Married With Dangerous Boy

Married With Dangerous Boy
38. Tidak Ada Kabar


__ADS_3

Sudah semalaman Alesha menunggu sampai ia tak bisa tidur nyenyak, tapi tetap saja ponsel Zafran tidak dapat dihubungi. Ia mencoba untuk menemukan kontak Ferdi dan Laka di hpnya, tapi sayangnya Alesha tidak memiliki nomor keduanya.


Alesha sempat menelepon Martha, cewek itu tidak mengangkat teleponnya. Alesha segera bersiap-siap pergi ke sekolah, untuk meminta bantuan Ferdi dan Laka.


Tidak mungkin jika ia meminta bantuan mertuanya, karna ia tak mau membuat mereka khawatir. Ia tak ingin Zafran terkena masalah. Sebisa mungkin, Alesha harus memastikan keadaan Zafran dengan mata kepalanya sendiri.


Gadis itu segera memasang sepatunya. Taksi yang ia pesan sudah sampai di depan teras. Setelah itu ia menutup gerbang rumah, lalu menaiki taksi.


Di saat taksi yang ditumpangi Alesha berbelok, seseorang datang menjemputnya.


"Sha? Lo di rumah, gak?" teriaknya sembari menekan bel.


"Apa Alesha udah berangkat?" dia menekan bel sekali lagi. Tidak ada yang menjawabnya.


"Gue harus kasih tau Alesha secepatnya, tapi di mana dia sekarang?"


"Apa mungkin Alesha langsung ke rumah sakit?"


Setelah mencari di sekitar sekolah, ia tidak menemukan cewek itu, beberapa temannya mengatakan jika Alesha belum datang.


Tapi saat Ferdi datang ke rumahnya, cewek itu malah tidak ada di rumah. Mungkin saja, Alesha sudah tau jika Zafran di rawat di rumah sakit.


"Kalau gitu, gue langsung ke rumah sakit."


...***...


"Zafran, lo tau, gue udah lama memendam rasa sama lo," ia meneteskan air matanya.


"Tapi kenapa lo malah nikah sama Alesha?"


"Apa kurangnya gue di mata lo?" dia mengusap pipi Zafran. Ia menyentuh mata yang tengah tertutup rapat itu.


"Gue selalu hadir di depan mata lo, tapi.."


"Lo gak pernah anggap gue ada,"


"Gue selalu berusaha keras untuk dekat sama lo, tapi lo sama sekali gak pernah peduli sama kehadiran gue!"


Tangannya yang lembut itu kembali mengelus seluruh wajah Zafran dan menatap wajahnya lamat-lamat. Waktu terus berputar. Sudah hampir tiga jam lamanya ia menanti cowok itu membuka mata, tapi ia tak kunjung membukanya.


Ini adalah kesempatan emasnya untuk mendapatkan hati Zafran. Berharap ada keajaiban yang dapat ia ambil dari musibah ini.


Namun, ia takut jika ada orang yang melihatnya di dalam ruang inapnya. Gadis itu mengusap air matanya yang mengalir.


Ia membenarkan selimut Zafran hingga ke leher. Setelah itu ia mencium kening Zafran cukup lama. Kemudian ia beranjak berdiri dan keluar dari sana seolah tak terjadi apa-apa.


Namun sayangnya, ia tak sadar jika Gavin sudah berdiri cukup lama di balik tembok yang tak jauh darinya sembari tersenyum sinis.


Gavin menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Lalu menunjukkan wajahnya di depan gadis itu. Dia melebarkan matanya sempurna saat menatap senyum Gavin yang nampak begitu mengerikan.

__ADS_1


Dadanya berdegup kencang tak karuan. Dunia seakan menghentikan waktu. Tubuhnya menegang. Napasnya tercekat, serta lehernya yang jenjang terasa seperti tercekik.


"G-gavin?"


"Udah gue duga. Lo dalang di balik ini semua."


"M-maksud lo?"


"Ada masalah apa lo kemari?"


Dia berdeham. Menetralkan kegugupannya. "Gue jenguk Zafran."


"Tidak ada yang tau tentang musibah Zafran kecuali, gue, Laka dan Ferdi."


"T-tapi gue ada di sana saat Zafran kecelakaan."


"Omong kosong!"


"Kalau lo gak percaya ya udah, permisi." Ia tak mau lama-lama di sini atau ia akan menjadi boomerang sebab kejadian ini.


Gavin tak menahan cewek itu untuk pergi. Ia tidak berniat untuk membuat cewek itu menjadi seorang pelaku. Tapi sebagai gantinya, dia yang akan menjaga cewek itu untuk tidak berbuat hal lebih.


Gavin menatap kamar Zafran tanpa berniat menyambanginya. Cowok itu menelepon Laka karna Ferdi yang sulit dihubungi.


Gavin yakin, pasti Alesha sedang kebingungan sekarang. Ia menyuruh Ferdi untuk menjemputnya. Namun, cowok itu berkata jika ia belum menemukan Alesha.


Jika saja Gavin tidak dihubungi oleh seseorang mengenai kecelakaan sahabatnya, pasti ia tak akan mau memberitahu keadaan Zafran. Tapi, jika bukan karna Zafran, Nana tidak akan celaka.


...***...


Setelah mendapatkan pesan balasan dari Martha. Cewek itu segera menghubunginya.


"Halo, Martha? Gimana lo udah dapat kabar tentang Zafran?"


Suara Martha tak begitu jelas. Sinyalnya buruk dan terputus-putus. Alesha sampai harus sedikit berteriak dan berkali-kali menggoyangkan ponsel ke atas.


"Sha? Lo denger gue?"


Mata Alesha berbinar. "Iya, gue denger. Gimana?"


"Hari ini gue lagi jenguk Kakek di rumah sakit. Gue gak sengaja ngelihat Zafran di rawat."


"Apa?" pekik Alesha membuatnya menjadi pusat perhatian. "Yang bener lo, Mar!"


"Ngapain gue harus bohong sih. Gue juga udah buktiin ke mbak resepsionis. Katanya, mereka mencoba menghubungi keluarga Zafran, tapi gak bisa karna hp Zafran retak dan memerlukan sandi."


Jantung Alesha terhenti. Ia geleng-geleng tak percaya mendengar berita ini. Ini adalah berita terburuk yang pernah ia dengar.


Alesha menahan tangis. Ia berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata.

__ADS_1


"Rumah sakit mana?"


......***......


Alesha tak peduli jika ia menabrak beberapa pundak orang yang menghalangi jalannya. Karna yang terpenting sekarang ia harus sampai di rumah sakit tujuan.


Ia akan membolos. Tak peduli jika nilainya akan hancur. Meski begitu, ia mengizinkan Zafran kepada wali kelas karna tak bisa mengikuti pelajaran tanpa memberi tahu musibah Zafran.


Alesha mempercepat langkahnya. Tepat di depan sana, Laka muncul. Cewek itu melotot dan menghentikan langkahnya.


"Laka!!" Alesha berlari lalu menyahut tangan Laka dan menyeretnya keluar lorong.


Laka terkejut, seseorang yang ia cari menyeret tangannya secara tiba-tiba. "Sha? Lo udah tau?"


"Tau? Apa?" tanya Alesha bingung.


Laka mengerutkan keningnya. Ia pikir Alesha menyeretnya tanpa kesabaran karna sudah tahu berita tentang Zafran.


"Zafran?"


Alesha terdiam sejenak. Lalu ia mengangguk seraya menerima helm dari Laka. Keduanya naik sepeda motor dan melaju menyusuri jalan menuju rumah sakit.


"Lo tau dari Ferdi?"


Alesha menggeleng. "Gue tau dari Martha. Sejak kapan kalian denger berita ini?" tanyanya balik.


"Tadi pagi," sahut Laka.


"Tadi pagi? Kenapa kalian gak ngomong ke gue? Dari semalaman gue gak bisa tidur gara-gara gak ada yang tau di mana Zafran."


"Gue juga, Sha. Berita ini cuma diketahui sama tiga orang," sahutnya.


"Tiga orang?"


"Gue sama Ferdi dikabari Gavin yang dapat telepon langsung dari dokter kenalan Gavin. Gavin nyuruh Ferdi jemput lo di rumah, tapi dia gak ketemu sama lo, akhirnya Gavin nyuruh gue buat jemput lo di sekolah. Kita semua belum punya nomer lo, Sha."


Alesha menghembuskan napas pendek. Ia sedikit lega karna sudah mengetahui kabar Zafran. Hanya saja, ia menjadi gelisah, takut jika kecelakaannya parah dan membuat Zafran terluka.


"Sha,"


Alesha melirik Laka dari spion.


"Darimana Martha tau keadaan Zafran?"


"Dari resepsionis. Dia lagi jenguk Kakeknya, dan gak sengaja liat Zafran di ruangan inap. Awalnya Martha ragu kalau itu suami gue, tapi setelah tanya ke resepsionis, Martha langsung telpon gue."


Laka manggut-manggut mendengarkan penjelasan Alesha. Ia semakin melajukan motornya.


"Lak, gimana keadaan Zafran?"

__ADS_1


"Lo tenang aja, dia baik-baik aja." Ucap Laka tanpa mengatakan ada satu orang lagi yang menjadi korban kecelakaan motor Zafran. Yaitu, Nana.


...***...


__ADS_2