski sebenarnya setiap kali ketemu dengan perempuan itu, hatinya tak tenang.
Kalau sampai dia macem-macem. Gue gak bakal diem aja!
__ADS_1