Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
44. Kekuasaan CEO


__ADS_3

Setiap kelas memiliki beberapa alat kebersihan. Diantaranya ada sapu, kemoceng, dan juga keranjang sampah. Setiap hari tentunya ada petugas piket yang harus mengerjakan piket setiap pagi sebelum bel masuk berbunyi.


Namun hal itu tidak berlaku untuk dua gadis ini. Mereka terlambat masuk kelas karna harus membersihkan bekas kotoran bekal Martha yang disebabkan oleh Gavin.


Oleh karena itu, mereka berdua tidak diperbolehkan pulang terlebih dahulu oleh ketua mereka.


"Gavin kurang ajar!" umpat Martha.


Alesha menatap Martha. Ia menghembuskan napas pelan.


"Kalau bekal gue gak dibuang, kita gak bakalan di suruh piket sendirian!"


"Kasian," gumam Alesha.


Martha mengangguk seraya mengerucutkan bibirnya.


"Nasinya terbuang sia-sia." Alesha mengelus perutnya. Ia sudah mengidamkan aroma makanan yang dibawa Martha, tapi ia harus merelakan makanan itu terbuang sia-sia.


Martha berdiri sembari menggebrak meja. Alesha terkejut. Ia mengelus pelan dadanya sambil mengucap, "Astaghfirullah."


"Ayo Sha, kita bersihkan nih kelas. Setelah itu kita pulang." Martha menatap Alesha serius.


Alesha mendengus malas. Ia mengangguk pasrah. "Hm," sahutnya.


Martha menarik tangan Alesha. Cewek itu lantas berdiri. Keduanya berlalu mengambil sapu di pojok kelas. Tapi sebelum itu terjadi, seseorang mengetuk pintu kelas mereka.


Martha dan Alesha menoleh serentak. Sosok Ferdi muncul di depan mereka.


"Ngapain lo nongol di situ?" sergah Martha.


Zafran dan Laka muncul di belakang Ferdi. Martha dan Alesha saling pandang. Mereka saling mengedikkan bahu. Tak tau apa maksud mereka datang ke sini.


Zafran melangkah masuk mendekati Alesha. Semua mengalihkan perhatian mereka pada Zafran. Cowok itu menyahut tas Alesha, lalu menarik tangan Alesha.


"Mama ada di rumah. Lo harus pulang dulu!" perintah Zafran.


Martha mengerutkan dahi. Lalu ia mencekal tangan Zafran. "Eh-eh gak bisa gitu dong, Zaf. Ini tugas kita berdua, jadi Alesha harus piket sama gue dulu!"


Zafran menghempaskan tangan Martha dengan keras. Ia tidak peduli meskipun dia melakukan hal itu di depan Alesha.


"Lo liat wajah gue peduli?"


Martha menatapnya cengo. Ia geleng-geleng kepala. "Enggak."


Zafran menarik senyum. Ia manggut-manggut.


"Tapi Zaf, bener kata Martha. Gue tadi belum piket, sebagai gantinya kita harus ganti piket waktu pulang." Tutur Alesha.


"Lo lebih pentingin Mama atau piket?"


Alesha berkedip cepat. "Mama sih," ucapnya seraya nyengir kuda.

__ADS_1


"Gak usah khawatir, gue udah bawa pengganti lo."


"Pengganti?" Alesha menarik satu alisnya. "Siapa?"


Zafran menoleh ke belakang. Tempat di mana Ferdi dan Laka berada. Mereka yang sedang di gosipi hanya menatap Zafran datar. Mereka tidak tau tujuan Zafran mengajak mereka ke sini hanya untuk menjahili saja.


"Ferdi sama Laka?"


Zafran menggeleng. "Bukan mereka berdua,"


Beberapa kerutan muncul di dahi Alesha. "Terus?"


"Salah satu diantara mereka."


Tanpa menunggu jawaban, Zafran menarik Alesha pergi. Martha hanya mendengus pasrah. Lebih baik dua daripada satu, tapi ia berharap orang itu adalah Laka. Karna jika orang itu adalah Ferdi, ia tak yakin akan bisa bersih-bersih dengan baik.


"Semoga aja gue gak kerja sama dengan kaleng kerupuk." Martha berdo'a pada Yang Maha Kuasa.


Zafran berhenti di ambang pintu. Ia menatap Ferdi dan Laka secara bergantian.


"Lo berdua suit," ujar Zafran.


Ferdi dan Laka saling pandang. Mereka tidak mengerti maksud Zafran, tapi mereka tetap melakukan perintah Zafran. Seakan-akan perintah Zafran sudah seperti perintah raja, dan itu mutlak. Tidak bisa di bantah.


Hasilnya adalah Laka jempol dan Ferdi telunjuk. Dari hasil suit mereka, otomatis pemenangan adalah Laka, dan yang kalah adalah Ferdi.


"Siapa yang menang?" tanya Zafran. Di belakang sana Martha mencuri pandang dan menajamkan telinganya. Diam-diam mendengarkan obrolan mereka.


Zafran manggut-manggut, ia menepuk bangga pundak Laka beberapa kali.


"Lo ikut gue pulang, dan lo Fer," Ferdi menoleh, "lo gantiin Alesha piket bareng Martha."


Baru saja Ferdi membuka mulut tapi sudah dipotong oleh Zafran.


"Tidak ada penolakan!"


Ferdi mendelik. Apalagi saat kedua sahabatnya berlalu pergi meninggalkan Ferdi. Sedangkan Martha sudah mencak-mencak tak jelas.


"Sialan, gue dikerjain!"


...****************...


Sebuah tiupan angin membelai wajahnya. Perasaan tenang menyapu tubuhnya. Suasana dingin tak membuatnya berbalik masuk ke dalam.


Ia sungguh menikmati keindahan alam malam hari ini. Matanya terbuka perlahan. Satu bulir air mata jatuh tak terduga.


Dia mengembangkan senyum. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. Sapuan tangan menghapus air mata yang jatuh dari pelupuk mata.


"Apa kabar, Ibu?"


"Apa Ibu kangen Alesha?"

__ADS_1


Bibirnya bergetar pelan. Ia segera menggigit bibir bawah. Ia tak mau mengeluarkan suara tangis yang jelek.


"Alesha...,"


"Kangen Ibu,"


Bukan, bukan maksud Alesha tak bersyukur memiliki keluarga baru yang sangat menyayanginya. Hanya saja, ia sangat rindu pada ibunya. Walaupun hanya ia tak memiliki kenangan yang indah bersamanya.


Melihat Zafran bergurau dengan ibunya, Alesha sangat bahagia. Apalagi, saat mamanya menganggap Alesha seperti anaknya sendiri. Itu adalah suatu kebahagiaan tiada tara.


Tapi, bukankah itu hal wajar jika seorang anak merindukan orang tuanya yang sudah meninggal?


Kerinduan pada sosok yang tak akan bisa hadir di dunia adalah kerinduan yang paling berat dibandingkan rindu pada kekasih yang beda kota.


Berbincang dan melakukan aktifitas bersama Yuni membuat Alesha sedikit melupakan kenangan pahit tanpa ibu. Tapi selalu saja begini, saat Yuni pulang ke rumah, setiap malam Alesha pasti merasakan kesedihan.


Sedih karna ia sangat ingin bertemu ibunya. Tapi hal itu adalah kemustahilan.


"Ibu, ibu yang tenang di sana. Karna di sini Alesha sangat-sangat bahagia dan bersyukur memiliki keluarga baru,"


"Suami pilihan Ibu..." Gadis itu menarik senyumnya.


"Adalah yang terbaik,"


"Alesha tidak menyesal menerima dia sebagai suami Alesha."


Tarikan napas yang dalam ia hembuskan secara perlahan. "Ibu, Alesha ingin ajak suami Alesha bertemu ibu."


"Tapi, sepertinya dia masih sibuk."


"Maaf, lama tidak berkunjung padamu, Ibu."


"Jika ada waktu, Alesha akan pulang dan berziarah."


Zafran mengurungkan niatnya yang akan mengajak Alesha masuk ke dalam. Hatinya berdesir mendengar keluh kesah Alesha yang merindukan sosok ibunya.


Mungkin, Alesha terlihat selalu bahagia bersama Yuni, tapi siapa sangka, dibalik kebahagiaannya, ia menyimpan sejuta kerinduan pada sosok ibu kandungnya.


Zafran berbalik. Ia akan membiarkan Alesha sendiri. Cowok itu berlalu pergi. Ia mengambil ponselnya dan menelepon Seto.


Tak perlu menunggu lama, pria itu mengangkat telepon dari Zafran. Tanpa basa-basi, Zafran segera menyampaikan pesannya.


"Tolong kosongkan jadwal saya untuk dua hari ke depan."


"Tapi, besok kita akan launching produk baru, Pak Zafran."


"Tunda."


Ingin membatah, tapi Seto tak mampu. Takut membuat Zafran mengamuk. Akhirnya ia hanya bisa mendengus pasrah dan segera merubah jadwal, serta menghubungi para karyawan yang lain.


"Baik, akan saya laksanakan."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2