Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
64. Dari Mata Zafran


__ADS_3

Sesuai dengan perkataannya, cowok itu datang kembali ke sekolah. Meminta satpam yang sedang berjaga di pos depan untuk memberikan kunci ruang cctv.


Satpam ingin menanyakan alasannya, tapi melihat raut wajah Zafran yang menyeramkan membuatnya mengundurkan niat bertanya.


Zafran membuka gembok. Dia segera masuk setelah berhasil membuka ruangan. Tidak ada penjaga di dalam sini. Karna penjaga cctv sedang sakit.


Zafran mengotak-atik komputer. Mengembalikan rekaman cctv pada waktu dua jam yang lalu. Matanya menatap layar lcd tanpa berkedip.


Dua perempuan datang dari koridor belakang menuju gudang. Mereka berdua adalah Nana dan juga Alesha. Alesha berada di belakang Nana.


Alesha dan Nana masuk ke dalam gudang. Namun Zafran tak dapat mengetahui apa yang mereka lakukan di dalam sana. Beberapa saat kemudian, Alesha keluar gudang dengan deraian air mata yang membasahi pipi.


Cewek itu menutup matanya era Berlari menjauhi gudang.


"Alesha," gumam Zafran.


"Kenapa dia nangis? Apa yang terjadi di dalam sana bersama Nana?"


Zafran mulai khawatir dan berfikir dua kali tentang ucapan Nana. Di lihat dari sudut pandang cctv, Alesha yang telah keluar terlebih dahulu dari gudang.


Sedangkan Nana...


Limat menit.


Sepuluh menit.


Lima belas menit.


Cewek itu belum keluar gudang. Hati Zafran mulai terguncang. Denyut jantungnya berdetak lebih cepat. Dia menggeleng pelan. Mengusap wajahnya gusar.


Napasnya menggebu memandang layar lcd. Alesha-nya tidak mungkin melakukan perbuatan di luar nalar. Alesha bukan orang pendendam. Alesha bukan gadis yang jahat.


Alesha gadis yang baik. Tapi Zafran tidak melewatkan satu adegan pun, dan sudah satu jam lamanya, Nana belum keluar dari dalam gudang.


Hingga sosok laki-laki menghampiri gudang, gadis itu belum juga keluar. Zafran tau, siapa kedua orang itu. Ya, dia adalah Zafran dan Gavin. Seperti apa yang terjadi tadi, mereka berdua masuk ke dalam gudang.


Zafran menghentikan cctv. Satpam berdiam diri di belakang Zafran memperhatikan apa yang dilakukannya. Satpam tak tau apa yang terjadi.


Zafran memukul meja dengan keras. Satpam terjingkat kaget. Cowok itu beranjak dari kursi. Meninggalkan satpam sendirian di dalam ruangan itu.


"Gue kecewa sama lo, Alesha."


Setelah kepergian Zafran. Pak satpam ingin mengembalikan cctv ke keadaan semula. Namun, ia tak sengaja memencet tombol yang lain. Di dalam layar tersebut, ada seseorang yang muncul dari dalam gudang.


Seseorang itu menyilangkan dada memperhatikan pergerakan Zafran dan Gavin yang pergi membopong Nana.


Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman smirk. Pak satpam kurang tau siapa dia, masker menutupi wajahnya dengan masker.


Tak mau ikut mencampuri urusan anak muda, satpam segera mematikan komputer dan kembali berjaga di pos depan.


***


Dalam hubungan keluarga, permasalahan pasti selalu ada. Perdebatan kecil ataupun tak saling sapa itu adalah hal yang tidak baru lagi.


Tetapi, meski dalam keadaan marah atau pun kesal, seorang istri tetap tidak boleh melupakan kewajibannya. Tidak boleh egois.


Begitu pula dengan suami. Keduanya harus berkepala dingin. Mengesampingkan ego masing-masing, dan harus menyelesaikan permasalahan dengan segera.


Alesha tidak ingin berlama-lama bertengkar. Dia ingin hubungannya segera kembali baik. Alesha memasang celemek di tubuhnya.


Rambutnya di ikat satu. Alesha mulai berkutat dengan beberapa bahan masakan. Meski tadi sudah masak, tapi kali ini Alesha akan memasak lagi.


Zafran mengiriminya pesan pulang terlambat. Itu artinya, sebentar lagi suaminya akan pulang. Alesha mau Zafran memakan makanan yang hangat.


Selama kurang lebih setengah jam ia berkutat di dapur, akhirnya dua makanan favorit Zafran pun sudah jadi.

__ADS_1


Alesha mengelap peluhnya. "Akhirnya selesai juga."


Cewek itu melepas celemeknya. Dia bergegas ke atas untuk mandi. Memasak membuat tubuhnya mengeluarkan keringat berlebihan.


Namun, belum sampai ia menginjak tangga, suara engsel pintu yang dibuka secara kasar menghentikan jalan Alesha.


Cewek itu memegang sapu. Takut jika maling mencoba memasuki rumahnya.


"Siapa?"


Tak ada jawaban. Hanya ada suara gesekan pintu.


Keringat dingin semakin mengucur deras. Jantungnya berdetak berkali-kali lipat. Kakinya bergetar. Enggan untuk melihat, tapi ia sangat penasaran.


Alesha berhenti sejenak. Dia mengambil pasokan udara dalam. "Tenang, Alesha."


Dirasa sudah sedikit tenang, Alesha memberanikan diri mendekati pintu. Lengkap dengan sapu di tangan kanannya.


Gadis itu mengintip. Sekelebat bayangan hitam sosok pria gagah tinggi. Alesha melotot. Dia menempelkan punggung di tembok. Mengelus dadanya.


"Astaga, apaan tuh tadi?"


"Masa di rumah Zafran bisa ada malingnya sih?" monolognya bertanya pada diri sendiri.


Alesha memastikan sekali lagi. Dia menolehkan kepala mengintip dari balik tembok. Namun yang ia dapati, sosok pria itu tiba-tiba muncul di depannya.


"Huaa!!!" Alesha terjingkat kaget. Dia mundur beberapa langkah. Kakinya tersandung kakinya sendiri hingga dia terjerembab di lantai.


Sapu yang ia pegang entah kemana. Alesha tak bisa fokus. Dia terlalu ketakutan. Alesha memejamkan matanya erat.


"Jangan mendekat!!!" tangannya terulur ke depan. Mencegah orang itu mendekat.


Alesha mengatur napasnya yang tak normal.


Dia kenal gue? Alesha bergumam pada batin.


Alesha perlahan membuka mata. Sedikit mendongak. Matanya membulat mengetahui siapa sosok yang ia anggap maling.


"Z-zafran?"


Cowok itu berdiri tegak. Dia memasukkan kedua tangan di dalam kantong celana.


"Gue tanya maksud lo apa sakiti Nana?!" nada suara Zafran naik satu oktaf.


Beberapa kerutan muncul di dahi Alesha. Kedua alisnya menyatu sempurna. Cewek itu beranjak berdiri.


"Sakiti Nana?" Alesha tidak tau apa yang dimaksud Zafran.


"Maksud lo? Gue sakiti Nan?"


Sejak kapan Alesha mau berurusan dengan cewek penggoda itu? Dia punya harga diri. Dia punya hati dan kekuatan mental. Lagipula tidak ada gunanya bertengkar dengan Nana.


Semua kembali lagi pada sang pencipta. Kembali lagi pada seseorang yang ada di depannya ini. Apa yang akan dia tuju.


"Gue tanya sama lo. Apa benar tadi siang lo pergi ke gudang?"


Alesha berkedip lambat. Bagaimana Zafran bisa mengetahui hal itu? Nana dan dirinya pergi tanpa seorang pun tau. Tapi, kenapa cowok ini tau? Siapa yang sudah memberitahunya?


Ah Alesha tau, pasti Nana yang sudah mengadu.


"Tau darimana lo? Dari Nana?"


"Oke, berarti jawaban lo iya."


Alesha semakin bingung dengan Zafran. "Lo kenapa sih? Kok kayak mengintrogasi gue?"

__ADS_1


"Pertanyaan selanjutnya," Zafran kembali menjelaskan.


"Zafran!! Ada apa? Langsung ngomong to the point! Nggak usah kebanyakan nanya!!"


"Lo hajar Nana, kan?"


Sontak pertanyaan yang keluar dari mulut Zafran membuat Alesha membeku. Bisa-bisanya cowok itu menuduh istrinya sendiri?


"Hah? Gila lo! Gue gak mungkin hajar si Nana. Ngapain juga? Gak penting!"


"Nana sekarang di rawat di rumah sakit gara-gara di serang seseorang. Nana ditemukan di dalam gudang tua. Keadaannya cukup memprihatinkan." Suara Zafran terdengar berat.


Alesha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Zafran.


"Setelah gue lihat di cctv, lo yang datang bersama Nana, dan keluar dari dalam gudang tanpa Nana."


Deg


Masalah apa lagi ini?


"T-tapi bukan gue yang melakukan itu, Zafran!" sergahnya.


"Gue nggak mungkin buat Nana seperti itu." Alesha membela diri.


"GUE TAU LO CEMBURU, SHA. TAPI APA YANG UDAH LO LAKUIN KE NANA ITU KETERLALUAN!!" bentak Zafran.


Alesha menganga lebar. Tak percaya jika Zafran membentaknya. Dia menutup mulutnya tak percaya.


"Zafran!!"


"KALAU LO PUNYA MASALAH SAMA GUE, SELESAIKAN SAMA GUE! GAK PERLU LO BAWA NANA KE DALAM MASALAH KITA!" mata Zafran berapi-api.


"Tapi Nana yang buat ulah, Zafran!"


Zafran menarik sudut bibirnya. "Berarti lo mengakui?"


Alesha menggeleng pelan. Air matanya perlahan turun. "Gue udah bilang sama lo, bukan gue pelakunya. Gue nggak tau menahu permasalah Nana. Gue nggak tau siapa yang udah buat Nana seperti itu!"


"Lo yang udah buat Nana celaka, Sha! Kalau gue sama Gavin gak cepat datang, kita nggak tau, apa Nana masih bisa selamat atau tidak."


Alesha mengusap air matanya. Dia mencekal kedua tangan Zafran. "Percaya sama gue, gue nggak akan lakukan hal serendah itu, Zafran."


Zafran menghempaskan tangan Alesha kuat. "Gue lebih percaya dengan apa yang gue lihat, dan sekarang gue tau, serendah apa diri lo, Alesha."


Kedua mata Alesha melotot. Dia? Rendah? Apa Alesha tidak salah dengan dengan apa yang dikatakan oleh Zafran?


Zafran membalikkan badan. "Lo harus ingat, sebelum lo datang ke kehidupan gue, ada Nana yang selalu ada. Meskipun sekarang dia jadi mantan sahabat, tapi di dalam hati gue, gue lebih percaya sama Nana."


Alesha terjatuh ke bawah. Dia menangis sesenggukan. Mendengar pernyataan yang Zafran berikan, sangat-sangat menyayat hatinya. Hatinya sangat terluka.


Kenapa? Kenapa cowok itu lebih memilih percaya pada Nana?


Alesha terduduk lesu di lantai. Alesha memang wanita yang kuat, tapi istri mana yang tidak menangis saat dirinya tak dipercayai oleh suaminya sendiri?


Dan suaminya ini malah percaya pada perempuan lain. Perempuan yang sudah membuat hubungan keduanya renggang.


Apakah itu karna...


"Zafran," lirih Alesha menyebut namanya.


Cowok itu berhenti. Emosinya masih di ujung tanduk.


"Apa benar, lo sudah berhubungan dengan Nana?"


***

__ADS_1


__ADS_2