
Keadaan Nana semakin membaik. Meski sedikit luka, kini Nana sudah bisa menjenguk mamanya yang masih belum sadarkan diri.
Ia memegangi tangan yang mulai keriput. Menggenggamnya erat. "Ma, bangun. Maafin Nana yang sudah buat Mama kayak gini."
"Ucapan adalah do'a. Nana sudah mengucapkan kalimat yang menjadi boomerang bagi Nana."
"Maaf ya, Ma," air mata itu menumpuk di kantong mata Perlahan mulai mengalir. Membasahi pipinya yang mulus.
Kedua lelaki memandang pemandangan yang penuh haru. Hati mereka terketuk. Hanya salah satu dari mereka yang beranjak berdiri, menghampiri gadis yang terlihat sangat lemah.
"Sabar, Na. Mungkin ini peringatan dari Tuhan. Lo harus menjalani kehidupan yang lebih baik. Berdo'a, niscaya Tuhan pasti akan mengabulkan."
"Peringatan apa, Vin?" lirihnya. Dia menatap Gavin. Air matanya luruh.
"Ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya, tapi, lo perlu tau dan menerima kenyataan bahwa Alesha itu sudah menjadi istri Zafran, dan lo nggak akan bisa masuk ke dalam lingkaran hidup mereka." Jelas Gavin.
Nana menatap Gavin dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Berhenti bohongi diri lo sendiri. Gue tau lo nggak mau melakukan hal ini kan? Cukup, Na. Gue minta lo berhenti lakukan apapun untuk orang lain yang membahayakan diri lo," kini ucapan Gavin membuat Nana terdiam membisu.
Dia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. "A-apa maksud lo? Gue nggak tau, Vin."
"Perusahaan lo hampir bangkrut, kan?"
Pernyataan apa ini? Zafran yang tadinya hanya menyimak mulai mengerutkan keningnya. Dia terkejut.
Perusahaan Nana? Bangkrut? Itu adalah sebuah kemustahilan. Karna perusahaan Nana itu berkembang sangat pesat. Tidak mudah jatuh.
Tapi melihat Nana membisu, itu menandakan sebuah jawaban.
Gavin menarik sudut bibirnya. "Gue tau semuanya, Na."
"Apa maksud lo, Vin?" Zafran mendekat.
Kedua tangannya menyilang di depan dada. "Zafran, lo tau kenapa Nana balik ke Indonesia?"
Zafran menggeleng.
"Karna perusahaannya bangkrut. Papa dan Mamanya buka usaha kecil-kecilan yang tidak kita ketahui. Papa Nana nggak pernah jenguk ke sini, dan meminta kita yang temani karna beliau bekerja dari pagi hingga malam untuk biaya rumah sakit."
Air mata Nana semakin mengalir dengan derasnya. Hatinya mencelos begitu saja. Tidak ada yang salah dengan perkataan Gavin.
"Gue kecewa sama lo, Na." Terang Gavin.
"Selama ini lo anggap gue apa? Sahabat? Kalau lo anggap gue sahabat, lo seharusnya terus terang. Gue bakalan bantu lo semampu gue."
"Andai saja lo bilang dari awal, semua ini nggak akan terjadi, Na. Lo nggak akan menjadi kambing hitamnya."
Zafran menarik bahu Gavin untuk menghadapnya. "Maksud lo, Vin? Siapa orang yang lo maksud? Apa dia..," Zafran memelankan suaranya. "Alesha?"
Gavin menggeleng. "Jangan pernah lo fitnah istri lo, Zaf. Dia nggak salah apapun. Jangan gampang percaya lo jadi orang!" geramnya.
"Tujuan dia lakuin ini karna dia mau hubungan lo sama Alesha rusak."
Tangan Zafran terkepal kuat. Rahangnya mengeras. Dia menatap Nana tajam.
__ADS_1
"Dan dia yang sudah menyuruh Nana melakukan hal-hal yang buat hubungan kalian renggang."
Kerutan di kening Zafran mulaj memudar. Dia menatap Gavin.
"Siapa?"
Gavin menarik sudut bibirnya. Dia mengambil laptop. "Lo harus lihat video ini."
***
Alesha mengusap dagunya. Dia menatap beberapa baju yang akan digunakan untuk photoshoot. "Pakai baju yang mana, ya?"
Berbagai dress yang khusus disiapkan Zafran untuk Alesha jika sewaktu-waktu ada acara penting telah terpampang rapi di dalam lemari.
Semua design dirancang begitu apik. Hingga Alesha tak sanggup jika hanya memilih satu diantara mereka. Alesha ingin memakai semua. Keelokan yang tercipta membuat mata Alesha disuguhkan padangan yang indah.
Siapapun yang akan menggunakan drees tersebut akan berubah menjadi seorang putri.
"Gue bingung, ih!!"
Alesha mengacak rambutnya. Dia bingung memilih yang mana.
"Apa gue pakai yang merah aja, ya?"
Sepertinya pilihannya ada di dress berwarna merah merekah.
"Kayaknya bakalan cocok sama warna lipstik keluaran terbaru."
Akhirnya, Alesha memilih dress berwarna merah. Hanya mengenakan bajunya saja sudah terlihat seperti seorang princess, apalagi jika ditambah makeup natural? Pasti siapapun yang melihatnya akan terpesona.
Alesha mengoleskan makeup tipis ke wajahnya supaya terlihat segar. Menambah lipstik merah yang sama seperti dress.
"Okey, done."
Alesha meraih tasnya. Semua persiapan sudah selesai, kinu dirinya tinggal memesan grab dan berangkat ke lokasi.
Menatap layar hp, hatinya sedikit sakit. Berharap pada ekspetasi memang menyakitkan.
"Lo beneran nggak jemput gue, ya?"
"Lo nggak mau pulang?"
"Lo nggak rindu rumah?"
Berbagai pertanyaan ia lontarkan pada sosok yang ada di gambar layar ponsel. Seseorang yang sudah dua hari tidak bertemu dengannya. Seseorang yang ia mintai penjelasan.
Seseorang yang ia rindukan. Dia.. membuat Alesha menjadi seorang wanita yang kuat. Kuat mengahadapi cobaan rumah tangga di usia dini.
"Apa lo nggak rindu sama gue?"
Sebuah tangan melingkar di perut rata Alesha. Alesha terkejut bukan main. Bola matanya hampir saja terlepas dari sarang.
"Maaf," satu kata dari suara seseorang yang sangat Alesha rindukan.
Dia memeluknya. Dia menyembunyikan wajah di ceruk leher Alesha.
__ADS_1
Sebuah pelukan itu membuat Alesha tersengat listrik tegangan tinggi. Jantungnya berdetaj lebih kencang. Perutnya dipenuhi kupu-kupu yang berterbangan.
"Z-zafran?"
Lehernya terasa basah. Air merembas membahasi drees merahnya.
"Maafin gue, Sha."
Zafran? Nangis?
"Maaf karna gue nggak percaya sama lo,"
Mata Alesha dipenuhi genangan air. Zafran semakin mengeratkan pelukannya. Alesha meneteskan air mata.
Alesha menyentuh punggung tangan Zafran. "Seharusnya gue yang minta maaf, gue egois nggak mau dengerin penjelasan lo."
Zafran melepas pelukannya. Dia membalikkan badan Alesha. Zafran menggelengkan kepala. Dia mengelus kedua pipinya, menghapus air mata yang mengalir.
"Lo nggak salah, gue yang salah."
Alesha menggeleng cepat. "Gue yang-"
Zafran menghentikan ucapan Alesha. Jarinya menyentuh bibir ranumnya.
"Stt, jangan saling merasa bersalah, lebih baik kita perbaiki semuanya, Sha."
Alesha sesenggukan. Dia menganggukkan kepalanya beberapa kali.
Zafran menarik sudut bibirnya. Dia menyatukan keningnya dengan kening Alesha.
"Lo mau maafin gue?"
Alesha mengangguk.
Sebuah senyuman terpatri di bibirnya. Lantas, ia mencium kening Alesha dengan sayang.
"I love you, Sayang."
Pipi Alesha bersemu merah Wajahnya terasa panas. Gelanyar aneh menyengat tubuhnya. Cewek itu menutup wajah. Dia tersipu malu.
Zafran terkekeh pelan. Dia menyingkirkan tangan Alesha yang menutupi wajah cantiknya.
"Hari ini lo cantik,"
Alesha menyunggingkan senyum. "Hari ini kan ada jadwal photosoot,"
Zafran manggut-manggut. "Batalkan!"
Alesha mengerutkan keningnya. "Batalkan? Kenapa?"
"Because i need you now." Zafran mengusap bibirnya ranum Alesha.
Lagi-lagi pipi Alesha bersemu merah seperti kepiting rebus.
"Are you ready?"
__ADS_1
Alesha menundukkan kepalanya. Oh astaga, dia sangat malu sekarang. Tapi kemudian, cewek itu menganggukkan kepalanya sekali.
"Ready."