
Serahkan surat cerai kalian!
Kalimat itu terdengar begitu menusuk jantung Zafran yang paling dalam. Ini yang Zafran takutkan. Inilah yang Zafran tidak suka. Ketika ada seseorang yang berani-beraninya mencampuri urusannya.
Jangan kalian pikir, sosok iblis api bisa bermain-main dengan Zafran. Tidak taukah dia jika ada api yang lebih murni dari api neraka? Api dari seorang iblis akan kalah dengan api suci dewa matahari.
Semakin ditiup kencang oleh angin, api itu akan semakin membesar. Sama halnya dengan ancamannya, semakin dia mengancam, semakin pula Zafran tertantang. Sekali mencari masalah, Zafran tidak akan semudah itu melepaskannya.
Miliknya tidak boleh di sentuh ataupun disakiti siapapun!
Semua orang menatap Zafran khawatir. Namun, yang ditatap malah menghembuskan napas tenang, duduk bersandar di kursi sembari memainkan kuku-kukunya yang panjang.
"Si Zafran masih sehat, kan?" gumam Ferdi yang lagi-lagi mendapat jitakan sayang dari Laka.
"Bisa diem gak lo?"
Ferdi menggeleng. "Enggak." Laka menjitaknya dengan keras.
Ferdi mengaduh kesakitan. Dia menutup mulutnya untuk diam.
Zafran mengusap rambutnya ke atas. Dia menyilangkan kaki kanannya. Sudut bibirnya tertarik. "Baiklah,"
Jawaban Zafran membuat semua orang melotot. Bisa-bisanya cowok itu menyetujui permintaan iblis.
"Zafran!!" Nana berteriak pelan.
"Lo emang brengs*k!" umpat Gavin.
Zafran hanya tersenyum seraya mengangguk. "Besok, akan gue urus suratnya."
Sedangkan seseorang di balik telepon tak menyangka Zafran akan menyetujui persyaratannya tanpa emosi.
Apa mungkin karna dia benar-benar ingin Alesha selamat, atau hanya akan mempermainkan syaratnya? Zafran pikir, dia main-main dengan ancamannya?
Zafran pikir dia bisa ditipu? Zafran memilki akal licik. Tapi dia tidak akan tertipu. Dia terkekeh pelan seraya menatap seorang gadis yang tertidur lelap di sebuah kamar.
"Kenapa besok? Sekarang dong," katanya.
Zafran mengerutkan keningnya. Dia menghela napas panjang. "Oke, gue urus hari ini." Jawabnya enteng.
Dia tersenyum lebar. Kemudian mematikan telepon sepihak.
"ZAFRAN!! LO GILA?!"
Zafran mempar ponselnya hingga pecah.
__ADS_1
Zafran menatap Nana. Alisnya menyatu.. "Lo pikir gue mau turuti permintaan iblis?" Zafran berdiri. Dia menatap nyalang Nana.
"Ini semua gara-gara lo!" dia mengarahkan telunjuknya padanya.
Gavin berinisiatif memundurkan tubuh Nana. Dia akan maju paling depan melindungi Nana dari mara bahaya. Gavin menghempaskan tangan Zafran. "Jaga sikap lo," Gavin melirik Mama Nana di belakang.
Zafran berdecak. Dia memelankan suaranya. Kakinya ia majukan selangkah. "Kalau lo gak berbuat aneh-aneh, istri gue nggak akan kenapa-kenapa. Kita akan bahagia."
"Kebahagiaan gue, semua lo ambil. Kurang puas?"
Nana menggeleng tak percaya. Dia menutup mulutnya.
"Kalau sampe ada lecet sedikit saja di tubuh istri gue, selamanya kita akan musuhan!"
"Lo sama Gavin, kalian berdua sama!" ketua Zafran. Emosinya sudah diujung tanduk. Masa lalu memang masa lalu. Tetapi jika masa lalu datang menghancurkan masa depan, bukankah itu bisa dikatakan sebagai perusak?
Zafran membenci Nana yang telah menghancurkan persahabatan mereka. Dan dia semakin membenci Nana setelah dia berusaha menghancurkan rumah tangganya.
Apanya yang bisa dikembalikan? Tidak ada. Jangan harap mereka bisa balik menjadi sahabat lagi. Karna yang namanya sahabat tidak akan berbuat bodoh sampai seperti ini.
Zafran menepuk pundak Laka dan Ferdi. "Kita pergi,"
Mereka berdua berlalu mengekori ke mana perginya Zafran. Cowok itu membungkuk sedikit saat melewati Mama Nana yang sudah mengeluarkan air mata. Dia meratapi nasib Zafran yang begitu beratnya.
"Maafkan tante, Zafran." Air matanya yang mengalir tak akan Zafran lihat. Karna cowok itu berlalu tanpa meliriknya.
Zafran tidak menyalahkan Mama Nana. Karna semua kesalahan tidak ada yang patut disalahkan. Kesalahan bisa terjadi kapan pun, di mana pun, dan pada siapa pun. Masalah datang dari Allah.
Allah tidak akan memberikan cobaan bagi hamba-Nya, karna Allah tau, hamba-Nya pasti kuat dan bisa melewati semua cobaan yang ada.
Zafran yakin, hikmah yang dapat diambil setelah permasalahan ini akan selalu menjadi pelajaran paling berharga.
Zafran akan menyelesaikan permasalahan ini dengan cepat. Memperbaiki semuanya dan tidak akan membiarkan siapapun mencampuri urusannya.
Zafran keluar ruangan. Dia menutup pintu. "Laka, Ferdi.."
Laka dan Ferdi menatap serius punggung Zafran.
"Gue minta tolong sama kalian."
Ferdi dan Laka sontak mengangguk. "Ngomong aja, kita siap bantu lo." Jawab Ferdi tegas dan bijaksana. Dia tau di mana ia harus menempatkan keseriusan dan juga kelawakan.
Serius saat serius. Dan bercanda saat waktunya bercanda.
Zafran berhenti. Dia berbalik menatap kedua sahabat sejatinya. Lalu menyerahkan ponsel yang ia simpan.
__ADS_1
"Datang ke lokasi ini bersama beberapa polisi, gue akan ke tempat lain untuk menyelesaikan sesuatu."
Mereka menganggukkan kepala. Tau apa yang direncakan oleh Zafran.
Zafran meninggalkan ponsel rahasia kepada Ferdi dan Laka. Hanya mereka berdua yang dapat Zafran percaya. Ingat, hanya mereka berdua.
Zafran tidak akan mempercayai penyelesaian permasalahan ini kepada Nana ataupun Gavin. Mengingat jika Nana pernah bekerja sama dengan iblis itu, dan Gavin menaruh hati pada Nana.
Lima puluh persen kemungkinannya, mereka akan mengkhianati kepercayaan Zafran. Zafran tidak akan melakukan kesalahan kedua kali.
Zafran berjalan dengan langkah besar. Setiap langkah mencerminkan kepribadian seorang yang sangat berwibawa meski hanya dengan berpakaian seragam sekolah.
Zafran menombol nomor Seto- sekertaris kepercayaannya.
"Pak Seto.."
"Iya, Tuan muda? Ada yang perlu saya bantu?"
"Putuskan kontrak kerja sama Aura Grup sekarang!" perintah Zafran tak dapat di bantah.
Seto bingung kenapa tiba-tiba Zafran meminta pemutusan kontra kerja sama dengan perusahan besar yang sekarang sedang naik daun setelah bekerja sama dengan perusahaan Zafran.
Tapi, Seto tidak berani membantah. Tugasnya hanya membantu tugas Ceo sementara sebelum Zafran benar-benar resmi menjadi Ceo. Tugas keduanya adalah menuruti semua permintaan Zafran.
"Baik akan saya lakukan."
"Jangan lupa meminta ganti rugi 2 Miliyar."
Seto mendelik. Apa maksudnya meminta ganti rugi? Aura Grup tidak pernah berhutang pada perusahaan mereka.
"Mohon maaf, maksud Tuan muda?"
"Saya kirimkan dokumennya. Hari ini, saya ingin mendengar kabar kebangkrutan mereka. Tidak ada yang lain, dan jangan lupa untuk membuat pernyataan resmi."
"Pernyataan apa, Tuan muda?"
"Pernyataan jika Zafran Van Detrash resmi menjadi pewaris perusahaan, dan..." Zafran menggantung ucapannya.
Seto tidak bisa menahan kebahagiaannya. Akhirnya, Zafran akan menjadi pemilik perusahaan seutuhnya. Awalnya Zafran hanya ingin menjadi Ceo saja, tapi ternyata, dia ingin naik pangkat menjadi pemilik resmi.
Seto mengelus dadanya. Akhirnya perusahaan mereka akan semakin maju di tangan Zafran. Seto memang tak bisa sebaik Zafran dalam memimpin perusahaan, tapi apa yang selama ini Seto lakukan sudah membuat Zafran bangga.
"Dan...?" Seto penasaran dengan kelanjutan ucapan Zafran.
"Publikasikan pernikahanku bersama Alesha."
__ADS_1