
Perjalanan panjang itu membawa semua siswa dan siswi jurusan ipa di SMA Oscars dari Jakarta menuju ke kota Bandung. Hanya siswa ipa saja yang diperbolehkan ikut, karna mereka pergi dengan tujuan akan melakukan praktik penelitian tentang tumbuh-tumbuhan.
Sedangkan siswa ips, mereka mendapatkan praktik yang memfokuskan pada kegiatan sosial. Mereka tidak perlu pergi ke kota lain, hanya perlu ke sekitar sekolah saja untuk bersosialisasi.
Kurang lebih sekitar dua jam bis berkelana di jalan yang cukup ramai dan sedikit macet. Di dalam perjalanan pun, bis 1 tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali. Mereka tau etika dan tidak ingin mengganggu dua orang yang duduk pojok belakang kanan dan kiri.
Nampaknya mereka berdua tengah menahan amarah dalam diam.
Zafran dan Gavin.
Kedua orang itu duduk dengan tatapan tajam. Bukan kemauan mereka sendiri untuk duduk di pojok belakang, melainkan karna kuotanya hanya tinggal dua kursi itu saja.
Itu dikarenakan Zafran dan Gavin yang sempat berniat tidak ikut ujian praktik. Tapi setelah mengetahui jika dua wanita yang dekat dengan mereka menjadi satu kelompok, mereka khawatir dan memutuskan untuk berangkat membawa keperluan seadanya.
Saat bis mulai berangkat, mereka berdua baru sampai. Tidak banyak yang tau jika mereka berdua ternyata berpartisipasi.
"Jainab asem!" umpat Zafran pelan.
Ia berdecak kesal dan menyesal karna telah request kelompok. Jika saja cowok itu diam, mungkin Alesha dan Nana tidak akan satu kelompok dengannya. Zafran tidak akan bela-belain mengejar bu Jainab kala itu.
Matanya melirik ke arah Gavin. Cowok itu memejamkan matanya sembari mendengarkan musik sekencang mungkin.
"Menyusahkan," Zafran tak mau ambil pusing. Ia memposisikan tidurnya lalu memejamkan matanya.
Berbeda dengan bis 2. Bis yang tepat berada di belakang bis 1. Dimana orang-orang ekstrovert berkumpul jadi satu. Anak Ipa rasa Ips.
"Musik!!!" teriak Ferdi di kursi depan. Ia memegang mic sambil mengangkat satu telunjuknya ke atas.
"Perjalanan membawaku,"
"Bertemu denganmu, ku bertemu kamu,"
"Sepertimu yang kucari,"
"Konon aku juga seperti yang kau cari,"
Semua orang menyanyikan lagu sesuai alunan musik sambil melambaikan tangan. Mereka sangat menikmati perjalanan yang sangat menyenangkan.
Alesha dan Martha saling pandang. Mereka berdua menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri.
"Seru juga ya, Sha?"
Alesha mengangguk setuju. "Iya, sayang banget Zafran nggak ikut."
"Ikut," sahut Laka yang sedari tadi menundukkan kepalanya membaca novel Dia Acha yang ia pinjam dari Alesha.
"Ha?" pekik Alesha.
Laka tak menjawabnya lagi. Baginya, satu kata sudah cukup.
"Ikut kata lo?" ulang Alesha sekali lagi.
__ADS_1
Laka mengangguk sekali.
"Kata siapa?" tanya Martha.
Laka menghembuskan napas panjang. "Tuli gara-gara suara sendiri," sindirnya.
Beberapa kerutan muncul di dahi Martha. Ia mencebikkan bibirnya sebal. "Laka jelek!" ejeknya.
"Ngaca," sahut Laka.
"Anjir lo ya!!"
"Woy yang belakang," teriakan Ferdi membuat Martha dan Alesha menoleh, "berisik!" tegasnya menggunakan microfon.
"Lo yang berisik kaleng bekas!!"
Diantara mereka yang berbahagia, ada seseorang yang merengut sejak keberangkatan bis 2. Dia adalah Nana, cewek itu terburu-buru masuk bis karna hampir terlambat, dan tidak menyangka jika ia akan satu bis dengan perempuan yang membuatnya selalu panas.
"Tau gini gue bolos bareng Gavin."
***
Berbagai jenis dan tenda telah terpasang. Jika para cowok yang membuatkan tenda, semua akan teratasi dengan cepat dan mudah. Berbeda dengan cewek yang mengerjakannya sambil menggosip.
Lihat saja Martha dan Alesha, sejak lima belas menit yang lalu, mereka berdua masih dalam keadaan memasang pasak tenda. Sekali pukul, cerita, beberapa menit kemudian, memukul pasak dengan batu besar, dan kembali bercerita lagi. Selama lima belas menit mereka tetap dalam posisi yang sama.
"Lemotnya ya Allah," keduanya menoleh secara bersamaan kepada Firman yang menyeruput secangkir kopi di belakang mereka.
"Nggak usah banyak bacot, mending lo bantu kita, Fer," sahut Martha.
"Terus ngapain lo ke sini?" kini Alesha yang menyahut.
"Sengaja, mau ngejek." Kata Ferdi sejujur-jujurnya.
Alesha memutar bola matanya malas. Ia kembali memasak tenda. Sesekali ia melirik Nana, cewek itu sibuk mengajak bicara Zafran dan tidak mau membantu mereka.
Awalnya Alesha kaget saat mengetahui Zafran tiba-tiba berada di sana berbincang-bincang dengan Nana, karna awalnya dia membentaknya dan berkata tidak akan ikut. Tapi nyatanya, cowok itu sibuk dengan sahabat tercintanya.
"Fer, bantuin napa!!" Martha tak henti-hentinya meminta bantuan Ferdi.
"Oke, gue bantu," kini ucapan Ferdi mampu membuat Martha mengembangkan senyum tipis.
"Bantu do'a, hahaha..," setelah mengucapkan itu, ia lari secepat kilat. Meski kakinya tersandung batu dan hampir terjatuh ia tetap saja tertawa terbahak-bahak.
Hal itu membuat Zafran mengalihkan perhatian pada Ferdi. Ia melangkahkan kaki pergi, namun dicegah oleh Nana.
"Mau ke mana? Kita belum selesai bahas tugas praktik, Fran," katanya.
"Lebih baik lo bantuin istri gue buat tenda!" tegasnya dengan penuh penekanan pada pengucapan 'istri'.
Nana berdecak kesal. Tangannya dihempaskan begitu saja oleh Zafran. Cowok itu kini pergi menyusul Ferdi. Nana menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia melirik Alesha yang meliriknya tajam.
__ADS_1
"Jangan harap gue mau bantu dia," dengan kaki dihentak-hentakkan ia melangkah pergi ke arah Gavin. Gavin melihat itu semua, dan dia hanya menampilkan senyum smirk.
Di sisi lain, Laka menatap Ferdi yang masih setia tertawa keras. Ekor matanya melirik Zafran yang datang dengan tangan yang disembunyikan di sakunya.
Laka tau apa maksud Zafran, cowok itu berbalik dan masuk ke dalam tenda. Lebih baik ia melanjutkan bacaannya daripada terkena imbasnya.
"Fer?"
"Hm," Ferdi berdeham ditengah tawanya. Lalu ia menoleh dan terkejut. Zafran berada tepat di samping tubuhnya.
"Astaga," kagetnya. "Zafran, lo di sini?"
Zafran mengangguk. "Gue denger lo mau bantu istri gue, kok ada di sini?"
Ferdi meneguk ludahnya. Kemudian ia meletakkan cangkir ke meja kecil. Setelah itu ia menyunggingkan senyum lebar.
"Ini mau bantu. Kan nggak mungkin gue bantu sambil bawa cangkir."
Zafran menganggukkan kepalanya beberapa kali. Pertanda ia mengerti. "Bagus," pujinya.
Ferdi mengangguk, lalu ia pamit undur diri.
Saat berjalan menuju ke tenda Alesha dan Martha, ia mengerucutkan bibirnya. Perasaannya dongkol melihat wajah Zafran yang sangat menakutkan.
Padahal Zafran tidak menyuruhnya membantu Alesha, tapi dari tatapannya, ia seakan terintimidasi.
Di depan sana, Martha tertawa sekeras-kerasnya melihat wajah Ferdi yang nampak lesu, tidak penuh semangat seperti biasanya.
"Biasanya tuh orang kena karma," sahutnya.
Alesha melirik sebentar. Ia tak minat melihat hal-hal di sekitar. Perasaannya terlalu kesal setelag memandang perbicangan antara Zafran dan Nana yang sepertinya menyenangkan.
Dia memukul pasak dengan sangat keras hingga menimbulkan suara dentuman besar. Membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Zafran jelek,"
"Zafran gak ganteng,"
"Sok cakep,"
"Tapi emang cakep,"
"Sok akrab,"
"Sok manis,"
"Sok-sokan!"
Sekali lagi ia memukul pasak dua kali lebih keras hingga palu terbang dan mengenai Ferdi.
"Argh!!"
__ADS_1
Alhasil keningnya membentuk sebuah benjolan dan cowok itu pun langsung pingsan di tempat.
***