
Alesha marah. Dia tidak ingin bertatapan, bertemu, ataupun berangkat bersama dengan Zafran. Gadis itu masih tidak terima dengan kenyataan yang ada. Tapi kali ini ia tidak akan diam. Ia akan memberi pelajaran pada Nana.
"Gue bilang stop ikuti gue, Zafran!!" teriak Alesha menyatukan alisnya. Napasnya memburu layaknya atlet yang baru saja lari pagi.
Zafran yang baru pertama kalinya mendapat bentakan Alesha pun termenung.
"Masih marah lo sama gue?"
"Menurut lo?"
"Gue kan udah minta maaf."
"Lo pikir semua masalah bisa selesai kalau cuma minta maaf doang, hah?"
Zafran menarik napas. "Gue tau gue salah, tapi nggak gini juga, Sha. Gue suami lo, harusnya lo nurut sama gue. Lo berangkat sekolah bareng gue!" putusnya.
"Lo tau kalau lo itu suami gue, dan gue adalah istri lo, tapi kenapa lo nggak berusaha kabari gue!"
"Gue udah berusaha, Sha. Tapi-" ucapan Zafran terpotong.
"Cukup, untuk saat ini jangan dekati gue!" tandasnya.
***
Alesha menelungkupkan kepala dengan tangan sebagai bantal. Pikirannya kacau. Ini semua gara-gara Zafran yang membuat emosinya meninggi.
"ALESHA, MY SWEETIE HONEY,"
Alesha menutup rapat matanya. Telinga berdengung. Telapak tangan menutupnya. Tau kan siapa yang membuat suara itu? Ya, dia adalah Martha. Si cewek cempreng yang selalu saja membuat kuping semua orang bergetar.
"Berisik lo ah!" Alesha menggebrak meja. Dia menatap Martha tajam.
"Aduh, kenapa nih kok galau? Gak dapat jatah malam ya?" goda Martha.
"Apaan sih Mar, gue tabok mulut lo!"
Alesha menatap sekeliling yang juga menatapnya. Martha menampilkan cengiran lebar. "Jangan marah-marah atuh, nanti cantiknya hilang lo."
Martha menoel dagu Alesha.
"Diam atau gue tendang!"
Tatapan mengintimidasi membuat Martha meneguk ludahnya susah payah. Dia manggut-manggut mengerti. Menghembuskan napas pelan, menunduk ke bawah.
Memilin jari jemarinya seperti bocah yang manja. "Lo kenapa sih marah-marah sama gue?" ucapnya sok sedih. Tangannya menggosok hidung bagaikan anak kecil.
"Ya karna lo ganggu pagi gue,"
Martha memberanikan diri menatap Alesha. "Kalau lo lagi marahan, mending selesaikan dulu."
Alesha menghela napas pelan. Dia kembali menelungkupkan kepala di atas meja. Tidur adalah pilihan yang terbaik untuk saat ini.
Martha menurunkan bahu. Lebih baik dia membiarkan Alesha tenang.
Zafran memasuki kelas. Dia menatap Alesha datar. Dia ingin menyelesaikan permasalahan cepat, tapi sepertinya saat ini bukanlah saat yang tepat.
Dia melewati bangku Alesha begitu saja. Menubruk punggung Martha. Cewek itu berdecak pelan.
"Jalan masih luas," ketusnya.
Zafran tak menanggapi. Dia duduk di kursi. Sedari tadi percakapan mereka serta pergerakan mereka selalu diawasi dengan mata elang milik Gavin.
Gavin bertukar pandang dengan mata milik Zafran. Petir menjadi tali yang menggabungkan kedua mata mereka.
__ADS_1
"Semua harap duduk!"
Suara guru memutuskan kontak mata. Mereka duduk dan mengikuti pelajaran. Semua orang kecuali Alesha melirik kedua cowok rival di belakang sana yang anteng.
Tumben tidak membuat keributan?
***
Memandang bakso pedas kesukaannya dengan tatapan biasa. Padahal biasanya, nafsunya selalu naik ketika melihat kuah merah. Tapi kali ini, dia sangat-sangat tidak nafsu sama sekali.
"Mau gue habiskan?" Martha menawarkan diri.
"Gak! Gue lapar!"
"Lapar ya dimakan! Lo lihatin terus kapan kenyangnya. O'on banget," ejeknya.
Alesha menusuk bakso kuat. Tatapannya ke arah Martha. Mengarahkan bakso ke mulut. Membuka mulut selebar mungkin dan memasukkan bakso ke dalamnya.
Alesha mengunyahnya dengan cepat. Membuat Martha terkekeh.
"Nah gitu dong,"
"Nih giti ding," ulang Alesha dengan bibir menye-menye.
Martha tertawa lebar. Menjadi pusat perhatian semua orang. Alesha menatap sekeliling. Seketika dia menutup mulut cewek itu dengan bakso kuah pedas. Martha melotot.
Dia langsung menyambar minumannya yang tinggal setengah. Seketika, Alesha langsung menertawakannya. Suara tawa sumbang memenuhi seluruh ruangan.
Air minuman Martha habis. Cewek itu memukul-mukul meja. "Sum.. pah.. huh.. ha... pedes.. Sha!"
"Makanya nggak usah banyak tingkah."
"Minum!!"
Martha kewalahan mencari minum di atas meja. Alesha dengan cepat menghabiskan esnya. Martha berdecak kesal. Ia berlari menuju stand kantin, memesan minuman yang lain.
"Seneng banget liat Martha kepedesan, hahaha," Alesha mengusap air matanya. Tertawa berlebihan membuat matanya mengeluarkan air.
Senyum Alesha terhenti tatkala melihat Nana duduk di depannya.
"Hai," sapanya.
Aleaha mengerutkan keningnya. "Ngapain lo di sini?"
"Boleh gue bicara empat mata sama lo?"
"Ngomong aja."
"Nggak di sini,"
Alesha berdecak. "Gue mager."
"Bentar aja," Nana berdiri. Meraih tangan Alesha dan menariknya.
Alesha menghempaskan tangan Martha. Dia menatapnya nyalang. "Gue bukan orang jompo!"
Nana menampilkan senyuman sabit. Alesha beranjak. Mengekori langkah Nana. Di sisi lain, seseorang tengah tersenyum smirk melihat mereka.
Alesha mengehentikan langkah. Nana berdeham membuka topik.
Gudang.
Tempat yang dipilih Nana sebagai tempat berbicara empat mata. Alesha tidak protes karna Nana memilih tempat ini, karna ia tau, mungkin ini adalah tempat yang memang harus bisa menjaga rahasia.
__ADS_1
Alesha juga tidak ingin mereka mengetahui tentang dirinya dan Zafran.
"Mau ngomong apa lo?"
Tanpa membalikkan badan, Nana berkata, "ini tentang kejadian kemarin."
Kening Alesha berkerut.
"Maaf, Sha. Gue sama Zafran sudah..." Nana menggantungkan ucapannya.
"Sudah apa?" Alesha penasaran. Apa yang sudah dilakukan Zafran dan Nana?
Nana menghela napas panjang. Dia berbalik. Lalu menatap kedua mata Alesha dengan lekat. "Tapi lo jangan marah." Peringatnya.
Alesha menatap Nana. Kepalan tangan sudah ia rapatkan. Nana terlalu menggantung, Alesha sangat geram.
"Lo kalau mau ngomong, ngomong aja, gak usah basa-basi! Gue gak suka sama orang yang basa-basi!"
Nana menarik sudut bibirnya. "Sabar, gue nggak mau aja bikin lo sakit hati,"
Rahang Alesha terkatup. Lama-lama dia ingin menghajar wanita setan ini.
"Cepetan, Na! Gue gak punya banyak waktu buat ladenin lo!"
"Oke, kalau lo memaksa."
Jantung Alesha berdegup kencang. Ada apa ini? Mengapa Alesha merasa ada sesuatu yang tak ingin dia dengar?
Alesha takut melihat Nana mulai membuka mulutnya. Dia takut jika kenyataan yang akan disampaikan oleh Nana membuatnya sakit.
Nana mendekat. Dia memegang kedua bahu Alesha. Cewek itu segera menepisnya.
"Gue sama Zafran, sudah berhubungan.. layaknya status lo sama Zafran."
Bagaikan disambar petir siang bolong. Perkataan Nana sangat menyayat ulu hatinya yang paling dalam. Tancapan belati terasa menyakitkan.
"Mama gue tau, dan lo juga tau kan kalau Mama gue dirawat di rumah sakit?"
"Itu karna Mama melihat perbuatan kita berdua secara tak sengaja."
"Mama gue kaget dan akhirnya jatuh sakit."
Alesha mundur beberapa langkah. Dia tidak ingin mempercayai ucapan Nana tapi, jika Ibu Nana sampai jatuh sakit gara-gara Zafran, itu berarti...
Ini adalah nyata?
Alesha tanpa sadar mengeluarkan air mata. Dia menggelengkan kepala beberapa kali.
"Nggak!"
"Nggak mungkin!!"
"Ini fakta, Alesha."
Alesha hampir terjatuh. Kakinya lemas. Napasnya tercekat. Dia menatap Nana yang memegangi perutnya. Cewek itu berekspresi menyedihkan.
Alesha mengusap air matanya yang luruh. Tanpa berkata apa-apa, Alesha berlari menjauh. Membuka pintu gudang dengan keras. Meninggalkan Nana sendirian.
Nana tersenyum puas. Tanpa disadari, seseorang telah menyiapkan stun gun. Beberapa detik kemudian, Nana merasa adanya sengatan listrik yang begitu dahsyatnya menjalar di tubuhnya.
"Argh!!!!"
Perlahan-lahan, pandangannya mulai kabur.
__ADS_1
"Maaf Nana, lo harus gue siksa,"
"Dan maaf juga Alesha, lo harus terfitnah!"