Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
21. Bukan Masakan Martha


__ADS_3

Martha menunggu jawaban telepon dari Alesha. Dia bergerak kesana-kemari tak tentu arah. Mondar mandir bagaikan permainan ular di ponselnya.


"Angkat, Sha!"


Martha melirik jam tangannya. Jika Alesha tak cepat mengangkat telepon dan segera memberikan jawaban, cewek itu pasti akan terkena masalah baru.


Telepon tak diangkat. Martha berdecak pelan. Ia menatap geram nama Alesha yang tertera di ponselnya.


"Gue langsung ke sana aja deh." Putusnya.


Dia buru-buru mengambil tasnya dan langsung pergi ke rumah Alesha.


...***...


Zafran menggeliat. Ia terbangun dari tidurnya ketika mencium aroma masakan yang lezat.


"Aromanya menggoda,"


Zafran berusaha bangkit meski kepalanya masih terasa sedikit pusing. Dia menyibakkan selimutnya lalu beranjak ke wastafel.


Zafran bergidik geli melihat wajahnya yang kusam dan kucel. Sudah dua hari ini dia belum membersihkan badannya.


Ia mencium ketiaknya. "Asem," katanya.


Cowok itu mengambil sikat, menggosok giginya. Kemudian Zafran mengambil handuk dan mandi dengan air hangat.


Di sisi lain, Alesha sedang menumis bumbu nasi goreng spesial untuk sarapannya. Sedangkan untuk sarapan Zafran, ia sudah memasakkan sayur bayam.


Karna Zafran masih belum sembuh total, Alesha harus memasak makanan sehat untuknya. Alesha tidak peduli jika ia makan makanan gorengan, yang penting dia kenyang.


Matanya melirik ponsel yang berdering, sedari tadi Martha menelponnya tapi, Alesha sengaja tak mengangkatnya. "Pasti bekal Gavin," Alesha geleng-geleng kepala.


Dia ingat jika hari ini harus menyiapkan bekal untuk Gavin. Padahal Gavin menyuruh Martha untuk memasaknya sendiri, tapi cewek itu tetap saja memintanya untuk memasakkan bekal.


Karna Alesha adalah sahabat yang baik dan suka menolong, maka Alesha memasak nasi goreng dalam porsi banyak. Jika Martha ke sini, ia akan mengajaknya ikut sarapan bersama.


Setelah selesai menggoreng nasi, ia menyiapkan beberapa makanan ke atas meja dan juga menyiapkan bekal untuk Gavin.


Cewek itu sudah mandi di pagi hari, lebih tepatnya waktu subuh. Tapi sekarang keringatnya bercucuran. Badannya gerah.


"Gerah," Alesha melepas celemeknya. AC rumahnya sedang rusak.


Alesha pun mencuci beberapa alat dapur yang kotor.


Zafran keluar kamar, ia berjalan ke dapur. Hidungnya menghirup dalam-dalam aroma makanan. Matanya berbinar ketika melihat beberapa makanan tersaji di atas meja.


"Sepertinya enak,"


Mata Zafran berkeliling, ia memandang Alesha yang sedang cuci piring, cowok itu berjalan ke arahnya.


Keringat memenuhi wajah serta leher Alesha. Zafran berkedip cepat, lalu ia mengembangkan senyum. Kemudian cowok itu memeluk Alesha dari belakang, membuat sang empunya terjingkat kaget dan menghentikan aktivitas cuci piringnya.


Alesha menoleh ke belakang. "Zafran!" tegurnya.


Zafran terkekeh, ia semakin mengeratkan pelukannya. "Lanjut aja,"


Alesha meneguk salivanya. Tubuhnya kaku seakan tersengat listrik tegangan tinggi. Apalagi saat ini Zafran menghirup aroma yang keluar dari tubuh Alesha dalam-dalam.


Zafran mendekatkan wajah di ceruk lehernya. Alesha merasakan geli. Ia sedikit menghindar tapi ditahan oleh Zafran.


"Geli, Zafran!"


Alesha tak bisa melanjutkan kegiatannya jika Zafran terus-terusan bermesraan dengannya.


"Gue masih harus cuci piring."

__ADS_1


"Yaudah lanjutkan," ucap Zafran masih setia bersembunyi di leher Alesha. Matanya terpejam erat menikmati momen langka ini.


Alesha mengembuskan napasnya panjang. Dia hanya bisa pasrah lalu melanjutkan cuci piring.


Zafran membuka mata, ia melepaskan pelukannya ketika mendengar suara ketukan pintu.


"Siapa?"


Alesha mengangkat bahu. "Nggak tau, buka pintunya."


Zafran berdecak pelan. Ia berjalan lesu menuju pintu. "Pengganggu!"


Alesha terkekeh.


Dengan kasar, Zafran membuka pintu. Seorang gadis tersenyum lebar dan melambaikan tangan pada Zafran.


"Pagi Zafran, Alesha mana?"


Tanpa permisi dan izin dari pemilik rumah, Martha masuk ke dalam rumah. Dia langsung menghampiri Alesha.


"Tamu kurang ajar." Umpat Zafran.


"Alesha, kenapa lo gak angkat telpon gue? Lo kan uda janji mau buatin gue-" Alesha menutup mulut Martha.


Ia menatap Zafran yang menatapnya curiga. Alesha tertawa pelan. "Lo udah dateng?"


Martha melepaskan tangan Alesha. "Yaudah lah, gue dateng karna lo gak angkat telpon gue!" kesalnya.


"Kebetulan gue masak banyak, lo mau sarapan? Sekalian gue bawain bekal, soalnya kalau siang, nasi goreng bakalan kaku, gue gak suka," Alesha menatap Zafran, "bolehkan, Zaf?"


Zafran mengangguk lalu duduk di kursi dengan tatapan malas.


Kini Martha mengerti maksud Alesha berkata demikian. "Oke, gue setuju."


Cewek itu duduk berhadapan dengan Zafran dan langsung menyedokkan beberapa centong nasi ke piringnya.


...***...


Martha menenteng bekal di lorong sekolah sambil berdeham. "Perut kenyang hati pun senang,"


Gadis itu melompat-lompat kecil. Wajahnya menampilkan senyum yang di penuhi kegembiraan. Bekal yang ia bawa pun bergoyang kesana-kemari.


"Mari semua, rakan dan taulan," Martha menyanyikan lagu Boria yang ia dengar dari kartun Upin-Ipin favoritnya.


"Boria suka-suka kami dendangkan,"


"Ini hanyalah, sekadar gurauan,"


"Untuk semua, sebagai hiburan,"


"Ewahh.."


Tanpa Martha sadari seorang Gavin berjalan di belakangnya. Cowok itu menatap ke depan. Kepalannya geleng-geleng melihat tingkah laku Martha yang sebenarnya. Saat berada di dekatnya, cewek itu bahkan tidak bisa berbicara dengan jelas, selalu saja gagap dan gugup.


Tapi nyatanya sekarang, ia bahkan kegirangan seperti telah mendapatkan uang jutaan dalam semalam.


"Untung aja Alesha bisa diandalkan."


Kening Gavin berkerut. Kupingnya sehat, dan jelas ia mendengar kata Alesha keluar dari mulut Martha.


Gavin penasaran, apa yang membuat Martha menyebut nama Alesha. Apa yang membuat Martha mengandalkan Alesha? Gavin tidak mau bertanya langsung. Yang bisa ia lakukan hanyalah menguping dari belakang.


"Kalau aja si tokek tau gue gak bisa masak, bisa berabe,"


"Tokek?" monolog Gavin. "Siapa tokek?"

__ADS_1


"Tau aja Alesha ,kalau gue butuh bekal."


Gavin melangkah lebih dekat beberapa sentimeter di belakang Martha. "Oh jadi, ini bekal dari Alesha?"


Martha refleks mengangguk. "Iyups, bekal spesial dari Alesha yang harus gue kasih ke-"


Martha menghentikan ucapannya saat ia menoleh, wajah Gavin tiba-tiba berada di dekatnya.


"G-gavin?"


Gavin mengangkat satu alisnya. "Jadi?"


Martha meneguk salivanya susah payah. Ia memejamkan mata seraya menggigit bibir bawahnya. "M-maksud gue, ini bekal spesial yang harus di kasih ke Zafran." Martha mengembangkan senyum lebar.


"Kenapa Alesha susah-susah buat bekal? Bukannya mereka tinggal bareng?"


Martha melebarkan matanya. Kini ia tak tau harus berbohong apalagi. "T-tadi Zafran berangkat dulu,"


Gavin manggut-manggut. Ia meraih tangan Martha lalu menariknya pergi.


"Loh, mau ke mana, Vin?"


"Zafran."


Martha mendelik sempurna. Ia tak menyangka jika Gavin akan membawanya ke Zafran.


Bodoh, Zafran kan sekelas sama gue. Kalau Gavin tau Zafran izin sakit, jadi tambah masalah. Argh! Kenapa sih?


Martha menggigit bibirnya. Bagaimana jika nanti Gavin marah? Martha harus memikirkan cara untuk mengelak. Dia harus cepat berpikir.


Gavin berhenti, Martha pun berhenti.


"Zafran mana?" tanya Gavin pada teman-teman sekelasnya.


"Zafran nggak datang, dia sakit," jawab Qia.


Mati gue! Martha memejamkan matanya erat.


"Makasih,"


Gavin melepaskan tangan Martha. Dia menyandarkan tubuh di tembok sembari menyilang dada. Salah satu kakinya bersilang.


"Bagaimana? Apakah ada penjelasan?"


Martha menggeleng pasrah.


"Mulai besok, lo yang harus siapin bekal buat gue sendiri."


Martha mendongak. Matanya melotot. "Tapi, Vin, gue gak bisa masak."


Gavin memajukan wajahnya. "Gue gak peduli!"


"Gak bisa ya hukumannya di ganti selain masak?"


Gavin menggeleng. "Kecuali,"


"Kecuali?" Martha mengulangi pernyataan Gavin.


"Kalau lo mau belajar masak sama gue."


Mulut Martha menganga lebar. "Belajar masak sama lo?"


Gavin mengangguk.


Martha menggeleng cepat. "Gak! Oke, mulai besok gue bakal siapin bekal sendiri. Tapi sekarang, lo sarapan ini dulu," Martha menyerahkan bekal nasi goreng pada Gavin. Lalu masuk ke dalam kelas dengan pikiran yang kosong.

__ADS_1


Gavin menerima bekal buatan Alesha dengan senang hati. Cowok itu menampilkan senyum smirk. "Cewek payah, padahal gue cuma permainkan lo,"


...***...


__ADS_2