Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
15. Kembang Api


__ADS_3

Keheningan malam menyelimuti pasutri muda yang sedang berlibur ke bukit tinggi dekat Villa milik Zafran. Keduanya tak ada yang mengatakan sepatah kata pun. Mereka sama-sama fokus dengan pikiran masing-masing.


Jalanan cukup ramai untuk mengalihkan rasa canggung. Meski terkadang saling melirik satu sama lain. Sejak hari di mana Zafran mencium kening Alesha, tak ada percakapan di antara mereka.


Dan sekarang, Zafran tengah mengendarai mobil menuju bukit tinggi. Kalau kata Yuni, mereka sedang berbulan madu, tapi kalau kata Alesha, mereka hanya menikmati masa liburan yang singkat.


Karna pernikahan yang rahasia, tidak mungkin bagi mereka untuk mengambil cuti panjang.


Alesha menghidupkan tape mobil. Tapi ia tak cukup tau bagaimana cara memainkannya.


"Zafran," panggil Alesha memecahkan keheningan.


"Hm,"


"Kok gak nyala musiknya?"


"Tombol mainkan," cicit Zafran.


"Mana tombolnya?" Alesha mencari tombol, tapi tak menemukan.


"Punya mata liat baik-baik,"


"Gelap bodoh!"


Sepertinya rasa canggung mereka mulai pudar..Mereka lupa jika sekarang mereka sudah menjadi pasangan suami istri.


"Lo kelas berapa sih gak tau tombol putar?"


"Kelas TK!" geram Alesha.


"Pantesan o'on."


"Hidupin lampunya ya?"


Zafran menggeleng. "Jangan, ntar gue gak bisa lihat jalan belakang."


"Kan ada spion,"


"Lo punya hp?"


Alesha mengangguk. "Nih," dia menunjukkan ponselnya.


"Pake senter hp kan bisa." Sahut Zafran sedikit penekanan.


Alesha menepuk jidatnya. Ia nyengir lebar. "Oh iya, kok ga kepikiran ya?"


"Emang lo o'on,"


Senyum Alesha pudar, kini berganti tatapan datar. Dia berdecih, "Cih!"


Alesha menerangi tape mobil. Dia memincingkan matanya mencari tombol putar. Jujur saja ini baru pertama kalinya dia menyentuh tape tersebut, meski ia sering berangkat naik mobil bersama ayahnya, tapi dia tak pernah menghidupkan musik di tape mobil itu. Karna Alesha sadar diri, barang itu bukan miliknya.


"Pencet ini kali ya?" tanya Alesha pada dirinya sendiri. Cewek itu memencet tombol segitiga pada layar tape tanpa menurunkan volume terlebih dahulu.


Saat ini Zafran menghentikan mobil di lampu lalu lintas menunggu lampu hijau menyala.


Klik


Jangan pernah kau coba untuk berubah


Tak relakan yang indah hilanglah sudah


Alesha dan Zafran sama-sama tersentak kaget. Suara Charlie Van Houten itu menggema dengan keras memenuhi mobil. Jendela mobil yang Alesha buka juga menyebabkan suara keluar, hal itu mengakibatkan beberapa pengguna jalan mengalihkan perhatian mereka pada Zafran dan Alesha.


Zafran buru-buru mematikan tape mobilnya. Alesha menegang, ia memegangi jantungnya yang hampir copot. Dadanya masih terkena efek getaran sound-nya. Tape milik Zafran bukan tape murahan.


Jadi, sekali volumenya dikeraskan, bisa menggerakkan mobilnya. Biasanya Zafran memutar musik saat ia sedang dalam keadaan stress.


"Jantung gue," Alesha senantiasa memegangi dadanya.


Zafran menundukkan kepala kepada pengguna jalan lainnya untuk meminta maaf, lalu ia menutup semua jendela mobilnya. Kemudian memberikan tatapan tajam pada Alesha.


"Mau muter musik lagi?"


Alesha menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Gak, udah kapok gue."


Zafran geleng-geleng kepala. Dia lupa memperingatkan Alesha tentang mengecek volume sebelum memulai musik.


"Lain kali, lo harus pastiin volumenya dulu!"


"Lo gak mau bantu gue. Jangan salahin gue!"


"Gue gak nyalahin lo, gue ngasih saran."

__ADS_1


"Argh! Sama aja!"


"Nggak sama."


"Sama!"


"Gak,"


"Sama!"


"Dilarang membantah suami!"


Alesha menoleh cepat ke arah Zafran. "Sejak kapan ada larangan seperti itu?"


"Barusan."


"Gak-gak! Gue gak setuju,"


"Harus setuju!"


Diduga, keduanya masih mendebatkan sesuatu yang tidak penting di sepanjang jalan.


......***......


Mereka telah sampai di bukit. Zafran turun dari mobil. Begitu juga dengan Alesha. Suasana sangat sepi karna ini adalah daerah Villa pribadi keluarga Zafran.


"Zafran, kok sepi?"


Alesha berjalan mendekati Zafran. Ia sedikit takut dengan tempat yang sepi meskipun beberapa cahaya mobil menerangi mereka berdua.


"Karna ini masih terhitung di daerah Villa pribadi gue,"


Wajah Alesha pucat pasi. Ia tidak berani menggandeng tangan Zafran sekalipun dia sudah sangat ketakutan.


"Lo takut?"


Alesha menegakkan tubuhnya. Ia berdeham. Dia tak ingin memperlihatkan ketakutannya. "Enggak, gue gak takut."


Zafran terkekeh. Sebelum ia mengajaknya ke sini, tentunya Zafran meminta izin pada ayah Alesha, dan Delon memberitahu semua tentang Alesha padanya.


"Syukurlah kalau lo gak takut, soalnya konon katanya di sini banyak hantu."


Mendengar itu bulu kuduk Alesha berdiri. Angin malam yang menyapu tubuhnya masuk menyeruak ke dalam kulit. Alesha mendadak kedinginan.


Zafran menggeleng. Sepertinya menjahili Alesha menjadi salah satu hobi barunya saat ini.


"Nanti, tunggu jam 12 malam."


Alesha menoleh cepat ke arah Zafran. "Kok-"


"Karna kita mau semedi dulu,"


Alesha melotot. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Cewek itu langsung menutup matanya dan menangis.


"Huaa Zafran.. mau pulang!!"


Zafran terkejut melihat Alesha yang tiba-tiba menangis. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.


"Ayo pulang!" teriak Alesha.


Zafran merasa bersalah. Sekarang dia bingung bagaimana caranya agar Alesha berhenti menangis.


"Maaf-maaf, gue bercanda." Zafran membujuk Alesha dengan memegang kedua tangannya.


Alesha menghempaskan tangan Zafran, ia masih saja mengeluarkan air mata.


"Gak lucu."


"Katanya lo gak takut,"


Alesha menurunkan keduanya tangannya. Ia menatap tajam Zafran. "Iya, gue takut, kenapa?"


Zafran tersenyum. Cowok itu menarik Alesha ke dalam pelukannya. "Maaf, gue cuma jahilin lo."


Alesha memeluk Zafran erat. Dia semakin mengeraskan tangisnya. "Lo jahat!"


Zafran terkekeh. "Lo tenang aja, gue di sini."


Alesha menghentikan tangisnya, ia tersenyum sambil mencubit perut Zafran.


"Awh," ringis Zafran. Alesha melepaskan pelukannya. Dia mengusap air matanya.


"Sakit!" kesal Zafran.

__ADS_1


Alesha menjulurkan lidahnya. Zafran pun tertawa melihat wajah Alesha yang terlihat manis di balik cahaya.


"Liat ke atas."


Alesha menatap Zafran sebentar, lalu melihat ke atas langit seperti yang diucapkan Zafran.


"Tiga,"


"Dua,"


Zafran mulai menghitung. Alesha senantiasa menatap ke atas langit. Berharap melihat bintang jatuh agar ia bisa menyampaikan keinginannya.


"Satu,"


Cup


Alesha melotot. Ia segera menoleh ke arah Zafran. Cowok itu tersenyum puas tanpa membalas tatapan Alesha. Sedangkan pipi Alesha sudah memerah seperti tomat.


"Zafran, ih!" Alesha memukul lengan Zafran. Cowok itu tertawa lepas. Begitu juga dengan Alesha, cewek itu mengembangkan senyum. Dia mengalihkan wajahnya malu-malu.


Zafran menjulurkan telunjuknya ke atas langit. Kembang api yang sudah ia siapkan diluncurkan ke atas langit. Langit yang hitam dihiasi bunga api yang cantik.


Mata Alesha berbinar. Ia menutup mulutnya kagum, tak menyangka jika ia akan melihat pemandangan yang begitu indah di atas bukit ini.


"Wah, cantiknya."


Zafran mendekati Alesha. Cowok itu merangkul pundaknya.


"Lo suka?"


Alesha mengangguk beberapa kali. "Gue suka,"


"Syukurlah,"


"Ini semua lo yang nyiapin?" tanya Alesha tanpa menoleh.


"Hm,"


Alesha memandang Zafran. Cowok itu juga memperhatikan wajah cantik Alesha. Alesha menarik sudut bibirnya membentuk senyuman lebar.


"Makasih Zafran,"


Zafran membalasnya dengan senyuman. Kemudian ia menganggukkan kepalanya.


"Alesha," cewek itu menaikkan satu alisnya menunggu kelanjutan ucapan Zafran.


"Gue tau kita nikah tanpa cinta, tapi gue harap ini adalah pernikahan pertama dan terakhir gue."


Alesha mendengarkannya dengan baik.


"Gue gak tau bagaimana cara agar gue jatuh cinta sama lo, tapi kata Mama, semakin kita terbiasa, kita pasti akan saling jatuh cinta,"


"Jadi, apakah lo mau buka hati untuk gue?"


Alesha tak bisa menahan senyumnya. Dia memang ragu apakah bisa mencintai seorang Zafran atau tidak, tapi tidak ada salahnya jika dia membuka hati untuk suaminya. Karna tujuan Alesha sama dengan Zafran.


Menikah sekali dalam seumur hidup. Meski pernikahan mereka tercipta karna adanya perjodohan.


Alesha pun mengangguk setuju. "Gue mau,"


Zafran mengembangkan senyum. Lantas ia memeluk Alesha. Cewek itu pun membalas pelukan Zafran. Kembang api kedua diletuskan, Alesha melepaskan pelukannya dan melihat namanya berada di atas langit.


**Alesha Bulan Delona


Terima Kasih**


Alesha menatap Zafran. "Terima kasih untuk?"


"Untuk hati yang udah lo buka,"


Zafran menangkup kedua pipinya. Lalu ia mencium bibir ranum Alesha dengan kasih sayang. Alesha terkejut, tapi ciuman Zafran yang lembut membuat Alesha terhanyut ke dalamnya.


Zafran melepaskan ciuman setelah lama mencium bibir Alesha. Mereka berdua saling tatap hingga akhirnya saling mengalingkan wajah dan menahan senyum malu.


Alesha menggigit bibir bawahnya. Perutnya seakan dipenuhi kupu-kupu. Hatinya berdesir bagaikan ombak yang menyapu persisir pantai.


"Mau pulang?"


"I-iya," jawa Alesha gugup. Dia berlalu masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.


Zafran mengatur napasnya sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam mobil sebelum akhirnya kembali ke Villa.


...***...

__ADS_1


Jangan lupa bersyukur hari ini ✨


__ADS_2