Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
76 . Nasib Jomblo


__ADS_3

Aksi suap-suapan itu disaksikan oleh para jomblo ngenes. Ferdi memandang sengit cowok bernama Zafran yang egoisnya menyuruh mereka menunggu di dalam.


Apa maksudnya coba? Ingin membuat mereka panas? Oh ya jelas. Itu membuat Ferdi meronta-ronta ingin merobek wajah Zafran.


Dia menatap Laka. Cowok itu fokus pada laptop milik Zafran.


"Jadi di sinii gue yang kelihatan ngenes sendirian?"


Laka melirik. Dia geleng-geleng kepala. Padahal sedari tadi Zafran hanya menyuapi bubur pada Alesha tanpa bermesraan, Ferdi saja yang terlalu ambil hati.


Laka sedang fokus mencari informasi tentang adiknya, Anarka. Dia berhasil menemukan satu titik temu.


Anarka memiliki hobi yang sama dengannya, yaitu melukis.


"Gimana, Lak? Lo udah nemuin info?" tanya Zafran. Dia sudah selesai menyuapi istrinya. Cowok itu sekarang menghampiri Laka.


Laka mengangguk. "Cuma satu info."


"Apa?"


"Pameran lukisan," sahut Laka.


"Kenapa lo gak cari aja di pemeran lukisan? Bukannya lukisan lo ada di sana juga?" saran Alesha. Laka melirik Zafran. Cowok itu mengangguk setuju.


"Gue setuju, ada benarnya saran istri gue."


"Istri gue," Ferdi menjambak rambutnya sendiri. "Mama, gue pengen manggil istri juga!!"


Zafran mengempit kepala Ferdi di antara ketiaknya. "Apa lo bilang? Lo mau panggil istri gue dengan sebutan istri?"


Ferdi menggeleng cepat. "Nggak, maksud gue, gue pengen cepet nikah biar bisa panggil istri!!"


Zafran melepas jepitannya. "Oh," katanya.


Ferdi mengusap hidung sebab bau ketiak Zafran menguar. "Ketek lo bau hanjing!"


Zafran menjitak keras kepalanya. "Coba ulangi sekali lagi?"


Ferdi menggeleng sembari nyengir kuda. "Nggak lagi deh,"


Zafran beralih menatap Laka. "Lo jangan khawatir, gue pasti akan bantu lo cari adik lo."


Laka tersenyum. "Makasih, tapi gue pengen cari dia dengan usaha gue sendiri."


"Kenapa? Bukannya lo pengen cepet ketemu?"


Laka menghembuskan napas panjang. "Gue nggak mau adik gue jadi ketakutan gara-gara dicari banyak orang."


Zafran menganggukkan kepalanya mengerti. Dia tak memiliki adik, tapi jika dia dalam posisi Laka, dia akan melakukan berbagai cara untuk menemukan adiknya.


Zafran tau, kondisi keluarga Laka tak sebaik keluarganya. Sebab Laka adalah yatim piatu. Dia dipisahkan dengan adiknya saat masih kecil. Zafran yang mengetahui fakta itu awalnya tak percaya karna Laka selalu terlihat baik-baik saja.


Namun setelah mengetahui kenyataannya, ternyata Laka menutupi luka dengan lukisan. Zafran menepuk pundak Laka beberapa kali.

__ADS_1


"Gue akan selalu dukung lo."


Laka tersenyum. "Makasih," ucapnya tulus.


Laka menutup laptop Zafran. Dia meletakkannya di atas meja. "Kalau gitu gue pulang dulu," pamitnya. "Semoga lekas sembuh, Sha."


Alesha mengangguk. "Makasih, semoga lo cepat ketemu adik lo,"


Laka mengangguk sekali. "Thanks."


Ferdi mengekori Laka di belakang. "Lak, jangan tinggal gue, gue ngenes kalau di sini sama pasutri itu." Ferdi mendahului Laka.


Cowok itu geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol temannya ini. "Gue gak pulang, gue mau ke panti."


"Ke mana pun lo pergi, gue akan selalu ikut."


Laka merotasikan matanya. Tiada hari tanpa Ferdi adalah kemustahilan. Karna cowok itu selalu saja mengikuti dirinya kapan pun di mana pun kecuali toilet. Bahkan Ferdi sering tidur di rumah Laka karna tak bisa jauh darinya.


Laka sedikit khawatir awalnya. Takut jika Ferdi pelangi. Ternyata setelah tau alasannya, Laka terenyuh.


Alasan Ferdi selalu bersamanya adalah karna Ferdi tidak mau Laka bersedih dan merasa kesepian. Jika cowok itu ingin waktu sendiri, pasti Ferdi akan memberikan waktu, tapi tidak lama. Karna cowok itu akan selalu datang kembali menghiburnya.


Laka tidak tau jika di dunia ini tak ada Ferdi, sebab, dia sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Laka memang memiliki keluarga baru, tapi keluarga Laka yang sesungguhnya adalah Ferdi dan Zafran.


Fersi melirik Laka. Dia memang berniat untuk membantu cowok itu menemukam adiknya. Sedari tadi, Ferdi juga tak hanya berbicara, tapi dia juga ikut mencari informasi pameran lukisan yang dibuka.


"Lak, gue yang nyetir," Ferdi menyahut kunci mobil Zafran yang memang dipinjamkan untuknya.


"Gue mau ke panti, Fer. Lo gak ada niatan mau pulang?"


Alasan itulah yang selalu di dengarnya.


***


"Kak Laka!!"


Suara itu milik Sarah. Gadis remaja berseragam SMP itu menghamburkan pelukannya pada Laka.


Laka terkejut karna tiba-tiba dia memeluknya sangat erat. "Gue kangen," ungkapnya.


Laka terpaku, tak menyangka Sarah akan menyambutnya seperti ini.


"Tolonglah hamba, jauhkanlah hamba dari kemesraan yang mengeneskan hamba Tuhan," Ferdi meremas dadanya. Kenapa dia selalu dihadapkan oleh keromantisan orang?


Kapan dia akan mendapat keromantisannya sendiri? Ferdi menatap Sarah yang masih belum melepaskan pelukannya. Dia menghela pelan.


"Nasib jomblo memang seperti ini."


Laka memegang pundak Sarah. Dia melepas pelukannya. "Sar, jangan kayak gini. Malu dilihatin orang!" tegurnya.


Sarah mengangguk. "Maaf, Kak. Habisnya Sarah seneng banget Kak Laka datang."


Laka mengelus surai panjang Sarah. Menyelipkan anak rambut ke daun telinga.

__ADS_1


"Makasih, tapi Sarah nggak boleh peluk orang sembarangan, apalagi sama orang yang belum jadi suami," pesannya.


Pipi Sarah bersemu merah. "I-iya, Kak. Tapi kalau sama Kak Laka, Sarah nggak papa."


Laka mengernyit. "Kenapa?"


"Karna Kak Laka calon suami Sarah."


Ferdi menahan tawanya. Bukan tertawa karna Sarah yang menginginkan Laka menjadi suaminya. Tapi karna Laka sudah dapat calon istri, sedangkan dia belum.


Laka geleng-geleng kepala. "Jangan berharap lebih pada manusia, Sarah. Ibu panti mana?" Laka mengalihkan pembicaraan.


Sarah menghela napas. Dia menunjuk kantor panti. "Di dalam kantor."


Laka mengangguk. Lalu cowok itu melangkah pergi menemuinya Ibu panti. Sarah melirik Ferdi.


"Heh!" sapa Sarah.


"Hah, heh, hah, heh, yang sopan lo sama orang tua."


"Heh orang tua," Ferdi melotot.


"Nama gue Ferdi, you know!!"


"Kak Laka mau cari Anarka?"


Ferdi mengesampingkan kekesalannya. Dia mengalihkan pandangannya serta menyilangkan dada.


"Kepo," Ferdi pernah adu mulut dengan Sarah. Jadi dia tidak akan baik hati.


"Wah dasar lo, gue tanya serius."


Lihatlah perbedaan sifat Sarah ketika berbicara sama Ferdi dan juga Laka. Berbeda seratus persen. Ketika berbincang-bincang bersama Laka, suaranya lembut bagai sutra.


Saat berbicara pada Ferdi? Nggak ada lembut-lembutnya. Yang ada malah kasar dan tidal sopan.


"Kalau udah tau ngapain nanya?"


"Memastikan saja," sahut Sarah. Cewek itu melangkah pergi ke area mobil.


"Mau ngapain lo? Nyolong?"


"Punya mulut gak pernah didukunin."


"Eh dasar kurang ajar lo anak setan!"


"Kalau gue anak setan, lo anak apa? Anak Anjing? atau anak Babi?"


Ferdi membulatkan matanya sempurna. Dia sudah menahan untuk tidak mengumpat loh, tapi kenapa cewek itu malah membuatnya ingin melemparinya spion mobil?


Ferdi mengelus dada. "Sabar, dia masih bocah."


Sarah masuk ke dalam mobil. menutup pintunya rapat-rapat.

__ADS_1


"Siapa yang izinin lo masuk?"


"Gak ada, gue ikut cari Anarka. Tidak terima protesan!!"


__ADS_2