
Zafran nyengir kuda setelah menurunkan Alesha di halte. Lalu ia berlalu pergi menuju sekolah. Layaknya de javu, Alesha mengingat saat pertama kali ia berangkat bersama Zafran, di mana cowok itu juga menurunkannya di sini dan menutup gerbang agar Alesha termasuk ke dalam salah satu murid terlambat.
"Tunggu!"
"Menutup gerbang?"
"Jangan bilang Zafran mau ngerjain gue lagi?"
Alesha memincingkan mata ke arah depan. Zafran sudah sampai di depan gerbang beberapa detik yang lalu, cowok itu melambaikan tangannya.
Alesha segera melirik jam tangan. Masih ada lima belas menit sebelum gerbang tutup. Cewek itu bernapas lega.
"Selamat,"
Alesha mengembangkan senyum. Kemudian dia berjalan menuju sekolah. Seseorang menabrak bahu Alesha kerasnya.
"Aduh," ringis Alesha memegangi bahunya.
"Maaf-maaf," cewek itu berlari kencang dan meminta maaf dengan sedikit menoleh ke Alesha.
"Kenapa harus lari sih? Kan masih punya banyak waktu!" Alesha mengangkat bahunya tak peduli. Ia lanjut berjalan dengan santai.
"Ngapain Zafran masih di sana?"
Cowok itu nangkring di atas sepeda sambil berbincang-bincang dengan satpam.
Kring!!
Zafran melambaikan tangan sekali lagi sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalam. Sedangkan mata Alesha melebar melihat gerbang ditutup.
Alesha melihat jam. "K-kok udah masuk?"
Suara gerbang terdengar keras. Alesha segera berlari. "Tidak!"
Dan hal ini terjadi lagi. Zafran membuat Alesha terlambat dengan men-stabotase jam tangannya tanpa sepengetahuan Alesha.
"Zafran gila!!!"
...***...
"Lo sengaja kan?"
Zafran bersandar di tembok. Ia menatap Alesha datar.
"Jawab gue, Zafran!" teriak Alesha.
"Hm,"
Alesha menyebikkan bibirnya. "Sialan lo!"
"Masalah?"
"Masalah lah!"
Perdebatan Alesha dan Zafran mengundang perhatian orang-orang.
Zafran mendorong Alesha kuat. Cewek itu hampir terjatuh jika saja Martha tak menolongnya.
Alesha terkejut melihat perubahan sikap Zafran yang kasar. Padahal selama ini dia bahkan selalu bersikap lembut padanya. Ralat, hanya berlaku saat di rumah.
__ADS_1
Alesha mengarahkan telunjuknya ke depan wajah Zafran. Matanya melotot sempurna. "Lo-"
Zafran menghempaskannya lalu maju selangkah. "Lo denger baik-baik. Mau gue lakuin apapun itu terserah gue, lagian juga bukan urusan lo!" setelah berkata seperti itu, Zafran berlalu pergi begitu saja.
Zafran mendapatkan lirikan tajam dari Gavin yang berdiam diri tak jauh dari sana.
"Akhirnya sikap asli lo keluar juga," katanya menampilkan smirk.
Zafran tak peduli. Dia terus berlalu pergi.
Bagai di sambar petir hati Alesha mencelos begitu saja. "Apa katanya tadi?" tanya pada Martha.
"Bukan urusan lo," Martha mengulangi ucapan Zafran.
Alesha berdiri tegak. Dia mengepalkan tangannya kuat. Napasnya memburu, otot-ototnya muncul keluar. Dia menggulung lengan ke atas. Lalu berjalan dengan langkah besar menuju Zafran.
"Jadi, urusan lo bukan urusan gue ya?"
Zafran berhenti, ia menoleh ke belakang. Di belakang sana Alesha memasang wajah garang. Saat ini gadis itu sedang melangkah maju kearahnya. Cowok itu terkejut, matanya melebar. Salivanya terteguk dengan susah payah.
Di saat seperti ini, kenapa Alesha terlihat sangat menakutkan? Cewek itu semakin mempercepat jalannya, Zafran mundur sedikit demi sedikit hingga akhirnya berlari seraya berbalik.
Gavin melangkah mendekat, ia menjegal kaki Zafran hingga ia terjerembab di tanah. Punggungnya menabrak lantai. Alesha tersenyum senang, namun nahas kaki Gavin masih berada di sana sampai akhirnya Alesha terjegal dan terjatuh.
Zafran mendelik. Ia melihat dengan jelas Alesha jatuh ke arahnya.
"Awas!!" teriak semua orang.
Tidak bisa dicegah dan tidak bisa dihindari. Cewek itu terjatuh di pelukan Zafran.
Kedua mata Alesha berkedip lambat, Zafran terdiam sejenak. Tangannya refleks menyentuh punggung Alesha. Keduanya saling pandang cukup lama.
"Kalian..."
"Argh!"
Alesha mendelik, ia buru-buru menjauh.
"Maaf-maaf gue gak sengaja." Ia menggigit jarinya.
Zafran menjabat tangan Laka. Cowok itu membantu Zafran berdiri sembari menahan tawa melihat nasibnya. Zafran lantas berdiri sambil melirik tajam Alesha, cewek itu nyengir kuda.
"Kalian pacaran?" tanya Silpi.
Zafran dan Alesha menoleh. Lalu keduanya saling pandang. Zafran mengangkat satu alisnya bertanya pada Alesha. Cewek itu bergeleng pelan.
Zafran tersenyum jahil. "Iy-"
Sebelum Zafran menyelesaikan ucapannya. Alesha mendorong tubuh Zafran. Cowok itu terjatuh kembali.
"Enggak! Kita musuhan!"
...***...
Zafran memasang helmnya. Setelah mengetik pesan pada Alesha, ia memasukkan ponselnya lalu menyusul gadis itu di halte.
Ia harus menunggu sekolah lumayan sepi agar tidak terjadi salah paham, dan tidak menimbulkan kecurigaan.
"Mau ke mana lo?" sebuah kaki menahan motornya dan menghalangi jalan Zafran.
__ADS_1
"Minggir, gue gak ada waktu buat lo!"
Aldo membawa dua orang temannya. Mereka kini menggerumbuli Zafran. Zafran berdecak pelan. Ia sangat malas menghadapi tiga orang ini.
Cowok itu menarik napas dalam. "Oke, hari ini gue ladenin." Zafran melepas helm. Ia turun dari motor.
"Itu baru Zafran." Kata Aldo.
Aldo mengisyaratkan Beno dan Roni untuk menghajar Zafran secara bersamaan. Zafran mengangkat satu tangannya.
"Beraninya kok kroyokan, satu lawan satu dong!"
Mereka berdua berhenti dan menoleh ke arah Aldo. Kesempatan emas bagi Zafran, cowok itu melayangkan helm ke kepala Roni dengan keras. Kepala Roni bocor seketika.
Beno dan Aldo terkejut melihat Roni tersungkur dengan darah yang mengalir deras.
"Sialan lo, Zafran. Serang bersama!"
Aldo menendang perut Zafran dan Beno menendang tubuh Zafran bagian atas. Zafran menjatuhkan tubuhnya ke belakang dan menumpu badannya dengan tangan. Kakinya yang menggelantung ia arahkan ke wajah Aldo.
Aldo sigap. Ia segera menghindar. Zafran tersenyum smirk. Ia berdiri tegak. Aldo dan Beno memasang kuda-kuda, sedangkan Zafran hanya menguap melihat tingkah sok berani mereka.
"Masih mau main?"
Aldo menggeram kesal. Zafran adalah musuh yang sangat sulit di hadapi. Tapi karna cowok itu sudah berkelahi dan membuat temannya Ciko, masuk rumah sakit, Aldo menjadi sangat marah. Ia tak terima temannya dicelakai meski yang sebenarnya terjadi adalah Ciko yang berniat mencelakai Zafran.
"Ayo," tawar Aldo.
Zafran senang mendapat tantangan. Ia menggantungkan helm ke spion. Lalu ia kembali menghajar mereka berdua tanpa ampun sampai mereka terkapar.
Sepuluh menit berlalu, dan Beno sudah terkapar di samping Roni. Wajah Aldo tak karuan, banyak lebam dimana-mana. Namun cowok itu masih mencoba untuk berdiri melawan Zafran.
Wajah Zafran bersih. Lebam ataupun sobekan mulut sama sekali tak ada di wajahnya. Jangan lupakan jika Zafran adalah bad boy paling sadis diantara bad boy lainnya.
Dia tak akan mengampuni siapapun yang sudah menganggu dan merusak waktu serta rencananya yang sudah ia persiapkan sejak lama.
Aldo mengatur napasnya yang ngos-ngosan, ia mengambil pisau dari tasnya. Zafran sedikit terkejut, Aldo benar-benar berniat menghabisi dirinya.
Cowok itu menarik sudut bibirnya, jari telunjuknya mengisyaratkan Aldo untuk datang.
Aldo mengeraskan rahangnya. Dia akan sangat senang jika serangannya mengenai perut Zafran.
"Mati lo, Zafran!"
Aldo berlari sekencang mungkin seraya menjulurkan pisau ke depan. Zafran menanti Aldo datang, cowok itu meng-kretek jari-jarinya dan kepalanya.
Aldo semakin mengencangkan larinya dan menusuk perut Zafran. Tapi Zafran berhasil menghindar dan memegang tangan Aldo kuat. Ia menendang tangan Aldo sampai pisaunya jatuh ke tanah. Ia juga membogem mentah wajah Aldo dengan kekuatan dalamnya.
Aldo kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terasa seakan melayang terbang ke atas langit. Matanya buram hingga akhirnya pingsan di samping Beno.
Zafran membersihkan kotoran-kotoran yang ada di telapak tangan.
"Menyusahkan."
Ketika ia berbalik, matanya tak sengaja menangkap sosok Gavin sedang meneliti setiap pergerakan Zafran sejak tadi sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.
Zafran mengerutkan keningnya. Gavin menarik sudut bibirnya kemudian berlalu begitu saja.
"Good job." Gumam Gavin pelan. Hanya dirinya sendiri yang mendengarnya.
__ADS_1
"Gue masih menjadi yang terbaik daripada lo, Gavin."
...***...