Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
66. Pesan dari Alesha


__ADS_3

Ferdi dan Laka menyeruput teh buatan Alesha sembari berbincang-bincang ringan. Ferdi menikmati cemilan yang disuguhkan Alesha.


"Jadi lo nggak tau sekarang Zafran ada dimana?"


Alesha menggeleng menanggapi pertanyaan Laka. "Nggak tau, gue pikir dia sama kalian."


Laka menggeleng. "Nggak, Sha. Dari kemarin siang kita cuma berdua."


"Terus Zafran?"


"Terakhir kali kita ketemu, Zafran pergi ke atap," kata Laka.


*Apa karna itu ya? Zafran tau gue sama Nana masuk ke gudang. Tapi nggak mungkin, karna jaraknya cukup jauh.


Yang gue heranin, kenapa Nana bisa terluka? Padahal waktu itu cuma gue sama Nana doang yang ada di gudang*.


"Twenwang Shaw, kiwtaw pashtiw-" ucapan Ferdi terpotong.


"Kalau mau ngomong telan dulu makanannya," sela Laka menepuk lengan Ferdi.


Ferdi nyengir kuda. Dia menelan makanannya. Alesha terkekeh pelan. Kemudian Ferdi pun menyelesaikan ucapannya, "Tenang, Sha. Kita pasti bantu lo kok. Gue tau Zafran itu orangnya kek gimana. Ya walaupun kadang nyebelin, tapi dia tipe orang setia,"


"Zafran nggak gampang percaya sebelum dia buktikan sendiri."


Alesha tersenyum. Semoga apa yang dikatakan Ferdi benar adanya. Dia berharap Zafran berpihak pada fakta.


......***......


Alesha menunggu jemputan Martha sembari bermain ponsel. Hari ini mereka ada jadwal les memasak, dan besok Alesha harus photoshot sebagai iklan produk perusahaan Zafran.


"Semoga gue bisa selesaikan permasalahannya sama Zafran."


Sebagai bos dari model iklan produk, pastinya Zafran akan mengantar Alesha dan mengesampingkan permasalahan keluarganya. Zafran harus profesional, seperti apa yang dikatakannya pada Alesha pada waktu itu.


Apalagi dia menyandang status sebagai seorang suami.


"Ck, Martha lama benget!"


Alesha memandang jam tangan. Dua puluh menit lagi kelas akan di mulai, sedangkan jarak antara rumah Alesha dan tempat les membutuhkan waktu sekitar lima belas menit, itu saja jika ngebut.


Martha sudah mendesak Alesha sejak setengah jam untuk menunggunya di depan gerbang. Tapi nyatanya, ini sudah hampir empat puluh menit lebih. Bagaimana kalau nanti mereka terlambat?


Ayolah, chef mereka itu Gavin loh! Gavin!! Tau sendirikan sifat Gavin seperti apa? Alesha takut jika mereka berdua di lahap habis-habisan oleh kemarahannya.


Alesha menombol nomor kontak Martha. Cewek itu tidak mengangkat telponnya. Alesha berdecak kesal. Dia semakin geram.


"Sumpah ya si Martha!! Lama-lama gue tinggal naik taksi baru tau rasa!!"


Alesha mencoba memanggilnya lagi. Kakinya bergerak gelisah. Matanya berkali-kali melirik jam tangan.


"Ayolah, Mar. Angkat dong teleponnya!"


Alesha bergerak kesana-kemari. Berjalan seraya menatap jalanan. Berharap Martha segera tiba.


Lagi. Telpon Alesha tidak diangkat.


Ingin rasanya Alesha membanting hpnya. Tapi sayang dong. Gimana kalau ada tugas mendadak? Gimana bisa nyontek jawaban teman?


Hidup tanpa hp bagaikan bumi tanpa air. Kering.


Baru saja Alesha mau memesan gojek, ternyata dewi fortuna berpihak padanya. Ponsel Alesha berdering. Dia pun segera mengangkatnya.


"MARTHA!!!"

__ADS_1


"ALESHA, MAAF!! HP GUE KETINGGALAN DI DALAM MOBIL, DAN GUE HABIS NGANTERIN CABE DI MBOK DEWOR. MBOK DEWOR PESEN 10 KILO JADI GUE MINTA TOLONG SAMA SUAMINYA... Bla.. blaa.. blaa..."


Alesha mengepalkan tangan kuat-kuat. Dia memukul tembok beberapa kali. "Kenapa lo nggak bilang dari tadi sih!!"


"Gue lupa, Sha."


"Ah! Pengen berkata kasar gue!"


"Katain aja,"


Alesha manggut-manggut. Dia pun menarik napasnya dalam. Sesuai keinginannya, dia pun mengucapkan kata kasar.


"KASAR!!"


...***...


Alesha menggeret Martha sampai Martha berjalan terseok-seok. Kakinya kecil sedangkan kaki Alesha panjang, Martha kewalahan mengikuti langkahnya.


"Sha, bisa pelan nggak?"


Jantungnya serasa jatuh di lambung. Dadanya kembang kempis dan napasnya tersengal-sengal. Tiba di parkiran Alesha belum menghentikan ocehannya, dan sekarang dia malah mengajak Martha berlari.


Hey! Dia pikir mengangkat cabai 10 kilo tidak capek? Ini malah di paksa lari. Martha takut jika pasokan napasnya berkurang, dia jadi sesak napas, terus dia sakit gimana??


Kan nggak enak kalau Martha sakit. Kelas jadi nggak ramai. Ferdi jadi nggak bisa adu kecemprengan.


"Sha, nanti gue sakit, loh!!" eluhnya.


"Lo milih sakit atau milih dimarahin chef Gavin?"


Martha mendelik. Dia menepuk jidatnya. "Astaga! Gue lupa kalau chef-nya si Gavin!!"


Martha beralih menggenggam lengan Alesha. Alesha mengerutkan kening. Bingung dengan apa yang dilakukan oleh Martha.


"Ngapain, Mar?"


Jika tadi Martha yang kewalahan, kini ganti Alesha yang kewalahan.


"Mar, lo semangat banget mau ketemu Gavin." Kata Alesha.


"Semangat gundulmu! takut iya. Mau lo dapat aungan singa yang ngereog?"


Alehsa nyengir kuda seraya bergeleng kepala.


Sesampainya di ruang masak, mereka mengatur napas panjang. Kelas belum di mulai, tapi para anggota sudah bersiap diri.


"Kenapa berhenti?"


Martha dan Alesha sontak menoleh ke belakang. Mereka terkejut. Gavin sudah berada di belakang mereka.


Martha dan Alesha langsung berlari memakai celemek, segera menyiapkan alat-alat dan bahan yang akan di masak hari ini.


"Sha," panggil Martha. Alesha mengangkat satu alisnya.


"Kita tepat waktu."


Alesha mengangguk. "Untungnya, Mar."


"Tapi, kenapa tadi si Gavin nggak masuk kelas, ya?" Martha berbisik-bisik, takut di dengar oleh Gavin.


Alesha mengangkat bahunya. "Tanya aja nih sama si chef."


"Tanya apa?"

__ADS_1


Alesha dan Martha membola. Gavin berdiri ditengah-tengah mereka yang masih sibuk dengan kupasan bawang.


Martha menggaruk tengkuknya. "Eh-" dia mengode mata pada Alesha meminta pertolongan, tapi Alesha berlagak sibuk.


"Apa? Tanyakan saja jika ada keluhan."


"I-ini chef, ba-bahan masakan saya ada yang kurang?"


Gavin memeriksa semua bahan di meja Martha. "Gak," sahutnya singkat lalu pergi begitu saja.


Bibir Martha berkedut mendengar jawabannya Gavin yang singkat, padat, jelas, dan ngeselin. "Jelas nggak lah, gue orangnya teliti."


"Kok lo kayak marah, ya?" tanya Alesha.


"Iya, kesel gue. Si Gavin sok cuek, sok cool!" kesal Martha memotong ikan laut dengan keras.


Alesha terkekeh. "Kayak gak kenal Gavin aja," ujarnya seraya geleng-geleng kepala.


Satu jam. Waktu yang ditentukan untuk menyelesaikan masakan. Alesha mendapat urutan yang terakhir. Dia maju ke depan memberikan hasil masakannya.


Gavin menikmati masakan Alesha. Rasa yag tercipta sangat pas. Bahkan masakan Alesha jauh lebih sempurna dari pada yang lain.


"Sempurna," kini ucapan Gavin membuat Alesha melebarkan senyumnya.


"Makasih, Vin."


Gavin menatap Alesha tajam. Dia menunjukkan bedge nama di bajunya.


Alesha membacanya. "Chef Gavin," katanya malas. "Nilainya berapa kalau sempurna?"


"Delapan lima."


"Cuma delapan lima? Bukannya kalau sempurna seratus?"


"Kesempurnaan hanya milik Tuhan."


Alesha menghela napas pelan. Kepalanya mengangguk beberapa kali. "Ya.. ya.."


"Silahkan kembali!"


Penilaian sudah selesai. Gavin juga sudah menyuruhnya untuk kembali, tapi cewek itu tetap berdiri di tempat.


Alis Gavin terangkat satu.


"Setelah selesai, gue mau ngobrol sama lo."


"Zafran?" tebak Gavin.


Alesha berkedip cepat. "Kok lo tau?"


"Apa lagi yang mau lo bahas sama gue selain masakan? Ya Zafran, kan?"


Alesha nyengir kuda. "I-iya juga."


"Dia nemenin Nana di rumah sakit. Pergi ke sana dan bawa pulang suami lo!" Gavin menekankan ucapannya.


Sedangkan Alesha?


Hati gadis itu tersentak kaget. Kenapa harus Nana? Salah apa dirinya hingga dia... harus bersama Nana?


Alesha menahan air matanya untuk tidak jatuh. Dia menarik napas dalam, mencoba tegar.


"Oh gitu? It's okey. Akan gue biarkan Nana menikmati kebahagiaan yang diimpikan untuk sementara."

__ADS_1


"Bilang sama Nana, sebentar lagi gue akan ambil Zafran balik. Jadi, suruh dia ciptakan kebahagiaan bersama seseorang yang tidak akan pernah bisa dimiliki selamanya." Setelah menunjukkan senyum sabit, dia berbalik. Tangannya terkepal kuat.


"Kita lihat, siapa yang akan bertahan sampai akhir."


__ADS_2