Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
40. Back To Home


__ADS_3

Cowok itu menyeret koper ke dalam rumah dengan wajah sedikit takut. Dari punggung gadis yang ada di depannya ini, cewek itu terlihat sedang memendam dendam yang amat dalam.


Zafran yang sakit, tapi dia juga yang harus berupaya menggeret koper baju miliknya sendiri. Mana bajunya tidak sedikit, padahal ia hanya menginap tiga hari, tapi istrinya membawakannya baju segudang.


"Pak, kopernya taruh di bawah saja, ya. Nanti biar suami saya yang bawa ke dalam rumah sendiri."


"Sha?" Alesha melirik Zafran dengan senyuman. "T-tapi kan, gue baru aja keluar dari-"


"Taksi?" tebak Alesha. "Iya gue tau lo baru aja keluar dari taksi dan gak mau nyusahin Pak sopir. Makanya gue bantuin ngomong."


Setiap kata yang keluar dari bibirnya seperti belati yang terbang keluar menusuk jantung Zafran.


"Jadi bagaimana? Cukup saya letakkan di sini?" supir taksi tersebut meletakkan di jalan.


"Iya, terima kasih telah mengantar kami ya, Pak. Ongkosnya minta aja sama laki-laki ini." Alesha menepuk pundak Zafran beberapa kali dengan penuh penekanan sampai cowok itu hampir terjengkang ke belakang.


Zafran mendengus pasrah. Ia harus menguatkan diri untuk menggeret kopernya.


Ketika Alesha berbalik, di situlah pria yang terkenal bad boy ini menegang. Dibalik senyumnya yang menawan terdapat emosi yang tertahan.


Cewek itu melangkah mendekat. Ia membelai pipi Zafran. Tubuhnya berdesir. Bukan desiran kebahagiaan, melainkan desiran listrik tegangan tinggi yang bisa membuatnya mati detik itu juga.


"Sha, jangan deket-deket. Lo nakutin kalau lagi ngamuk." Cowok itu merinding.


Alesha melebarkan matanya. Ia manggut-manggut. Lalu menepuk pipi Zafran sedikit keras beberapa kali. "Kalau sampe lo macem-macem sama si Nana," cewek itu menempelkan hidungnya pada hidung Zafran.


"Gue potong seluruh badan lo!"


...***...


Gavin memotong motor Zafran. Cowok itu tak sempat menarik rem sehingga ia menabrak motor Gavin.


"Bangs*t! Mau lo apa, hah?"


Gavin segera turun dari motor. Ia menarik paksa Zafran dan menendang motor Zafran dengan keras. Zafran menghempaskan lengan Gavin. "Apa-apaan lo bangs*t!"


Gavin tak bersuara. Ia membogem wajah Zafran mentah-mentah. Cowok itu menghajar Zafran yang baru saja keluar rumah sakit tanpa berbincang sama sekali.


Zafran menahan serangan Gavin sekuat tenaga. Meski ia baru saja sembuh, tapi tenaganya masih sangat kuat. Ia memegang kepalan Gavin. Zafran menendang perut Gavin.

__ADS_1


"Jangan seenaknya nyerang lo!"


Gavin menatapnya tajam. Ia bangkit dari jatuhnya. Tanpa menjawab, cowok itu terus saja mendesak dan menghajar Zafran tanpa mengungkapkan permasalahannya.


"Ck, lo emang minta mati ya, Vin!"


Zafran tak bisa memaafkan sikap Gavin yang sembarangan seperti ini. Meski mereka bertengkar di luar sekolah, tetap saja mereka menjadi pusat perhatian dan tak ada siapapun yang berani memisahkan keduanya.


Cowok itu menangkis serangan samping kaki Gavin. Matanya seperti elang. Mencari dan memfokuskan perhatiannya pada tangan dan kaki cowok itu. Menatap jeli setiap pergerakan dan membaca serangan tubi-tubi cowok itu.


"Nana?" tebak Zafran ditengah-tengah perdebatan mereka.


Gavin menarik sudut bibirnya. Ia mengangguk sekali. Zafran terkekeh. Cowok itu menghajarnya demi wanita murahan yang membahayakan nyawanya yang ingin merebut suami orang?


Sangat tidak berakal.


"Pelakor lo dukung?"


Gavin merubah mimiknya. Ia mengeraskan rahangnya. Wajahnya memerah menahan emosi. "Jaga omongan lo, Zafran!" teriak Gavin.


Gavin melompat, ia berputar diri seraya menendang wajah Zafran dengan sangat keras. Zafran langsung terjatuh di lantai. Sudut bibirnya sobek. Tulang pipinya membiru.


Zafran tidak akan pernah menarik kata-kata tersebut, karna itu memang apa adanya. Gavin saja yang tidak tau keburukan Nana. Jika saja Zafran tidak mendengar suara Nana yang sedang berusaha menggodanya saat ia masih pingsan, hal ini tidak akan terjadi.


Jujur saja, Gavin tidak ingin memulai perdebatannya dengan Zafran jika cowok itu tidak memancing permasalahan. Zafran membalikkan badan Gavin, ia meludahi wajah Gavin setelah itu dia meninju, membogem dan memukul hidung Gavin sampai hidungnya mengeluarkan darah segar.


"Lo kalau gak tau apa-apa, gak usah sok jadi pembela!"


"Lo yang gak tau apa-apa!"


Gavin kembali membalikkan tubuh Zafran. Ia kembali menghajar Zafran. "Kalau lo gak punya bukti apa-apa tentang Nana, jangan pernah lo cap dia cewek murahan. Karna Nana bukan orang yang seperti itu!"


"Lo goblok Vin. Jangankan gue, Alesha sama Martha juga denger sendiri apa yang Nana bilang ke gue."


Cowok itu menghentikan tinjunya di depan hidung Zafran. Matanya berkedip cepat. "Apa kata lo?"


Zafran mendorong tubuh Gavin untuk menjauh darinya. Kedua menarik napas dalam. Napas mereka berdua ngos-ngosan setelah perdebatan.


Zafran menoleh pada beberapa siswa yang berdiri tak jauh dari mereka. Ia melepas sepatunya, ia melemparkan sepatunya di wajah salah satu mereka.

__ADS_1


"Liat apa lo? Pergi sebelum gue patahin leher kalian!"


Mendengar amukan Zafran, mereka pun bubar bersama satpam yang juga ikut menonton. Zafran kembali menatap Gavin, cowok itu mengusap mimisannya yang masih keluar.


Zafran berdecak. Ia melemparkan sapu tangan. "Bocah kayak lo gak cocok adu mekanik sama gue. Gampang mimisan!"


"Diem lo!"


Zafran menarik napasnya. Ia memejamkan matanya sejenak sembari menumpu badannya menghadap langit cerah.


"Gue gak bohong, Vin. Gue denger dari mulut Nana sendiri. Dia datang untuk kembali ke gue."


Zafran menatap Gavin. "Lo juga tau, gue gak pernah sekalipun cinta sama Nana. Karna gue lebih pentingin sahabat gue. Tapi ternyata, cewek itu yang udah pisahin gue sama sahabat brengsek yang bucin sama dia."


Gavin memutar bola matanya malas. Keduanya berangsur-angsur tenang.


"Gue tau lo bela Nana, tapi ya sorry, gue gak akan biarin dia hancurin kehidupan gue untuk kedua kalinya," gumam Zafran. Cowok itu berdiri.


Gavin tak membalas perkataan Zafran. Bagi Gavin, dia yang lebih tau semua tentang Nana. Tentang tujuannya kemari. Walaupun Gavin tak suka apa maksud Nana datang dan ingin mendekati Zafran karna sesuatu, tapi Gavin tau itu yang terbaik untuk mereka.


Nana ingin menyatukan Gavin dan Zafran.


Lo salah paham. Nana baik karna mau nyatuin lo sama gue.


"Fran," sahut Gavin membuat Zafran berhenti dan menoleh.


"Bukan Nana."


Zafran mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti apa maksud Gavin. "Maksud lo?"


Gavin menyeka darah di sudut bibirnya dan juga darah mimisannya menggunakan sapu tangan yang diberikan Zafran. Ia mengembangkan senyumnya. Lantas cowok itu beranjak berdiri tanpa membersihkan bajunya yang kotor.


"Gue gak suka basa-basi. Tapi gue akan buktikan niat Nana, dan apa yang seharusnya lo tau,"


"Setelah itu, akan gue pastikan lo minta maaf sama dia,"


"Gue gak akan ikut campur permasalahan keluarga lo, tapi kalau Nana memang berniat merebut lo dari Alesha. Biarin gue yang bertindak."


...***...

__ADS_1


__ADS_2