
"Beli dua tiket di bangku yang sini," tunjuk Zafran pada layar monitor. Dia memilih bangku tengah. Tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh.
"Mau tambah popcorn?"
Zafran mengangguk. "Dua paket popcorn manis sama lemon tea."
"Semuanya 100 ribu rupiah."
Zafran mengeluarkan selembar uang ratusan ribuan. Setelah itu ia menunggu paket pesanannya sembari melirik Alesha yang jauh di belakang sana. Ia memakai masker serta topi untuk menyembunyikan identitasnya.
Cewek itu senantiasa melihat poster film yang akan diputar bulan ini. Ia mencuri-curi pandang ke arah Zafran. Cowok itu memberi kode aman dengan menunjukkan jempol ke atas.
Alesha bernapas lega saat Zafran datang ke arahnya membawa popcorn serta lemon tea. Alesha melirik kanan-kiri. Takut jika teman-temannya tiba-tiba memergoki mereka berdua yang katanya musuhan sedang berpacaran di bioskop.
"Ambil aja, aman."
Alesha merebut tiket, popcorn serta es-nya dengan cepat lalu pergi masuk ke dalam meninggalkan Zafran. Cowok itu geleng-geleng. Padahal cowok itu tak masalah jika teman-temannya akan tau hubungan mereka berdua.
Tapi karna Alesha masih ingin merahasiakannya, maka Zafran akan menurutinya. Cowok itu berjalan cukup jauh di belakang Alesha. Dia terkekeh kecil.
Setiap langkah yang Alesha pijak, ia selalu bersembunyi di balik tembok. Mengamati keadaan, apakah aman atau tidak.
"Sha, sha,"
Alesha yang mendengarnya pun menoleh ke belakang.
"Kayak pencuri aja lo!"
Cewek itu berdecak pelan. "Diem lo!"
...***...
Setelah menikmati film, mereka pergi ke restoran korea. Di sana lumayan sepi, jadi Alesha tak perlu khawatir jika nantinya ada salah satu teman mereka. Ralat, bukan lagi teman sekelas yang harus diwaspadai tetapi seluruh sekolah.
Ya tau sendirilah seberapa berpengaruhnya berita gosip jika di dalamnya ada nama Zafran Van Detrash yang notabennya bad boy seantero sekolah.
"Emang makanan korea selalu dibakar sendiri di atas meja ya?" Alesha keheranan. Baru pertama kali ini ia mengetahui jika ada makanan yang dibakar di atas meja.
Zafran mengangguk. "Sebagian, tapi tidak semua."
Cewek itu manggut-manggut. "Gue baru tau,"
"Lo gak pernah makan makanan korea?"
Alesha menggeleng. "Belum,"
"Jepang?"
"Belum,"
"Eropa?"
"Gue selalu makan makanan Indonesia."
Zafran manggut-manggut. "Lain kali gue ajak lo makan di restoran lain." Ucapnya seraya membalik daging sapi.
"Biar gue," Alesha mengambil alih posisi Zafran. Cowok itu mengeluarkan ponsel lalu memotret Alesha secara diam-diam.
"Cantik," gumamnya.
__ADS_1
Alesha menaikkan kedua alisnya. Zafran menunjukkan foto yang ia jepret padanya. Senyuman manis terpancar di wajah cantiknya.
"Bagus," puji Alesha.
......***......
"Coba deh lo pakai baju ini, pasti cocok." Alesha menempelkan kaos hitam di dada Zafran dan melihatnya dengan mata satu.
Zafran mendengus kesal. Selalu saja begini. Alesha akan mengajaknya berkeliling mencari baju, tas, ataupun sepatu tapi tidak membelinya.
Kaki Zafran sudah seperti menyeret jangkar yang beratnya melebihi 1 ton. Dia butuh tempat duduk, tapi Alesha malah membuatnya terus berdiri sambil mencocokkan beberapa baju.
"Kalau gak beli apa-apa mending kita pulang aja, Sha. Gue capek,"
"Masa jalan bentar aja capek. Katanya kuat," sindirnya.
"Kuat kalau berantem. Gak kuat kalau lo ajak jalan terus tanpa istirahat."
"Bentar lagi, ini lo ada baju yang cocok buat lo,"
"Gue gak minat,"
"Tapi ini bagus. Lagi diskon loh,"
"Bodo amat lah sama diskon,"
Zafran berbalik. Ia membiarkan Alesha berbuat semaunya. Dia akan menunggunya saja di kursi duduk yang tersedia.
Cewek itu mengedikkan bahunya. Melihat diskon dengan harga fantastis murah membuat Alesha tak tahan untuk tidak mengambilnya.
"Gue ambil 3 baju santai buat gue, dan tiga baju santai buat Zafran."
Karna cowok itu tak mau mencoba baju, akhirnya Alesha memilihnya asal. Setelah itu ia menghampiri Zafran.
Alesha menjulurkan tangannya. "Minta uang."
Zafran mengeluarkan ATM berwarna gold khusus belanja pada Alesha. Cewek itu menarik sudut bibirnya, lalu membayar semua barang belanjanya dengan ATM Zafran. Ia hanya membayar dengan total 250 ribu rupiah.
Alesha tak pernah membeli barang mahal. Lagipula barang murah tapi berkualitas lebih menghemat uang.
......***......
Zafran melempar tasnya di atas meja. Lalu ia menelungkupkan wajahnya dan tidur. Tidak seperti biasa, Zafran membawa Alesha sampai parkiran sebab mereka berangkat lebih pagi dari biasanya.
Itu semua permintaan Martha yang ingin menunjukkan sesuatu yang katanya penting dan rahasia. Alesha begitu penasaran, hal kepentingan apa saja sampai ia harus menyuruhnya datang lebih cepat.
Zafran mendongak ketika Martha tiba. Tapi cewek itu berhenti di ambang pintu. Tatapan Zafran tajam dan mematikan.
Martha meneguk ludahnya susah payah. Ia masuk ke dalam dengan langkah pelan. Ia menenangkan dirinya.
Martha berdeham. "Ekhem. Hai Zafran," ia melambaikan tangan, "tumben berangkat pagi."
Cewek itu duduk di bangkunya.
"Hm, gara-gara seseorang."
Cewek itu memejamkan matanya erat. Tak berani berbalik atau ia akan mati mendadak.
"B-baguslah,"
__ADS_1
"Hm,"
Zafran beranjak dari kursinya. Ia mendekati tempat duduk Martha. Cewek itu terkejut. Zafran berada di samping wajahnya.
"Rencananya gue mau bunuh orang itu siang nanti,"
Martha berkedip gugup. Jantungnya berdebar kencang. "K-kenapa?"
Tatapan Zafran berubah serius. Dia menggebrak meja Martha dengan keras. Cewek itu terjingkat bukan main. Peluh keringatnya bercucuran deras. Tangan serta kakinya bergetar seperti jelly. Badannya lemas dan tak bisa bergerak sama sekali.
"Karna dia berani ganggu pagi gue!" teriak Zafran tepat di kupingnya. Ia tak peduli jika Martha adalah sahabat Alesha. Tapi jika dia sudah menganggu ketenangan Zafran, dia tidak akan segan-segan untuk memberikan peringatan padanya.
Meskipun Alesha tidak memaksa Zafran untuk berangkat pagi bersamanya, tapi Zafran tidak mau jika istrinya naik angkot bersama orang-orang lain.
Cowok itu berlalu pergi. Saat di ambang pintu ia berpapasan dengan Alesha. Cewek itu melemparkan senyum pada Zafran tapi dia tak mempedulikannya.
Zafran berlalu pergi. Alesha mengedikkan bahunya. Ia masuk ke dalam kelas. Martha segera merubah ekspresinya dan menghembuskan napas setenang mungkin.
"Hai, Mar," sapa Alesha.
"Hai, Sha," sahutnya.
Alesha duduk di kursi belakang Martha. Dia memajukan kursinya. "Lo mau ngomong apa?"
Martha berbalik.
"Katanya penting,"
Cewek itu menganggukkan kepalanya beberapa kali. Lalu mengambil sebuah barang keluaran terbaru dan menunjukkannya pada Alesha.
"Nih, Sha. Kemarin gue dapet lipstik cakep banget. Warnanya soft, nggak bikin menor dan ringan di bibir."
Alesha meraih salah satu lipstiknya. "Ini yang terbaru?"
Martha mengangguk. "Gue beli dua, satunya khusus buat lo."
"Buat gue?"
"Iya, gue lagi baik mau beliin lo lipstik cantik."
"Pasti diskon ya?" tebak Alesha.
Martha nyengir kuda. Lantas ia mengangguk. "Tau aja lo. Tapi, meskipun diskon barangnya oke." Cewek itu memutar lipstik dan memakainya di bibir sambil bercermin.
Alesha memperhatikan dengan seksama. "Lo gak takut kena razia?"
"Gak. Selipin aja di bra,"
Alesha mendelik kaget. Ia terkekeh-kekeh. "Ide gila."
Martha menempelkan bibirnya beberapa kali. Kemudian menunjukkan hasil warna lipstik tersebut. "Gimana? Cakep kan?"
Mata Alesha berbinar. Warnanya benar-benar cantik. Sesuai dengan yang Alesha cari-cari selama ini.
"Gue mau nyoba di rumah."
"Kenapa di rumah? Di sini aja mumpung masih sepi."
Alesha menggeleng. "Nggak deh, di rumah lebih aman."
__ADS_1
"Aman?" Martha menaikkan satu alisnya, "Gue nggak yakin lo bakal aman-aman aja kalau pakai lipstik di rumah."
...***...