Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
9. Gara-gara Zafran


__ADS_3

"Bu, saya telat gara-gara Zafran. Jadi Zafran juga harus di hukum." Alesha terus ngotot. Ia tak mau hanya karna gerbang ditutup sebelum waktunya, ia mendapat hukuman. Semua ini ulah Zafran yang usil.


"Gara-gara Zafran gimana? Sekarang Zafran itu udah ikut pelajaran kelas. Jangan ngada-ngada deh,"


Alesha mengacak rambutnya kesal. "Saya nggak bohong Bu, dia yang-"


"Saya nggak peduli, yang penting sekarang kamu cabut rumput rumput liar di taman!"


"Tapi Bu-"


"Apa mau bersihin toilet sekalian?"


Alesha geleng-geleng kepala. "Enggak,"


"Kalau gitu kerjakan!"


Setelah perdebatan yang panjang akhirnya Alesha menghembuskan napas pasrah yang panjang dan harus menuruti permintaan guru BK yang bergincu merah darah itu. Entah siapa namanya Alesha tak tau.


Cewek itu berjalan lesu pergi ke taman dekat lapangan olahraga. Padahal hari ini jadwalnya olahraga, dan Alesha sudah menantikan hari di mana ia akan bergosip ria bersama Martha dan teman-temannya. Tapi apalah daya, Zafran membuat semua rencananya gagal total.


Lihat saja sekarang, bahkan cowok itu menjulurkan lidahnya pada Alesha. Cewek itu mengepalkan tangannya ke atas.


"Awas lo nanti ya, gue tampol tuh muka sok kecakepan!"


Zafran membokongi Alesha, ia menepuk-nepuk bokongnya beberapa kali. Cewek itu geram. Ia berlari mengejar Zafran tak peduli jika sekarang teman-temannya heran kenapa mereka terlihat begitu dekat.


"Sini lo monyet!"


"Monyet manggil monyet."


Zafran terus berlari ke lapangan dengan membawa seragam olahraga ditangannya. Ia belum sempat ganti baju karna ingin menyaksikan kisah haru seorang murid yang diberi nasihat kebaikan.


"Kurang aja lo ya. Gue bilangin Mama lo!"


"Tukang ngadu,"


Alesha berhenti sejenak. Dia mengambil napas. Zafran berlari begitu kencang hingga Alesha sulit mengangkapnya. Martha pun ikut berlari di belakang Alesha, sedari tadi cewek itu memanggil nama Alesha beberapa kali, tapi sepertinya Alesha tak mendengarnya.


"ALESHA!!" teriak Martha kesal tepat di samping telinganya.


Cewek itu terjingkat kaget. "Astaghfirullah, Martha!"


"LO GAK DENGER APA GUE PANGGIL DARI TADI?"


Alesha menutup kupingnya rapat. "Jangan kencang-kencang, suara lo itu terlalu lembut. Kasian kalau nanti suara lo habis."

__ADS_1


Martha mengatur napasnya yang tersengal. "Lo kayaknya deket banget sama tuh Zafran, ada hubungan apa lo sama dia?"


Alesha melebarkan matanya. "Hah? Deket darimana?"


"Makanya gue tanya, noh liat temen-temen. Mereka sama kayak gue, heran kenapa lo ngejar Zafran."


Alesha manggut-manggut. Beberapa temannya ikut menggerumbulinya.


"Lo kok bisa deket sama Zafran? Padahal tuh cowok anti cewek," ujar Sari.


"Iya, kok bisa sih? Emang lo nggak takut ya sama Zafran?" tanya Lea.


"Zafran kalau marah gak mandang bulu, sama kek Gavin." Sari sedikit melirik Gavin yang sedang memerhatikan mereka mendekati Alesha.


Hanya sebentar, karna cowok itu segera pergi ke lapangan.


"Gimana gue gak ngejar dia, gue terlambat juga gara-gara si Zafran!"


"Telat gara-gara Zafran?" ulang Martha. "Lo berdua berangkat bareng?"


Alesha berkedip lambat. Ia tesadar dari ucapannya pasti mereka akan salah paham. Alesha geleng-geleng kepala.


"M-maksud gue, gue sama dia sama-sama telat, tapi Zafran buru-buru masuk sekolah terus dia ngunci gue di luar gerbang sampe ketahuan guru BK, tapi si Zafran bebas dari hukuman." Ucap Alesha sedikit gugup.


Yang dikatakan Alesha benar. Tapi ia takut jika teman-temannya curiga dengan hubungan antara keduanya.


Teriakan itu kembali terdengar di telinganya. Semua yang menggerumbulinya kini buru-buru pergi karna tak ingin kena amukan.


"Gue pergi dulu, semoga berhasil." Seru Martha menepuk pundaknya beberapa kali.


"Saya menghukum kamu cabut rumput, bukan ngegosip. Kenapa malah ngobrol?"


Alesha nyengir lebar,"I-iya Bu maaf,"


"Cepat pergi!"


Alesha mengangguk patuh. Lalu ia berlari sekencang mungkin pergi ke taman. Jangan harap Alesha akan mengerjakan hukuman, paling-paling dia akan menonton teman-temannya olahraga. Kalau guru menor itu datang barulah Alesha akan mengerjakan hukumannya.


......***......


Keesokan harinya, Alesha tidak lagi menunggu Zafran. Cewek itu lebih memilih berangkat bersama ayahnya saja. Lagipula, Yuni memaklumi Alesha yang kesal karna ia harus mendapat hukuman gara-gara Zafran.


Sekarang, gantian cowok itu yang dihukum Yuni akibat membuat Alesha kesal. Cowok itu dihukum untuk tidak berangkat naik sepeda motor, melainkan berangkat bersama Delon.


Meskipun Alesha sudah senang karna motor cowok itu di sita, tapi tetap saja Alesha jadi menyesal. Karna mulai seminggu ke depan, ia akan berangkat bersama Zafran.

__ADS_1


"Nyesel gue ngadu," gumamnya pelan. Tangannya menyilang di depan dada.


Alesha sedikit melirik ayahnnya. Ia takut penyesalannya di dengar oleh Delon yang sedang menerima telepon.


Zafran hanya melirik, ia tak mempedulikan celotehan Alesha. Lagipula jika cewek itu tidak mengadu, pasti Zafran masih bisa mengendarai motornya sekarang.


Cowok itu lebih memilih tidur daripada harus memikirkan motornya. Subuh tadi Yuni sudah membangunkannya dan menyuruhnya untuk menyiram bunga.


Alesha melirik ke arahnya. Ia menatap wajah Zafran lekat. Senyumnya berkembang. "Cakep juga nih anak kalau tidur," gumamnya sangat pelan.


Deru napasnya terdengar sangat tenang. Hidungnya mancung, bibirnya ranum, wajahnya halus. Sepertinya Zafran rajin pakai skincare, bahkan tak ada bulu halus sedikit pun disekitar wajahnya. Alis juga sedikit tebal, bulu matanya lentik ditambah tubuhnya yang atletis.


"Ciptaan Tuhan yang sempurna."


Alesha mengembangkan senyumnya tipis. Ia tak henti-hentinya menatap wajah Zafran hingga dia terlupa saat ini sedang bersama dengan ayahnya. Delon hanya tersenyum melirik Alesha.


"Puas ngeliatin gue?"


Alesha gelagapan. Ia melebarkan matanya. Gawat, ia ketahuan sudah menatapnya. Buru-buru Alesha mengalihkan wajahnya yang bersemu merah ke arah jendela. "S-siapa juga yang liatin."


Zafran membuka sedikit matanya. Ia menarik sudut bibirnya. "Buktinya wajah lo merah sekarang."


Zafran mengeraskan suaranya, dan Delon menahan tawa. Rasanya Alesha ingin menghilang dari bumi ini.


Alesha memejamkan matanya. Seluruh tubuhnya terasa panas. Pipinya semakin memerah seperti kepiting rebus. Ia yakin, cowok itu pasti akan menertawainya jika ketahuan salah tingkah.


"Jendela mobil kebuka, matahari menyinari wajah gue. Pastilah jadi panas!" Alesha tak berani berbalik menatap Zafran.


Cowok itu tak percaya pada ucapannya. Dia mendekat dan menyentuh jidat Alesha secara langsung. Alesha terkejut, ia berbalik menatap Zafran.


Saat Alesha berbalik, Zafran sedikit memundurkan tubuhnya sebab wajah cewek itu sangat dekat dengannya. Keduanya sama-sama mendengar deru napas satu sama lain. Jarak mereka sangat dekat, jika saja salah satu diantara mereka maju, pasti kedua bibir mereka menyatu.


"Z-zafran," gugup Alesha. Jantungnya berdetak dua kali lipat.


Zafran meneguk ludahnya susah payah. Baru pertama kalinya ia menatap seorang wanita sangat dekat.


"Awas!!"


Cit!!!!


Cup


Delon mengerem mendadak karna ada kucing yang tiba-tiba menyebrang. Akibat Delon yang berhenti mendadak, Zafran tak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan akhirnya tak sengaja mencium Alesha. Kedua bibir mereka menyatu. Mata Alesha membola. Tubuhnya kaku. Mereka saling tatap satu sama lain.


Zafran buru-buru melepasnya dan kembali ke kursi semula sebelum Delon melihat mereka berciuman. Alesha meneguk salivanya susah payah. Pikirannya tak bisa mencerna keadaan ini dengan baik. Dadanya terus bergetar, jantungnya semakin cepat berdetak seakan mau melompat keluar.

__ADS_1


Cewek itu menyentuh bibirnya, "First kiss gue?"


Zafran memejamkan matanya erat, ia memegang dadanya. "Sialan, jantung gue mau copot!"


__ADS_2