Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
24. Tukang Multitalenta


__ADS_3

"Kalian bawa semen yang sudah disediakan, dan tutupi tembok-tembok yang retak." Kata Elok memberikan arahan.


"Bu, kita ini murid, bukan tukang." Cerocos Zafran tak terima ketika ia harus memperbaiki tembok yang retak layaknya tukang.


Gavin manggut-manggut menyetujui pernyataan Zafran.


"Ini adalah hukuman yang pantas karna kalian sudah membantah ucapan saya!" Elok berkacak pinggang seraya menatap mereka tajam.


"Mending hukumannya hormat di bendera aja, Bu," tawar Zafran.


Gavin mengangguk.


"Tidak." Elok tetap keukeh dengan hukumannya.


"Bersihin toilet deh,"


"Tidak!"


"Nyapu sekolah deh,"


"Ti-dak!"


Gavin menghembuskan napas. Ia lelah mendengarkan tawar menawar Zafran yang tidak berhasil. Cowok itu lalu mengambil timba semen serta alatnya. Kemudian, berlalu pergi.


"Gavin aja setuju saya hukum menambal tembok." Zafran memutar wajahnya ke arah Gavin.


"Sebenarnya tidak," sahut Gavin singkat.


Elok menahan tawanya. Ia gemas melihat Gavin yang tertekan.


Zafran mendekati Elok. Dia membisikkan sesuatu. "Kalau Gavin yang nempelin semen, gimana kalau saya yang bantu aja?"


Gavin berhenti. Dia merasa curiga dengan Zafran. Ia membuka telinganya, menguping pembicaraan Zafran dengan Elok.


"Bantu apa?"


Dia tersenyum simpul. "Bantu do'a."


Tak!


Ponsel Samsung melayang ke kepala Zafran.


"Awh," ringisnya.


"Iya-iya gue bantuin baca Al-Fatihah." Zafran menendang ponsel Gavin yang tergeletak di lantai. Dia dengan terpaksa membawa semen itu dan langsung berangkat menuju perpustakaan.


"Hpnya saya simpan." Elok menyimpan ponsel Gavin disaku. Cowok itu berdecak kesal. Ia menyesal telah melemparkan ponsel barunya.


Dia menghela napas panjang. "Bisa beli lagi."


...***...


Sudut matanya berkerut memandang seorang cowok yang berjalan gagah dan tampak sombong melewatinya.


"Suami lo sehat?" desis Martha penasaran.


"Sehat."


"Sehat? Biasanya selesai jalani hukuman wajahnya lesu, tapi sekarang kenapa kelihatannya bugar?"


Alesha mengedikkan bahunya. "Gue juga bingung."


Cowok itu menepuk bahu Gavin beberapa kali. "Lo hebat dalam hal pertukangan."


Gavin bergerak menjauh. Ia benar-benar terganggu akan kedatangan Zafran. Hukuman ini cukup melelahkan untuk Gavin. Dia pandai dalam segala aspek termasuk memperbaiki tembok retak, tidak seperti Zafran.


Dia selalu menganggu pekerjaan Gavin dan menghambat hukumannya menjadi tambah lama. Sampai akhirnya Gavin menggeram kesal dan mengambil alih pekerjaan Zafran.


*Gi**mana caranya, Vin?


Gak lengket, harus pake lem kertas.


Ini semen apa lumpur*?


Bahkan saat mengerjaka hukuman saja, Zafran mengenakan mantel agar semen tak mengenai bajunya.


Qia memincing tulisan di punggung Gavin. Ia terkikik pelan. Zafran menutup mulutnya dengan jari telunjuk. "Stt! Jangan di baca keras-keras."


Alesha penasaran. Dia beranjak dari kursi dan membaca tulisan itu dari dalam hati.


Kang kulkas siap melayani. Hebat dalam semua hal pertukangan. Jangan malu, jangan ragu. Panggil saya jika rumah ada perlu perbaikan. Tidak dipungut biaya apapun, alias free.


Cewek itu menatap tajam Zafran. "Ini perbuatan lo?"


"Gak guna banget hidup gue ngerjain nih beruang kutub."


Zafran melengoskan badannya, ia menggeret kursi dan menempatkan dirinya untuk duduk di belakang Gavin.

__ADS_1


Alesha geleng-geleng kepala. Ia tak mau ikut campur. Takut jika nanti dirinya yang jadi korban kebencian Gavin.


...***...


Sepanjang perjalanan di lorong, Gavin merasa tatapan mereka semua tertuju ke arahnya. Memang Biasanya ia menjadi pusat perhatian. Tapi hari ini pandangan mereka terlihat aneh.


Gavin mengedarkan pandangannya. Orang-orang yang beradu pandang dengannya menundukkan kepala takut.


"Gavin?"


Seseorang mendatangi Gavin. Cowok itu mengangkat satu alisnya.


"Lo bisa perbaiki genteng rumah gue yang bocor? Soalnya Mama gue cari tukang dimana-mana gak ada yang sanggup," Vika berbohong.


Nyatanya tukang yang baru direkrut Mamanya untuk memperbaiki genteng ia pecat beberapa detik yang lalu setelah melihat tulisan punggung Gavin.


Vika pikir, ia akan betah di rumah jika pekerjaan tukang yang menganggu telinganya itu adalah Gavin. Meski berisik, tapi ketampanan Gavin akan membuatnya melupakan kebisingan.


"Apa? Tukang?" balas Gavin diangguki Vika.


"Lo bisa kapan? Gue akan sesuaikan dengan jadwal lo."


Matanya berkilat. "Lo pikir gue tukang?"


Wajah Vika menegang. Kepalanya mengangguk kaku. Lidahnya kelu untuk menjawab dengan kata.


"Minggir!"


Gavin tak mau menjadi pusat perhatian lebih. Dia menyenggol bahu Vika dengan keras. Cewek itu limbung.


Setelah dia berjalan beberapa langkah, seorang cowok adik kelas datang padanya.


"Kak, emang bener kalau Kakak bisa segalanya?"


Tentu. Gavin bisa segalanya. Tidak seperti Zafran yang hanya jenius dalam akademik saja. Dengan senyuman bangga, Gavin mengangguk singkat.


"Kalau gitu, berarti Kakak bisa benerin kran rumah yang bocor?"


Senyum Gavin hagus. Cowok di depannya ini merendahkan multitalenta seorang Gavin.


"Gak!" lagi-lagi cowok itu berlalu pergi dengan perasaan dongkol.


Di sisi lain, Zafran tertawa terbahak-bahak sampai perutnya kaku.


"Puas lo ngerjain Gavin?"


Zafran mengeluarkan jempol. "Puas,"


Gavin masuk ke dalam toilet. Ia membasuh muka di wastafel. "Tukang?"


"Sejak kapan si tampan ini menjadi tukang?"


"Gara-gara guru Bk, gue jadi bahan ejekan!"


Gavin mengepalkan tangannya. Ia menghirup udara dalam-dalam. Ia mengambil tisu yang tersedia di samping kaca guna untuk mengeringkan tangannya.


Pinggir matanya tak sengaja menangkap sesuatu di punggung. Cowok itu memunggungi kaca, sudut matanya berkerut.


"Kertas?"


Gavin mengambil kertas tersebut. Rahangnya semakin mengeras saat mengetahui isinya.


Cowok itu meremas kertas hingga tak terbentuk. "Zafran!!!"


...***...


"Sha, buatin gue teh."


"Iya, bentar." Alesha menambahkan beberapa sendok gula dan teh celup ke dalam gelas. Setelah itu ia mengisi air panas dari dispenser.


Akhirnya, teh siap dihidangkan. Gadis itu meletakkan teh di atas meja kerja Zafran. Zafran bekerja sambil mendengarkan kartun Doraemon. Lebih tepatnya, Alesha yang menyetel televisi itu.


Tapi bukan salah Alesha kalau Zafran terganggu, sebab cowok itu sendiri yang memaksa berkerja di depan tv.


"Lo bisa konsen?" tanya Alesha khawatir.


"Bisa," kata Zafran menyeruput teh.


"Lo bisa ngerjain tugas perusahaan Papa? Lo kan masih SMA."


"Bisa."


"Kalau itu gue pasti gak bisa." Alesha tidak bisa membayangkan bagaimana rumitnya pekerjaan kantor.


"Jangan bilang tidak bisa, tapi bilang belum bisa. Karna kita tidak akan pernah bisa jika kita tidak mencobanya."


"Nggak mungkin juga gue jadi pegawai kantor."

__ADS_1


"Tidak ada di dunia ini yang tidak mungkin, Sha." Nasihat Zafran.


Alesha menghela napas pendek. Ia mengembangkan senyum tipis. "Iya-iya, Zafran."


Zafran berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Alesha. Cewek itu berkedip lambat. Zafran menatapnya lamat-lamat.


"Ada apa? Apa di wajah gue ada kotoran?"


Zafran menggeleng. "Lo cantik seperti biasa."


Ucapan Zafran berhasil membuat pipi Alesha berdemu merah muda. Cewek itu mengalihkan wajahnya. Ia tersipu malu.


Zafran terkekeh melihat tingkah laku Alesha. Ia selalu gemas saat cewek itu malu-malu kucing.


"Sha,"


"Apa?"


"Memang lo gak marah kalau kita backstreet di sekolah?"


Alesha menoleh cepat. Dia menggeleng. "Enggak, lagipula kita tidak perlu menunjukkan hubungan kita di publik. Lebih baik kita menikmati hubungan spesial kita sendiri tanpa orang lain tau, kan?"


Zafran mengangguk setuju. Dia mengelus rambut Alesha. "Istri gue udah mulai dewasa."


Alesha menunduk malu.


"Oh iya,"


Zafran menaikkan satu alisnya menunggu kelanjutan ucapan Alesha.


"Tugas bahasa Inggris waktu itu, apa itu dari lo?"


"Gue sama Gavin."


Alesha tercengang. Ia menutup mulutnya tak percaya. "Sama Gavin?"


Zafran mengangguk.


"Demi apa?"


"Demi tugas."


"Maksudnya, kok lo bisa ngerjain bareng Gavin? Bukannya kalian selalu cekcok?"


Zafran mengangkat bahu. "Gue juga heran. Tapi Gavin yang maksa kerja sama lewat email perusahaan."


"Email perusahaan?"


"Bukan cuma gue pewaris perusahaan yang harus menghabiskan sebagian waktunya untuk perusahaan. Tapi Gavin juga sama kayak gue."


Alesha membola. Dia tak percaya jika Gavin akan mengalami hal yang sama seperti Zafran kecuali perjodohan.


"Bedanya, gue bebas. Sedangkan Gavin ketat."


"Maksudnya?"


Zafran menarik napasnya dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "Gavin tertekan karna dia dipaksa untuk selalu jadi nomer satu demi nama baik perusahaan. Makanya dia selalu benci sama gue, karna gue menjadi penghalang dia. Kalau Gavin bisa peringkat satu, bokapnya pasti memberikan setidaknya 25% kebebasan."


"Kenapa gitu?"


"Gue nggak tau dan nggak mau tau. Karna sampai kapan pun kita adalah musuh. Bukan hanya musuh pribadi, tapi juga saingan perusahaan."


"Tapi kalian kerja sama di tugas bahasa Inggris,"


"Iya, karna gue juga nggak mau dapat nilai rendah."


Alesha menghela napas pelan. "Kasian Gavin,"


"Tidak perlu kasian, karna itu demi masa depan Gavin."


"Lo tau darimana cerita Gavin?"


"Nyokap."


"Lo sesekali gak mau ngalah gitu sama Gavin?"


Zafran menggeleng. "Gak, mengalah dan menyerah adalah sifat pecundang."


Cowok itu memegang kedua pundak Alesha. "Sha, untuk masa depan kita, kita tidak boleh menyerah. Apabila hal itu mungkin sulit dan mustahil untuk kita lalui, ingatlah pepatah ini,"


"Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit,"


"Perlahan tapi pasti, karna proses itu tidak ada yang instan. Semua orang yang sukses, itu selalu berjuang mulai dari nol. Begitu juga dengan gue, awalnya mungkin sulit, tapi semakin lama gue bisa,"


"Lo juga harus sama. Asalkan syaratnya satu."


"Apa?" tanya Alesha.

__ADS_1


"Keberanian untuk mencoba dan selalu ingat, apa tujuan awal lo memulai."


......***......


__ADS_2