
Mata Alesha terus menatap ke arah jendela. Perasaannya tak tenang. Setelah Nana mengungkapkan kebenaran bahwa ternyata ia tidak salah, Alesha semakin penasaran.
Sebenarnya siapa yang sudah berencana ingin merusak hubungan antara dirinya dan Zafran? Alesha tidak merasa punya musuh. Bahkan seumur hidupnya, dia hanya memiliki satu sahabat saja, yaitu seseorang yang ada disampingnya sekarang.
Sahabat yang begitu pengertian dan baik hati. Selalu mendukung apapun keadaan Alesha. Baik dalam keadaan susah maupun senang. Tidak pernah sekalipun Alesha memiliki teman yang benar-benar spesial, kecuali Martha.
Saat ini saja, dia mau membantunya untuk bertemu dengan Mama Nana. Alesha ingin meminta maaf karna telah berprangska buruk pada Nana. Dia ingin meminta penjelasan Nana. Katanya, Nana sudah tau siapa pelakunya, tapi Nana masih belum memberitahukannya.
Dia menoleh ke arah Martha. Alesha akan jahat jika tidak menceritakan tentang hidupnya, tapi Alesha masih belum tau kebenarannya, mungkin jika Alesha sudah tau, Martha akan menjadi sandaran hidup Alesha.
Tapi di sisi lain, Alesha merasa kesal pada Zafran. Sudah tau apa yang terjadi, tapi cowok itu memilih diam dan tidak menceritakan apapun padanya.
"Apa yang saat ini sedang lo rasakan, Sha?" tanya Martha tanpa menoleh.
Alesha berkedip lambat. Dia menggeleng cepat. "Eng-gak ada kok, Mar."
Kedua tangan Martha tersilang di depan dada. Matanya lurus ke depan. Melihat Martha seperti ini, Alesha merasakan aura yang berbeda.
"Lo anggap gue apa, Sha?"
Alesha mengernyit. "Kenapa lo nanya kayak gitu, Mar?"
"Salah pertanyaan gue?"
Alesha menggeleng. "Nggak juga sih."
"Jadi," Martha menoleh. "Lo anggap gue apa?"
"Gue anggap lo sahabat terbaik gue. Bukankah memang seperti itu?"
Sudut Martha tertarik. "Lo percaya sama gue, Sha?"
Supir pribadi Martha menatap mereka berdua dari spion depan.
"Gue percaya."
Martha menghela napas pelan. Dia memalingkan wajah ke depan.
"Sha,"
"Kenapa Mar?"
"Lo percaya pada orang yang salah."
***
Zafran mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Tak peduli jika banyak pengendara yang mengumpatinya bahkan menyumpah serapah.
Gavin dan Nana pun hanya diam. Jika berada dalam posisi Zafran sekarang, mereka berdua akan melakukan hal yang sama.
"Zaf, lo harus perhatikan keselamatan gue!" mulut Ferdi berterbangan. Giginya terlihat berderet rapi. Air liurnya menetes mengikuti arah angin.
Laka mengambil lakban hitam. Dia sudah berkali-kali mendapatkan air liur kenajisan yang tak sengaja menyiprati bajunya.
Srek!!
__ADS_1
Suara sobekan lakban mengalihkan perhatian Nana dan Gavin yang berada di samping Laka. Laka sedikit berdiri setengah. Membungkukkan badannya untuk mencapai tubuh Ferdi yang berada di samping kemudi.
Laka setengah memeluk lehernya.
Dalam satu kali gerakan, mulut Ferdi tertempel sempurna. Matanya melotot. Tangannya berpegangan pada pegangan khusus seraya menoleh ke belakang.
Tatapan tajam Laka adalah hal yang pertama kali ia lihat.
"BERISIK! LUDAH LO KEMANA-MANA. TUTUP JENDELANYA!!"
Ferdi berkaca-kaca. Tidak percaya jika Laka akan membentaknya. Ferdi melepas lakban. Bibirnya bergetar. Dia bergaya menangis sesenggukan seperti anak kecil.
"K-kamu membentak aku, Mas?"
Hidung Laka melebar. Ferdi semakin menjadi. Laka meniup kepalan erat yang siap mendarat di wajah cowok itu dan mengalirkan ingus darah. Tapi sebelum hal itu terjadi, Ferdi segera berbalik dan menutup kaca mobil.
"Puas kamu, Mas?" ucap Ferdi seperti seorang istri yang tersakiti.
Laka mendengus kesal. Dia bersandar di kursi. "Bukan temen gue,"
"Kamu tidak menganggap aku ada, Mas?"
"DIAM!"
Ferdi membungkam mulutnya. Laka berteriak kencang. Telinganya berdengung. "Iya, jangan ceraikan aku, Mas," gumaman dari mulutnya mendapatkan jitakan keras dari tangan indah Laka.
***
Mereka berlima berjalan cepat bahkan bisa dibilang berlari. Melesat ke depan menuju ruangan Mama Nana.
Napas Zafran memburu hebat. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Dia memang khawatir pada keadaan Mama Nana, tapi yang lebih ia khawatirkan sekarang adalah keadaan Alesha. Dia ingin memastikan jika Alesha baik-baik saja.
Zafran berhenti di ambang pintu. Dia menoleh ke belakang. Menunggu Nana, Gavin, Laka, dan Ferdi tiba. Mereka sedikit tertinggal jauh.
"Cepat, Na!" desak Zafran.
Meski sebenarnya dia bisa membuka dan masuk secara bebas. Tapi dia tidak mau. Karna dia mempunyai etika. Lagipula jika ada orang asing yang masuk ke dalam kamarnya sembarangan, dia akan marah besar.
Zafran berdecak sebal. Langkah Nana sangat pelan. Zafran terpaksa menariknya mendekat. Nana menubruk dada bidangnya.
"Jangan lemot-lemot!" ketusnya.
Gavin mendorong bahu Zafran menjauh dari Nana. "Jangan dekat-dekat."
Zafran dan Gavin saling pandang. Cahaya petir mengkilat menjadi sebuah jembatan diantara pupil Zafran dan Gavin.
Nana menghela napas panjang. "Kumat lagi,"
Nana mengetuk pintu. Denyut nadinya berdetak. Dia takut terjadi sesuatu pada Mamanya. Dia masuk ke dalam.
"Nana," sapa Mamanya.
Nana tersenyum lega. Mamanya sehat. Wanita itu baik-baik saja. "Mama," Nana berlari dan memeluk.
Zafran mengedarkan pandangannya. Dia berjalan ke sudut-sudut kamar inap dibantu oleh Gavin, Laka dan Ferdi.
__ADS_1
"Ma, apa Alesha ke sini?"
Mereka berhenti mencari dan menatap Mama Nana dengan seksama. Beliau menggeleng. Hati Zafran berdesir. Tubuhnya terasa panas dan dingin menjadi satu.
"Tidak, Sayang. Sedari tadi cuma kalian yang jenguk Mama."
"****!" Zafran memukul tembok dengan keras. Membuat semua orang terkejut. Mana Nana menatap Zafran. Dia mengelus dadanya. Nana mengusap tangan sang Mama.
"Mama jangan khawatir," gumam Nana lembut.
"Di mana Alesha?"
Zafran kacau. Baru kemarin dia baikan. Tapi sekarang? Dia sudah mendapat masalah.
Masalah apa lagi ini, kenapa begitu banyak sekali masalah yang dihadapi mereka berdua?
Zafran hanya ingin hidup tenang bukan penuh tantangan. Memang yang namanya hidup pasti ada masalah, tapi masalah mereka hanya pada satu akar?
Yaitu menuju ke arah berakhirnya hubungan. Tidak, Zafran tidak akan mau hal itu terjadi. Laka merangkul pundak Zafran. Dia mengusapnya pelan.
"Gue tau ini pasti sulit, tapi lo harus dalam keadaan tenang."
"Jangan khawatir, kita pasti akan bantu mencari Alesha."
Selain Alesha, hanya Laka yang bisa membuatnya sedikit tenang. Zafran menarik napas dalam. Dia mengangguk.
"Makasih, Lak."
Laka mengangguk. Dia menggiring Zafran untuk duduk. Zafran duduk menutup kepalanya dengan kedua telapak tangan.
"Permisi," seorang perawat masuk. Mereka semua menatap ke arahnya, kecuali Zafran.
"Apakah di sini ada yang namanya Tuan Zafran?"
Zafran mendongak. Kerutan muncul di dahinya. "Kenapa?"
Perawat itu menyerahkan ponselnya. "Mohon maaf, ada seseorang yang ingin bicara dengan Anda, Tuan."
Mereka semua saling pandang. Laka mengambil ponsel itu dari tangan perawat lalu menyerahnya pada Zafran seraya menombol loud speaker.
Semua mendekat. Mereka curiga siapa orang yang berada di balik telepon tersebut.
"Hai Zafran? Lo pasti mau istri lo yang cantik ini balik, kan?"
Zafran menggenggam ponsel kuat. Dia lantas berdiri. "BRENGS*K!!" Zafran tidak peduli di mana posisinya sekarang.
"DI MANA KAU SEMBUNYIKAN ALESHA?!"
Terdengar suara tawa nyaring di balik telepon. "Tenang, dia aman. Kalau lo mau dia kembali dengan selamat, gue cuma minta satu syarat. Jika lo gak memenuhi syarat, akan gue pastikan lo nggak akan pernah bertemu lagi dengan wanita cantikmu ini."
Zafran menggeram kesal. Sebenarnya apa yang sudah direncanakan iblis itu.
"Apa?"
"Serahkan surat cerai kalian!"
__ADS_1