Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
8. Hujan


__ADS_3

Malam hari menjadi tambah gelap akibat mendung. Cuaca menjadi sedikit panas dan membuat tubuh menjadi gerah. Hal ini disebabkan karena awan mendung berada tidak terlalu tinggi jaraknya dengan permukaan, sehingga udara panas yang dilepaskan akan lebih terasa.


Bukan hanya pada siang hari saja, tetapi malam hari pun juga sama. Apalagi sekarang Alesha sedang mengenakan drees warna hitam, sehingga tubuhnya semakin terasa panas.


Dia meminta Zafran untuk berhenti sejenak di supermarket terdekat. Tujuannya untuk menyegarkan tenggorokan sekaligus merasakan AC di dalam supermarket tersebut.


Jarak rumah Alesha dengan restoran lumayan jauh. Sesaat setelah Alesha masuk, hujan gerimis pun turun.


Zafran berlari menutup kepalanya dan duduk di tempat duduk yang disediakan. "Kenapa gue gak kepikiran bawa mobil?"


Zafran melirik Alesha. Gadis itu sedang memilih dan memilah es krim. Sepertinya Zafran juga memerlukan air yang segar untuk saat ini. Akhirnya Zafran memutuskan untuk ikut masuk.


Tangan Zafran mengambil es krim rasa nanas secara tiba-tiba di samping Alesha. Gadis itu terjingkat kaget.


"Zafran!"


"Hm?"


"Jangan ngagetin!"


"Siapa yang ngagetin? Gue cuma ambil es. Emang salah?"


Belum membayarnya tapi Zafran sudah membuka dan memakan es krim tersebut.


"Salah, lo tiba-tiba nongol tanpa aba-aba."


"Yaudah lain kali gue bakal laporan,"


Alesha menatap tajam Zafran. "Lo udah bayar?"


"Belum."


"Kok udah di makan?"


"Lagian gue beli."


"Tapi kan lo belum bayar. Bayar dulu, Zafran!"


"Cerewet amat sih lo, lagian petugasnya gak masalah gue makan duluan."


"Permisi," Zafran dan Alesha menoleh serentak. Seorang karyawan wanita menghampiri mereka.


"Mohon untuk membayar terlebih dahulu sebelum memakannya, Pak."


"Oh," Zafran mengambil uang goceng sesuai harganya lalu menyerahkan pada karyawan tersebut. "Nih, ambil aja kembaliannya."


Karyawan tersebut menerimanya seraya berkedip lambat. "Mohon maaf, Pak. Harga es krim tersebut 15 ribu."


Zafran menaikkan satu alisnya. Kemudian ia kembali melihat harga es krim yang diambil. Cowok menghela napas panjang. Kemudian mengeluarkan selembaran uang sepuluh ribuan.


"Puas lo?"


Wanita itu tersenyum dan mengangguk.


"Gue ingetin, jangan panggil gue Pak!"


Dia memerhatikan Zafran.


"Panggil gue Tuan muda."

__ADS_1


Wanita itu melipat kedua bibirnya ke dalam menahan senyum. Lantas ia mengangguk saja daripada semakin memperpanjang masalah.


"Iya," jawabnya lalu pergi.


"Gue pecat tau rasa lo!"


Beberapa kerutan muncul di kening Alesha. "Emang ni supermarket punya lo?"


Zafran mengalihkan pandangannya. Ia berlalu pergi mencari minuman serta camilan lainnya.


Alesha geleng-geleng kepala. "Dasar labil."


......***......


Delon menatap jam terus menerus. Ia masih belum mendapatkan pesan dari putri kesayangannya. Jam sudah hampir larut malam tapi ia belum tau apakah putrinya sudah pulang atau belum karna sekarang dia masih berkumpul bersama kedua orang tua Zafran.


"Kenapa Del?" tanya Gun.


"Alesha belum kasih kabar."


"Tenang aja, dia sekarang sama Zafran. Mereka pasti baik-baik saja. Zafran nggak akan berani macam-macam. Aku jamin Zafran pasti mengantar Alesha dengan selamat."


Delon ingin memiliki perasaan tenang terhadap putrinya, tapi tak bisa. Mengingat gadis itu masih muda dan masih membutuhkan waspada orang tua. Sebagai seorang ayah ia pasti khawatir jika terjadi apa-apa pada anak tunggalnya.


Tapi bagaimana pun juga dia harus mempercayakan putrinya pada Zafran. Karna dia yang nantikan akan menjadi suami Alesha di masa depan.


Senyum Delon mengembang, baru beberapa saat lalu ia menggosipi anaknya, sekarang dia menghubunginya. Delon segera mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, Sha."


"Wa'alaikumsalam, Ayah."


Di seberang sana, Alesha refleks menggeleng. "Maaf Ayah, Alesha belum bisa sampe rumah. Karna di sini hujannya deras. Zafran juga nggak bawa mantel."


Delon pun mendengar suara hujan. Karna ditempatnya sekarang pun juga sedang hujan sangat deras.


"Di sini juga hujan, tunggu aja sampai terang."


"Iya, Ayah."


"Sekarang di mana?"


"Alesha sekarang neduh di supermarket."


Yuni mengalihkan perhatiannya. Ia mendengar pembicaraan mereka berdua. Lalu merebut ponsel Delon secepat kilat. Delon terkejut.


"Halo sayang?"


Alesha pun sama terkejutnya. "Halo Mama,"


"Tolong kasih ke Zafran sebentar,"


Gadis itu memberikan ponselnya ke Zafran. Cowok itu mengambilnya dengan susah hati. Ia memperbesar volumenya. "Hm?"


"Kalau hujannya belum reda, kalian nginep di hotel aja. Ini perintah tidak boleh diganggu gugat!"


Yuni menutuskan telepon sepihak. Delon dan Gun mendelik sempurna. Ia mengembalikan ponsel kepada Delon semula.


Sedang Alesha dan Zafran saling pandang satu sama lain.

__ADS_1


"Oke." Jawab Zafran seraya tersenyum jahil pada Alesha. Detik kemudian, cowok itu merasakan cubitan kecil yang sangat menyakitkan yang ia dapat dari Alesha.


......***......


Zafran menjemput Alesha di depan rumahnya sesuai perintah nyonya Yuni. Cowok itu baru sampai lima menita sebelum bel masuk. Jika saja bukan karna permintaan mama Zafran, Alesha sudah berangkat dulu meninggalkan Zafran sendirian.


Alesha menutup gerbang sambil berceloteh ria. Tatapan gadis itu begitu mengintimidasinya. Tapi Zafran seolah tak merasa bersalah sama sekali. Ia tetap santai di atas jok motor.


Tanpa aba-aba, cowok itu melemparkan helm ke arah Alesha. Alesha tidak siap, sehingga helm pun terjatuh di jalan.


"Helm mahal," sindir Zafran.


Alesha menendang helm. Zafran melirik dan menatap nyalang padanya. Alesha memungut helm dengan terpaksa. Kemudian ia naik di atas motor Zafran.


Baru saja ia menyamankan diri di atas motor, Zafran buru-buru mengegas. Otomatis Alesha langsung memeluk tubuh Zafran.


Ia memukul pundak Zafran. "Lo gila ya!"


Na'as, cowok itu tak peduli. Ia terus melajukan motornya dengan cepat. Tidak butuh waktu banyak untuk sampai ke sekolah. Cowok itu berhenti di perempatan gang sebelah sekolah.


"Turun!"


Alesha mengangkat kedua alisnya. "Sekolah masih di depan sana, kenapa gue turun di sini?"


"Lo mau temen-temen lo curiga?"


Alesha menggeleng.


"Yaudah turun!"


Alesha berdecak, "Ck," kemudian Alesha turun dengan setengah hati. "Tau gitu gue naik angkot tadi."


"Siapa suruh lo nungguin gue?"


"Nyokap lo."


Zafran tertawa terbahak-bahak. Ia memang sengaja melambatkan dirinya. Berangkat dari rumah jam 6 pagi, tapi dia berhenti di tempat kopi. Saat sudah jam 7 kurang 10 menit barulah dia menjemput Alesha.


Karna Yuni mengatakan jika Zafran sudah berangkat dari jam 6, jadilah ia menunggu di depan rumah selama itu, dan sekarang? Dia malah di suruh turun di gang?


"Zafran sialan!"


Zafran memasukkan kopling lalu ia berangkat ke sekolah. Sesampainya di gerbang, ia melirik Alesha yang berusaha berlari.


"Pak, tutup gerbang."


Pak Bon pun melongo. "Masih kurang satu menit lagi, Mas Zafran."


Zafran melirik kanan-kiri memastikan murid lain yang akan datang, "Udah nggak ada siswa lagi."


"Bener?"


Zafran mengangguk. "Kalau ada biarin aja dia di depan gerbang sampai dapat hukuman,"


Setelah itu Zafran pun masuk dan memakirkan motornya di parkiran. Lalu ia pun turun dan berhenti di tengah koridor menanti kedatangan Alesha.


Dengan napas tersengal-sengal akhirnya Alesha pun sampai. Tapi sayang, gerbang sudah tertutup rapat. Membuat Alesha semakin menahan kesal, apalagi saat melihat Zafran melambaikan tangan seraya menciumnya dari jauh.


"Selamat menikmati hukuman calon istriku yang lumayan cantik!"

__ADS_1


__ADS_2