
Hari itu Laka pulang dengan tangan kosong. Ia tak mendapatkan informasi apapun tentang adiknya. Memang benar, mereka terpisah pada saat keduanya masih berumur 5 tahun. Meski begitu, Laka benar-benar ingin bertemu adiknya walaupun hanya sekali. Ia ingin tau bagaimana kabarnya sekarang.
Laka sangat merindukan Anarka.
Dan hari selanjutnya, Laka berusaha lagi datang ke panti untuk kembali memastikan informasi tersebut. Namun tetap saja hasilnya nihil.
Laka keluar ruangan dengan hembusan napas yang panjang. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan sang adik dengan berbagai cara selama lima tahun terakhir.
"Kak," panggilan Sarah menyadarkan Laka.
"Hm," Laka menoleh sekilas kemudian melanjutkan jalannya.
"Gue mau bantu, Kak Laka."
Laka refleks berhenti. Ia menoleh ke arah Sarah. Ia terkejut atas ungkapannya.
"Maksud lo?"
Sarah mendekati Laka. Ia mengembangkan senyum tipis. "Gue bilang, gue mau bantu Kak Laka cari Anarka."
Laka mengernyitkan keningnya. Sarah mengedipkan matanya beberapa kali. Kemudian Laka menyentil dahi Sarah sembari tertawa terbahak-bahak.
Hanya sebentar. Karna setelah itu ia menghentikan tawanya.
"Gak lucu!"
Laka melangkah pergi. Ia menutup telinganya. Teriakan Sarah menganggu gendang telinganya.
"Kak, gue gak ngelawak. Gue serius!"
"Hm,"
"Ih Kak Laka!!" rengeknya.
Sarah menyusul Laka dengan menghentakkan kakinya beberapa kali.
"Lo balik ke kamar. Gue mau pergi," usir Laka secara halus.
"Pergi ke mana?"
"Rahasia."
"Pelit amat sih lo, Kak!"
Laka tak menghiraukannya. Ia tetap berjalan santai meninggalkan Sarah. Sedangkan Sarah tetap mengikuti Laka tanpa peduli meskipun cowok itu sudah melarangnya beberapa kali.
Laka mendengus pelan. Jika dirinya sudah memasang helm dan melajukan motornya, pasti Sarah akan pergi dengan sendirinya.
Tiba di parkiran, Laka langsung memakai helm dan menaiki motornya. Pada saat Laka berada di atas motor, ia merasakan motornya terasa lebih berat daripada sebelumnya.
Lantas ia menoleh ke belakang, dan benar saja, ada Sarah yang berada di belakang joknya.
Laka menghembuskan napas panjang. "Turun, Sar!"
Sarah menggeleng kuat. "Nggak. Gue mau ikut Kak Laka!"
"Gue sibuk,"
"Gue nggak bakal ganggu."
"Gue pergi lama," sahutnya.
"Gue udah izin sama ibu panti,"
Beberapa kerutan muncul di dahi Laka. "Izin?"
__ADS_1
Sarah mengangguk. "Izin tidur di rumah Kak Laka."
Laka mendelik. Ia tersedak ludahnya sendiri. "Apa!!"
"Sejak kapan lo jadi cowok budeg, Kak?"
"Lo gila ya?"
...***...
"Nih yang pesen bawain seblak pedes." Alesha menyahut kresek berisi seblak dari tangan Zafran dan meletakkannya ke bawah lantai rumah pohon yang cukup besar yang mampu menampung beberapa orang.
Ferdi melihat semua makanan tersebut dengan mata berbinar. Mulutnya hampir meneteskan air liur. Tapi sesaat kemudian senyumnya memudar.
"Baso aci gue mana, Sha?"
Alesha menatap Ferdi. Lalu ia menepuk jidatnya kuat. "Ya ampun Fer, maaf, gue kelupaan."
"Gimana sih, Sha? Kan udah gue telpon lima kali lo berdua. Katanya bakalan beliin gue baso aci!" protes Ferdi.
Satu jitakan mendarat di kepala Ferdi dengan keras. Ferdi menoleh melihat siapa orang yang berani menjitaknya.
"Anjir lo, Martha!"
"Lo bego apa gimana? Kita semua udah fix pesen seblak di perempatan sebelah, tapi lo malah pesen baso aci yang tempatnya 10km lebih jauh dari sini. Mana arahnya gak searah lagi. Pastilah Alesha ogah beliin lo!"
Martha menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kalau gue jadi Alesha, udah gue blokir nomer lo!"
"Kenapa lo yang marah? Alesha aja yang salah minta maaf, kenapa lo yang cari masalah malah minta ditabok?"
"Lo yang cari masalah ogeb!"
"Kok lo malah nyalahin gue? Alesha nawarin, ya gue menawarkan diri nitip makanan."
"Suka-suka gue lah, gue yang nitip," Ferdi memalingkan wajahnya, begitu juga dengan Martha.
Sedangkan Zafran dan Alesha hanya bisa saling pandang. Mereka berdua sama-sama mengedikkan bahunya. Tidak mengerti dengan tingkah mereka yang selalu beradu mulut dan membuat telinga jadi sakit.
Zafran mengelus pundak Ferdi. Cowok itu menoleh. Zafran meringis tajam. Ferdi meneguk ludahnya susah payah.
"Lo gak mau terima pemberian Alesha?"
Ferdi berkedip lambat. Tapi tangannya terulur meraih kresek berisi seblak dengan pelan. "S-siapa bilang? G-gue mau kok. Lagian gue juga suka seblak, haha." Tawanya garing.
Zafran meremas pundaknya. "Bagus."
Ferdi menahan rasa sakit dengan senyum paksaan. Martha yang melihat itu sangat puas dan menampilkan senyum mengejek.
"Mampus!" ejeknya.
"Laka? Lo baru dateng?" tanya Ferdi mengalihkan perhatian.
Zafran melepaskan cengkeramannya. Ia mengalihkan perhatian yang sama seperti Alesha dan Martha pada Laka yang baru datang bersama seorang gadis cantik.
Ferdi bernapas lega. Akhirnya ia terhindar dari cengkraman Zafran.
"Hm," sahut Laka singkat.
"Siapa dia, Ka?" tanya Alesha.
Laka melirik Sarah sebentar. Ia mengangkat bahunya. "Lo tanya aja sendiri."
"Gue Sarah," jawab Sarah secara mandiri.
"Hai Sarah, sini gabung sama kita." Ajak Alesha.
__ADS_1
Sarah mengangguk. Lalu pandangannya teralihkan pada Ferdi yang melahap seblak dengan tenang. "Kak, ngapain tuh orang di sini juga?" Sarah menunjuk Ferdi dengan dagu.
Laka melirik Ferdi sebentar. "Numpang makan," serunya.
"Oh pantes lahap," ucap Sarah lalu duduk di sebelah Alesha.
"Kurang ajar," ketus Ferdi lalu melanjutkannya makannya.
"Makan! Gak usah banyak bacot. Kesedak tau rasa lo!" Alesha dan Martha sedikit terkejut dengan ucapan Sarah. Sosok remaja yang cantik tapi ternyata dia seorang tomboi.
"Diem lo.. uhukk.. uhukk..,"
"Apa gue bilang!"
Ferdi memukul dadanya. Ia merebut air mineral Laka yang baru saja akan dia minum dan meneguknya hingga tandas.
"Lo kenal Ferdi?" tanya Martha pada Sarah.
"Enggak,"
"Tapi kok kayaknya kalian saling kenal?"
"Dia aja yang sok kenal."
Ferdi lega karna tenggorokannya tak lagi panas. "Woy, lo kalau ngomong gak ada akhlak!"
"Kayak dirinya ada aja," Sarah mencomot seblak yang diberikan Alesha beberapa menit yang lalu.
Wajah Martha bersinar. Matanya berbinar. Sepertinya ia mendapatkan teman baru yang se-frekuensi. Cewek itu menepuk pundak Sarah. Sarah terkejut. Ia terjingkat kaget.
"Kita se-frekuensi!"
"Ha? Kok bisa, Kak?"
"Lo musuh kan sama Ferdi?"
Sarah mengangguk. Ia menghentikan makannya. Meski baru kedua kali ketemu, tapi Ferdi sudah seperti musuh bebuyutannya. Jiwa tomboinya semakin meronta ingin mengeluarkan khodamnya.
"Iya."
Martha terkekeh. Ia bertepuk tangan ria seakan mendapatkan hadiah dari langit. "Gue juga sama!!"
"Sama apa?"
"Musuhnya Ferdi!!"
Sarah berkedip cepat. "Berarti kita berdua memiliki tujuan yang sama, Kak."
"Bener banget!!" Martha menghentikan tawanya. "Tapi tujuannya apa?"
"Memusnahkan Ferdi."
Ferdi kembali tersedak mendengar ucapan Sarah yang memanggilnya tanpa embel-embel 'Kak'.
"Heh, gue lebih tua dari lo!"
"Kakek Ferdi." Ulang Sarah.
Martha menjulurkan lidahnya. "Akhirnya gue dapet temen baru."
"Kasian deh lo punya musuh baru," Sarah menyentuh pipinya. Lalu menariknya ke bawah, sehingga bagian bawah matanya ikut tertarik. Ia juga menjulurkan lidahnya sama seperti Martha.
Ferdi hanya memutar bola matanya malas menanggapi mereka berdua.
...***...
__ADS_1