Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
19. Having Fun


__ADS_3

Dia turun dari taksi. Tak lupa membuka payungnya saat keluar, karna sekarang hujan sedang turun. Sebelum pergi masuk ke Mall, ia membayar jumlah uang yang harus dibayar pada supir taksi.


"Makasih, Pak."


Setelah itu, ia berjalan cepat ke arah seorang gadis cantik yang sedang melambaikan tangannya.


"Sini, Sha." Senyum Martha mengembang.


Alesha tiba di area Mall. Ia menutup payungnya kembali. Lalu melangkah pergi masuk ke dalam.


"Gue udah beli dua tiket," kata Martha.


Alesha menggandeng tangan Martha. "Jadwalnya jam berapa?"


"Lima menit lagi dari sekarang,"


"Yok masuk."


...***...


Wajahnya pucat pasi. Seluruh badannya gemetaran menahan dingin. Air hujan yang turun mengenai tubuhnya tak henti-henti. Ia menggigil sampai bibirnya berubah kebiruan.


"Alesha, lo ke mana?" lirihnya dengan bibir gemetar.


Zafran bersin. Dia semakin mengeratkan pelukannya sendiri. Berharap bahwa hujan akan reda dan Alesha lekas pulang memberikan tangganya. Cowok itu benar-benar tidak kuat lagi.


Dia sudah menunggu di sana dua jam lamanya. Tapi tak ada siapapun yang datang menolongnya. Di saat seperti ini, Ferdi dan Laka pun tak ada untuknya. Di mana mereka berdua?


Biasanya mereka selalu wira wiri di rumah Zafran, tapi saat ini bahkan mereka tak memunculkan wajahnya.


Hujan reda sedikit demi sedikit, Zafran menidurkan dirinya ke samping seraya memeluk tubuhnya.


Hakciu!


"Sialan si Alesha,"


Di saat-saat lemah seperti ini, masih bisa ia menyumpahi serapah Alesha?


"Liat aja nanti, gue balas lo!"


...***...


"Argh!!"


Alesha menggigit tangannya ketakutan. Dadanya bergetar akibat sound yang keras. Napasnya sesak melihat adegan itu. Tenggorokannya tersekat saat tiba-tiba hantu muncul di depan layar seakan-akan itu nyata.


Begitu pula dengan Martha, ia memeluk Alesha dan tak berani membuka matanya lebar-lebar. Dia telah salah memesan tiket nonton, seharusnya mereka menonton film romace-comedy tapi Martha malah memesan tiket film horror.


Awalnya Alesha tak merasakan curiga, tapi setelah film itu tayang, barulah ia memarahi Martha. Mereka hanya bisa mendengus pasrah dan terpaksa melihat filmnya daripada harus membuang-buang uang.


"Alesha, gue takut."


"Lo yang ngajak, lo yang takut,"


"Tapi kan gue ngajaknya bukan nonton film beginian,"


"Siapa yang beli tiketnya?"


"Gue," tunjuk Martha pada dirinya sendiri.


Alesha menghembuskan napas pelan. "Udah terlanjur juga, nanggung nih masih ada dua puluh lima menit lagi."


Martha menyembunyikan wajahnya di lengan Alesha. Keduanya sama-sama takut, tapi Alesha masih memiliki sedikit keberanian untuk menonton adegan horror tersebut.


"Awas di belakang lo!" teriak Alesha. Di dalam bioskop menjadi heboh karna hantu berada tepat di belakang aktor. Dan saat aktor menoleh, hantu itu pun tersenyum mengerikan padanya.


"Huaa!!" Alesha sudah jelas mengantisipasi keterkejutan, tapi tetap saja ia masih kaget melihat adegan tersebut.

__ADS_1


Jantungnya semakin berdetak tak karuan, meski dia pertama kali menonton film horror di bioskop, dan itu pun karna kesalahan teknis, tapi Alesha cukup menikmatinya.


Dua puluh lima menit telah berlalu, Alesha dan Martha buru-buru keluar bioskop.


Martha bernapas lega. "Akhirnya kita keluar, gue ngerasa di penjara."


"Alay," ketus Alesha.


Martha terkekeh. "Mau ke mana?"


"Makan dulu deh, laper gue."


"Gimana kalau makan di KFC?"


"Boleh."


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pergi ke KFC.


...***...


Ferdi dan Laka masuk ke dalam rumah Zafran yang tak terkunci. Beberapa kali mereka menelpon Zafran tapi tak diangkat, namun saat mereka mencari tau di mana telepon tersebut, ternyata ada di rumahnya sendiri.


Tak biasanya Zafran tidak mengangkat telepon, padahal cowok itu akan mencak-mencak jika salah satu dari mereka menganggu kesibukannya.


"Zafran?" Ferdi berteriak kencang tak peduli jika dia akan mendapatkan amukan darinya.


"Nyet? Di mana lo?"


Laka menutup pintu rumah Zafran. Dia masuk ke dalam mengikuti langkah Ferdi. "Jangan berisik, sekarang di rumah ini bukan cuma ada Zafran, tapi juga istrinya Zafran." Tegurnya.


"Santai aja, Alesha gak bakal gigit gue kalau gue teriak,"


"Gak gigit, tapi bakalan nendang lo keluar."


Ferdi melirik tajam. Ia berdecih. "Sensi lo sama gue?"


"Zafran?" panggil Laka.


Ferdi menyilangkan kedua tangannya. "Padahal lo sendiri juga teriak!"


"Gue manggil, tapi gak teriak."


"Sama aja,"


"Laka.. Ferdi.."


Samar-samar mereka berdua mendengar suara lemah Zafran. Keduanya saling memandang. Mereka tak pernah mendengar suara Zafran yang lemah.


"Di mana lo, Nyet?"


Di sisi lain, Zafran sudah tidak kuat untuk membuka mulutnya mengeluarkan suara. Wajahnya benar-benar pucat dan matanya mulai buram.


Dia menarik napasnya panjang. Ia harus meminta bantuan Ferdi dan Laka. "Di belakang!" teriak Zafran sekencang mungkin.


Ferdi dan Laka tersenyum. Akhirnya mereka berdua tau di mana posisi Zafran. Keduanya berjalan ke belakang.


"Ternyata lo di si-"


Ferdi celingukan. Ia mengedarkan pandangannya keliling area belakang rumah Zafran, tapi ia tak melihat seorang pun berada di sana.


"Lah? Gak ada orang?"


Laka pun terheran-heran. Ia jelas mendengar bahwa Zafran mengatakan pada mereka, jika dia ada di belakang rumah. Tapi ternyata, mereka sama sekali tak menemukan keberadaannya.


"Laka?"


Laka mendengar seseorang memanggil namanya. Ia menoleh ke belakang. Namun, tak ada siapapun. Bulu kuduknya merinding. "Rumah Zafran kenapa jadi angker?"

__ADS_1


Sebuah benda kecil mengenai kepala Ferdi. Ferdi memegangi kepalanya dan langsung menoleh ke belakang. "Kurang ajar lo, Lak. Ngapain lo lempar gue anj!"


Laka yang tak tau apapun hanya melongo. "Ha? Gue lemparin lo? Dari tadi gue diem!"


"Diem dari mana?" Ferdi mengambil batu. "Ini apa?"


"Batu," sahut Laka santai.


"Lo yang lempar, kan?"


Laka menggeleng.


"Heh, gue yang lempar!"


Ferdi dan Laka menoleh. Mata mereka membola melihat keadaan Zafran yang menyedihkan.


"Zafran?"


Zafran tersenyum terharu. Akhirnya ia bisa tertolong.


"Sahabat-sahabat sejati gue, tolongin gue." Kata Zafran mengusap air mata buayanya.


...***...


Makanan pesanan mereka telah tiba, Martha dan Alesha makan sembari bersendau gurau.


"Hari ini lo masak apa, Sha?"


"Sayur bening jagung sama tempe goreng, kesukaannya Zafran."


Alesha juga memesankan satu bungkus paket ayam untuk Zafran. Meskipun ia kini makan dengan Martha, tapi tak lupa ia juga memesankan makanan untuk suaminya.


"Lo bisa masak?" tanya Martha heran.


"Bisa, sedikit. Karna gue tinggal sama bokap, jadi mau gak mau gue yang harus masak."


Martha manggut-manggut. Dia tersenyum bangga. Sahabatnya telah terlatih mandiri sejak kecil.


"Gue gak bisa masak,"


Alesha tersenyum. Ia menepuk-nepuk tangan Martha. "Jangan khawatir, nanti lo pasti bisa masak dengan sendirinya."


"Gue juga pengen bisa masak, lo mau gak ajarin gue?"


Alesha memegang dagu berpikir sejenak. "Kata Zafran, Gavin pinter dalam hal masak memasak. Gimana kalau lo minta ajarin Gavin aja?"


Martha mendelik. Ia memukul lengan Alesha. "Apa-apaan sih lo, Sha. Kenapa jadi bahas Gavin sih!"


Alesha terkekeh. "Rumornya sih lo bakalan jadian sama Gavin,"


"Sha!" Martha mengalingkan wajahnya malu.


Alesha semakin tertawa mengejek. "Cie.. Martha.."


"Mending lo cepet makan deh, nanti gue dimarahin Zafran lo makin kurus gara-gara main sama gue!"


"Gak lah, lagian Zafran juga-" Alesha menghentikan ucapannya. Sepertinya dia mengingat hal yang menganggu pikirannya. Tapi Alesha tak tau, apa yang mengganggunya.


"Zafran?" Alesha berkedip lambat.


"Kenapa, Sha?" tanya Martha.


Alesha membulatkan matanya sempurna. Dia menepuk jidatnya kuat.


"Ya ampun, Mar. Gue lupa kalau Zafran masih di genteng."


......***......

__ADS_1


__ADS_2