
Memang sulit jika harus menggunakan kamar mandi umum di saat seperti ini. Jika tidak bangun lebih pagi dan mengantre lebih awal, mungkin saja tidak kebagian jatah jam mandi. Apalagi Bu Jainab sudah memberitahukan jika jadwal praktik mulai jam 7 pagi.
Untungnya Alesha bangun saat adzan shubuh, ia buru-buru mengantre. Itu pun sudah hampir banyak yang mengantre di depan kamar mandi. Meskipun kamar mandi ada tiga, dan meskipun siswanya banyak, tetap saja membutuhkan waktu lama.
Lima menit yang lalu, Alesha sudah berusaha membangunkan Martha. Cewek itu sulit dibangunkan. Daripada ia menuruti Martha, lebih baik ia meninggalkan cewek itu sendiri.
"Biarin aja dapat antrian jauh, salah siapa dibangunin gak bisa?" cewek itu memeluk baju serta alat mandinya.
Wajahnya sumringah. Tinggal dua antrian lagi, barulah Alesha bisa menikmati air yang segar.
"Sha, tolong jagain antrian gue bentar." Kata Nia.
"Mau kemana lo?"
"Ambil sikat gigi gue ketinggalan di tas,"
"Oh oke, jangan lama-lama!"
"Iya," sahut Nia sambil berlari.
Alesha melirik Nia berlari, dan saat itu juga ia melihat seseorang berjalan ke arahnya dan memandangnya.
Nana, batin Alesha. Kemudian cewek itu mengalihkan pandangannya untuk menatap ke depan lagi.
Ekor mata Alesha melihatnya berhenti dan antre di kamar mandi ketiga. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Sejak kejadian di rumah sakit kala itu, ia tak pernah lagi berbincang atau bahkan menyapa Nana.
"Udah, Sha," seru Nia ngos-ngosan. Alesha mengangguk sekali.
Hal itu mengalihkan perhatian Nana.
Cewek itu menarik sudut bibirnya. Alesha hanya mengedikkan bahu. Kemudian Alesha masuk ke dalam kamar mandi karna sudah waktunya.
***
Antrean semakin panjang. Mata Alesha menangkap wajah lesu Martha yang masih mengantuk. Cewek itu melangkah mendekatinya. Martha belum menyadari kedatangan Alesha, saat cewek itu memukul pundaknya barulah ia tau.
Melihat Martha yang sedikit kaget dan terjingkat. Alesha tertawa. "Udah bangun lo?"
"Masih mimpi gue," sahur Martha sembari mengelus dadanya.
Alesha terkekeh.
"Mimpi pacaran sama Ferdi?"
Martha memukul lengan Alesha cukup keras. "Enak aja lo kalau omong!" sewotnya tak terima.
"Lagian lo tidur nyenyak banget,"
"Tidur nyenyak bukan berarti mimpi Ferdi, o'on!"
"Siapa tau si Abang Ferdi kebawa mimpi sama lo gara-gara kejadian tadi malam,"
"Gue sobek mulut lo, Sha."
Alesha tertawa lagi. Beberapa dari orang yang masih mengantre sampai mengalihkan perhatian mereka pada Alesha.
"Udah nggak nunggu gue, main tinggal mandi sendiri, ngejek lagi,"
"Masa gue harus mandi bareng lo!"
Martha menjitak kepala Alesha. "Bego dipelihara. Antriannya, Sha. Astaga," Martha mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Alesha mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali sembari ber'oh'ria.
"Karna lo masih lama, gue duluan."
"Pergi sono, gak guna lo di sini."
"Ya iya lah, ya kali gue mau nunggu lo di sini sampai selesai mandi. Antriannya aja panjang, bakal lama. Mending gue sholat biar terhindar dari godaan setan terkutuk," ucapnya menekan kata setan di depan wajah Martha.
"Kurang ajar," umpat Martha seraya menatap punggung Alesha yang menjauh.
Di sepanjang jalan, Alesha tertawa terbahak-bahak. Apalagi saat wajah Martha yang nampak melas, membuat perut Alesha geli sendiri.
Hanya sesaat tawanya itu muncul. Karna detik kemudian matanya melebar sempurna dan mulutnya tak bisa mengeluarkan suara karna disekap oleh tangan seseorang.
Kejadian yang sama seperti malam tadi. Tapi bedanya, tangan tersebut bukanlah milik Zafran, suaminya. Melainkan milik orang lain.
Alesha kurang pasti siapa dia, yang jelas ia hafal bagaimana bentuk tangan Zafran.
"Mmh.. mmhh.."
Percuma saja, tak akan ada yang bisa mendengarnya. Alesha sudah cukup jauh dari antrean kamar mandi dan juga jauh dari area perkemahan.
Gue punya wudhu, tempat wudhu jauh dari sini, ingin sekali Alesha berteriak seperti itu. Tapi nyatanya, ia hanya bisa bungkam.
Sampai akhirnya gadis itu membentur tembok dengan sangat keras.
"Argh!!"
"Awhh.. sakit," ringisnya kesakitan. Punggungnya terasa di pukul kayu yang sangat besar.
Matanya sedikit buram. Tapi anehnya, Alesha masih memeluk semua peralatan mandinya.
"Siapa lo?" desak Alesha.
Alesha mengambil pasokan udara. Meski jantungnya berdetak dua kali lebih cepat ia berusaha untuk mencerna apa yang terjadi dan melihat baik-baik siapa orang yang berani menculiknya diam-diam.
"Siapa lo?"
"Jawab!"
Dia terdiam bisu. Seolah-olah tak mau menjawab dan membiarkan Alesha mengetahui sendiri siapa dirinya. Cewek itu memeluk tubuhnya yang sedikit kedinginan.
"Nggak punya mulut lo ya?"
"Kenapa lo culik gue, hah?"
"Gabut lo?"
Dia tersenyum tipis.
"Bener-bener ya nih orang."
"Lo tu orang bisu apa tuli?"
Alesha tetap bertanya meskipun tak mendapat jawaban darinya. Kabut perlahan menghilang dari pandangan. Semakin lama semakin kabur. Dan wajahnya hampir terlihat jelas, meski tak terlalu jelas.
Alesha mengucek matanya. Ia berkedip cepat. Setalah kabut benar-benar hilang dan wajahnya terlihat jelas, Alesha menutup mulutnya tak percaya. Dia mundur beberapa langkah, walaupun punggungnya sudah mepet dengan tembok.
"L-lo?"
"Gavin??"
__ADS_1
"Ngapain lo di sini?"
Alesha berkedip lambat.
"Eh, maksudnya, kenapa lo culik gue?"
Gavin menyerahkan kertas padanya. Alesha mengerutkan keningnya bingung.
"Apa itu?"
"Lo bukan anak TK, kan?"
Alesha menggeleng. "Bukanlah!!!!" elaknya.
"Kenapa lo masih tanya?"
"Ya untuk memastikan."
"Baca," ucap Gavin penuh penekanan.
Alesha berdecak kesal. Lalu ia menyahut kertas Gavin. "Pembagian program penelitian. Gavin dan Alesha?"
Alesha menoleh cepat ke arahnya. "Maksudnya, Vin? Kok gue sama lo?"
"Bagi kelompok."
"Tapi kenapa anggotanya gue sama lo doang? Terus Zafran, Nana, Martha, Ferdi sama Laka gimana?"
"Dibagi tiga."
Alesha menyatukan alisnya. "Siapa yang bagi?"
"Gue."
"Kenapa gue harus sama lo sih? Kenapa nggak sama Zafran aja?"
"Lo mau ketahuan?"
"Ketahuan apa?"
"Kalau lo sama Zafran udah nikah?"
Alesha memutar bola matanya malas. Membaca kertas tersebut membuat kepalanya mendidih. "Ya kali kita bakal koar-koar. Nggak mungkin mereka tau hubungan kita secepat itu."
"Terserah. Kalau lo nggak mau, lo bisa satu kelompok sama Nana."
Alesha mendelik. "Kok malah sama cewek itu? Ogah gue!"
"Zafran, Martha, Ferdi satu kelompok. Nana sama Laka satu kelompok."
"Mending kita tukeran, lo sama Nana gue sama Laka."
Gavin menatapnya tajam. Tatapannya seakan-akan mengatakan bahwa ia siap untuk menerkam mangsanya begitu saja.
Alesha menahan napasnya. Ia meneguk ludahnya susah payah. Wajah datar Gavin membuat tubuhnya panas dingin ketakutan.
"O-oke, gue sama lo!" putus Alesha.
Gavin mengangguk sekali. Kemudian ia berbalik pergi meninggalkan Alesha sendirian. Alesha bernapas lega. Bisa-bisanya ia lebih takut pada Gavin daripada kepada suaminya sendiri.
"Satu kelompok sama Gavin? Bisa mati berdiri gue!"
__ADS_1
...***...