
Cewek itu menundukkan kepalanya ke bawah sembari menautkan jemarinya satu sama lain. Dia tidak sanggup melihat wajah tampan seorang Gavin yang tengah memandangnya tajam seperti macan yang siap menerkam mangsanya kapan saja.
Cowok itu membawa Nana ke ruangan VVIP. Meninggalkan mamanya bersama perawat khusus yang diperintahkan oleh papanya.
Gavin menarik napasnya dalam. Ia memejamkan matanya sejenak. Kemudian kembali menatap Nana dengan tatapan datar.
"Kali ini lo keterlaluan, Na."
"Gue minta maaf," sahutnya.
"Beri gue alasannya!"
Nana mendongak sedikit demi sedikit. Ia memberanikan diri menatap wajah cowok itu. Matanya berkedip lambat, ia menggigit bibirnya.
Gavin menunggu jawaban Nana. Tapi cewek itu masih bungkam.
"Jawab gue!" bentaknya.
Nana meneguk ludahnya susah payah. "Se-sebenarnya, gue dibantu seseorang."
Gavin menaikkan satu alisnya. "Di bantu?"
Nana mengangguk.
"Dia bantu gue buat deket lagi sama Zafran."
"Siapa?"
Nana menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. "Gue juga gak tau siapa dia. Dia selalu hubungi gue pakai nomor asing."
"Mana hp lo?"
"Buat apaan?"
"Telepon dia sekarang!"
"Nggak bisa, Vin. Dia selalu gonta ganti nomor. Kadang pakai kode negara Amerika, Korea Selatan, Rusia, bahkan sampai kode negara Belanda."
"Kenapa nggak lo lacak? Lo kan punya hacker."
"Gue udah coba lacak nomor dia, tapi nggak bisa. Bahkan dia ngancem bakalan hancurin karir gue."
"Dan lo diem aja?"
Nana menggeleng. "Gue pengen kasih tau lo, tapi dia bilang ini rahasia kita berdua."
"Dari suara kan lo bisa tau dia cewek atau cowok?"
"Suara dia suara samaran boraks."
Gavin menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia memijat pelipisnya.
"Jelasin mulai awal!"
Nana mengangguk pasrah. Akhirnya dia mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam.
__ADS_1
"Semua terjadi setelah satu bulan gue di Indonesia. Dia hubungi gue, dan tau tujuan gue buat satuin persahabatan kita. Awalnya, niat gue nyatuin lo sama Zafran, tapi lama kelamaan, perasaan gue tumbuh kembali."
"Gue pengen Zafran jadi milik gue seutuhnya, dan sayangnya orang itu tau tentang niat gue."
"Beberapa hari kemudian dia telepon gue, Dia menyusun rencana supaya gue bisa sama Zafran. Gue pun setuju tanpa pikir panjang. Gue ajak dia ketemuan karna gue pengen tau dia siapa dan apa rencananya. Dia setuju dan dia ajak ketemuan di jalan dekat sekolah."
"Waktu itu gue lihat motor Zafran dari arah kanan. Gue seneng banget karna bisa lihat wajahnya. Tapi tiba-tiba gue didorong sama seseorang, dan gue nggak tau siapa dia, karna pada waktu itu semua terjadi dengan cepat, Vin."
"Dan lo tau sendiri kan? Zafran jadi fitnah gue."
"Bukan fitnah, tapi fakta," gumam Gavin pelan.
Gavin memangku dagunya. Dia mengeraskan rahangnya lalu menatap Nana yang belum selesai berbicara.
"Kejadian selanjutnya...,"
"Mama lo?" tebak Gavin.
Mata Nana membola sempurna. Dia menatap Gavin tak percaya. "Kok lo tau?"
Gavin mengembangkan senyum tipis. "Lanjutkan."
"Gue bilang kalau sebentar lagi ada penelitian khusus kelas IPA, dia tanya tentang apa saja yang dilakukan saat kegiatan penelitian, gue jawab kalau kita buat kelompok kecil yang masing-masing dua sampai tiga orang."
"Dia suruh lo satu kelompok bareng Zafran?" Gavin seolah bisa membaca pikiran Nana.
Nana pun mengangguk.
"Tapi lo gak mau kompromi sama gue." Nana menyandarkan punggungnya ke kursi. "Lo malah kelompokkan gue sama Laka, tapi untung aja ada kesempatan emas. Jadi, gue bisa satu kelompok sama Zafran. Tapi sayang banget, gue nggak bisa buat Zafran tidur sama gue."
"Gue taruh obat tidur di botol air mineral, gue bakalan buat rencana Zafran tidur sama gue, biar jadi kontroversi dan akhirnya kita menikah secara publik."
Gavin geleng-geleng tak percaya.
Nana menghembuskan napas. "Tapi ternyata si Alesha malah ngejar kita. Ya gue panik dong, akhirnya gue telpon orang itu dan dia suruh gue lari sambil buat alasan asal-asalan kalau keluarga gue kecelakaan."
Gavin manggut-manggut mengerti.
"Setelah gue menjauh dari sawah, gue dapet telepon dari Papa, kalau...," Nana menutup matanya. Ia tak menyangka jika ucapannya akan menjadi sebuah kenyataan yang menyakitkan.
"Kalau Mama lo kecelakaan?"
Nana mengangguk kecil. Air matanya terus keluar. Nana begitu sayang dengan ibunya. Ia menyesal telah mengucapkan kalimat yang begitu tabu. Ia lupa jika ucapan adalah do'a.
Gavin menarik napas panjang meski di dalam tubuhnya terbakar sebuah emosi yang membara. Cowok itu lantas berdiri dari kursinya. Kemudian berjalan mendekati Nana. Dia mengelus pelan rambut serta punggung cewek itu.
"Gue tau apa yang lo rasakan, tapi apa yang lakukan salah. Demi ingin mendapatkan satu pria yang sudah beristri, apa lo mau kehilangan Mama lo yang selalu sayang dan mendukung lo selama ini?"
Nana menggeleng pelan. Ia mendongak dengan mata sembab. Cewek itu menangis sesenggukan.
"G-gue harus gimana, Vin?"
"Lo harus berhenti dan tetap kejar karir lo."
"Apa gue benar-benar harus melepaskan Zafran?"
__ADS_1
"Atau lo akan kehilangan semuanya," sahut Gavin menyadarkan Nana jika selama ini perbuatan yang ia lakukan adalah kesalahan besar.
"Mulai sekarang, jangan pernah lo angkat telepon dari orang asing."
Nana mengangguk mengerti. "Gue mengerti."
...***...
Di sisi lain, Alesha mendiami Zafran. Bahkan sudah dua hari ini cewek itu cuek. Jika saat sudah waktunya makan, Alesha memasak dengan membanting alat-alat masak dengan keras.
Memutar musik kencang hingga rumahnya bergetar. Menghidangkan makanan seadanya. Makan terlebih dahulu tanpa suami. Membiarkan Zafran tidur di luar bersama para nyamuk yang kelaparan.
Zafran sudah menjelaskan semuanya tanpa terkecuali. Tapi tetap saja yang namanya kecewa tidak akan bisa dengan mudahnya menerima hal itu. Alesha iba dengan mama Nana. Tapi ia tak iba dengan sikap Nana yang egois.
Dia juga tak bisa menyalahkan Zafran dalam hal ini. Tapi tetap saja Alesha tak terima. Biarkan saja beberapa hari seperti ini, jika Alesha sudah mulai lelah dalam keadaan marah, ia pasti akan kembali normal.
"Piring kotor!!!" Alesha mencuci satu piring berkali-kali sembari berceloteh ria.
"Gelas kotor,"
"Semua kotor,"
Ia menambahkan sabun cuci piring karna busa mulai berkurang. Alesha sedikit melirik Zafran. Cowok itu menahan senyum karna ia pikir Alesha semakin menggemaskan jika mendumel tak jelas.
Namun, saat Alesha meliriknya, Zafran mengalihkan pandangannya. Tak ingin terlihat jika ia sedang menertawai sikap istrinya yang imut.
"Bangun pagi sampai sekarang pekerjaan rumah belum beres!!"
Zafran tak kuat jika telinganya terus-menerus mendengar ocehan Alesha yang hampir sebelas dua belas seperti Martha.
Cowok itu mematikan televisinya. Lalu ia berjalan mendekati Alesha dari belakang. Alesha sedikit melirik Zafran di tempat semula. Tapi cowok itu tidak ada di tempat.
"Dasarr cowok brengsek!!!"
"Apasih?"
Alesha terkejut bukan main sampai-sampai gelas yang ada ditangannya hampir terjatuh di lantai. Jika Zafran tak cepat menangkapnya, akan dipastikan gelas itu hancur berkeping-keping.
"Ngapain di sini?" Alesha merebut gelas secara paksa. Tatapannya begitu dingin.
"Mau bantu istri tercinta."
Alesha menampilkan senyum smirk. "Oh mau bantu?"
Zafran mengangguk. "Lebih tepatnya mau menggo...da..."
Zafran memelankan suaranya saat Alesha memberikan spons cuci piring kepada Zafran. Cewek itu cuci tangan, mengelap tangan lalu memperbaiki ikatan di rambutnya.
"Bersihkan sampai seluruh rumah bersih!!!" tegasnya.
Zafran melongo. Ia memperhatikan punggung Alesha yang mulai menjauh.
"Loh, Sha. Kok malah gue yang cuci piring?"
...***...
__ADS_1