Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
62. Nana Diserang?


__ADS_3

Langit senja berwarna oranye yang sedikit kemerah-merahan sangat memanjakan mata. Menatap awan sore, menghirup udara segar tanpa mendung, sungguh menyejukkan pemandangan serta kesejukan hati.


Mulai pagi hingga sore, tak pernah sekalipun dia beranjak atau berpindah tempat. Meninggalkan jam pelajaran yang dimulai setelah istirahat. Bisa dibilang dia kabur, bolos pelajaran.


Sudah setengah jam lamanya sekolah ini tanpa penghuni, kecuali dia sendiri.


Penghuni yang meramaikan suasana telah pergi pulang ke rumah masing-masing. Tapi dia? Dia masih menikmati kehangatan matahari yang mulai tenggelam.


Sendirian. Tanpa adanya seorang teman.


Namun, bukan berati tak punya kawan. Ferdi dan Laka menawarkan diri untuk menemaninya, hanya saja cowok itu ingin mereka pergi dan membiarkan dirinya sendiri untuk saat ini.


Ferdi dan Laka memahami keadaan Zafran. Mereka berdua memilih untuk menikmati kegiatan di rumah pohon. Laka sibuk dengan lukisannya, dan Ferdi sibuk dengan game onlinenya.


Matanya tak berhenti menatap layar ponsel. Berharap ada seseorang yang meneleponnya, menanyakan kabarnya, dan menyuruhnya pulang untuk makan. Sedari tadi perutnya belum terisi apapun.


"Lo nggak cariin gue ya, Sha?"


Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. "Padahal gue berharap lo spam telpon," dia terkekeh meratapi nasibnya.


Seperti orang yang ditinggal ldr saja. Mereka dekat, tapi hubungannya saat ini bisa dikatakan long distance relationship.


Bukan mereka yang jauh, tapi hubungan mereka yang sedikit bermasalah.


Dia menghembuskan napas panjang. Dia meluruskan kaki kemudian beranjak berdiri. Meraih tasnya yang berada di samping.


Kakinya melangkah sedikit cepat. Jika tidak pulang, pasti istrinya itu akan menjadi reog. waktu juga sudah hampir Maghrib, lebih baik cepat pulang daripada menambah masalah, kan?


Seragam yang dikeluarkan, dan juga rambut berantakan tak membuat cowok itu terlihat dekil. Meskipun belum mandi, dia masih saja tetap tampan.


Langkahnya sedikit memelan tatkala melihat seorang rival bebuyutannya menyilangkan dada dan menyandarkan tubuh di tembok di tangga nomer dua.


Zafran yakin, dia pasti sedang menunggunya.


"Satu jam," ungkap Gavin menatap jam tangan.


"Setia banget lo nungguin gue," tanpa memperdulikan Gavin, Zafran tetap turun.


Namun sebelum cowok menjejakkan kaki di tangga akhir, Gavin turun satu langkah dan menyandarkan kakinya menghalangi pergerakan Zafran.


"Mau lo apa sih?!" sergah Zafran. "Gue gak mood hajar lo sampe babak belur!"


Gavin tersenyum smirk. "Gue yang akan hajar lo." Balasnya.


"Singkirkan kaki najis lo dari hadapan gue!" katanya berapi-api.


Gavin tak mengindahkan ucapan Zafran. Kakinya tetap menutup jalan Zafran.


"Jauhi Nana!" peringat Gavin.


Zafran berdecih. "Cih, lo bicara pada orang yang salah. Seharusnya lo suruh cewek gak tau diri itu yang jauhi gue!"


Gavin terpancing. Namun, ia menahan emosinya. "Kalau lo nggak balas perasaan Nana, Nana gak akan mau masuk dan dekati lo, bangs*t!" ucapnya penuh penekanan.

__ADS_1


"Gue? Balas perasaan Nana? Gak salah?"


Zafran menarik sudut bibirnya. "Apa yang perlu dibalas? Kegobl*kannya? Kemurahan-"


Bugh!


Gavin membogem mentah wajah Zafran sebelum dia menyelesaikan ucapannya.


"Jangan lo sebut Nana murahan!"


Zafran mengusap bibirnya. Dia tertawa sumbang. "Bahkan lo sendiri yang sebut dia murahan, Vin."


"Kalau dia gak murah, dia pasti sadar diri dan jauhi gue yang jelas-jelas sudah beristri!" Zafran menegaskan sekali lagi. Dia tidak mendekati Nana ataupun tidak membuat Nana mendekatinya.


Wanita itu saja yang tidak mau melupakan perasannya pada Zafran. Sudah tau milik orang lain, tetap saja di gebet.


Sesama wanita harus saling menghargai. Harus saling menghormati. Saling mengerti perasaan sesama wanita. Saat Nana sendiri berada di posisi Alesha, dan ada sosok Medusa yang berusaha merebut suaminya, bagaimana perasaannya?


Pasti sakit dan kecewa. Jika tidak mau merasakan kecewa, maka hargailah perasaan wanita miliknya itu! Cinta tidak harus memiliki.


Biarkan dia bahagia meskipun itu bukan bersama kita.


Gavin ingin menonjok wajah lelaki itu lagi, namun ada telepon yang mengganggunya. Gavin terpaksa mengangkat.


Ketika sibuk dengan telponnya, Zafran mendorong cowok itu dan pergi menjauh darinya. Gavin berdecak kesal karna telah kehilangan mangsa perkelahiannya.


Seseorang tak di kenal telah mengganggu.


Zafran berjalan santai layaknya tak ada sosok iblis yang terus mengikutinya dari belakang. Ya, dia adalah Gavin. Cowok itu masih mengikuti dan tidak akan pernah melepaskan Zafran sebelum Zafran berjanji untuk menjauhi Nana selamanya.


"APA KATA LO? NANA DI SERANG?"


Sontak ucapan Gavin membuat Zafran berhenti melangkah. Dia tidak punya musuh selain Gavin, tapi saat mengetahui mantan sahabatnya di serang, hati kecilnya khawatir.


Gavin meninju tembok hingga menyebabkan keretakan. "Di mana sekarang?"


Merasa belum ada jawaban, Gavin mengarahkan ponsel di depan wajah lalu mengumpati orang tak di kenal itu.


"ANJ*NG, DIMANA NANA SEKARANG! KASIH TAU GUE!!"


Melihat Gavin kesurupan, sepertinya dia sedang tidak bercanda.


Kemudian, Zafran pun berbalik, dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Gavin yang memerah seperti tomat. Bukan karna tersipu malu, tapi karna menahan amarah yang luar biasa.


"Gudang sekolah?"


Gavin menatap Zafran. Zafran mengangguk, sedetik kemudian, mereka berdua bergegas berlari ke gudang.


Gudang sekolah ada dua. Gedung alat-alat sekolah yang rusak dan juga gedung tua yang usang. Tapi yang mereka pastikan saat ini adalah gedung yang kedua. Yaitu gedung usang.


Lari secepat mungkin sudah mereka lakukan. Pintu gudang tertutup rapat. Gavin menatap kesana kemari mencari sosok yang menelponnya.


"Kenapa dia tidak di sini?"

__ADS_1


"Cari siapa lo?" tanya Zafran.


"Orang yang telpon gue."


Zafran merasa ada yang janggal. Dia pun langsung mendrobrak pintu gudang sekuat mungkin. Tak memperdulikan Gavin yang masih fokus mencari seseorang.


Gavin pun merasakan ada yang salah. Sepertinya orang itu sengaja membawa mereka ke tempat ini. Tapi untuk apa? Benarkah Nana ada di gudang ini?


Dan siapa yang telah menyerang Nana?


Zafran berhasil membuka pintu. Rantai berserakan di lantai. Gudang dirantai, pasti Nana tidak akan bisa masuk ke dalam.


"Rantai? Lo yakin Nana di sini?"


"Gue yakin, sat. Tapi gue curiga sama orang yang nelpon gue."


"Kenapa lo gak suruh hacker lo buat cari tau?"


Gavin mengangguk setuju. Dia belum kepikiran sampai ke situ. Menuruti perkataan Zafran, akhirnya Gavin pun mengirimkan nomor telepon itu ke orang terpercaya.


"Kita masuk?" tanya Zafran diangguki Gavin


Langit sudah mulai malam. Di dalam gudang sunyi dan gelap. Gavin menghidupkan senter ponsel.


"****!!"


Zafran menoleh. "Why?"


"Mati."


"Hah? Apanya? Kalau ngomong yang bener, njing!"


"Hp gue, t*lol!!" Gavin menunjukkan layar hitam ponselnya.


Sejak kapan mereka berdua tampak akur? Padahal mereka masih saling peduli, kenapa tidak baikan saja?


Tidak. Tidak bisa. Selama mereka masih melibatkan perasaan, akan ada yang namanya permusuhan. Tapi jika mereka merelakan perasaan dan menerima kenyataan, persahabatan mereka pasti akan membaik.


Zafran yakin itu.


Zafran berdecak sebal. Dia mengeluarkan hpnya. Menghidupkan senter.


Betapa terkejutnya mereka saat melihat Nana di ikat di kursi dalam keadaan yang sangat amat mengenaskan.


Rambutnya berantakan. Wajahnya babak belur. Banyak luka membiru. Sudut bibirnya sobek, seluruh tubuhnya di penuhi dengan tepung.


Ini bukan penyeranga , tapi ini adalah pembullya. Gavin tidak akan melepaskan orang yang sudah membuat Nana menjadi seperti ini.


Gavin berlari ke arah Nana. Sedangkan Zafran refleks menjatuhkan ponselnya.


"NANA?!!" teriak Gavin.


"A-apa yang terjadi? Siapa yang nyerang Nana?"

__ADS_1


...***...


__ADS_2