Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
26. Keributan Cimol


__ADS_3

Wajah Zafran memerah menahan amarah. Dua ratus ribu rupiah melayang terbang untuk bahan-bahan makanan yang tidak dibutuhkan untuk saat ini.


"Kalau lo pada gak tau yang mana tepung tapioka, yang mana tepung terigu, kenapa gak tanya sama penjualnya!" teriak Zafran menggema memenuhi ruangan.


Ferdi dan Laka menunduk. Alesha dan Martha melihat perilaku mereka seperti melihat seorang Ayah yang sedang memarahi kedua anaknya.


"Suami lo kalau dalam mode galak nyeremin ya, Sha,"


"Gue baru tau Zafran bisa marah,"


Martha mengangkat satu alisnya. "Baru tau?"


Alesha mengangguk.


"Iya juga, kan lo anak baru. Gue mah hampir tiap hari liat dia marah-marah. Apalagi kalau udah bermasalah sama Gavin. Tapi semenjak nikah sama lo, Zafran mengurangi keganasannya."


"Keganasan?"


Martha mengangguk. "Dulu, Zafran pernah hampir membunuh salah satu siswa di sekolah saat upacara hanya gara-gara nggak sengaja menjegal kaki Zafran. Untung aja Gavin segera nolongin anak itu, kalau nggak, dia pasti udah meninggal."


Alesha menutup mulutnya tak percaya. "Beneran, Mar?"


"Iya, sayangnya pertolongan Gavin membuat Zafran semakin marah, dan berakhirlah Zafran bertengkar dengan Gavin."


Alesha geleng-geleng kepala tak percaya. "Terus siapa yang menang?"


"Zafran."


Alesha mendelik. "Zafran? Kok bisa?"


"Suami lo memang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Kalau lo dalam bahaya, dia pasti bisa lindungi lo." Ucap Martha menampilkan senyum yang tak dapat diartikan. Cewek itu beralih memandang Zafran, Ferdi, dan Laka.


Andaikan gue juga punya lelaki pelindung. Batin Martha.


"Setelah dicampur dengan tepungnya, apa yang harus dilakukan?" Martha mengalihkan pembicaraan.


"Sini biar gue aja."


Alesha mengambil alih adonan. Ia menguleni adonan dengan tenang. Seakan ia sudah terlatih dan menjadi chef profesional. Martha yang melihat itu sampai tercengang.


"Sorry, Bro. Tapi gue ngikutin Ferdi. Katanya lo pasti bahagia dapat bahan makanan banyak," ujar Laka, tapi Ferdi menganggap jika Laka telah mengadu domba antara dia dan Zafran.


Ferdi menyenggol bahu Laka. "Lo kan juga setuju," Ferdi melirik Zafran, "kata Laka itu ide bagus, makanya gue juga setuju."


Laka melototi Ferdi. Cowok itu menjulurkan lidahnya. Zafran tak tau harus bagaimana. Pasalnya, ia sendiri pasti akan melakukan hal yang sama seperti Ferdi dan Laka.


Cowok itu memijat pelipisnya. Rasanya pusing tujuh keliling menghadapi dua manusia pendek akal seperti mereka.


Ferdi dan Laka saling memandang satu sama lain. Saling menyalahkan lewat lirikan tajam dan berisyarat.


"Argh!!" teriakan kencang Martha mengalihkan dunia mereka.


Zafran, Ferdi, dan Laka menganga. Martha dan Alesha berlari ke ruang tengah.


"Kenapa lo teriak-teriak, kaleng krupuk?" tanya Ferdi nge-gas.


Martha panik. Dia menunjuk ke dapur. "Meledak!"


"Meledak?" pekik Zafran, Ferdi, dan Laka bersamaan. Mereka segera berlari keluar rumah dengan tergesa-gesa. Takut jika tubuh mereka akan hancur lebur akibat ledakan.


"Lari!!" teriak Ferdi kesetanan.

__ADS_1


Zafran menarik Alesha. Karna panik, ia pun ikut lari. Padahal tadi ia sedang mencari bumbu balado di rak dapur, tapi karna Martha berlari tergesa-gesa, akhirnya pun Alesha juga ikut berlari tanpa tau penyebabnya.


Jantungnya berdetak sangat cepat. Pikirannya tiba-tiba kacau. Memikirkan bagaimana jika semua barang-barang penting di dalam rumah hangus terbakar.


"Zafran, barang-barang kita?"


Zafran mendelik. Ia melepaskan tangan Alesha lalu masuk kembali ke dalam. Saat berlari ia berpapasan dengan Martha dengan wajah cengonya. Cewek itu berjalan linglung.


"Martha?" Alesha segera menarik Martha.


"Sha? Kenapa pada lari keluar?"


"Kebakaran, mau meledak." Jawab Alesha singkat padat dan tidak jelas bagi Martha.


"Apa yang kebakaran?"


"Rumah Zafran," pekik Ferdi tepat ditelinga Martha.


Martha kaget. Ia refleks menampar wajah Ferdi.


"Aduh," rintih Ferdi memegangi pipinya. "Mar!" tegurnya.


"Lo kagetin gue!" teriak Martha tak kalah keras.


Alesha dan Laka saling pandang. Tatapan mereka datar. "Suara mereka ngalahin suara ledakan ya, Lak?"


Laka mengangguk pelan.


"Mar?" panggilan Zafran mengalihkan perhatian mereka.


Cowok itu hanya membawa helm saja. Alesha tercengang, dari sekian banyaknya barang penting, kenapa hanya helm saja yang dibawa?


"Apa?"


"Cimol."


Semua menatap Martha penuh kekesalan.


"Lo berteriak dengan suara cempreng hanya gara-gara cimol?" Ferdi menggeleng tak percaya.


"Iya, karna gue kaget."


"Jadi, rumah gue gak jadi kebakaran?" tanya Alesha.


"Enggak, kan yang meledak cimol, bukan gas." Sahut Martha santai. Cewek itu nyengir kuda. Tatapan teman-temannya sangat tidak menyenangkan.


Martha mundur selangkah demi selangkah. Kemudian dia berlari ke dapur. Alesha dan Ferdi mengejar Martha. Mereka ingin membalasnya karna sudah membuat mereka panik.


Zafran memakai helm. Kening Laka membentuk kerutan. "Kenapa lo pakai helm?"


"Untuk melindungi kepala gue dari ledakan,"


"Ledakan apa?"


"Ledakan cimol."


...***...


"Lo masih marah sama gue?"


"Hm,"

__ADS_1


"Padahal gue gak salah apa-apa,"


Alesha melirik Zafran tajam. Cowok itu merubah ekspresi terkejutnya. Tatapan Alesha benar-benar membuat nyalinya menciut.


Alesha mengalingkan wajahnya. Zafran menarik napasnya dalam. Hanya karna payung kesayangannya rusak gara-gara minyak goreng yang meletup-letup, Alesha menjadi sangat marah.


Padahal niat Zafran hanya ingin melindungi dirinya dari minyak. Dia sudah memakai helm. Dia juga sudah menutupi diri dengan payung, tapi Alesha malah marah. Seharusnya Alesha bangga memiliki suami yang pintar seperti dirinya.


"Kenapa marah sih, Sha?" Zafran menyentuh dua jari telunjuknya beberapa kali seraya menunduk.


"Kenapa?" Alesha menaikkan nada oktafnya.


Zafran terjingkat kaget sampai dia terjerembab ke lantai karna cowok itu duduk di pinggir ranjang.


"Lo udah rusak payung pemberian Mama tau gak!" Alesha berkacak pinggang. Dia melototi Zafran.


"Kan bisa beli lagi,"


"Lo pikir mudah? Mama hadiahkan payung itu dari Paris, Zafran!" amuknya.


"Memangnya lo bisa gantiin payung asli dari paris yang harganya hampir 25 juta? Hah?"


"Bisa," sahut Zafran singkat.


Alesha melebarkan matanya. Tak menyangka Zafran akan menjawabnya dengan enteng. Tapi Alesha tak boleh lengah, ia harus bersikap tegas agar Zafran tak merusakkan barang-barangnya lagi.


"Malam ini juga? Apa lo bisa ganti?"


Zafran berdiri dari duduknya. Ia kembali ke ranjang. Cowok itu mendekati wajah Alesha dalam jarak lima senti dan menyangga tubuhnya dengan tangan.


"Apa yang gak bisa gue lakuin?" Zafran mengangkat satu alisnya.


"Mau lo minta gue beli semua toko payung di Paris sekaligus, gue mampu."


"Asalkan dengan satu syarat,"


Alesha meneguk ludahnya. Ia jadi penasaran dengan ucapan Zafran. Apakah dia benar-benar bisa? Lagipula Alesha tidak menginginkan hal itu, yang Alesha inginkan adalah satu kata permintaan maaf dari mulut Zafran.


Hanya itu. Tidak lebih. Alesha hanya berbohong tentang hadiah serta nominal payung tersebut. Karna sebenarnya, Alesha membeli payung itu di pasar Senin dengan harga dua pulih lima ribu rupiah saja.


Namun, Zafran malah menganggap hal itu serius. Alesha menjadi tertarik untuk menjahilinya. Lagipula tidak mungkin hanya dalam satu malam saja, Zafran bisa pergi ke Paris.


"Apa syaratnya?"


"Hak gue sebagai suami."


Alesha berkedip lambat. "M-maksud lo?"


Zafran semakin mendekat. Alesha semakin mundur.


"Syaratnya, bersikap sebagaimana lo sebagai istri. Lo harus tau, apa yang seharusnya dilakukan seorang istri untuk suaminya."


Alesha berdiam sejenak.


"Nggak! Gue belum siap!" Alesha geleng-geleng kepala cepat. Cewek itu segera menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut tebal.


Zafran menahan tawa melihat semu merah di wajahnya. Bukankah Zafran benar? Alesha harus bersikap baik dan sopan kepada suami sebagaimana itu adalah tugas seorang istri.


Melayani suami dengan baik. Berbagi suka duka bersama. Selalu menceritakan hal-hal yang menyenangkan. Menyingkirkan ego masing-masing, dan saling perhatian satu sama lain.


Tapi sepertinya Alesha salah mengartikan ucapan Zafran. Cowok itu memakluminya, walaupun ia tau bagaimana rasanya menjadi seorang pria yang tinggal hanya berdua dengan seorang wanita itu sangat menyiksa batin, tapi Zafran akan melindungi Alesha.

__ADS_1


Dia tidak ingin menyakiti hati Alesha sedikit pun. Selamanya, tidak akan pernah.


Gue akan berusaha buat lo bahagia, Alesha.


__ADS_2