Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
37. Murid Baru


__ADS_3

Martha memandangi Alesha mulai dari bawah ke atas. "Kok lo belum ganti baju, Sha?"


"Gue gak ikut olahraga."


"Kenapa?"


"Mules,"


"Yaudah, cepet BAB."


"Bukan kebelet pup,"


Mata Martha melebar sempurna. "Jangan-jangan lo hamil lagi," tebaknya.


Alesha mendorong kepala Martha pelan. "Gue lagi halangan, bukan hamil." Sergahnya.


Raut wajah Martha berubah. Ia manggut-manggut seraya ber'oh'ria. "Terus lo mau jadi patung gitu? Nontonin kita olahraga bareng kelas sebelah?"


"Pengennya sih gitu, tapi gue mau ke Uks aja daripada telinga gue nanti sakit."


"Sakit? Kuping lo kemasukan kodok?"


Alesha mendorong kepala Martha sekali lagi. Kali ini sedikit kuat. "Ngawur!"


Martha mengusap kepalanya beberapa kali. "Terus?"


"Kuping gue bakalan sakit kalau harus dengerin celotehan lo sama Ferdi."


"Kenapa lo bawa-bawa nama gue sama Ferdi?" Martha menaikkan satu oktaf nada suaranya. Ia tak suka jika harus disamakan oleh seorang cowok alay dengan suara cempreng seperti Ferdi.


"Karna suara kalian sama, sama-sama cempreng!" seru Alesha sedikit berteriak seraya menutup telinganya.


"Jangan pernah samain gue sama si suara kaleng krupuk!" geram Martha.


"Kita itu berbeda. Suaranya rusak, kalau suara gue merdu." Cewek itu bergegas pergi meninggalkan Alesha sendirian di dalam kamar mandi


Bibir Alesha berkedut. "Merusak dunia? Gak sadar diri."


...***...


Hendrawan menghitung jumlah murid gabungan. Dua kali menghitung jumlahnya berbeda. Pertama enam puluh orang, sekarang lima puluh delapan orang. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Tadi enam puluh, kenapa sekarang jadi lima puluh delapan?" Hendrawan melihat jari tangannya yang berbentuk delapan.


"Pak, ayo mulai olahraga," ujar Sari yang selalu antusias dengan pelajaran olahraga.


"Iya, iya." Hendrawan menghentikan hitungannya. Pria baya itu kembali fokus ke pelajaran.


"Rapikan-" belum selesai berbicara. Ferdi sudah memotongnya.


"Shaf dan barisan. Kita akan berolahraga secara jama'ah. Jangan lupa untuk tidak mendahului imam."


Kebetulan Martha berdiri di sampingnya. Cewek itu meninju kepala Ferdi dengan keras. "Bego! Barusan lo udah dahului imam!"


Ferdi menatap Hendrawan yang juga menatapnya. "Pak Wawan aja gak masalah, ya kan, Pak?"


"Masalah sebenarnya."


"Denger noh. Makanya punya otak sama kuping di pake!" Martha menjewer telinga Ferdi.


"Mata lo ke mana?"

__ADS_1


Martha menyentuh kedua matanya. "Sini,"


"Kok gak liat kuping gue ada dua di sini,"


"Oh yang banyak congeknya itu?" kelakar Martha. Tentu saja hal itu membuat semua orang menertawai Ferdi.


"Kurang ajar nih anak,"


"Lo yang kurang kerjaan!"


Laka menatap datar ke depan. Sebagai sahabat Ferdi yang berdiri berdampingan di samping Ferdi, ia harus merelakan kupingnya sedikit bermasalah dikarenakan adanya duo gembor.


"Ferdi, Martha, diam!" tegur Hendrawan.


"Siap, Pak."


Hendrawan geleng-geleng kepala. Ia menghela napasnya kasar. Limat menit waktunya sudah terbuang sia-sia hanya karna mendengarkan perdebatan antara mereka berdua.


"Permisi," seorang gadis berpakaian olahraga rapi berdiri cukup jauh di samping Hendrawan.


Semua orang menatapnya penuh keheranan. Beberapa orang terkejut melihat kedatangan cewek tersebut. Wajahnya yang bersinar cerah, tubuhnya yang tinggi semampai layaknya model internasional.


Hidung mancungnya membuat beberapa siswa yang pesek menutup hidung mereka karna insecure. Bulu matanya lentik, sungguh rupawan. Makhluk Tuhan yang satu ini benar-benar terlihat sangat sempurna.


Hendrawan tak bisa berkata-kata saat menatap wajah cantiknya. Bukan hanya Hendrawan, beberapa siswa lainnya juga bengong.


"Gue kayak pernah liat wajahnya deh,"


"Iya sama,"


"Tapi di mana ya?"


"Sumpah cantik banget,"


"Gue iri sama tubuhnya,"


Beberapa siswa membicarakannya. Tapi baginya itu sudah biasa. Karna ia sering mendengar yang seperti kalimat, bahkan lebih dari itu.


"Boleh saya bergabung? Kata guru waka, saya ikut olahan kelas XII IPS 2," katanya.


"Oh sini masuk aja, Mbak Nana."


Semua menatap Ferdi. Mereka saling menjentikkan jari satu sama lain. Mereka kini ingat siapa orang tersebut.


"Oh ini dia Nana Datuwani? Aslinya lebih cantik daripada di majalah," ujar Sari.


Nana tersenyum malu. Ia menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Iya, saya Nana Datuwani. Salam kenal semuanya,"


"Saya murid baru di sini."


...***...


Alesha menunggu jemputan Zafran. Di tengah-tengah pelajaran, cowok itu izin untuk pulang. Lebih tepatnya ke kantor, karna ada urusan mendadak.


Alesha pikir ia akan naik taksi saja atau menumpang Martha, tapi Zafran tidak mengizinkan.


Lo harus nunggu gue dateng, jangan pulang sebelum gue ke sana, katanya


Yah, seperti itulah kata Zafran ditelpon tadi. Setelah mengetahui Alesha pergi ke uks, cowok itu seakan tidak mengizinkan istrinya untuk pulang sendirian.


Di sisi lain, Zafran sedang mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Sekolah sudah hampir sepi, dan ia baru saja selesai pulang dari rapat membahas proyek untuk villa barunya dan juga ide untuk pengenalan serta model yang akan membintangi produk terbaru milik perusahaan.

__ADS_1


Zafran melirik jam yang terus berjalan di bagian spedometer. Napasnya terhela pelan dan ia beberapa kali menghembuskan napas kasar.


"Udah setengah jam Alesha nunggu."


Sementara itu, Alesha membaca novel kesayangannya yang lama tak ia baca di halte dekat sekolah sembari menunggu Zafran.


Karna terlalu asik membaca novel, cewek itu tak sadar sudah menunggunya sejak tiga puluh menit yang lalu. Tapi tiba-tiba saja perasaannya berubah tak enak.


Hati Alesha merasa janggal. Ia segera mengambil ponselnya, dan menelepon Zafran. Cowok itu segera mengangkatnya setelah merasakan getaran di dadanya.


"Halo, Sha. Gue bentar lagi sampai."


"Berapa lama lagi?"


"Lima menit,"


"Jangan ngebut, Zafran."


"Iya, iya."


Meskipun berkata iya, tapi bagi Zafran tidak ngebut itu adalah kemustahilan. Jika ia tidak segera menjemput Alesha, Zafran takut itu akan membuatnya kesepian.


Saat ia memasukkan ponsel kembali, tiba-tiba saja seseorang berlari di jalanan. Zafran melototkan matanya lebar. Ia tak sempat mengerem.


Karna ia mengendarai motor di atas rata-rata dan ia berada ditikungan, lima persen seseorang akan selamat dari kecelakaan tersebut.


Namun, Zafran berhasil menghindar. Ia membuang setirnya ke sebelah kiri. Akhirnya, Zafran menabrak pembatas jalan hingga ia jatuh dari motor.


Cowok itu segera berdiri. Ia melepas helm-nya. Cowok itu mengerutkan keningnya setelah mengetahui korbannya mengeluarkan darah di kepalanya.


Zafran panik. Ia segera melihat keadaan korban yang ia tabrak tanpa memikirkan keadaannya. Beberapa orang mulai berdatangan. Dengan kaki pincang, ia melihat siapa sosok yang sudah ia tabrak.


Matanya segera melebar. Dadanya naik turun saat tau siapa orang tersebut. Bahkan Zafran sangat-sangat mengenalinya.


"Nana?"


Zafran menggoyang tubuh gadis yang tergeletak tak berdaya. Pikirannya kini kalang kabut. Ia telah menabrak sahabatnya. Zafran menepuk pelan pipinya beberapa.


"Na, bangun."


"Nana!!"


"Saya sudah telepon ambulan, sebentar lagi mereka datang." Kata seorang saksi yang bernama Samsul.


Zafran mengusap wajahnya gusar. Ia tak menyangka akan melibatkan Nana dalam kecelakaan ini. Ia memang sedikit membenci cewek yang sudah membuat persahabatannya dengan Gavin hancur, tapi Zafran sama sekali tak berniat untuk membuatnya celaka.


Zafran melirik tangannya. Telapak tangannya berdarah.


"Mas, jangan banyak gerak. Istirahat dulu, biar darahnya tidak keluar terus menerus," kata Pak Samsul.


"Darah? Saya berdarah?"


"Iya, kepala anda terluka."


Di sisi lain, Alesha semakin khawatir. Perasaannya gelisah. Zafran bilang ia segera datang dalam waktu lima menit. Tapi saat ini sudah hampir lima jam ia belum datang sejak teleponnya dimatikan.


Hari semakin gelap, jika saja Alesha tak berinisiatif pulang sendiri, cewek itu akan menjadi es di halte.


"Lo di mana, Zafran?"


"Jangan buat gue khawatir."

__ADS_1


...***...


__ADS_2